
Nyonya Amel dan Tuan besar sudah meninggalkan ruang makan. Masih ada Zelin dan Zira.
" Kak bagaimana rasanya malam pertama." Tanya Zelin pelan.
Zira yang lagi minum air mineral langsung muncrat air dari mulutnya.
" Hehehe kakak kaget ya, mendengar pertanyaan ku." Goda Zelin sambil memindahkan posisi duduknya di sebelah Zira.
Zira tidak menjawab dia hanya tersenyum.
" Ayolah kak, aku mau tau tidak usah detail inti-intinya saja." Rayu Zelin.
" Enggak ah nanti kamu tau malah kepingin lagi." Ucap Zira cepat.
" Ih apaan tuh. Ayolah kak? Apa kalian sudah buat anak." Tanya Zelin lagi.
" Oh tentu sudah, kami tadi malam buat anaknya pakai tepung terigu." Jawab Zira sambil pergi meninggalkan adik iparnya.
" Donat kali." Gerutu Zelin
Zira hendak melangkahkan kakinya untuk menaiki anak tangga.
" Nona Zira." Panggil pak Budi.
" Iya pak." Ucap Zira sambil menatap pak Budi.
" Nona tuan Muda sakit." Ucap pak Budi pelan.
" Apa!"
Mendengar Ziko sakit dengan cepat Zira langsung melangkahkan kakinya menaiki setiap anak tangga.
Zira sampai di dalam kamar dengan ngos-ngosan. Zira melihat suaminya yang sedang berbaring di atas kasur.
Zira mendekati Ziko, dia menatapi wajah suaminya dengan lekat. Dan meletakkan tangannya di dahi suaminya.
" Enggak panas kok, apanya yang sakit." Gumam Zira pelan.
" Kalau sakit seharusnya pakai baju atau pakai selimut, kamu sakit apa sih suamiku." Gumam Zira pelan sambil memegang hidung Ziko.
Ziko mendengar semua ucapan istrinya, dia hanya berakting untuk mendapatkan perhatian dari Zira.
" Ini nih bibir yang suka nyosor." Ucap Zira sambil memegang bibir suaminya.
" Kamu bisa sakit juga ya suamiku." Ucap Zira cekikikan.
Zira duduk di lantai sambil memperhatikan wajah Ziko.
" Ganteng juga." Ucap Zira sambil berdiri lagi.
" Dia sakit apa ya, kalau demam badannya tidak panas, jangan-jangan dia hanya pura-pura sakit." Gumam Zira pelan.
Ziko mendengar ucapan istrinya. Ziko langsung mulai berakting agar aktingnya lebih meyakinkan.
" Uhuk-uhuk." Ziko pura-pura batuk.
Mendengar suara batuk Zira langsung menoleh kearah suaminya.
" Oh batuk." Ucap Zira.
Zira memegang telepon untuk menghubungi pak Budi.
" Ya halo." Ucap Pak Budi.
" Pak ini saya Zira. ada obat batuk tidak." Tanya Zira.
" Ada, siapa yang sakit batuk nona." Tanya pak Budi.
Zira langsung berpikir.
Kenapa pak Budi malah bertanya siapa yang sakit. Aha aku tau ini hanya akting.
" Enggak jadi pak, terimakasih." Ucap Zira cepat sambil menutup telepon.
" Dia lagi akting apa memang tidur, tapi sepertinya dia memang lagi tidur tadi aku pegang hidungnya dia tidak bangun, lebih baik aku mandi." Gumam Zira pelan sambil pergi ke kamar ganti.
Zira melihat kopernya masih ada. Dia berniat mengambil baju dari dalam kopernya. Begitu membuka koper dia tidak menemukan barang-barangnya.
Zira membuka semua lemari tetapi dia tidak juga menemukan barang-barangnya.
" Kemana semua barang-barang ku." Gumam Zira panik.
" Lebih baik aku tanya pak Budi, dia pasti tau kemana semua barangvku." Gumam Zira sambil meninggalkan ruang ganti dan menuju telepon yang ada di atas nakas.
" Halo pak Budi." Ucap Zira cepat.
" Iya nona." Ucap pak Budi.
" Pak kemana koper saya." Tanya Zira langsung.
" Oh koper nona kan ada di kamar." Ucap pak Budi pelan.
Zira menggaruk kepalanya karena dia salah membuat pertanyaan.
" Bukan itu, maksud saya dimana barang-barang yang ada di dalam koper." Tanya Zira lagi.
" Kalau barang-barang sudah saya bagikan semua nona." Ucap pak Budi santai.
Dih ini bapak kok seperti orang tanpa dosa.
" Tunggu pak siapa yang memberikan perintah kepada bapak untuk membagi-bagikan barang saya sama orang lain." Tanya Zira dengan emosi.
" Tuan muda nona." Ucap pak Budi cepat.
Zira langsung mengeluarkan taringnya sambil menutup telepon dengan keras.
" Dasar ubi kayu bisa-bisanya kamu melakukan hal seenak udel mu, tapi karena kamu lagi akting tidur jadi aku ikuti akting mu." Gumam Zira pelan.
Zira ingin mencubit badan Ziko tapi dia mengurungkan niatnya.
Jangan Zira jangan kamu bangunkan dia nanti kalau bangun pasti dia minta kik kuk.
Zira langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai dia bingung harus memakai baju apa. Tanpa pikir panjang dia mengenakan kemeja putih Ziko dan untuk CD dia juga mengenakan punya Ziko, dia juga tidak memakai bra.
" Duh seumur-umur belum pernah aku pakai CD cowok tapi dari pada tidak pakai." Gumam Zira pelan.
Zira mengintip keluar melihat Ziko masih dengan posisi yang sama.
" Aman dia masih tidur." Gumam Zira pelan sambil melangkahkan kakinya menuju kasur.
Zira melihat ada sesuatu yang janggal.
" Tadi ini selimut masih di atas kenapa sekarang sudah di bawah." Gumam Zira lagi sambil mengambil selimut dari lantai.
Zira merebahkan tubuhnya di kasur, dengan posisi rebahan kemeja yang dikenakannya agak terangkat sedikit. Dia ingin memakai selimut tapi belum sempat di pakai kaki Ziko sudah berada di atas pahanya.
Zira ingin menggeser paha suaminya.Tapi diurungkannya dia khawatir Ziko akan bangun.
" Tidak apa-apa Zira, kan cuma kaki anggap saja lagi tidur sama kerbau." Gumam Zira pelan memberi semangat kepada dirinya sendiri.
Zira mulai menutup matanya tapi dia kaget melihat Ziko sudah berada di atas badannya.
" Kamu mau ngapain." Teriak Zira.
" Aku sedang bermimpi." Ucap Ziko.
" Mana ada orang mimpi ngomong." Gerutu Zira.
Ziko sudah tidak menghiraukan omelan istrinya. Zira tidak bisa menolak apalagi mendorong tubuh Ziko, karena paha dan badannya sudah di timpa suaminya. Ziko melakukan aksinya. Zira teriak ada bulir air mata keluar dari ujung matanya.
" Terimakasih sayang." Ucap Ziko sambil mengecup kening Zira.
" Like komen dan vote yang banyak ya, terimakasih ".