
"Permisi..."
Di dalam toko, pemuda itu melihat seorang pria dikelilingi oleh tiga gadis cantik. Sebagai orang desa, ini pertama kalinya dia melihat wanita secantik itu.
"Selamat datang, pelanggan. Silahkan masuk."
Ars membangunkan Est, dan memintanya turun dari pahanya.
"Jika ingin tidur, lakukan dilantai atas, jangan disini. Kamu membuat malu Ars di depan orang lain."
"Kamu hanya iri."
Est menanggapi kata-kata tajam Restia.
Sebelum keduanya mulai beradu argumen, Ars menghentikan keduanya.
Setelah dimarahi olehnya, kedua gadis itu patuh dan tidak membuat masalah.
"Cough... Selamat datang di Klub Perdagangan Takdir. Di tempat ini, apapun bisa diperdagangkan, kecuali kehidupan abadi, segala sesuatu di dunia termasuk hal-hal di luar imajinasi mu bisa dibeli.”
Ars memberi penjelasan singkat tentang Klub Perdagangan Takdir ketika memperhatikan pria tersebut masih berdiri di pintu dan tidak berani masuk.
Desain bangunan Klub Perdagangan Takdir tidak sesuai dengan estetika era ini, sehingga membuat pihak lain waspada adalah hal wajar.
"Tapi aku tidak punya uang." Ucap pria itu rendah hati, takut memprovokasi pihak lain.
"Pembayaran tidak dilakukan menggunakan uang. Kesampingkan itu, masuklah ke dalam, mari kita berbicara."
Berjalan ke kursi, Ars duduk sambil menunjuk kursi kosong di depannya.
Melihat keramahannya, pria itu merasa lega. Kemudian ia memberanikan diri melangkah ke dalam toko.
"Sangat empuk."
Begitu dia duduk, dia takjub melihat betapa empuknya kursi yang dia duduki. Bahkan kursi di rumah saudagar kaya pun tidak sebagus kursi di sini.
"Silahkan menikmati."
Rea menyajikan teh dan kue di atas meja, lalu berdiri diam dibelakang Ars.
"Anooo... Sebenarnya tempat macam apa Klub Perdagangan Takdir itu?"
Pria itu tidak berani menyentuh hidangan di depannya, dan bertanya dengan ragu.
Klub Perdagangan Takdir sangat terkenal di Heian-kyo dan bahkan namanya telah menyebar ke seluruh negeri.
Ada banyak rumor dan cerita yang beredar di masyarakat.
Ada yang mengatakan Klub Perdagangan Takdir di utus oleh surga untuk mengawasi pemerintahan Kaisar Suzaku.
Rumor lainya mengatakan bahwa Klub Perdagangan Takdir tempat berkumpulnya Youkai, Oni, Ayakashi, dan makhluk gaib lainnya.
Namun, rumor paling populer dan dipercaya masyarakat, siapapun yang berhasil memasuki Klub Perdagangan Takdir dan bertemu pemilik tempat itu, maka keinginan orang tersebut akan terkabul.
Tentu saja, ini semua hanya rumor tanpa bukti apapun karena hingga saat ini belum ada yang berhasil masuk ke Klub Perdagangan Takdir.
"Kamu sudah tahu jawabannya, mengapa masih bertanya?"
Ars melihat pemuda itu dengan senyum tipis.
"Jadi rumor bahwa tempat ini bisa mengabulkan semua keinginan adalah nyata?"
Mata pria itu membelalak setelah mendapat konfirmasi, mengingat kesembilan monster raksasa diluar, ia percaya.
Awalnya, ketika dia melihat sembilan monster itu melototinya, dia hampir kencing di celana dan ingin berbalik dan lari. Namun, ia merasa akan menyesal seumur hidupnya jika melewatkan kesempatan ini.
Mempercayai intuisinya, ia mengambil resiko dan memutuskan masuk.
"Tidak perlu tegang, Sanzenin Eiji. Minumlah teh itu, aku yakin kamu akan lebih rileks." Ucap Ars setelah membaca takdir pria di depannya.
"Hah? Bagaimana kamu mengetahui nama ku?"
Pria bernama Sanzenin Eiji tercengang, ia yakin belum menyebut namanya.
"Tidak ada yang tidak aku ketahui." Ars tidak menjelaskan lebih jauh.
*Gulp*
Menghadapi hal tidak diketahui, Eiji menelan ludah. Menatap cangkir indah di depannya, dengan tangan gemetar, ia meminum teh.
"Apakah yang kamu katakan sebelumnya benar? Kamu bisa mengabulkan apapun?" Tanya Eiji dengan sikap lebih tenang.
"Harta, tahta, dan wanita. Selama harganya setara dengan pembayaran, kamu bisa membeli apapun disini. Jadi, Eiji-san, adakah yang kamu inginkan?"
Ibarat iblis yang menggoda manusia, Ars menawarkan godaan yang sulit ditolak oleh sebagian besar manusia.
"Aku ingin kaya!" Jawab Eiji tanpa ragu.
"Bisa." Ars mengangguk, tidak terkejut dengan permintaan pihak lain.
Sanzenin Eiji dilahirkan di keluarga miskin, dan merupakan anak pertama dari delapan bersaudara.
Tidak seperti di era modern ketika Jepang menghadapi penurunan populasi yang serius akibat angka kelahiran rendah, sebagian keluarga di Zaman Heian memiliki banyak anak.
Eiji bekerja sebagai buruh di pertanian salah satu keluarga terkemuka, dan ia hidup dalam kemiskinan.
"Berapa yang harga harus aku bayar?" Tanya Eiji bersemangat.
"Itu tergantung pada seberapa kaya kamu inginkan. Eiji-san ingin hidup kaya hanya untuk generasi ini, atau ingin setiap keturunan masa depan kamu hidup dalam kekayaan." Ars memberikan pilihan.
Eiji tidak langsung menjawab, alisnya berkerut menandakan pikirannya sedang bekerja keras. Setelah merenung sejenak, ia bertanya alih-alih memberikan jawaban.
"Sebutkan harga pilihan pertama dan kedua."
*🍷*
Menyeruput anggur merek Chateau Margaux, Ars menaruh gelas di meja, Rea dengan sigap menyeka mulutnya dengan hati-hati.
"Jika kamu hanya menginginkan kekayaan satu generasi, harganya adalah 15 tahun umur mu."
Pupil mata Eiji menyusut, kegembiraannya yang sempat memuncak dalam sekejap, kini mereda setelah mengetahui harganya dan tubuhnya menggigil kedinginan padahal suhu di dalam ruangan sedang hangat.
Pandangannya yang sebelumnya mengira pemuda di hadapannya adalah dewa berubah seperti melihat setan.
Mengabaikan perubahan pola pikir Eiji, Ars terus berbicara.
"Adapun harga pilihan kedua... Aku yakin Eiji-san tertarik setelah mendengarnya."
"A-Apa harga pilihan kedua?" Tanya Eiji gugup.
Menurutnya, pilihan kedua akan memiliki harga yang lebih mahal daripada pilihan pertama.
"Harganya... Setiap keturunan perempuan mu tidak bisa hidup lebih dari 28 tahun."
"Itu saja?"
Eiji tidak percaya, itu terlalu murah!
"Kamu tertarik, kan?" Ars tersenyum tipis.
"Kalau begitu aku pilih yang kedua. Tolong berikan aku kekayaan hingga generasi mendatang." Eiji berkata bersungguh-sungguh.
Ia tidak ragu mengorbankan keturunannya di masa depan. Lagipula, ia tidak akan pernah bertemu mereka, mengapa ia harus peduli?
Daripada mengorbankan 15 tahun masa hidupnya, ia lebih memilih mengorbankan keturunannya!
"Kamu yakin?" Ars sekali lagi menginformasi kesepakatan, tapi bibirnya melengkung membentuk senyuman.
(Keserakahan manusia tidak mengenal batas)
Ia menyadari hati Rea terguncang melihat transaksi kotor ini.
Ini pertama kalinya dia melihat sisi gelap manusia.
Demi cepat kaya, orang rela membuang hati nuraninya.
"Aku yakin. Tuan, aku ingin membeli kekayaan untuk semua generasi mendatang. Aku bersedia membayarnya dengan harga tersebut."
Eiji tidak menunjukkan keraguan sedikit pun.
Ia lelah hidup miskin, diremehkan orang lain, dan dipandang rendah.
"Baiklah. Kesepakatan selesai. Mulai hari ini, Keluarga Sanzenin akan menjadi konglomerat terbesar di Jepang sepanjang masa." Kata Ars, mulai mengedit nasib Eiji dengan kemampuan Kitab Suci Takdir.
"Terima kasih banyak, Tuan."
Eiji dengan tulus berterima kasih.