Reinkarnasi Ketujuh

Reinkarnasi Ketujuh
Pelanggan Pertama


"I-Ini... Apa yang terjadi?"


Ketika pintu terbuka, gadis itu terkejut melihat pemandangan dibalik pintu seolah terhubung ke tempat lain.


Berbeda dengan pemandangan Kota Shiyou di depanbya, yang tampak dari balik pintu adalah bangunan dua lantai bergaya Eropa, dan terdapat kabut di sekelilingnya yang menambah kesan misterius.


"Ini seperti Pintu Kemana Saja." Gumam gadis itu, mengingat anime Doraemon yang pernah ditontonnya.


"Haruskah aku masuk atau tidak?"


Dia ragu.


Berbalik ke belakang, hanya terowongan gelap yang menantinya.


"Jika itu Furuya-kun, dia pasti melangkah tanpa ragu."


Mengingat sosok pria yang disukainya, gadis itu mengambil keputusan.


Saat dia melewati pintu, dia menghela nafas lega karena pintu itu tidak menghilang. Artinya, dia bisa kembali kapan saja.


"Roar!!!"


Gadis itu dikejutkan oleh ruangan marah binatang buas, lalu buru-buru menutupi telinga dengan tangannya.


Setelah beberapa saat, suara itu menghilang. Menurunkan tangannya, ia melihat ke arah sumber suara.


"Wow, rubah ekor sembilan dalam legenda!"


Mata gadis itu berbinar ketika dia melihat seekor rubah oranye raksasa yang memiliki sembilan ekor, menatapnya dengan penuh kebencian.


"Ha ha ha... Itu sangat lucu. Bukan saja gadis itu tidak takut, dia terlihat tertarik pada mu, Kurama."


"Diam, Shukaku! Jika bukan karena segel ini, aku akan mencabik-cabik manusia ini!"


Kurama melotot pada Shukaku.


Kesembilan Bijuu ditempatkan sebagai anjing penjaga oleh Ars. Sebagai tindakan pencegahan, dia merantai mereka sehingga tidak bisa melukai 'calon pelanggan'.


"Kamu gadis yang aneh... Apa kamu tidak takut pada kami?"


Berbeda dengan sikap kasar Kurama, Matatabi menunjukkan keramahannya.


"Aku tidak takut. Rubah ini terlihat sangat imut." Gadis itu menggelengkan kepalanya dan terlihat tidak berbohong.


"Ahahaha...."


"Hahahaha..."


Kali ini bukan hanya Shukaku saja, Bijuu yang lain juga ikut tertawa terbahak-bahak mendengar respon itu.


"Manusia sialan! Aku akan membunuh mu!"


Kurama merasa dipermalukan, tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena segel itu menekan kekuatannya.


"Ini pertama kalinya aku mendengar ada yang menganggap rubah galak itu imut. Kamu manusia yang menarik." Gyuki memuji.


Diantara para Bijuu, Gyuki paling mudah bergaul dengan Jinchuriki.


"Sebenarnya tempat macam apa ini?" Tanya gadis itu penasaran sambil melihat kesembilan hewan raksasa dengan penuh minat.


"Entahlah. Tempat ini baru didirikan tiga bulan yang lalu. Kami tidak tahu pasti mengapa 'pria itu' membangun tempat ini." Kokuo menjawab.


"Hmph, 'pria itu' abadi. Bahkan setelah di segel Rikudo, entah metode apa yang dia gunakan, dia berhasil lolos. Mungkin dia hanya bosan." Son Goku mendengus kesal.


"Pria itu berbahaya, sebaiknya kamu pergi dari sini secepatnya. Jangan sampai kamu mengalami nasib sama seperti kami." Chomei memberikan saran.


Karena tidak bisa berbuat apa-apa, Kurama berpura-pura tidur.


"Terima kasih atas saran semua orang, aku sangat menghargainya. Namun, karena aku sudah disini, aku ingin bertemu pemilik tempat ini." Gadis itu membungkuk dan mengucapkan terima kasih.


"Berhati-hatilah, jangan sampai membuat pria itu marah." Isobu mengingatkan.


"Um, akan aku ingat."


Kemudian gadis itu berjalan ke toko, membuka pintu, dan masuk.


Para Bijuu tidak mengetahui situasi di dalam toko karena array isolasi.


