Menikah Karena Ancaman

Menikah Karena Ancaman
episode 195


Mobil sudah sampai di depan rumah sakit. Kevin langsung menggendong tubuh Zira. Tubuh itu di letak di atas tempat tidur ruang IGD. Wanita paruh baya itu menjelaskan semuanya kepada dokter jaga.


Dokter jaga langsung memeriksa kondisi Zira. Sambil mengajukan beberapa pertanyaan kepada keluarga pasien.


" Apa nona ini ada alergi obat?" Ucap Dokter sambil memeriksa.


Kevin tidak bisa menjawab karena dia memang tidak tau. Yang menjawab wanita paruh baya itu, wanita itu bernama Ibu Nur.


" Tidak ada."


" Sudah berapa lama pasien mengidap penyakit mag?" Ucap Dokter lagi.


" Sudah lama." Ucap Ibu Nur.


" Ini harus di rawat dulu semalam untuk observasi." Ucap Dokter cepat.


" Bagaimana dengan kandungannya." Ucap Kevin khawatir.


" Untuk kandungan nanti dokter spesialis yang akan memeriksa, silahkan bapak mengisi kertas rawat inap di depan." Ucap Dokter menjelaskan.


Kevin pergi ke bagain pendaftaran. Untuk mendaftarkan Zira.


" Silahkan isi ini." Ucap bagian pendaftaran.


Kevin mengisi data-data Zira. Dan menyerahkan kembali setelah sudah terisi penuh.


" Maaf pak. Untuk bagian ini di isi?" Ucap wanita di bagian pendaftaran.


Ada satu kolom yang belum di isi Kevin yaitu hubungan dengan pasien. Kevin bingung harus menuliskan apa. Dia pergi ke ruang IGD dan menyerahkan kertas itu kepada ibu Nur


" Bu isi di sini." Ucap Kevin dan menyuruh Ibu Nur untuk menandatangani.


Wanita yang bernama Ibu Nur, merupakan orang kepercayaan Zira. Ibu itu mengisi kolom yang kosong dan mengembalikannya lagi ke Kevin.


Kevin mengecek kolom yang di isi Ibu Nur. Ibu itu menulis hubungan dengan pasien suami.


" Bu, kenapa di tulis seperti ini?" tanya Kevin berbisik.


" Jadi saya harus tulis apa? Kamu kan tau kalau mbak Zira lagi hamil. Kalau tidak ada suaminya sebagai penanggung jawab, pihak rumah sakit tidak akan berani melakukan tindakan." Ucap Ibu Nur berbisik.


Kevin masih bengong dia tidak mau di anggap memanfaatkan kesempatan.


" Cepetan tanda tangani itu, dan serahkan ke bagian pendaftaran, biar mbak Zira cepat di tangani." Ucap Ibu Nur masih berbisik.


Kevin menandatangani dan menyerahkan kertas tersebut ke bagian pendaftaran. Dia kembali ke ruang IGD. Setelah dapat informasi dari pihak pendaftaran. Zira di bawa ke ruang rawat inap.


Kevin mendorong tempat tidur di bantu dengan perawat. Ibu Nur mengikuti dari belakang. Zira di letakkan di ruangan VVIP. Dia di rawat di Rumah sakit tempat dokter Diki praktek.


Di ruang rawat inap Zira sudah ditangani oleh dua dokter, yang pertama dokter spesialis kandungan dan dokter spesialis bagian penyakit dalam. Kevin dan ibu Nur merasa lega karena kandungan Zira dalam keadaan baik-baik saja, hanya ada pantangan dari dokter, kalau Zira di larang makan makanan yang asem jika perutnya dalam keadaan kosong.


" Tuan pulang saja, silahkan istirahat di rumah, saya yang akan berjaga di sini." Ucap Ibu Nur.


Kevin ingin menemani Zira di situ, tapi dia tidak berani melawan ataupun membantah wanita tua itu, karena menurut Kevin, wanita itu lebih sangar dari ibu tiri.


Kevin diantarkan supir ke rumahnya. Setelah mobil pergi, dia melihat ada mobil yang sedang parkir tidak jauh dari rumahnya. Kevin sudah menduga kalau yang mengintai rumahnya pasti suruhan Raharsya. Dia mendatangi mobil itu. Orang yang di dalam mobil merasa khawatir, mereka merasa pengintaian mereka tidak berhasil.


Kevin mengetuk jendela kaca. Seorang pria membuka separuh jendelanya.


" Asisten Kevin." Ucap mereka gugup.


" Maaf asisten Kevin, kami hanya menjalankan perintah tuan besar." Ucap pria yang dekat jendela.


" Kalian sudah melihat aku kan? Silahkan kalian pergi sekarang. Atau aku akan teriakan kepada warga kalau kalian mau merampok." Ucap Kevin tegas.


Pria yang ada di mobil saling pandang. Mereka takut untuk balik dan takut untuk bertahan di situ. Mereka sudah mengerti akan ke sangaran Kevin. Kevin dengan gampang bisa menghabisi mereka.


" Satu, dua." Ucap Kevin teriak.


" Baik asisten Kevin, kami akan pergi." Ucap pria yang dekat kaca sambil memukul tangan temannya agar menyalakan mesin mobil.


" Sampaikan saja kepada tuan besar kalau saya dalam keadaan sehat." Ucap Kevin cepat.


Mobil langsung meluncur kencang. Mereka takut di pukuli masa dan takut juga di pukuli Kevin. Mereka mencari aman saja terlebih dahulu.


Kevin kembali ke rumahnya. Rumah yang tidak terlalu besar tapi cukup nyaman sebagai tempat tinggal.


" Tuan besar sepertinya anda kurang percaya dengan saya. Sampai anda mengirimkan orang untuk memata-matai saya. Apa saya sudah tidak di anggap penting lagi sama anda, atau saya sudah dianggap musuh." Gerutu Kevin.


***


Pagi hari sang surya sudah memunculkan sinar indahnya. Sinar jingganya menyinari seluruh bumi. Semua melakukan aktivitasnya masing-masing. Tapi tidak dengan Ziko, dia merasa berat kepalanya dan merasa malas untuk beranjak dari kasur. Pak Budi sudah mengetuk pintu kamar majikannya. Tapi dia belum juga menjawab atau keluar. Pak Budi memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar majikannya, dia khawatir tuan mudanya akan berbuat yang aneh-aneh lagi. Di dalam kamar Pak Budi melihat Ziko masih terbaring di kasur.


" Tuan, sudah waktunya sarapan." Ucap pak Budi membangunkan.


" Hemmm." Ucap Ziko sambil beranjak dari kasur. Walaupun kepalanya berat tapi dia tetap bangun, dia tidak mau di rawat lagi, kalau orang tuanya mengetahui tentang kondisinya yang menurutnya kurang enak badan. Di dalam kamar mandi Ziko lagi-lagi mual. Dan memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya. Dia merasa sakit di ulu hatinya karena baru selesai muntah. Dan dia tidak berani untuk mandi dan menyentuh benda cair itu. Dia lebih memilih keluar dari kamar mandi. Masih ada pak Budi yang berdiri menantinya.


" Tuan apakah anda sakit?" tanya pak Budi khawatir.


" Enggak pak, saya hanya merasa mual dan kepala saya terasa berat." Ucap Ziko mengenakan pakaiannya.


Ziko turun ke ruang makan di ikut oleh pak Budi. Di sana keluarganya sudah menantinya.


" Pagi sayang." Ucap nyonya Amel.


" Pagi mama." Ucap Ziko sambil duduk di kursinya. Ziko melihat dan memandang kursi yang ada di sebelahnya yaitu kursi yang biasa Zira pakai untuk duduk.


Pak Budi mengambil piring majikannya dan memasukkan beberapa nasi dan lauk pauk. Semua keluarga makan menikmati sarapan paginya. Hanya Ziko yang merasa susah untuk menelannya. Tapi dia tetap berusaha makan, karena dia khawatir orang tuanya akan merawatnya kembali.


Beberapa suap telah berhasil masuk ke dalam tenggorokan Ziko. Dan tiba-tiba dia merasa mual lagi. Dia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan makanannya. Semua keluarga saling pandang.


" Sepertinya kak Ziko masih sakit ma." Ucap Zelin khawatir.


" Sepertinya." Ucap nyonya Amel.


Ziko kembali duduk di kursi makan dengan wajah yang sedikit pucat.


" Ko, kita ke rumah sakit saja ya? Mama khawatir dengan kamu seperti itu." Ucap nyonya Amel cepat.


" Enggak ma, aku merasa sehat. Memang aku tidak mengerti dengan perutku. Setiap aku makan selalu saja semuanya keluar. Seperti tidak bisa menerima semua makanan." Ucap Ziko pelan.


" Itu namanya sakit. Pokoknya kita harus ke rumah sakit. Biar nanti dokter yang menjelaskan." Ucap Nyonya Amel tegas.


" Tapi aku enggak mau di rawat" Ucap Ziko memelas.


" Nanti dokter yang menentukan apakah dirawat atau tidak." Ucap Nyonya Amel cepat.


" Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih."