Reinkarnasi Ketujuh

Reinkarnasi Ketujuh
Ars


Ketenangan Brandon berubah menjadi kecemasan seiring waktu berlalu.


"Kenapa aku belum bereinkarnasi? Seharusnya sudah lewat 24 jam!"


"Tidak, tenang dulu. Mungkin perhitunganku salah. Lagipula, tidak ada cara mengetahui waktu disini, kecuali menghitung secara manual."


Ia meyakinkan dirinya sendiri agar tidak kehilangan akal sehatnya. Jika tidak, siapa yang tahan terjebak di tempat terkutuk ini selamanya?


"Semoga saja reinkarnasi berikutnya di dunia anime modern. Aku rindu makan dan minuman peradaban modern."


Di enam reinkarnasi sebelumnya, ia selalu terlahir di dunia abad pertengahan. Bahkan dunia [Shingeki no Kyojin] tidak bisa dianggap peradaban modern.


Tidak ada yang bisa dilakukan, Brandon menghitung tiap detik di dalam pikirannya.


Ketika hitungnya mencapai 86.400 detik, ia mulai kehilangan ketenangannya.


"****! Sudah dua hari berlalu, mungkinkah aku sudah tidak bisa bereinkarnasi...?"


"Apa yang harus aku lakukan?!"


Emosi negatif membanjiri pikirannya, ia yang dalam keadaan bola jiwa, terbang lurus untuk mencari jalan keluar. Namun, tidak peduli sejauh apa ia terbang, hanya ada kegelapan yang menyambutnya.


Entah berapa lama waktu berlalu, bola jiwa itu berhenti terbang, Brandon sepenuhnya putus asa.


"Sudahlah, bahkan jika aku bereinkarnasi lagi, paling-paling aku akan mati di usia muda seperti reinkarnasi sebelumnya. Mungkin ini hukuman karena dosa-dosa yang telah aku lakukan sebelum aku bereinkarnasi."


Tidak ada yang menanggapi perkataan Brandon di kegelapan tak terbatas.


Bola jiwa itu seperti setitik debu yang ada di alam semesta.


"Oh, ternyata ada kelahiran Idaten muda disini. Keberuntungan ku cukup bagus menemukan ini ketika sedang berlatih."


Suara seorang wanita berbicara dengan gaya kuno terdengar di kegelapan tak terbatas.


"Eh, suara perempuan?"


Brandon tercengang mendengar suara lain selain dirinya. Ini pertama kalinya ia mendengar suara orang lain.


"Siapapun tolong aku!"


Meski dalam bentuk bola jiwa, ia masih berteriak keras.


"Aku disini, keluarkan aku dari tempat ini!"


"Tolong aku!"


"Aku mohon, tolong aku meninggalkan tempat sialan ini..."


Brandon terus berteriak sekuat tenaga sampai suaranya serak. Tetapi yang mengecewakannya, tidak tanggapan dari suara perempuan sebelumnya.


"Ternyata percuma..."


Kekecewaan dan keputusasaan kembali memenuhi pikirannya.


Disaat ia tidak lagi berharap, tiba-tiba ia merasa sebuah tangan menyeretnya.


"Eh... Apa yang sedang terjadi..."


Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, sinar matahari menyinari wajahnya, yang membuatnya menutup matanya.


"Ternyata Idaten kali ini laki-laki, tidak buruk. Bocah, kamu Idaten generasi damai pertama. Siapa nama mu?"


Suara perempuan yang sama seperti di kegelapan sebelumnya terdengar.


Brandon melihat ke sumber suara dan melihat seorang gadis muda sedikit lebih pendek darinya.


Gadis muda itu memiliki rambut pirang panjang yang diikat ekor kuda besar dan mengenakan pakaian Dinasti Tang bewarna putih dengan celana hitam panjang.


"Jangan diam saja, bocah."


Tidak menerima respon atas pertanyaannya, gadis itu memukul perut Brandon.


*BAM*


Seketika tubuh Brandon terhempas ratusan meter ke belakang, meninggalkan jejak lurus di pasir yang dilaluinya.


"Cough Cough Cough..."


Mendarat di bukit pasir, Brandon batuk bercampur pasir yang masuk ke mulutnya, tangannya memegang perutnya yang sakit dan ia meringkuk seperti ulat.


(Apa-apaan dengan wanita bar-bar itu, ia langsung memukul ku hanya karena tidak menjawabnya. Tidak bisakah memberiku waktu untuk memproses situasi yang terjadi?) Brandon mengeluh di dalam hatinya.


Apa yang paling membuatnya syok, yaitu kekuatan gila yang dimiliki gadis itu.


Hanya sebuah pukulan sederhana telah membuatnya terhempas sejauh ratusan meter.


Seberapa kuat gadis itu sebenarnya?


*Whooosh*


"Kamu sangat lemah, bocah. Aku harus melatihmu dengan baik untuk menjadi lebih kuat, agar mampu menghadapi Suku Iblis."


Gadis itu menggelengkan kepalanya dan sama sekali tidak menyembunyikan kekecewaannya.


"T-Tunggu dulu... Aku tidak mengerti satu kata pun kalimat mu. Bisakah kamu menjelaskan apa yang sedang terjadi disini?"


Dengan susah payah Brandon berdiri sambil bernapas terengah-engah.


"Oh benar juga. Kamu baru saja lahir."


Gadis itu berkata dengan nada datar dan tidak merasa bersalah sama sekali.


Sudut bibir Brandon berkedut, ada banyak keluhan yang ia ingin lampiaskan ke gadis di depannya, tetapi mengingat kekuatan mengerikan pihak lain, ia memilih diam. Jika tidak, ia khawatir akan dihajar lagi.


Tidak lucu ia mati hanya setelah beberapa menit bereinkarnasi.


(Tunggu dulu... Ada yang aneh, di keenam reinkarnasi ku, aku selalu terlahir sebagai bayi. Mengapa sekarang berbeda?)


Baru sekarang ia menyadari anomali pada dirinya, melihat telapak tangannya dan sudut pandangnya lebih tinggi dari gadis di depannya. Brandon tidak terlahir sebagai bayi, melainkan tubuh yang sudah remaja atau dewasa.


Ini kabar baik untuknya, setidaknya ia tidak perlu mengalami kejadian memalukan sebagai bayi.


Ia meraba-raba dadanya, dan membuka celananya. Brandon menghela nafas melihat benda besar yang tergantung di selangkangannya.


"Syukurlah, kali ini aku bereinkarnasi sebagai laki-laki."


Setelah mengkonfirmasi jenis kelaminnya, ia lega tidak bereinkarnasi sebagai perempuan.


Di reinkarnasi ketiga, Brandon terlahir sebagai perempuan. Selain tidak nyaman karena fisik perempuan lebih lemah dibandingkan laki-laki, ia harus menanggung rasa sakit menstruasi tiap bulan.


Ia tidak ingin merasakan perasaan itu lagi.


"Oi, bocah. Apa yang kamu gumamkan, jika tidak ada yang lain, mari mulai pelatihan mu."


Gadis itu mulai tidak sabar.


"Tunggu sebentar, aku masih belum tahu siapa kamu?"


Kesadaran Brandon kembali ke kenyataan, dan ia buru-buru bertanya.


"Aku? Namaku Rin, seorang Idaten yang sedang berlatih untuk menghadapi Suku Iblis jika suatu saat segel mereka terlepas."


Gadis bernama Rin melaporkan namanya, lalu bertanya balik: "Dan siapa namamu, bocah?"


"Aku Bran... Ars, namaku Ars."


Setiap kali bereinkarnasi, Brandon mempunyai nama berbeda. Awalnya ia ingin menggunakan nama di kehidupan sebelum bereinkarnasi, tetapi sebuah nama muncul di pikirannya, yaitu Ars.


Ia memilih menggunakan nama Ars dibandingkan Brandon, ini sebagai bentuk penghormatannya di reinkarnasi ketujuh.


"Ars... Baiklah, ayo mulai pelatihan mu."


Setelah mengetahui nama satu sama lain, Rin meraih kerah baju Ars. Kemudian, ia berlari dengan kecepatan supersonik.


"!!!"


Ini pertama kalinya Ars mengalami kecepatan supersonik. Apalagi untuk berbicara, sekedar membuka mulutnya saja tidak bisa karena hambatan udara.


(Wanita ini gila! Dia tidak mendengarkan apa yang orang lain bicarakan)


Ars menilai kepribadian gadis bernama Rin sebagai wanita bar-bar di hatinya.


Ada banyak pertanyaan yang ia ingin tanyakan.


Apa itu Idaten?


Apa itu Suku Iblis?


Kenapa Rin bisa mempunyai kekuatan diluar nalar manusia?


Dan masih banyak pertanyaan lainnya.


(Sepertinya aku hanya bisa menunggu) Ars mengeluh di dalam hatinya.


Pemandangannya berganti dengan cepat, mereka yang semula berada di gurun telah memasuki hutan, lalu padang rumput, dan lingkungan lainnya.


Karena kecepatan Rin terlalu cepat, ia bahkan berlari melintasi permukaan danau.


Melihat ini semua, Ars semakin penasaran latar belakang Rin.


Di reinkarnasi keenam, ia terlahir di Desa Iblis Merah dan menempuh pendidikan di Akademi Penjara Merah. Meski belum sempat menjadi penyihir, ia sensitif terhadap energi sihir.


Ars dapat memastikan tidak ada fluktuasi energi sihir dari tubuh Rin.


Itu artinya, semua kemampuan tidak manusiawi yang ditunjukkan Rin, semuanya murni kekuatan fisiknya.


(Kekuatan fisik yang melanggar hukum fisika... Ini pertama kalinya aku melihatnya, ini memperluas cakrawala ku) Pikir Ars.