
Setelah mengosongkan semua timbangan di gudang rumah sakit, Ars pergi tanpa sepengetahuan Richard dan orang-orang di sekitarnya.
Berjalan di jalan, ia melihat ada banyak pejalan kaki dibandingkan beberapa menit sebelumnya. Orang-orang tidak lagi takut terinfeksi Demam Malam, setelah mengetahui kabar semua pasien telah sembuh secara ajaib.
Hanya segelintir orang yang mengetahui bahwa ia dalang dibalik kejadian ini, jadi Ars tidak menarik perhatian saat berjalan.
"Dengan tingkat teknologi sekarang, setidaknya akan memakan lima tahun lebih sebelum vaksin Demam Malam ditemukan. Ketika saat itu tiba, entah berapa banyak populasi manusia yang tersisa."
Melihat raut wajah gembira orang-orang disekitarnya, suasana hatinya tenang seperti permukaan danau.
(Jika itu adalah aku yang sebelumnya, aku juga akan merasakan kebahagiaan orang lain. Benar saja, semakin lama aku hidup, aku semakin apatis dan kehilangan kemanusiaan ku.)
Meski begitu, Ars tidak peduli mengenai ini, dan sudah memperkirakan ini cepat atau lambat.
...
"Tidak ada orang?"
Ars menyusup ke mansion, tetapi tidak menemukan Marie.
"Terakhir kali aku bertemu Marie kecil sekitar tiga tahun yang lalu. Lupakan saja, dia tidak seperti ku seorang pengangguran yang memiliki waktu tidak terbatas."
Dia tidak terlalu kecewa tidak dapat bertemu cucu perempuan temannya.
Selain mengelola Bar Grocery yang didirikan Nicholas, Marie telah membangun perusahaan kosmetik, dan sebagai seorang CEO perusahaan, tiap detik waktunya sangat berharga.
"Nah, mari lihat situasi di negara lainnya."
Ars meninggalkan mansion tersebut, dari awal kedatangannya hingga kepergiannya, tidak ada yang menyadari keberadaannya.
...
Hanya dalam waktu kurun lima jam, Ars telah mengelilingi dunia satu kali. Jika bukan karena ia sesekali berhenti dan mengamati keadaan pemukiman manusia, ia bisa lebih cepat.
Dia sekarang berada di Negara Sarabael, yang merupakan negara tertua di dunia ini.
"Sebagai negara tertua, tempat ini sangat miskin. Tempat ini bahkan lebih buruk dari Kota Mathias di Negara Yakini."
Ini sudah kota kelima di Negara Sarabael, yang Ars datangi dam amati.
Jika ia harus membuat perbandingan, Kota Mathias seperti sebuah kota, sedangkan kota-kota di Negara Sarabael seperti desa kumuh.
"Rin dan Idaten generasi sebelumnya terlalu sembarangan, mereka bahkan tidak pernah mempertimbangkan kesuburan tanah agar manusia bisa bercocok tanam."
Tanah di Negara Sarabael merupakan tanah tandus dan sulit ditanami tumbuhan, sehingga masyarakat Negara Sarabael mengalami kelaparan dan gizi buruk. Ditambah wabah Demam Malam, mereka hidup sangat menderita, dan banyak orang memutuskan bunuh diri.
Ars tahu Negara Sarabael didirikan oleh Rin dan Idaten lainnya sebelum Iblis disegel. Awalnya tempat ini hanya tempat penampungan bawah tanah, yang digali untuk menjaga manusia tetap aman.
Tapi, setelah beberapa abad, hanya sedikit manusia untuk tinggal di Negara Sarabael. Tanah longsor, kekeringan, banjir setiap hujan, dll.
"Tempat ini sangat keras untuk manusia bertahan hidup."
"Baiklah, aku akan membantu mengubah Negara Sarabael menjadi lebih baik."
Setelah berkeliling, Ars tidak tahan melihat penderitaan manusia disekitarnya dan memutuskan untuk membantu.
"Rin tidak akan marah jika aku bolos latihan beberapa hari, bukan?" Ars bergumam.
...
Ars bekerja keras selama satu minggu.
Selain menyembuhkan semua orang yang terinfeksi Demam Malam, ia melakukan banyak hal lainnya.
Dia mengubah daratan tandus menjadi tanah subur, menumbuh banyak tumbuhan dan gandum, menjinakkan banjir, dll.
Ia mengubah Negara Sarabael menjadi tempat yang jauh lebih layak huni.
Ars tidak menyembunyikan keberadaannya sehingga penduduk Negara Sarabael menyaksikan semua tindakan yang dilakukannya.
Mereka bahkan membuat agama tentang dirinya, dan menganggap ia sebagai dewa.
Tentu saja dia tidak pernah mengklaim dirinya seorang dewa, tetapi mereka tidak mau mendengarkannya, dan masih memujanya sebagai dewa.
Ars memandang tanah hijau dan sungai yang mengalir melalui ladang..
Ini semua hasil kerja kerjanya selama satu minggu!
"Aku telah membuat negeri ini menjadi tempat layak huni, sisanya terserah pada kalian. Entah kalian mau kembangkan atau hancurkan, itu tidak ada kaitannya denganku."
Kata-kata itu ditujukan untuk orang-orang di belakang Ars.
"Kami mengerti, Dewa Ars. Kami pasti akan bekerja sebaik mungkin untuk menjaga dan meningkatkan semua anugerah mu."
Seorang pria berusia 35 tahun, mengenakan pakaian keagamaan, dan topi tinggi di kepalanya. Ia bernama Joshua, dan pendeta tertinggi agama yang menyembah Ars.
Ars melirik Joshua dan para pemuja lainnya, lalu sosoknya menghilang karena kecelakaan gerakannya terlalu cepat untuk bisa dilihat oleh mata manusia.
"Selamat tinggal, Dewa Ars."
Joshua dan ratusan pemuja berlutut, dan mengucapkan salam perpisahan. Sayangnya, dewa yang mereka puja tidak mendengarkan, karena ia sudah ribuan kilometer jauhnya.
...
Ars berlari dengan kecepatan Hipersonik. Dari sudut pandangnya, pemandangan di sekelilingnya berubah hanya dalam beberapa detik seperti film yang dipercepat, tapi satu pemandangan membuatnya berhenti tiba-tiba.
"Itu adalah..."
Ia berjalan menuju sebuah fenomena yang menarik perhatiannya.
Di depannya terdapat sebuah pusaran seperti lubang hitam. Jika diperhatikan seksama, di dalam pusaran itu terdapat cahaya kuning mirip dengan matahari.
"Jangan bilang ini adalah fenomena kelahiran Idaten baru?"
Ars pernah menanyakan bagaimana Idaten bisa muncul kepada Rin.
Menurut Rin, Idaten adalah sosok muncul secara alami. Tanda kelahiran Idaten adalah berupa sebuah pusaran yang mengambang di udara.
Jika pusaran itu dibiarkan, Idaten di dalam pusaran itu masih akan lahir dalam beberapa abad. Tapi dengan campur tangan Idaten lain, mereka bisa ditarik keluar dalam sekejap mata.
Alasan Brandon terjebak di tempat yang dipenuhi kegelapan selama lebih dari 24 jam, pada reinkarnasi ketujuhnya, ia bereinkarnasi sebagai Idaten dan membutuhkan beberapa abad untuk dilahirkan. Untungnya, dalam beberapa hari inkubasi, Rin datang untuk menemukannya dan menariknya dari pusaran, memungkinkannya untuk dilahirkan lebih cepat dari yang seharusnya.
Alasan Rin berpatroli keliling dunia, dia berniat mencari dan menarik Idaten baru untuk bergabung dengannya.
"Haruskan aku menarik Idaten di dalam pusaran atau memanggil Rin dan membiarkannya melakukannya?"
Berdiri di depan pusaran, Ars ragu-ragu bertindak.
"Lakukan saja, apa yang perlu aku takutkan. Dengan penambahan Idaten baru, itu berarti aku memiliki junior dan ada teman untuk diajak bicara."
Ars menganggap Rin sangat membosankan, dan butuh teman mengobrol.
"Mari mulai."
Memasukkan tangan kanannya ke dalam pusaran, dia merasakan sensasi lengket seolah-olah tangannya telah memasuki pasir hisap.
"Rasanya menjijikkan..."
Ars mengeluh, lalu tangannya memegang sebuah tangan.
"Ini dia!"
Menarik tangannya dari dalam pusaran, seorang pria tinggi berambut putih panjang ikut ditarik olehnya.
Pusaran itu menghilang bersamaan dengan keluarnya pria tinggi itu.
"Eh?"
Pria tinggi itu berseru dan menatap Ars dengan ekspresi bingung.
"Kamu tahu siapa diri mu?"
Melepaskan tangan pria itu, Ars bertanya untuk menguji sesuatu.
"Aku? Hmmm.... Aku seorang Idaten." Jawab pria tinggi itu.
(Benar saja, tiap Idaten mengetahui hal ini. Alasan aku tidak sama seperti mereka, karena aku seorang Reinkarnator, jadi aku tidak menerima informasi bawaan sebagai seorang Idaten.)
Mendengar itu, spekulasi Ars akhirnya dikonfirmasi.
Pria tinggi di hadapannya adalah Idaten yang baru saja lahir, namun ia sudah mengetahui statusnya sebagai seorang Idaten. Berbeda dengan Ars yang tidak tahu apa-apa tentang Idaten.
"Kamu juga Idaten?" Tanya pemuda tinggi itu dengan rasa ingin tahu.
"Iya, namaku Ars, Idaten sama seperti dirimu, senang bertemu dengan mu. Siapa namamu?"
"Aku adalah... Prontea."
Pria tinggi itu mengerutkan kening, dan melaporkan namanya.
"Prontea, aku akan membawa mu menemui Idaten lainnya."
Tidak menunggu Prontea bereaksi, Ars menarik kerah bajunya dan menyeretnya sambil berlari dengan kecepatan Hipersonik.
Metodenya persis sama seperti Rin membawanya dulu.
"Aaaaaa!!!"
Prontea berteriak histeris.