Reinkarnasi Ketujuh

Reinkarnasi Ketujuh
Minamoto no Tsunemoto


Hutan yang tadinya hijau kini menjadi putih karena tertutup salju.


Banyak hewan memilih hibernasi untuk menghindari cuaca dingin di musim dingin, bahkan suara jangkrik pun tidak terdengar di hutan tersebut.


Namun, kesunyian itu tiba-tiba terganggu oleh suara pecahan kaca, dan ruang menjadi tidak stabil dan retak, dan membentuk lubang.


Dari dalam lubang, seorang pemuda berusia 20an, rambut hitam dan mata merah tua, berjalan keluar.


Pemuda itu tidak lain adalah Ars.


"Oh, sudah lama sekali aku tidak melihat salju."


Kepingan salju dari langit berjatuhan seperti hujan, suhu dingin yang ekstrim tidak mempengaruhi dirinya meski mengenakan pakaian tipis.


"Kalian berdua boleh keluar."


Sfx: *Whisss*


Restia dan Est muncul di kedua sisi Ars.


"Jadi ini semesta yang kamu tuju? Aku tidak merasakan hal spesial."


Selain pepohonan dan salju, Restia tidak menemukan apapun yang menarik perhatiannya.


"Well, aku menggunakan kemampuan Kitab Suci Takdir membimbing ku dan membawa ku kesini. Pasti ada hal yang aku butuhkan disini." Ars mengangkat bahu dan berkata.


Seperti yang dikatakannya, Kitab Suci Takdir menuntunnya datang ke semesta ini. Meski sempat ada kesalahan navigasi, Ars tiba di tempat yang tepat.


"Dan jangan terlalu cepat menilai sesuatu, ini bukan dunia biasa yang kamu kira.” Ars menepuk kepala Restia.


Baru saja dia menggunakan [Divine Sense] yang mendeteksi seluruh permukaan planet.


Dia menemukan ada hal-hal supernatural di dunia ini. Ini adalah bumi yang belum mencapai peradaban modern dan dia berada di Jepang.


(Seharusnya ini dunia berdasarkan anime. Lagipula, sebagian besar latar cerita anime terjadi di Jepang) Pikir Ars.


Keyakinannya bahwa ini adalah dunia anime diperkuat dengan penghuni dunia ini yang memiliki rambut berwarna-warni.


Bukankah ini adalah bukti terbaik?


Untuk alasan yang tidak diketahui, dia hanya bisa datang ke dunia anime. Pengecualiannya adalah ketika Tian Shen membawanya ke semesta dan ternyata itu adalah dunia kultivasi.


"Ars, aku merasakan ada banyak aura manusia disana."


Est menarik lengan bajunya, membangunkan Ars dari lamunannya.


"Kerja bagus, Est."


Dia sebenar sudah tahu ada sebuah kota di dekat mereka saat menggunakan [Divine Sense], Ars tetap memuji Est sambil menepuk kepalanya.


"Fuah~, tangan Ars sangat hangat." Est menunjukkan ekspresi kenikmatan.


"Itu tidak adil, aku juga mau." Restia bertindak genit.


"Kalian berdua Roh yang manja."


Tangannya masing-masing mengelus kepala Restia dan Est, meskipun dia terlihat mengeluh, Ars tidak membenci situasi seperti ini.


Setelah memuaskan hasrat keduanya, Ars memegang tangan mereka dan berkata: "Ayo ke kota, jika kita terus berdiam disini, kita mungkin akan mati membeku."


"Seolah-olah hal ini bisa mempengaruhi kita."


Mendengar itu, Restia memutar matanya ke arahnya.


Est tidak berkata apa-apa, tangannya menggenggam semakin erat.


Kemudian kombinasi pria dewasa dan dua gadis kecil berjalan menyusuri hutan.


Karena naluri binatang sangat peka terhadap bahaya, serigala liar atau babi hutan akan langsung berbalik dan lari saat melihat Ars.


Ars dengan sengaja memancarkan auranya sehingga mereka tidak menemui masalah apapun.


Mereka berjalan dengan kecepatan orang biasa, sehingga membutuhkan 30 menit sampai ke kota.


Pokoknya, perjalanannya tidak didesak oleh waktu, lebih baik menikmati hidup alih-alih melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa.


"Arsitektur bangunan disini sangat unik." Restia melihat sekeliling dengan penuh minat.


Kota itu penuh dengan bangunan-bangunan kayu. Jalan-jalannya ditutupi salju dan tidak ada banyak orang di jalan.


Para pejalan kaki mengenakan yang belum pernah kedua gadis Roh itu lihat.


Pakaian wanita terdiri dari kosode, yaitu atasan longgar yang diikat di pinggang, dan hakama, yaitu rok panjang yang diikat di pinggang. Sedangkan pakaian pria terdiri dari kutsushita, yaitu celana panjang yang diikat di pinggang, dan kamishimo, yaitu atasan yang longgar yang diikat di pinggang.


"Aku sama sekali tidak mengerti apa yang mereka katakan." Restia mendengar percakapan orang-orang disekitarnya dan tidak mengenali satu huruf pun.


"Ars, mengapa mereka membawa senjata?" Est menunjuk seorang pria yang memiliki katana di pinggangnya.


"Mereka adalah samurai, dan kita ada di negara kepulauan bernama Jepang." Ars berkata.


Mereka bertiga menonjol di tengah kerumunan, dan para pejalan kaki memandang mereka seolah-olah sedang melihat monyet.


Lagipula, penampilan mereka terlalu aneh bagi penduduk lokal.


Restia dan Est adalah wanita cantik dan imut tanpa perlu berias. Selain itu, pakaian yang mereka kenakan juga tidak biasa.


Restia mengenakan gaun gotik hitam, sedangkan Est mengenakan seragam Akademi Roh Areishia.


Estetika busana modern terlalu mencolok di kalangan warga kota yang berbusana kuno.


Disisi lain, Ars mengenakan kaos putih dengan jaket tudung hitam, celana jeans hitam, dan sepatu. Ditambah wajah tampannya, ada banyak perempuan diam-diam meliriknya.


Sederhananya, Est dan Restia memikat para pria, dan Ars telah membuat banyak wanita jatuh cinta padanya.


Mungkin seseorang memanggil polisi resmi (Kebiishi), Ars dikepung oleh sekelompok samurai.


Mengenakan baju besi merah, seorang pria dengan alis seperti pedang, yang merupakan pemimpin, melangkah maju ke depan.


"Aku adalah Minamoto no Tsunemoto, kepala Kebiishi yang menjaga istana kekaisaran. Siapa kalian dan dari mana asal kalian?"


Penampilan ketiga orang di depannya terlalu aneh, pria memiliki rambut pendek, dan dua gadis kecil itu terlalu cantik. Tsunemoto hampir terpesona oleh kecantikan keduanya. Untungnya, jiwa samurainya mengingatkannya untuk tidak mempunyai pemikiran tidak bermoral terhadap gadis kecil.


"Nama ku adalah Ars Idriss. Kami adalah pedagang dari luar negeri. Kapal kami terjebak badai dan tenggelam. Syukurlah, dewa masih memberi kami kesempatan, kami berhasil mencapai daratan dengan selamat."


Ars memutuskan menggunakan nama belakang Areishia.


"Pedagang? Hanya kalian bertiga?"


Tsunemoto mengerutkan kening, tidak langsung mempercayai alasan tersebut.


"Minamoto-san, bisakah kita pergi ke tempat lain untuk ngobrol. Di luar sangat dingin, seperti yang Anda lihat, pakaian kita tidak tahan terhadap suhu dingin. Semua perbekalan kami tenggelam bersama kapal."


"Ah, ini keteledoran ku. Silahkan ikuti aku."


Melihat pihak lain tidak membawa senjata, Tsunemoto membawa mereka ke markas. Setelah menginterogasi mereka, dia membiarkan kaisar mengambil keputusan.


Didampingi samurai disisi kiri dan kanan, Ars bersama Restia dan Est berjalan dipimpin oleh Tsunemoto.


"Apa yang baru saja kamu berdua bicarakan?" Restia bertanya.


Dia dan Est tidak berbicara karena tidak mengerti bahasa Jepang.


"Tidak banyak, hanya alasan acak.” Kata Ars.


"Setelah ini selesai, kamu harus mengajari bahasa. Sangat tidak nyaman tidak tahu apa yang orang lain bicarakan."


"Tentu."


"Ars, jangan lupakan aku."


"Tidak mungkin aku melupakan Est."


Berjalan di barisan depan, Tsunemoto mulai mempercayai alasan Ars. Pihak lain menggunakan bahasa yang belum pernah di dengarnya, selain itu pakaian mereka juga terlihat nyentrik.


(Tidak tahu malu)


Tsunemoto buru-buru mengalihkan perhatiannya saat tatapannya terfokus pada rok pendek kedua gadis kecil itu.


Dia merasa malu karena terpukau oleh tubuh gadis kecil.


Catatan Penulis: Ada yang bisa menebak Ars di dunia anime apa?


Petunjuk: Mc akan dapat ramuan keabadian disini.