
"Wahai kegelapan, kembalilah ke ketiadaan—[Deus Ira]!"
Pedang cahaya yang membentang sampai ke puncak langit, diayunkan ke bawah.
Menghadapi serangan itu, ekspresi Ars tidak berfluktuasi.
*Clank*
Pedang saling berbenturan, cahaya kekuatan ilahi yang menyilaukan menyapu seluruh lingkungan.
"Lemah." Ucap Ars.
Cahaya dari Pedang Vorpal dan Pedang Suci meluas seketika.
Semburan cahaya menyelimuti Alexandros, membuat seluruh tubuhnya terbang ke belakang.
"Cough..."
Alexandros menghantam penghalang Istana. Setelah batuk seteguk darah, dia terbaring dan tidak bisa bangun.
"Mustahil... Bagaimana manusia bisa sekuat ini? Siapa sebenarnya kamu?"
Memuntahkan darah dari mulutnya, Alexandros balas menatap ke arah Ars.
Kekuatan ilahi melonjak untuk menutupi dirinya sepenuhnya dan mulai memperbaiki tubuhnya yang terluka.
"Aku? Aku adalah mimpi buruk mu?"
Meski tahu gadis di hadapannya bukanlah Areishia, melainkan Alexandros, tak menyurutkan rasa tidak nyaman Ars saat ia melukainya.
"Kamu memaksa ku melakukan ini."
Mencengkeram gagang pedangnya, Alexandros berdiri.
"Gunakan semua trik mu, aku akan memberimu waktu untuk bersiap."
Ars ingin membuat Alexandros menyesal dan putus asa telah menjadikan Areishia sebagai wadahnya. Karena itu, dia tidak langsung menghabisinya.
"Kamu akan membayar keangkuhan mu, Ars."
Kegelapan menyelimuti Alexandros, armor dan Pedang Suci kehilangan aura sucinya.
Ars hanya menyaksikan tanpa berniat menganggu proses transformasi Alexandros. Tidak peduli seberapa kuat peningkatan kekuatan pihak lain, itu tidak akan mengubah takdir.
Di hadapan kekuatan absolut, skema dan intrik tidak ada gunanya!
"Jadi itu Kegelapan Dunia Lain (Kegelapan Sejati) huh..."
Para Tuan Elemental dirusak oleh Kegelapan Dunia Lain dan memerlukan Tarian Pedang untuk menjaga kewarasan mereka untuk sementara. Ars mengetahui rahasia ini saat mengakses Catatan Akashik.
Meski Ars cuek, kedua Roh Terkontraknya berbeda.
(Ars, hati-hati.)
Tergenggam di tangan kanannya, Est berbicara.
(Kegelapan Dunia Lain sangat berbahaya)
(Fufu, jadi kamu merasakannya, adik perempuanku) Restia terkekeh.
(Aku bukan adik perempuan mu) Est membantah.
(Sesuai urutan, aku adalah Roh pertama Ars, sedangkan kamu adalah Roh kedua. Itu menjadikan mu adik kecil ku) Logika Restia masuk akal.
(Aku bersama Ars lebih lama) Est berkata bangga.
Mengabaikan pertengkaran kecil di dalam kepalanya, Ars mengawasi Alexandros ternoda Kegelapan Dunia Lain.
Kegelapan Dunia Lain telah menyelimuti Alexandros berubah menjadi bola hitam yang melayang di udara, bola itu mulai bergetar dengan suara yang memekakkan telinga.
Saat itu, retakan tiba-tiba muncul di tengah bola gelap yang menelan Alexandros.
Detik berikutnya, bola itu terkoyak dari dalam.
Menyembur seperti darah, Kegelapan Dunia Lain turun seketika, mewarnai istana menjadi hitam.
Selanjutnya, dua lengan bercahaya muncul dari tengah bola terbuka yang robek.
"Oh, tidak heran Alexandros begitu percaya diri. Skala kekuatan ini telah melampaui batas dunia ini."
Ars tidak terintimidasi oleh tekanan yang menimpanya. Baginya, itu seperti angin sepoi-sepoi.
Bola gelap itu tercabik-cabik lalu muncul di dunia ini.
Patung seorang pejuang, tiga kali tinggi manusia, dengan sayap bercahaya emas.
Wajah cantik yang terbentuk dari batu putih bersih tampak maskulin sekaligus feminim, bersinar dengan cahaya terang, mata seperti permata itu menatap Ars dengan dingin.
Saat itu, Pedang Suci bersinar dan Est berbicara.
(Aku diciptakan dengan tujuan untuk menghancurkan mereka. Kenangan primordial yang tertidur di dalam diriku memberitahuku. Tujuan awal dari setiap Senjata Roh yang diciptakan di dunia ini adalah untuk menghancurkan malaikat seperti itu.)
Digenggam di tangan Ars, Est memancarkan rasa permusuhan yang luar biasa.
(Berhati-hati, Ars, meski kamu kuat, musuh mu juga tidak lemah) Restia mengingatkan.
"Kiiiiiiiiiiiiiiiii."
Malaikat itu mengeluarkan suara dengan nada yang aneh.
"Tsk, tubuh Areishia tidak hanya digunakan oleh Alexandros, bahkan kini digunakan sebagai media pemanggilan Malaikat. Tidak bisakah kalian membiarkannya beristirahat dengan tenang?!"
Sayangnya, Malaikat itu tak peduli dengan omelan Ars. Itu meluncur seperti meluncur di tanah. Detik berikutnya, tiba-tiba menghilang dari pandangan.
*BAM*
Sebagai tanggapan, Ars menggunakan Pedang Suci untuk memblokir. Dia dengan santai menanggung dampak yang menghancurkan bumi.
"[Evil Flame]."
Pedang Vorpal diselimuti api hitam mirip dengan Amaterasu. Kemudian, pedang melaju dengan kecepatan seperti kilat saat mengenai perut Malaikat itu.
*Ding*
Namun, ujung Pedang Vorpal diblokir oleh penghalang rune yang bersinar.
(Ini adalah [Anti-Field], penghalang penolakan ini telah menghilangkan atribut kegelapan pada tingkat konseptual) Est menjelang alasan serangan Ars tidak efektif.
Sebuah lingkaran cahaya muncul di kepala malaikat itu.
"Riiiiiiiiiiiii."
Malaikat membuat suara gemuruh yang menyerupai gelombang supersonik.
"Mari kita akhiri ini dengan cepat. Aku tidak tega melihat mayat Areishia disalahgunakan lebih lama lagi." Ars berkata sedih.
Ruang dan waktu di sekitar malaikat menjadi padat, sehingga mustahil untuk bergerak.
"[Absolute Slicing]"
Ars mengayunkan Pedang Suci dan Pedang Vorpal secara bersamaan.
*Crush-Bang*
Suara gelas pecah terdengar jelas di istana.
"Kiiiiiiiiiiiiiiiiin—"
Malaikat itu berteriak untuk terakhir kalinya sebelum menghilang, dan sosok Alexandros muncul.
"Apa...!?"
Wajah Alexandros yang dingin menunjukkan keterkejutan untuk pertama kalinya.
"Mengalahkan Malaikat hanya dengan satu serangan... Itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan makhluk fana."
Senyum penuh percaya diri hilang dari wajah itu. Dia bergumam. Dengan ekspresi tidak percaya, Alexandros menatap Ars dengan pandangan baru.
"Mustahil, bagaimana bisa Malaikat kalah dari mu—"
"Jika kamu masih memiliki kartu truf lainnya, cepat gunakan. Ini kesempatan terakhir mu."
Tidak ada kegembiraan dan kesenangan di wajah Ars.
"Jangan meremehkan ku, manusia!!!"
Menggenggam Pedang Suci palsu, Alexandros terus-menerus menyerang dengan kecepatan kilat.
*Clank Clank Clank*
"Tampaknya kamu sudah tidak punya apa-apa. Kalau begitu, matilah."
"[Absolute Slicing]."
Ars menebas Alexandros secara silang.
"Guh... Bagaimana ini bisa terjadi..."
Setelah mengatakan itu, jiwa Alexandros hancur menjadi ratusan, ribuan, puluhan ribu bagian.
Kehancuran jiwa Alexandros membuat tubuh Areishia hanya tinggal cangkang kosong, dan terjatuh ke depan, tapi Ars menangkapnya terlebih dahulu.
"Areishia..."
Kedua pedang di tangannya menghilang dan kembali ke Segel Roh, bibir Ars gemetar merasakan suhu dingin tubuh Areishia.
"Maaf... Maafkan aku... Maaf tidak bisa melindungi mu..."
Bahkan Ars yang memiliki Hati Dao kokoh, tidak dapat membendung air matanya, dan dia menangis sambil memeluk erat Areishia.
"Areishia!"
Restia dan Est keluar dari Segel Roh, lalu Est memegang tangan Areishia sambil menangis.
"Sigh~... Nasib Ratu Suci sangat menyedihkan. Bahkan setelah kematiannya, dia masih dimanfaatkan."
Restia menghela nafas, suasana kesedihan juga menjangkiti dirinya.