
Berjalan menyusuri jalan setapak, terlihat seorang pemuda berusia 20-an mengenakan kimono hitam, sandal jerami, topi bambu, dan katana yang tergantung di pinggangnya.
Pemuda itu tidak lain adalah Ars.
Sudah 10 tahun sejak tubuh utamanya di segel. Dia tidak pernah tinggal lama di satu tempat, dan merupakan seorang pengembara yang membiarkan angin menuntun jalannya.
*Groooo*
Suara perut keroncongan terdengar.
"Ugh, rasa lapar ini sangat tidak nyaman."
Menguap perutnya sambil mengeluh, Ars hendak mengambil makanan di [Storage Magic], tetapi membatalkan niatnya setelah melihat toko dango tidak jauh di depan.
"Akhirnya aku bisa makan makanan buatan tangan. Aku sudah bosan dengan makanan instan."
Mempercepat langkah kakinya, dia tiba di toko dango itu.
"Permisi."
Melihat tidak ada orang, Ars mengetuk dinding.
"Tunggu sebentar, aku akan segera datang."
Dari dapur terdengar suara wanita tua.
Duduk di kursi, Ars melepaskan topi bambu dan menaruhnya di meja.
"Oho, kali ini yang datang pemuda yang tampan." Ucap wanita tua yang punggungnya sudah bungkuk.
"Kamu terlalu berlebihan, nenek. Penampilan hanya biasa-biasa saja. Ngomong-ngomong, hanya kamu sendiri disini?"
"Ah, aku ditemani cucu perempuan ku. Dia sedang membeli bahan makanan di Desa Kiso, seharusnya dia akan kembali sebentar lagi."
Sang nenek menunjukkan keramahan kepada Ars.
"Tempat ini menyediakan apa saja?"
Karena tidak ada buku menu, Ars harus bertanya. Lagipula, peradaban di zaman ini terlalu terbelakang.
"Disini menjual dango, mochi, udon, dan teh. Kamu mau memesan apa, anak muda?"
"Kalau begitu, satu porsi udon dan mochi. Untuk minumnya, air putih saja."
"Mungkin kamu akan menunggu sedikit lebih lama. Maklum, aku tidak semuda dulu. Ha ha ha..."
"Tidak masalah, aku bisa menunggu."
Lalu, sang nenek kembali ke dapur untuk menyiapkan makanan yang dipesan Ars.
Sambil menunggu, Ars melihat sekelilingnya.
"Selain judi, dan rumah bordil. Tidak ada hiburan yang layak. Aku kasihan dengan orang-orang yang hidup di zaman ini."
Sebagai Reinkarnator dari zaman modern, dia sudah terbiasa dengan segala macam hiburan dan teknologi. Namun, kini harus menahan kebosanan tinggal di zaman ini. Bahkan jika ia ingin pergi ke dunia berikutnya, itu tidak bisa dilakukan.
"Nenek, aku pulang."
Suara seorang gadis muda membangunkan Ars dari lamunannya.
Melihat ke sumber suara, ia melihat gadis berambut hitam panjang, membawa karung besar dan memakai pakaian lusuh.
"Ah, ternyata ada pelanggan. Mohon tunggu sebentar lagi, hidangannya akan segera siap."
Gadis itu terpukau melihat pemuda di depannya. Dibandingkan pria yang mengklaim dirinya sebagai pria paling tampan di Desa Kiso, pemuda di depannya jauh lebih tampan dibandingkan pria narsis itu.
Setelah kedatangan gadis itu. Sekitar 10 menit kemudian, makanan di antar ke meja Ars.
"Silahkan dinikmati."
Menutup separuh wajahnya dengan nampan, gadis itu melirik Ars beberapa kali, lalu bergegas ke dapur.
"Ittadakimasu."
Membelah sumpit, Ars mengucapkan kalimat khas sebelum makan, dan mulai makan.
*Slurrppp*
Sambil menyeruput mie, Ars mendengar percakapan nenek dan cucu perempuan secara tidak sengaja karena indera pendengarannya yang tajam.
"Keiko, kamu pulang lebih lama dari biasanya. Apa sesuatu terjadi?" Tanya sang nenek khawatir pada cucu perempuannya.
"Maafkan aku, nenek. Aku terlalu asyik ngobrol sampai lupa waktu.” Jawab Keiko malu.
"Ha Ha Ha... Tidak apa-apa, kamu harus lebih sering bergaul dengan remaja seusia mu daripada menemani wanita tua ini."
"Apa yang nenek bicarakan! Kamu telah mengasuh ku sejak kecil, aku tidak akan meninggalkan nenek sendirian."
"Keiko... Ayah dan ibu mu di surga pasti gembira mempunyai anak perempuan yang berbakti pada mu. Tapi kamu juga harus memikirkan masa depan mu, kamu harus mencari pria baik untuk dijadikan suami. Misalnya, pemuda di depan."
