
" Ngapain kamu di sini?" Bentak Ziko ke Kia.
Kia tidak menghiraukan dia mengulurkan tangannya kearah bosnya.
" Untuk apa itu?" Ucap Ziko ketus sambil menunjuk ke tangan Kia.
" Tuan belum mengenal diriku dan aku ingin memperkenalkan diriku kepada tuan." Ucap Kia manja.
" Enggak perlu." Ucap Ziko ketus.
Kia tidak putus asa. Dia hanya ingin memegang tangan bosnya. Dia langsung memegang tangan Ziko yang berada di meja tanpa permisi.
" Kamu mau ngapain." Ucap Ziko cepat melihat tangannya sudah di pegang Kia.
Pada saat itu Zira kembali ke ruangan itu karena tasnya ketinggalan di sofa. Dia kaget melihat suaminya dan sekertarisnya sedang berpegangan tangan begitupun Ziko juga kaget melihat istrinya kembali ke ruangannya. Tapi tidak dengan Kia dia tersenyum sumringah.
" Kia, tuan." Ucap Kia sambil membisikkan namanya ketelinga Ziko.
Ziko tidak menghiraukan ucapan Kia, dia hanya melihat kearah istrinya. Zira tidak menunjukkan reaksi marah sedikitpun dia berusaha menenangkan dirinya dengan bersikap normal.
" Hay kalian lagi ngapain lagi main pijat pijatan ya." Ucap Zira cepat.
Ziko masih tidak menggubris ucapan istrinya, dia merasa khawatir dengan sikap Zira yang tidak marah sama sekali. Kia meninggalkan ruangan itu.
" Aku hanya mau mengambil ini." Ucap Zira menunjukkan botol minum air mineral dan tasnya.
Zira buru-buru keluar ruangan itu. Ziko ingin menjelaskan semuanya kepada istrinya. Tapi Zira sudah lari keluar ruangan.
Kia merasa senang sudah dapat bersalaman dengan bosnya. Dia duduk cantik diatas kursinya. Zira menghampiri meja kerja Kia.
" Sepertinya ada yang kepanasan ini hari." Ucap Kia judes sambil mengipasi wajah dengan jari tangannya.
" Kalau panas nih minum." Ucap Zira cepat sambil melemparkan air mineral ke wajah Kia.
Kia langsung berdiri karena baru saja mendapat siraman air dari Zira. Wajahnya penuh dengan air begitupun dengan pakaiannya. Dia menghentak-hentakkan kakinya. Sedangkan Zira tersenyum lebar.
" Kenapa tuh kaki? Mau ikut gerak jalan?" Ucap Zira tegas sambil meninggalkan Kia yang basah.
Kia marah-marah di depan mejanya. Dan dia masih beruntung karena tidak ada yang melihat kejadian tadi.
" Awas kamu Zira, aku akan merebut Ziko dari dirimu, tidak siapapun yang bisa mengalahkanku. Perang akan kita mulai lihat saja." Ucap Kia tegas.
Zira melangkahkan kakinya dengan lemas. Dia tidak berniat untuk mengikuti kursus. Hatinya serasa hancur berkeping-keping dia tidak pernah mengalami hal seperti ini. Dia pernah mengalami hal seperti ini ketika orang tuanya meninggal dan ini terulang lagi. Dia pergi meninggalkan gedung Raharsya group.
Dia menuju parkiran dan melihat pak supir sedang duduk di dalam mobil.
" Pak antarkan saya ke butik." Ucap Zira lemas.
Pak supir langsung membuka pintu mobil dan mobil melaju menuju butik. Didalam mobil dia masih mengingat kejadian tadi walaupun, dia sudah menghajar Kia, tapi dia merasa kecewa dengan sikap Ziko. Mobil sampai di butik. Zira turun dari mobil dan langsung berlari ke dalam butik.
Zira duduk di kursinya dengan perasaan yang hampa. Di keluar butik lagi tapi tidak dari pintu depan dia keluar dari pintu belakang. Dia berjalan agak jauh, dia ingin menyendiri dia terus berjalan tak tentu arah.
Di gedung Rahasrya group.
