Reinkarnasi Ketujuh

Reinkarnasi Ketujuh
Mengapa Manusia Menginginkan Keabadian?


10 tahun kemudian.


Ars berdiri di tepi pantai, membiarkan kaki telanjangnya basah oleh deburan ombak dan menyaksikan matahari terbenam.


"Oi, Ars!"


Terdengar suara seseorang memanggilnya dari belakang, tapi dia enggan menoleh.


Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki mendekat.


"Aku memanggil mu dari tadi, jangan berpura-pura tidak mendengarkan." Byakuya mengeluh.


"Ternyata Byakuya, apa perlu sesuatu?"


Ars bahkan tidak melirik pria di sebelahnya dan perhatiannya terfokus ke matahari terbenam.


"Jangan bilang begitu, itu terdengar seperti aku mencari mu kalau ada perlunya."


"Oh."


"Kamu..."


Byakuya sudah terbiasa sikap cuek Ars, dan terlalu malas berargumen.


"Makan malam sudah siap, Lillian dan yang lainnya sudah berkumpul."


Ars mengalihkan pandangannya ke Byakuya dan berkata acuh tak acuh.


"Kamu tahu Idaten tidak perlu makan seperti kalian, manusia. Kenapa terus mengundangku makan bersama? Kalian bisa makan tanpa perlu menunggu ku."


"Itu tidak boleh, kamu adalah dermawan kami semua, kami tidak bisa mengabaikan mu begitu saja. Meski tidak seberapa, kami harus membalas budi."


Byakuya berkata serius, dan tidak ada candaan seperti biasanya.


"Baiklah, mari kembali. Anak-anak pasti sudah lapar."


Ars berbalik ke belakang. Saat berjalan, sandal muncul di kakinya.


"Malam ini kita makan nasi kari." Byakuya menyusul dan berkata sambil tersenyum.


Keduanya berjalan menuju pemukiman, butuh 10 menit berjalan kaki untuk sampai.


"Hei, Byakuya. Apa kamu pernah mendengar kisah Kaisar pertama Tiongkok, Qin Shi Huang, yang terobsesi menjadi abadi?" Ars bertanya tiba-tiba.


"Tentu saja aku tahu, itu kisah yang cukup terkenal dalam sejarah. Pencarian keabadian Kaisar Qin bahkan membuatnya dicap sebagai salah satu pemimpin gila sepanjang sejarah. Selama 10 terakhir hidupnya, dia mencari ramuan yang akan mencegahnya dari kematian. Ia mengirim setiap sarjana, penyihir, dan orang bijak di kekaisaran untuk menemukan ramuan keabadian."


Sebagai seorang astronot, Byakuya mempunyai banyak pengetahuan. Dia terlihat ceroboh dan sembrono, tapi itu karena kepribadiannya yang riang, bukan berarti dia dungu.


"Mengapa kamu tiba-tiba menanyakan ini?" Dia bertanya bingung.


"Kamu tidak tertarik dengan keabadian? Di depan mu, ada makhluk abadi yang keberadaannya dicari-cari oleh para kaisar dan raja zaman dulu. Jika kamu bertanya, mungkin aku bisa memberitahu mu rahasia keabadian mu."


Ars tidak menjawab dan malah balik bertanya.


"..."


Langkah kaki Byakuya berhenti, lalu memberikan jawabannya dengan tangan mata tegas.


"Tidak ada artinya hidup selamanya jika itu berarti kesendirian tanpa akhir, dan hanya bisa menyaksikan orang-orang paling berharga di sisiku mati satu per satu. Lebih baik hidup singkat penuh makna daripada hidup panjang penuh penderitaan tak berkesudahan. Tawaranmu sangat menarik bagi orang lain, Ars, tapi tidak bagiku."


"Aku tahu kamu akan menolak, Byakuya." Ars tersenyum tipis.


"Oh, sangat jarang kamu tersenyum, kata-kata ku kere, kan?"


Suasana serius sebelumnya menghilang seolah tidak pernah terjadi, dan Byakuya kembali ke sifat riangnya.


"Tidak buruk, kamu sedikit orang yang bisa menolak godaan keabadian. Ngomong-ngomong, aku tidak punya cara menjadikan orang lain abadi."


"Sialan! Bukankah itu hanya pertanyaan jebakan! Sejak kapan kamu tahu cara mempermainkan orang lain. Namun, itu pertanyaan yang sangat mendadak, pasti seseorang pernah mengincar keabadian mu, kan?"


"Tebakan mu benar. Di duniaku, keturunan temanku mencoba menangkapku untuk mengungkap rahasia keabadian. Tentu saja, upayanya gagal, dan harus membayar mahal agar tidak pernah berpikir untuk memprovokasi ku lagi. Mungkin dia sudah meninggal karena usia tua."


"Jika aku punya keturunan tidak berbakti seperti itu, aku akan memukul pantatnya dengan rotan."


Byakuya bisa mendeteksi kesedihan dalam nada suara Ars. Jika dia berada di posisinya dan mengalami hal serupa, dia juga akan merasakan kekecewaan besar.


"Nah, Byakuya, mengapa Kaisar Qin dan orang yang berkuasa sangat menginginkan keabadian. Tidak ada hal yang bagus menjadi abadi, ini lebih seperti kutukan daripada berkah."


Byakuya tidak segera menjawab pertanyaan Ars, memikirkan dengan seksama sejenak, lalu mengungkapkan pendapatnya.


"Daya pikat untuk menjadi abadi dan umur panjang terlalu menarik untuk orang-orang di puncak kekuasaan. Faktanya, mengingat kekuatan, otoritas, dan kekayaan mereka yang tak ada habisnya. Hanya dengan menjadi abadi dan mencapai kehidupan abadi mereka dapat terus menikmati kemewahan dan kenyamanan. Ha ha ha... Tentu saja ini hanya pendapat pribadi ku."


Ars setuju dengan pendapat Byakuya.


Sambil mengobrol, mereka tiba di desa yang memiliki beberapa rumah kayu. Di tengah terdapat meja panjang yang menyajikan banyak hidangan, dan sekelompok orang berkumpul.


"Paman!"


Seorang gadis pirang berusia sekitar 4 tahun melemparkan dirinya ke pelukan Ars.


"Ruby, ayah mu disini..."


Melihat anak perempuannya malah memeluk Ars dibandingkan dirinya, Byakuya merasa ingin menangis.


"Selamat datang, ayah."


Ruby memanjat dan duduk di bahu Ars, lalu menyapa ayahnya.


"Sialan, aku tidak membiarkan mu membawa Ruby!"


Byakuya menunjukkan permusuhan seperti seorang ayah mertua tidak menyukai calon menantu laki-lakinya.


"Apa yang kamu pikirkan, Ruby berusia 4 tahun! Dan aku tidak tertarik dengan manusia yang memiliki umur pendek."


Ars memutar matanya, itu sama saja memfitnahnya sebagai pedofil.


"Paman, Ruby minta jajan."


"Ibu mu akan marah jika makan jajan sebelum makan malam."


"Tidak, tidak, tidak, aku mau jajan."


Ruby mengayunkan kakinya di udara dan meronta.


"Byakuya..."


"Huh, Ruby lebih menyukai mu daripada aku ayahnya. Jangan bertanya padaku."


Sebelum Ars menyelesaikan kalimatnya, Byakuya pergi menuju meja makan dengan langkah besar.


"Dia kekanak-kanakan..."


Ars menghela napas tak berdaya.


Ishigami Ruby, dia adalah putri pertama Byakuya dan Lillian.


Penghuni di Pulau Harta Karun telah bertambah, tiap pasangan telah melahirkan anak. Kini, populasi pulau ini adalah sepuluh orang.


Connie dan Shamil mempunyai putra kembar.


Darya dan Yakov mempunyai seorang putri.


Byakuya dan Lillian juga mempunyai seorang putri, tapi Lillian sedang hamil anak kedua mereka.


Tiap anak mereka memiliki nama yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, serta keturunan di masa depan juga akan seperti itu.


"Baiklah, ambil ini. Jangan biarkan ibu mu sampai tahu."


Akhirnya Ars menyerah, dan memberikan sekotak biskuit ke Ruby.


"Terima kasih, paman. Aku paling menyukai mu."


Memegang kotak biskuit, Ruby memberikan ciuman di pipi Ars, lalu dia turun dan kembali ke kamarnya untuk menyembunyikan biskuitnya.


"Ini mengingatkan ku dengan Marie kecil..."


Kenangan yang sudah lama terkubur mulai muncul ketika dia melihat betapa aktifnya Ruby.


"Harus aku katakan, meski Byakuya sudah berusia 40an, staminanya di aspek itu lebih bagus daripada Shamil. Pada tingkat ini, dia setidaknya bisa menghamili Lillian tiga kali lagi, mungkin lebih."


Ars kagum dengan potensi manusia yang akan muncul begitu mereka berada dalam krisis kepunahan. Mereka akan mereproduksi lebih banyak dari kecoak.


"Oi, Ars, jangan hanya berdiri disitu, semua orang sudah menunggu."


Melihat Ars tidak bergerak, Byakuya melambaikan tangannya.


"Aku datang."


Kembali ke akal sehatnya, Ars menuju meja makan dan makan malam bersama.