"Apa yang nenek bicarakan! Bagaimana kalau pelanggan itu mendengar."
Ars yang sedang makan hampir tersedak mendengar sang nenek tiba-tiba menyebutkannya.
Keiko tidak ingin membahas perjodohan lagi, dan mengganti topik pembahasan.
"Apa nenek tahu Hagoromo-sama telah menunjuk penerus dari Ninshu?"
Ketika nama Hagoromo disebutkan, itu menarik perhatian Ars.
"Benarkah? Lalu siapa yang terpilih?" Tanya sang nenek penasaran.
"Penerus Ninshu adalah Asura-sama! Ini menjadi topik pembicaraan hangat di Tanah Leluhur. Aku dengar dari kepala desa, anggota faksi Indra-sama sangat tidak puas dengan keputusan itu. Meski begitu, Hagoromo-sama tetap tidak mengubah keputusannya."
Keiko berbicara dengan suara pelan, takut pembicaraan mereka di dengar orang lain.
(Ini sudah hampir waktunya, huh... Aku harus bergegas ke Tanah Leluhur, akan ada tontonan menarik.) Pikir Ars.
Meskipun sudah 200 tahun sejak dia memulai siklus reinkarnasi, dan sebagian besar ingatannya sebagai Brandon mulai terlupakan. Namun, Ars masih ingat gambaran besar sebagian besar anime, terjaga yang terkenal seperti Naruto.
Menurut plotnya, Indra yang tidak puas dengan keputusan ayahnya akan memberontak dan menantang Asura. Dia ingin membuktikan dirinya lebih layak dari adik laki-lakinya untuk menjadi penerus Ninshu.
(Menonton langsung jauh lebih menyenangkan daripada menonton anime.)
Menentukan tempat berikutnya, Ars menghabiskan udon, lalu memakan mochi sebagai makanan penutup.
"Aku mau membayar!" Dia berbicara sedikit keras.
Keiko berjalan dari dapur dan tiba di depan Ars.
"Totalnya 5 tael perak."
Di zaman ini, mata uang kertas belum ada. Sebagian besar negara menggunakan perak atau emas sebagai mata uang. Bahkan, banyak desa yang masih menggunakan barter untuk bertransaksi.
"Ambil ini."
Menggali ke dalam kantong kecil di pinggangnya, Ars meletakkan sebatang emas di atas meja.
"P-Pelanggan, ini terlalu banyak! Tagihannya hanya 5 tael perak saja."
Mata Keiko terbelalak. Ini pertama kalinya dia melihat emas dalam hidupnya, yang membuatnya tercengang.
"Ambil saja, gunakan uang itu untuk merawat nenek mu." Ucap Ars sambil memakai topi bambu, dan meninggalkan toko.
"T-Terima kasih banyak, silahkan datang lain kali."
Tersadar dari linglung, Keiko membungkuk kepada Ars yang sudah berjalan agak jauh.
....
Ars tiba di Tanah Leluhur setelah berjalan dua hari. Jika bukan karena dia harus menanyai jalan pada orang-orang yang ditemuinya, waktu perjalanannya akan lebih singkat.
Sayangnya, tidak ada google map yang bisa memandu jalannya. Jadi, ia harus mengandalkan diri sendiri mencari jalan.
Setelah tiba di Tanah Leluhur, tidak sulit baginya mencari lokasi keberadaan Hagoromo. Lagipula, orang itu sangat terkenal karena telah mengajarkan Ninshu kepada semua orang.
Ninshu adalah agama yang didirikan Hagoromo, dan dimaksudkan untuk memberi orang pemahaman yang lebih baik tentang diri mereka sendiri, serta orang lain, dan memimpin dunia menuju era perdamaian.
Ars tahu istilah Ninshu akan terlupakan di masa depan, dan lebih dikenal sebagai Ninjutsu, yang digunakan Shinobi untuk berperang.
Harus dikatakan, perdamaian yang ciptakan Hagoromo berlangsung singkat. Tidak lama setelah kematiannya, orang-orang yang belajar Ninshu mulai menyalahgunakannya demi kepentingan egois masing-masing.
"Hagoromo, tindakan mu mengajarkan manusia Ninshu hanya memberi periode perdamaian yang singkat. Dan manusia akan memasuki zaman peperangan yang sangat sangat panjang."
Di kerumunan pejalan kaki, Ars berkata dengan suara pelan.
Dia agak dendam karena telah disegel oleh Hagoromo dan Hamura. Padahal, ia tidak menunjukkan sikap permusuhan sejak awal.
"Nah, yang tersisa hanyalah menunggu."
Ars tidak tahu kapan konflik Indra dan Asura dimulai. Jadi, ia mencari penginapan.