Guru kursus bahasa Inggris masih menunggu di ruangan, tapi sudah satu jam Zira tidak kunjung datang. Dia dari tadi melihat jam di tangannya karena sebentar lagi dia juga ada kelas mengajar. Guru kursus itu keluar ruangan dan bertanya kepada salah satu karyawan yang sedang lewat di depannya. Dia bertanya mengenai keberadaan Zira.
" Biasanya nona Zira ada di ruangan presiden direktur." Ucap karyawan tersebut.
" Dimana ruangan tersebut." Tanya guru itu.
" Ibu bukannya ruangan anda mengajar bahasa Inggris ada di bawah." Ucap Kevin mengagetkannya.
Guru tadi langsung membalikkan badannya melihat seseorang sedang berdiri di belakangnya.
" Iya memang ruangannya di bawah tapi saya mau izin kepada nona Zira kalau sebentar lagi saya ada kelas mengajar." Ucap guru tersebut cepat.
Kevin mulai bingung dengan ucapan guru tersebut.
" Kenapa harus izin bukannya kelas mengajar nona Zira sudah selesai satu jam yang lalu." Ucap Kevin cepat.
" Iya betul tapi dari tadi nona Zira tidak masuk ke dalam kelas, ada masuk sebentar kemudian keluar lagi katanya ada yang ketinggalan tapi setelah itu enggak balik-balik, makanya saya kesini saya mau ijin permisi pulang." Ucap guru tersebut menjelaskan.
" Baiklah ibu pergi saja nanti saya yang akan memberitahu hal ini kepada nona Zira." Ucap Kevin cepat.
Ibu tadi pergi setelah mendapat penjelasan dari Kevin. Kevin langsung menuju ruangan bosnya sambil melewati meja Kia. Kevin melihat sekertaris itu mengelap wajahnya yang basah dan pakaiannya yang basah. Kevin berhenti di depan meja kerja Kia.
" Apa yang terjadi." Tanya Kevin cepat.
Kia langsung gugup mendapatkan pernyataan dari Kevin.
" Oh ini pak tadi saya mau minum tapi tertumpah di pakai saya." Ucap Kia menjelaskan.
" Kalau tumpah seharusnya ke bawah kenapa bisa sampai ke wajah." Ucap Kevin cepat sambil meninggalkan Kia.
Kia merasa pernyataan Kevin seperti pernyataan telak buatnya. Dia merasa khawatir jika asisten presiden direktur itu mencari informasi tentang kejadian tadi. Kevin masuk ke dalam ruangan bosnya.
" Permisi tuan nona Zira ada?" Ucap Kevin sambil melihat sekeliling ruangan.
" Kenapa kamu bertanya seperti itu, Zira kan sedang kursus." Ucap Ziko cepat.
" Iya tuan seharusnya, tapi sudah satu jam nona Zira tidak datang ke ruang kursus dan tadi saya bertemu dengan gurunya di luar." Ucap Kevin menjelaskan.
Ziko langsung mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Zira. Tapi ponsel istrinya tidak aktif sama sekali.
" Coba kamu hubungi supirnya." Perintah Ziko kepada Kevin.
Kevin langsung menghubungi nomor ponsel supir Zira. Tidak berapa lama panggilan terhubung Kevin berbicara dengan supir Zira. Dia menanyakan tentang keberadaan majikannya. Setelah mendapatkan informasi dari pak supir Kevin langsung menutup panggilannya.
" Tuan nona Zira ada di butik." Ucap Kevin cepat.
Karena ponsel istrinya enggak aktif dia berniat menghubungi nomor ponsel Lina. Nomor Lina sudah di simpannya ketika Zira meminjam ponsel Ziko.
" Ya halo." Ucap Lina dari ujung ponselnya.
" Lina di mana Zira kenapa ponselnya tidak aktif." Ucap Ziko cepat.
" Owh tuan, sebentar ya saya ke ruangan mbak Zira dulu." Ucap Lina cepat sambil menuju ruangan bosnya.
" Maaf tuan, mbak Zira enggak ada." Jawab Lina cepat.
" Jangan bohong kamu." Bentak Ziko lagi.
" Enggak Tuan saya enggak bohong memang tadi saya lihat mbak Zira datang tapi setelah itu saya enggak lihat kapan mbak Zira Keluar." Ucap Lina cepat.
" Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih."