Menikah Karena Ancaman

Menikah Karena Ancaman
episode 404 (S2)


" Hargai karya author dengan vote, like dan komen. Terima kasih."


Selamat Membaca.


***


Semenjak bebasnya Zira, dia selalu menemani suaminya. Sudah tiga hari Ziko koma dan tidak sadarkan diri. Tapi Zira selalu menemani suaminya. Dia selalu membacakan puisi cinta untuk suaminya. Puisi hari ketiga.


Ada banyak keindahan di dunia ini


Dan aku tetap memilih dan menunggumu


Cinta darimu memberikan warna baru dalam hidupku


Sekarang atau hari esok


Aku akan tetap memilihmu menjadi pendampingku sampai akhir hayat


Zira melipat kertas puisi yang dibacakannya. Selama tiga hari dia membacakan puisi cinta untuk suaminya. Dia berharap suaminya mendengar semua kata-katanya.


" Aku harus pulang sayang, besok aku akan kembali kesini." Zira mengecup dahi dan mengecup punggung tangan suaminya. Ketika dia hendak melepaskan genggamannya dari tangan suaminya. Ada yang menarik tangannya. Dia menoleh dan langsung melihat wajah suaminya.


" Sayang, kamu sadar." Ucap Zira melihat wajah suaminya. Aku tau kamu mendengar semua perkataanku." Ucap Zira senang sambil menekan sebuah tombol yang langsung terhubung ke perawat.


Perawat langsung datang ke ruangan VIP.


" Suami saya baru menggerakkan tangannya."


Perawat langsung memanggil dokter. Dokter bergegas untuk memeriksa Ziko.


" Pasien sudah melewati masa kritis. Dan pasien akan kami pindahkan ke ruang rawat inap." Ucap dokter.


Zira teramat senang, kabar itu yang selama ini di tunggunya. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain mendengar kesembuhan suaminya. Dia di perintahkan perawat untuk menunggu di luar. Perawat lagi mempersiapkan proses pemindahan Ziko.


Di luar ruangan ICU keluarga Raharsya beserta Kevin masih setia menunggu Ziko.


" Mama." Ucap Zira berteriak sambil berlari mendekati wanita paruh baya itu. Semua yang menunggu Ziko terlihat panik ketika mendengar teriakan Zira.


" Kenapa Ziko. Dia baik-baik saja kan?" tanya nyonya Amel khawatir.


" Ziko sadar ma." Ucap Zira sambil memeluk wanita paruh baya itu.


" Apa!" Nyonya Amel menangis terharu. Doanya di kabulkan Allah.


Semuanya mengucapkan rasa syukur kepada sang Pencipta. Karena masa kritis Ziko telah lewat. Tinggal masa pemulihan.


Tubuh Ziko sudah di pindahkan ke ruang rawat inap. Keluarga sudah di izinkan untuk menjenguk tapi di batasi. Di dalam ruangan hanya boleh maksimal dua orang yang menjenguk. Pembatasan itu di gunakan agar Ziko bisa beristirahat.


Pertama masuk kedalam ruang rawat inap nyonya Amel dan suaminya.


" Ziko sayang kamu sudah melewati masa kritis. Mama yakin kamu akan segera sadar dan membuka mata." Ucap nyonya Amel.


" Kami selalu mendoakan untukmu nak,


bangunlah." Ucap tuan besar.


Tanpa di sadari Ziko membuka matanya. Pandangannya masih kabur tapi bayang-bayang kedua orang tuanya terlihat di depannya.


" Ziko." Nyonya Amel mengecup dahi anaknya.


" Zira." Ucap Ziko pelan.


" Ada sayang. Zira ada di luar. Mama tau pasti kamu merindukan istrimu." Nyonya Amel dan suaminya keluar dari ruang rawat inap.


Wanita paruh baya itu keluar dengan wajah penuh kebahagian.


" Ziko sudah sadar. Dan dia ingin melihat kamu." Ucap nyonya Amel.


Mendengar kabar itu Zira sangat senang. Dia masuk bersama dengan Zelin.


" Kakak." Ucap Zelin ingin memeluk tubuh kakaknya.


" Zelin jangan, kakakmu masih terluka." Ucap Zira.


Zelin tidak jadi memeluk kakaknya. Dia menangis terharu. Sempat dia berpikir akan kehilangan kakaknya. Tapi kakaknya dapat melewati masa kritis. Masa kritis itu bukan hanya di alami Ziko tapi juga di alami keluarga Raharsya. Tapi sekarang mereka bisa bernafas lega karena Ziko telah sadar.


" Kakak aku rindu." Rengek Zelin sambil menyandarkan kepalanya di bahu Ziko.


" Jangan rindu berat cukup kak Zira saja yang rindu." Ucap Ziko menggoda adiknya.


Setelah melepaskan kerinduan kepada kakaknya Zelin keluar dari ruang rawat inap itu. Tinggal sepasang suami istri itu. Zira masih berdiri tidak jauh dari tempat tidur rumah sakit.


" Apa kamu mau berdiri terus di situ." Sindir Ziko.


Zira langsung mengecup bibir dan dahi suaminya sambil meneteskan air mata.


" Kenapa semua orang menangis." Ucap Ziko heran.


" Aku senang kamu telah kembali." Ucap Zira sambil duduk di atas tempat tidur.


" Memangnya aku kemana?" Ucap Ziko.


" Oh iyakah. Aku hanya merasa sedang tidur. Tapi di dalam tidur itu aku seperti sedang bersama almarhum anak kita." Ucap Ziko.


" Oh sayang, aku juga bermimpi tentang mu. Di dalam mimpi itu, kamu mengenakan pakaian serba putih dan akan pergi meninggalkanku. Tapi kamu berkata belum waktuku. Aku sempat berpikir kamu akan meninggal." Ucap Zira kembali menangis.


" Ah kamu terlalu mempercayai mimpi. Bisa jadi dalam mimpi itu aku mau ke toilet." Goda Ziko.


" A a ah." Rengek Zira.


Ziko memegang jari jemari istrinya.


" Sebesar apa rasa sayangmu kepadaku?" tanya Ziko.


" Bukan sebesar tapi seperti." Ucap Zira.


" Ok seperti."


" Seperti kuku." Ucap Zira singkat.


" Kuku?" Ziko mengernyitkan dahinya sambil melihat lekat wajah istrinya.


" Jangan lihat aku seperti itu. Akan aku jelaskan. Kuku walaupun di gunting pasti tetap tumbuh. Nah seperti itu rasa cintaku tidak akan pernah habis." Ucap Zira menjelaskan.


" Kenapa kamu tidak bilang seluruh dunia ini dan isi-isinya?" tanya Ziko.


" Seluruh dunia dan isi-isinya tidak akan kekal di dunia pasti akan mengalami namanya kepunahan. Aku tidak mau terlalu membesar-besarkan rasa cintaku kepadamu. Cukup seujung kuku sudah mewakili semua perasaanku kepadamu." Ucap Zira.


Mendengar hal itu dia merasa senang. Istrinya sangat tulus mencintainya.


Tok tok tok suara pintu di ketuk sebagian kepala Kevin masuk ke dalam ruang rawat inap.


" Boleh saya masuk?" tanya Kevin.


" Masuklah." Ucap Ziko.


Kevin melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang rawat inap. Dia ingin melihat kondisi bosnya secara langsung.


" Bagaimana keadaan anda tuan?" tanya Kevin.


" Kamu bisa lihat sendiri keadaanku jauh lebih baik." Ketika melihat asistennya, Ziko langsung teringat tentang kejadian yang di alaminya.


" Apa Kia sudah tertangkap?" tanya Ziko.


" Kia? Kamu tau kalau yang menusukmu Kia? Aku malah tidak mengenalinya, yang aku ingat pelayan itu ada tai lalat. Sedangkan Kia tidak ada." Ucap Zira.


" Itu bukan tai lalat tapi tai kebo, hahaha." Ucap Ziko bercanda.


" Aw." Ziko meringis sakit di perutnya.


" Sayang kamu jangan tertawa dulu. Kalau mau tertawa di getar saja." Ucap Zira.


Ziko menghentikan tertawanya karena dia merasa ada nyeri di bagian perutnya. Walaupun dia rindu dengan keceriaan mereka tapi dia berusaha untuk menahan tawanya.


" Apa Kia sudah tertangkap?" tanya Ziko.


Kevin melirik ke arah Zira, begitupun sebaliknya Zira juga melirik kearahnya.


" Kenapa kalian main lirik-lirikan." Ucap Ziko sewot.


" Maaf tuan. Kia tidak tertangkap dia sudah.. " Kevin berhenti dengan kalimatnya.


" Bunuh diri." Ucap Zira.


" Kenapa dia ikut bunuh diri, kalau memang dia mau mati kenapa mau memberi racun kepada kamu, apa dia minta kamu menemaninya di alam baka." Ucap Ziko sambil melihat kearah istrinya.


" Bukan seperti itu tuan. Menurut kepolisian dia memang merencanakan ini semua. Dan ketika nona Zira bertemu dengannya, dia langsung mempermainkan emosi istri anda. Ketika nona Zira terpancing dan mencengkram lehernya. Tanpa di sadari dia sudah minum racun. Dan karena hal itu istri anda." Kevin berhenti.


" Di tahan." Ucap Zira menyambung kalimat Kevin.


" Di tahan? Bagaimana bisa kamu di tahan." Ucap Ziko protes.


" Kejadian itu cukup cepat tuan. Ketika itu tangan istri anda ada dileher Kia. Jadi nona dituduh telah membunuhnya." Ucap Kevin menjelaskan.


" Sudahlah tidak usah di bahas lagi. Yang terpenting aku sudah bebas." Ucap Zira.


Ziko melihat tajam wajah istrinya.


" Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Zira.


" Selama kamu menikah denganku sudah berapa kali kamu masuk penjara?" tanya Ziko.


Zira menghitung dan mengingat kejadian yang di alaminya.


" Tiga, pertama karena memukul Kia dan Sisil. Kedua karena kasus pria yang melecehkan Zelin dan ketiga ini." Ucap Zira.


" Aku heran kenapa kamu suka sekali di balik jeruji besi. Apa kamu punya cita-cita jadi pandai besi." Sindir Ziko.


bersambung


Ig. anita_rachman83