
Hari berikutnya.
"Oi, Prontea, kamu masih hidup."
Ars berjongkok di depan Prontea, yang terbaring di tanah dalam keadaan sekarat.
"Cough... Jangan bercanda, senior. Kamu sendiri tahu kita tidak bisa mati."
Sambil memuntahkan darah, Prontea menjawab tak berdaya.
Alasan kondisinya saat ini tidak lain karena pelatihan Rin seperti biasanya.
"Jangan menyalahkan Rin, dia melakukan itu demi kita semua. Kekuatan, daya tahan, regenerasi, dan aspek lainya telah berkembang pesat dibandingkan dirimu 50 tahun yang lalu."
"Senior tidak perlu mengatakannya, aku tahu, aku tidak pernah membenci Rin. Hanya saja, aku berharap dia bisa menahan diri."
Ars dan Prontea memiliki hubungan baik, malahan tiap Idaten tidak bisa saling membenci. Mungkin karena sifat bawaan ras, mereka tidak akan menaruh dendam satu sama lain.
"Ngomong-ngomong, senior akan pergi hari ini?" Tanya Prontea mulai berdiri dan menepuk-nepuk debu di pakaiannya.
"Iya, sebelum pergi, aku mau meminta bantuan mu."
"Tentu, senior sangat baik mengajariku berbagai kemampuan mu, aku akan melakukannya."
Bahkan sebelum Ars menyebutkan permintaannya, Prontea langsung menyetujuinya tanpa pikir panjang.
"Oke, tidak sia-sia aku merawat mu selama ini."
Ars menepuk bahu Prontea dan puas dengan sikapnya.
Dibandingkan dengan manusia yang terkadang berkhianat padahal sudah memperlakukannya dengan baik, Idaten tidak akan pernah mengkhianati satu sama lain.
Meski Idaten merupakan pelindung umat manusia, mereka tidak akan ikut campur jika manusia punah karena konflik internal. Misalnya perang.
Idaten akan mencegah kepunahan umat manusia apabila ada musuh asing. Misalnya Iblis, Alien, dll.
"Ikut aku."
"Oke."
Mereka berdua meninggalkan pulau, setelah beberapa saat, mereka tiba di sebuah gurun pasir.
Ars memandu Prontea ke lubang yang telah disamarkan oleh pasir, lalu keduanya masuk ke lubang dan tiba di terowongan panjang.
"Wow, senior membuat terowongan ini? Sejak kapan kamu membuatnya?"
"Tempat ini aku buat kemarin, apa kamu ingat lokasinya?"
"Jangan meremehkan ku, senior. Aku memiliki ingatan yang bagus, aku tidak akan lupa jalan kita kemari."
Prontea menepuk dadanya dengan bangga.
"Itu bagus." Ars mengangguk.
Akhirnya mereka tiba diujung terowongan, dan ada sebuah altar batu di tengah ruangan.
"Dengar Prontea, tugas mu sederhana, jangan biarkan altar ini rusak. Jika tidak, aku tidak akan bisa kembali ke dunia ini." Ars berkata serius.
"Sederhananya, ini adalah tanda yang senior tinggalkan agar bisa pulang." Prontea mengangguk mengerti.
"Kamu benar."
"Lalu mengapa senior tidak membuat tanda lainnya untuk berjaga-jaga jika tanda disini rusak?"
"Bukannya aku tidak mau, tapi aku tidak bisa! Sihir [Teleportasi] hanya dapat menandai tiga lokasi, aku tidak mau menyia-nyiakan dua tanda yang tersisa di dunia ini."
"Jadi begitu... Senior ingin meninggalkan tandanya di dunia lain. Aku tidak harus tinggal di tempat ini dan menjaga altar, kan?"
Prontea menyukai kebebasan, jika bukan karena dia tidak bisa melarikan diri dari radar Rin, ia tidak mau berlatih. Dan sekarang, memintanya untuk melindungi altar untuk entah berapa lama, dia benar-benar tidak mau.
"Kamu berpikir berlebihan, tidak perlu tinggal disini. Tapi sesekali kamu harus memeriksa altar dan jika ada manusia entah bagaimana berhasil sampai ke sini, usir mereka."
Bagaimana mungkin Ars membiarkan Prontea menjadi Hikikomori di tempat ini?
Alasan utama dia memilih gurun pasir sebagai lokasinya pulang dan pergi ke dunia lain, selain menghindari bencana alam yang mungkin terjadi dan merusak altar, dan juga untuk mencegah manusia menemukannya.
Sebagai mantan manusia, Ars memahami bahwa manusia menyukai eksplorasi.
"Serahkan saja padaku, senior dapat pergi dengan tenang." Prontea berjanji.
"En, aku serahkan pada mu."
"Senior mau pergi sekarang? Kamu tidak berpamitan dengan Rin?"
Prontea terkejut melihat ini, ia kira seniornya membawanya kesini hanya untuk demonstrasi.
"Tidak perlu, ini tidak seperti kita berpisah selamanya. Karena dilatasi waktu yang mungkin terjadi, aku tidak tahu kapan bisa kembali. Mungkin beberapa tahun, puluhan tahun, atau bahkan ratusan tahun. Jika pelatihan mu selesai, carilah Idaten generasi baru sebelum kamu pergi."
Ars memberi pengingat pada Prontea.
"Baiklah, aku berjanji."
Prontea tidak berdebat, ia juga merasa agak bersalah jika meninggalkan Rin seorang diri di pulau tersebut setelah pelatihannya selesai.
"Selamat tinggal."
"Hati-hati di jalan, senior. Jangan lupa bawah oleh-oleh saat kembali."
Prontea melambaikan kedua tangannya dengan senyum lebar di wajahnya.
Ars tersenyum tipis, ia lebih suka perpisahan semacam ini daripada diiringi tangisan dan kesedihan.
Ini pertama kalinya ia menggunakan sihir [Teleportasi] untuk berteleportasi ke dunia lain. Plus, ia tidak mempunyai koordinat tertentu, sehingga ia tidak tahu akan terdampar di dunia macam apa.
(Aku harap akan tiba di dunia peradaban modern.) Pikir Ars.
Lingkaran sihir di bawah kakinya bersinar cerah dan tubuhnya berubah menjadi partikel cahaya.
Tidak lama kemudian, sosok Ars menghilang dan lingkaran sihir di altar meredup.
"Sudah pergi? Semoga semuanya berjalan lancar." Gumam Prontea.
...
Kekosongan Tak Berujung (Endless Void).
Ini adalah sebuah ruang yang tak memiliki ujung. Disini tidak ada udara, oksigen, air, dan zat penyusun kehidupan lainnya, dan hanya dipenuhi radiasi kosmik.
Ruang terdistorsi dan sosok pemuda berambut hitam dengan mata merah pekat muncul.
Sosok itu tidak lain adalah Ars.
"..."
Dia mencoba berbicara, tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.
(Oh, benar. Udara tidak bisa merambat di ruang hampa. Jadi, dimana aku sekarang? Apakah [Teleportasi] gagal? Tempat ini mirip seperti luar angkasa, aku tidak melihat adanya meteoroid.)
Meteoroid adalah batu-batu angkasa berukuran kecil-kecil yang melayang-layang bebas di angkasa dan bergerak cepat.
Ars melihat sekeliling, selain titik cahaya di kejauhan, yang kemungkinan merupakan sebuah bintang, ia tidak menemukan satu pun meteoroid.
(Mari analisis situasinya terlebih dalulu, aku telah membaca beberapa novel dimana protagonis bisa menjelajahi dunia lain dan kondisi agak mirip. Jika tebakan ku tidak salah, tiap titik cahaya itu merupakan sebuah dunia. Jika itu benar.... Menakjubkan, ada dunia yang tak terhitung jumlahnya.)
Ars merasa syok dengan tebakannya sendiri, ia merasa seperti katak di dasar sumur dan katak itu telah keluar dari sumur, dan baru pertama kali melihatnya luas dunia.
(Tidak ada gunanya hanya menebak, ayo coba mendarat di salah satu bintang.)
Setelah memenangkan diri, ia mencari bintang terdekat. Lagipula, kecepatannya belum mencapai kecepatan cahaya, jadi mau tidak mau, ia harus mencari bintang terdekat.
(Ketemu!)
Menemukan tujuannya, Ars meringankan berat badannya menjadi 0 kilogram dan terbang dengan 25 mach atau setara dengan 25 kali kecepatan suara.
Dia telah melampaui kecepatan maksimum Koro Sensei.
Karena tidak adanya meteroid yang menghadang, Ars tebang lurus tanpa hambatan.
Semakin dekat dengan bintang itu, dia bisa melihat jelas bintang itu diselimuti cahaya putih terang, sehingga tidak mungkin melihat penampilannya yang sebenarnya.
Ars tidak tahu berapa lama waktu berlalu, karena tidak ada konsep waktu disini, tapi perkiraannya dia telah terbang selama satu bulan dan akhirnya tiba di depan bintang cahaya.
(Masuk atau tidak?)
Dia ragu-ragu.
Manusia takut akan hal yang tidak diketahui, meskipun Ars bukan lagi manusia, dia masih memiliki sedikit kemanusiaan yang tersisa.
(Aku sudah sejauh ini, kenapa harus takut sekarang.)
Menetapkan pikirannya, dia tidak lagi ragu dan menerobos memasuki bintang cahaya di depannya.