"Hei, apakah ada yang memperhatikan sesuatu yang aneh pada gadis itu?" Tanya Matatabi tiba-tiba.


"Gadis itu adalah mayat berjalan, mirip dengan orang yang dibangkitkan melalui Edo Tensei." Kata Gyuki.


"Ini tidak sama. Metode kebangkitannya berbeda. Tidak ada ciri-ciri Edo Tensei pada dirinya, dan tubuhnya tidak memiliki chakra." Kata Chomei.


"Itu tidak ada hubungannya dengan kita. Entah sampai kapan kita akan terkurung disini."


Perkataan Shukaku membuat Bijuu lainnya diam.


*Ding*


Terdengar suara bel saat gadis itu membuka pintu.


"Permisi, apa ada orang."


"Tunggu sebentar."


Terdengar suara pria dari lantai atas.


Sambil menunggu, gadis itu melihat barang-barang yang dipajang di rak.


Di rak pertama, dia melihat deretan tabung reaksi berisi darah.


"Garis Darah Uchiha.


"Garis Darah Senju."


"Garis Darah Hyuga."


"Garis Darah Otsusuki."


"Garis Darah..."


Gadis itu membaca nama-nama yang tertera di bawah rak tabung reaksi. Dia tidak tahu apa maksudnya, tidak ada detail selain nama.


Selanjutnya, tatapan matanya tertuju pada kumpulan buku.


"Buku Sihir Lengkap Desa Iblis Merah Tua."


"Buku Sihir Roh."


"Buku Pengenalan Dasar Senjata Api."


Saat gadis itu mencoba mengambil salah satu buku, suara pria menghentikannya.


"Aku sarankan kamu tidak melakukan itu. Barang-barang di rak hanya dapat disentuh dengan izin ku. Jika tidak, kamu akan memicu pembatasan dan akan menerima serangan balik."


Berbalik, gadis itu melihat pemuda berambut hitam dengan mata merah tua yang memiliki tiga tomoe di pupilnya.


Selain pemuda itu, ada juga dua gadis kecil menemani kedua sisinya.


"Ah, maafkan sikap tidak sopan ku. Buku-buku ini terlalu menarik, jadi tanpa sadar aku ingin membacanya." Gadis itu meminta maaf.


"Um, silahkan duduk."


Ars menunjuk ke sebuah sofa yang khusus disiapkan untuk pelanggan.


"Apakah tidak apa-apa? Pakaian ku kotor, itu akan mengotori sofa."


"Tidak masalah, aku tidak memperdulikan itu."


Setelah mendapat izin, gadis itu duduk di sofa, cara duduknya sangat anggun, menunjukkan bahwa dia dulunya adalah seorang wanita muda dari keluarga kaya.


"Restia, siapkan teh. Dan untuk Est, ambilkan kue di kulkas." Kata Ars.


"Akhirnya, pelatihan ku berguna juga." Restia tersenyum senang.


Karena Ars tidak pernah berniat belajar memasak, dan tetap ingin makan tiga kali sehari, Restia berinisiatif mengambil peran memasak.


Dalam kurun waktu ini, ia telah berlatih memasak melalui buku dan video.


"Um." Est mengangguk patuh.


Keduanya segera menjalankan tugas masing-masing.


Duduk di seberang gadis itu, Ars menggunakan kemampuan membaca takdirnya. Dalam sekejap mata, ia telah mengetahui seluruh informasi gadis di depannya.


"Menarik... Meskipun itu tidak sempurna, itu tetaplah metode keabadian."


Mendengar gumaman Ars, gadis itu tercengang sejenak. Namun, mengingat semua hal-hal yang telah dilihatnya diluar akal sehat manusia, ia tahu pemuda di depannya bukan orang biasa, dan mungkin bahkan bukan manusia!


"Anooo... Bolehkan aku bertanya?" Gadis itu sangat sopan, takut membuat marah pihak lain.


"Tentu. Nama ku Ars Idriss, pemilik Klub Perdagangan Takdir. Senang bertemu dengan mu, nona Sanka Rea."


"Senang bertemu dengan mu, Ars-kun."


Gadis bernama Sanka Rea tidak kaget bahwa pihak lain mengetahui namanya.


Setelah sesi perkenalan, Est datang membawa nampan berisi shortcake. Selanjutnya, Restia datang membawa teh.


Melihat hidangan yang sudah lama tidak dilihatnya selama puluhan tahun, Rea menelan ludah.