
Zira merasa risih dengan keberadaan dua dayang-dayang, apa yang dikerjakannya dua pelayan itu mengikutinya. Seperti halnya ke kamar mandi mereka juga ikut.
" Kenapa kalian masuk?" Ucap Zira ketus.
" Maaf nona kami hanya memastikan nona dalam keadaan baik-baik saja." Ucap pelayan.
" Aku baik-baik saja, apa kalian tidak bisa melihat." Ucap Zira menunjukkan matanya mulutnya sampai giginya.
Para dayang-dayang hanya melihat tanpa memberi reaksi sama sekali.
" Sudah lihat kan, aku dalam keadaan baik enggak usah ikuti aku sampai ke kamar mandi." Ucap Zira cepat.
" Tapi nona ini perintah." Pelayan berbicara gugup.
Zira kesal dengan dua dayang-dayang nya.
" Baik kalau kalian memaksa untuk masuk, silahkan tapi kalau nanti di dalam bau, kalian di larang tutup hidung, apa kalian berani?" Ucap Zira cepat sambil memandang kedua pelayan.
Dua orang pelayan tadi saling pandang.
" Maaf nona kami hanya menjalankan tugas saja." Ucap seorang pelayan.
Zira mendesah.
" Ok silahkan kalian masuk." Ucap Zira memberi pintu untuk dua dayang-dayang nya.
Kedua pelayan masuk ke kamar mandi setelah di beri pintu oleh Zira. Dia memegang perutnya.
" Perutku sakit mungkin aku kebanyakan makan jengkol tadi siang." Gumam Zira.
Zira hendak membuka celananya. Kedua pelayan langsung saling pandang.
" Maaf nona kami nunggu di luar saja." Ucap seorang pelayan.
Kedua pelayan keluar dari kamar mandi. Sedangkan Zira cekikikan di kamar mandi. Dia mengerjai dua pelayan yang selalu mengikutinya kemanapun dia pergi. Dia tidak ingin buang air besar tapi hanya berakting agar dua pelayan itu tidak mengikutinya.
Zira tidur di kasur layaknya seorang putri yang di jaga dengan dayang-dayang nya. Dia merasa risih dengan kehadiran dua pelayan itu.
" Apa kalian akan berdiri saja seperti itu sampai pagi?" Zira memandang kedua pelayan yang berdiri di samping kanan dan kiri kasur.
Para pelayan menganggukkan kepalanya.
" Apa kalian yakin?" Ucap Zira cepat.
" Yakin nona." Ucap seorang pelayan.
Zira merasa risih, dia menutupi keseluruhan badannya dengan selimut, tidak ada anggota tubuhnya yang terlihat. Para pelayan merasa khawatir dengan posisi majikannya seperti itu. Mereka membuka selimut Zira.
" Kenapa kalian membuka selimutku." Ucap Zira kesal.
" Maaf nona jangan bunuh diri seperti itu, kami mohon." Ucap seorang pelayan.
Zira bangun dari posisi berbaring sambil menggaruk-garuk kepalanya.
" Apa? apa yang barusan kalian ucapkan?" Ucap Zira sambil mendekatkan telinganya ke pelayan.
Pelayan gugup.
" Iya nona jangan bunuh diri seperti itu."
Zira mulai merasa kesal dengan tingkah dua dayang-dayang nya.
" Siapa yang mau bunuh diri, aku itu hanya mau tidur." Ucap Zira ketus.
" Iya nona kalau nona seperti itu tidurnya nanti nona tidak bisa bernafas bisa-bisa mati." Ucap pelayan tadi pelan.
Karena Zira sudah mengantuk akhirnya dia mengalah.
" Kami menghadap ke dinding saja nona." Ucap seorang pelayan.
" Terserah." Zira menutup matanya yang sudah lelah, dia tidak memikirkan keadaan dua dayang-dayang nya, dia hanya ingin masuk ke alam mimpi indahnya.
Di kamar hotel.
Ziko panik mendengar istrinya mau bunuh diri, tapi karena Pak Budi sudah memberi kabar tentang istrinya, kepanikannya agak berkurang tapi dia tetap tidak tenang.
" Vin hubungi pak Budi lagi." Ziko masih tidak tenang dia mondar-mandir layaknya sedang menyetrika.
Kevin menghubungi kepala pelayan itu.
" Hubungi pakai video call." Ucap Ziko lagi.
Kevin mengalihkan panggilan menjadi panggilan video call. Tidak berapa lama panggilan tersebut terhubung. Ziko mengambil ponsel asistennya.
" Pak aku mau lihat keadaan istriku." Ucap Ziko cepat.
Pak Budi tidak mendengar suara Ziko dengan jelas karena sinyal yang buruk.
" Sisir tuan." Ucap Pak Budi heran.
" Iya istriku di kamar." Ucap Ziko cepat.
Pak Budi bingung dia berlari ke kamar.
" Tuan ini sisirnya." Ucap Pak Budi bingung.
Ziko malah tambah bingung karena pria paruh baya itu menunjukkan sisir kepadanya.
" Untuk apa sisir itu." Ucap Ziko ketus.
" Iya tuan ini sisir bukan sayur." Ucap pak Budi juga bingung.
" Untuk apa sisir itu kamu tunjukkan kepadaku." Ucap Ziko teriak.
Pak Budi menangkap ucapan majikannya hanya sisir dan jadi telunjuk. Kepala pelayan menunjukkan jari telunjuknya dan sisir kepada Ziko. Pria paruh baya itu juga bingung kenapa tuan mudanya minta sisir dan jari telunjuk. Ziko semakin kesal dengan tingkah pak Budi yang tiba-tiba jadi bodoh.
" Zira maksud saya Zira." Ucap Ziko cepat.
Pak Budi berlari ke kamar. Dia mengetuk pintu kamar Zira. Seorang pelayan membukakan pintu.
" Nona Zira mana?" tanya Pak Budi.
" Tidur."
" Ambilkan sisir nona Zira." Pelayan tadi pergi ke kamar mengambil sisir Zira.
Pak Budi menunjukkan sisir Zira kepada Ziko. Ziko yang melihat dari layar kaca malah tambah bingung. Kevin memperhatikan tingkah bosnya yang sudah uring-uringan.
" Tuan sepertinya sinyalnya buruk. Kita chat saja pak Budi agar dia paham." Ucap Kevin cepat.
Ziko pun memahami ucapan Kevin. Kevin mengirim chat kepada pak Budi.
Pak, tuan muda mau melihat keadaan nona Zira, bukan mau lihat sisir.
Pak Budi paham, dia langsung memberikan ponselnya kepada pelayan. Pelayan yang berada di kamar menunjukkan ponsel Pak Budi ke arah majikannya. Zira sedang tertidur lelap. Ziko memandangi wajah istrinya, perasaannya sangat tenang melihat wajah istrinya. Ada rasa damai melihat istrinya tidur, Ziko terus memandangi wajah istrinya melalui layar ponselnya.
Pelayan meletakkan ponsel Pak Budi di atas nakas, sehingga wajah Zira terlihat sangat jelas dari layar ponsel. Ziko merasa tidur bareng istrinya padahal mereka di pisahkan oleh benua dan Samudra.
" Selamat tidur istriku, masukkan aku dalam mimpi indah mu, aku akan pulang menemui, jaga dirimu baik-baik di sana aku akan selalu membahagiakanmu." Ucap Ziko sebelum menutup panggilan video call.
" Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih."