Menikah Karena Ancaman

Menikah Karena Ancaman
episode 244 (S2)


Setelah berbelanja kebutuhan untuk lomba, mereka berjalan ke parkiran.


" Apa semua sudah lengkap." Ucap Ziko sambil berjalan beriringan dan menggandeng tangan istrinya.


" Sudah." Ucap Zira cepat.


" Apa saja yang kamu beli tadi. Kenapa aku lihat ada warna hijau. Apa yang kamu beli tadi rumput?" tanya Ziko penasaran.


" Mana ada rumput di jual di supermarket." Ucap Zira lagi.


" Terus apa yang berwarna hijau tadi." Ucap Ziko lagi penasaran.


" Itu pengganti rumput." Ucap Zira menunjuk bungkusan yang ada di tangan suaminya.


" Apakah aman?" tanya Ziko lagi.


" Aih kenapa kamu tanya aman segala, kamu aja makan rumput enggak ada tanya aman apa tidak. Malah mau makan aja tanpa melihat kandungan gizi dari rumput itu.


" Sayang sudah terbukti kalau rumput itu menyehatkan, buktinya sapi aja bisa gemuk makan rumput. Berarti manusia juga bisa kan?" tanya Ziko memberikan perumpamaan.


Zira mencubit lengan suaminya gemes, karena suaminya bisa memberi perumpamaan sapi dengan manusia. Kevin membukakan pintu mobil untuk mereka berdua. Mobil sudah berjalan keluar area supermarket.


" Sayang, maaf boleh aku bertanya?" tanya Zira pelan.


" Ya, ada apa?" tanya Ziko sambil memeluk istrinya.


" Kenapa Vita bisa kenal sama Fiko?" tanya Zira gugup.


Dia melirik ke arah suaminya, melihat ekspresi Ziko.


" Kenapa? Apa kamu cemburu?" tanya Ziko asal.


" Aih, kenapa pula aku cemburu, kamu kan sudah tau, cintaku hanya untukmu dua orang." Ucap Zira.


" Dua orang? Kenapa dua orang?" tanya Ziko protes.


" Ya dua orang kamu dan dia." Ucap Zira sambil mengelus perutnya.


" Oh." Ziko bisa bernafas lega mendengarnya.


" Kamu pikir dua orang itu siapa saja?" tanya Zira penasaran.


" Aku dan Kevin?" tanya Ziko asal.


" Uhuk-uhuk."


Batuk musiman Kevin di mulai. Dia berakting layaknya batuk sungguhan.


" Kenapa batuk musiman kamu muncul." Ucap Ziko protes.


" Apa tuan merasa saya saingan terberat untuk anda?" tanya Kevin cepat.


" Kamu saingan? Mana mungkin kamu jadi pesaingku." Ucap Ziko cepat.


" Sudahlah tidak usah di perdebatkan lagi. jawab dulu bagaimana Vita bisa kenal dengan Fiko?" tanya Zira cepat.


" Oh itu cerita bermula waktu di cafe." Ziko menjelaskan awal pertemuan dirinya dengan Vita di cafe. Raut wajah Zira sedikit cemburu ketika mendengar kalau suaminya bertemu dengan mantan pacarnya.


Ziko menjelaskan lagi pertemuan mereka tidak di sengaja. Karena Vita ada janji dengan seseorang dan orang itu adalah Fiko.


" Seperti kebetulan saja kan," ujar Ziko lagi.


" Bukan kamu yang menjodohkan mereka berdua?" tanya Zira penasaran sambil menatap tajam suaminya.


" Aih kenapa pula aku menjodohkan Vita dengan pria itu. Apa aku kurang kerjaan sampai menjodohkan orang lain. Mending aku menjodohkan Kevin dengan wanita lain. Dari pada menjodohkan pria yang pernah suka dengan istriku." Gerutu Ziko.


" Apa! Tuan mau menjodohkan saya?" tanya Kevin ikut nimbrung.


" Iya, apa kamu mau?" tanya Ziko cepat.


" Terimakasih tuan, dengan anda mencarikan jodoh untuk saya berarti kesannya kalau saya kurang pintar dalam memilih pasangan. Lebih baik mencari sendiri saja." Ucap Kevin cepat.


" Apa kamu yakin?" tanya Ziko ragu.


" Yakin."


" Bagaimana dia mau mencari pasangan. kesehariannya saja di bawah ketiak kamu." Ucap Zira cepat.


Ziko membenarkan tentang ucapan istrinya. Keseharian Kevin tidak lepas dari penglihatannya. Hari-harinya habis hanya mengurusi Raharsya group.


" Baiklah aku beri kamu satu bulan untuk menemukan kekasih." Ucap Ziko cepat.


" Apa! Satu bulan? Kenapa cepat banget tuan?"


" Sayang kamu tidak boleh memberikan jangka waktu seperti itu. Mencari kekasih bukan seperti mencari pakaian. Dia harus memilih wanita yang pas untuk dirinya. Kecuali hanya untuk bersenang-senang saja, maka dalam satu hari pasti langsung dapat." Ucap Zira menjelaskan.


Ziko mangut-mangut mengerti. Dia juga ingin melihat asistennya bahagia seperti dirinya. Mempunyai seseorang pendamping sungguh nikmat rasanya.


" Baiklah aku tidak memberi waktu untukmu, tapi kalau dalam tahun ini jika kamu tidak terlihat menggandeng seorang wanita. Aku akan menjodohkan kamu dengan nenekku." Ucap Ziko asal.


" Aih bukannya itu juga ada jangka waktunya." Ucap Zira komplain.


" Sstt diam. Kamu tidak boleh banyak bicara ini urusan pria." Ucap Ziko sambil menutup mulut istrinya dengan jari tangannya.


Mobil sudah sampai di perumahan. Perumahan yang tidak terlalu besar, tapi masih masuk dalam kategori elite. Mobil berhenti di sebuah rumah berwarna putih dengan arsitektur modern klasik. Kevin membukakan pintu untuk majikannya.


" Apa ini rumah kamu?" tanya Zira kagum.


" Ya nona. Ini hasil jerih payah saya selama bekerja." Ucap Kevin pelan.


Kevin membukakan pintu untuk dua orang tamunya. Memasuki ruang tamu, mereka di sajikan dengan berbagai furniture modern tapi tetap ada nuansa klasiknya.


" Apa yang memilih furnitur ini juga kamu?" tanya Zira kagum.


" Iya nona."


Zira kagum dengan penataan ruangan itu di susun sedemikian rapi dan apik. Semua tertata dengan rapi. Dari pigura di susun sesuai dengan bentuknya. Zira melihat foto-foto yang di tempelkan di dinding. Ada foto pria dab wanita paruh baya dan foto satu wanita cantik.


" Ini foto keluarga kamu?" tanya Zira sambil menunjuk pigura tersebut.


" Iya nona."


" Mereka sekarang dimana?" tanya Zira penasaran. Karena selama ini mereka tidak pernah tau keberadaan keluarga Kevin.


" Mereka ada di luar negeri. Mari saya tunjukkan dapurnya." Ucap Kevin sambil mengajak Zira menuju dapur.


" Ini dapurnya, semua peralatan masak ada di bawah." Ucap Kevin sambil membuka lemari yang berada di bawah.


Ada beberapa peralatan dapur seadanya di dalam sana. Zira melihat peralatan itu dan mengambil beberapa yang diperlukannya.


" Silahkan Nona. Saya permisi dulu." Ucap Kevin meninggalkan Zira sendirian di dapur.


Zira mulai memasak mie instan itu dengan peralatan seadanya, dan tidak lupa menambahkan sesuatu yang berwarna hijau ke dalam mie tersebut. Dalam sekejap mie tersebut sudah matang. Dia menyajikan di meja makan.


" Ini punya kamu dan ini punya suamiku tercinta." Ucap Zira memberikan mangkuk tersebut ke depan dua pria tersebut.


" Tunggu, kenapa harus dipilih-pilih. Apa nona memasukkan sesuatu ke dalam mangkuk saya?" Ucap Kevin curiga.


" Iya aku masukkan racun tikus di dalamnya." Ucap Zira ketus.


" Kamu serius?" tanya Ziko yang setengah kaget.


" Ya enggaklah. Untuk apa aku meracuninya. Memangnya dia tikus." Ucap Zira jutek.


" Kalau kamu tidak percaya kita tukaran mangkuk." Ucap Ziko sambil menggeser mangkuknya ke depan Kevin.


Semua mangkuk sudah ada didepan mereka masing-masing. Zira mulai memberikan aba-aba.


" Tunggu? Apa ini rumput?" tanya Kevin bingung.


" Kenapa?" tanya Zira balik.


" Kenapa rumput seperti berjari-jari ya?" Ucap Kevin masih bingung. Dia bingung jenis rumput apa yang ada di mangkuknya.


" Ini rumput blesteran. Makanya bentuknya beda." Ucap Zira asal.


Sebelum memulai perlombaan Zira memberikan peraturan.


" Peraturan pertama. Kalian hanya perlu memakan 3 sendok tidak lebih. Siapa yang bisa menghabiskan paling cepat dia pemenangnya. Dan yang kalah akan mendapatkan hukuman." Ucap Zira menjelaskan.


Zira sudah memberikan aba-aba. Dalam hitungan ketiga dua pria itu sudah mulai menyuapkan sendok ke dalam mulutnya masing-masing.


" Pahit." Ucap Ziko sambil meletakkan kembali sendok ke mangkuk.


" Nona rumput kenapa pait banget." Ucap Kevin juga merasakan hal yang sama.


" Masak kalian berdua kalah sama sapi. Sapi aja enggak pernah komplain kalau rasa rumputnya pahit." Gerutu Zira.


Ziko dan Kevin enggan untuk memakannya. Sesendok pun mereka tidak sanggup untuk memakannya.


" Kita batalkan saja pertandingan ini." Ucap Ziko cepat sambil menatap asistennya. Kevin setuju sambil menganggukkan kepalanya.


" Enak saja pakai acara batal. Aku sudah susah payah memasaknya tapi kalian membatalkannya." Ucap Zira dengan nada yang sedikit tinggi.


" Tapi pahit sayang." Ucap Ziko dengan tatapan memohon.


" Kalian hanya perlu memakan tiga sendok tidak lebih." Ucap Zira lagi.


" Sayang aku takut nanti sakit perut." Ucap Ziko dengan memohon.


" Alah kamu yang bilang kalau perut kamu akan tahan dengan namanya rumput. Sekarang makanlah." Ucap Zira cepat memerintahkan dua pria tersebut.


Dengan penuh perjuangan mereka mulai menyuapkan sendok pertama. Mimik wajah mereka cukup aneh ketika mengunyah makanannya tersebut. Zira sampai tertawa dan merekam aksi makan yang penuh tantangan dan ranjau di dalamnya.


Setelah mulut kosong, mereka menunjukkan ke arah Zira.


" Sendok ke dua." Ucap Zira cepat.


Ziko dan Kevin mulai memasukkan sendok ke dalam mulut mereka, dengan porsi yang sedikit. Dua pria itu mengunyah dengan sangat terpaksa sambil merem melek. Kevin mengangkat tangannya dan berlari kebelakang. Di sana dia memuntahkan semuanya.


Setelah merasa lega, dia kembali ke meja makan.


" Kenapa kamu muntah kan?" tanya Zira protes.


" Nona saya ke gigit rawit. Pedasnya minta ampun. Apa nona tau, gimana rasanya mulut kita, ketika pedas campur pait." Ucap Kevin sambil menegakkan air putih kedalam tenggorokannya.


" Rasanya nano-nano." Ucap Zira spontan.


" Betul seperti itulah mulut saya. Makanya saya muntah." Ucap Kevin menjelaskan.


" Tapi kamu di diskualifikasi karena telah memuntahkan dengan sengaja." Ucap Zira tegas.


" Ya mau gimana lagi. Coba kalau nona tidak meletakkan rawit itu pasti tidak akan saya muntahkan." Ucap Kevin memberi alasan.


" Itu bukan rawit tapi ranjau. Aku memang sengaja memberikan dua puluh rawit ke dalam mangkuk kalian." Ucap Zira bangga.


" Apa! Sayang apa kamu mau membunuhku secara perlahan?" Ucap Ziko memelas.


" Itu namanya tantangan, kalau hanya pahit. Obat juga pahit, makanya aku menambahkan rawit di dalamnya agar lebih menantang." Ucap Zira bangga.


" Menantang sih menantang tapi lihat-lihat dong. Kenapa enggak masak sekalian sama pohon-pohonnya." Ucap Ziko komplain.


" Sstt diam, yang jadi juri aku bukan kamu. Baiklah sesuai kesepakatan, yang menang adalah suamiku tersayang." Ucap Zira kencang.


Ziko berteriak histeris layaknya seorang anak kecil. Kevin menerima kegagalannya dengan lapang dada.


" Baiklah sesuai kesepakatan yang kalah mendapatkan hukuman, hukumannya adalah, kamu harus menuruti semua permintaan pemenang." Ucap Zira menjelaskan.


Kevin setuju, menurutnya permintaan bosnya masih di ambang wajar. Beda halnya jika Zira yang meminta pasti dia akan kabur duluan.


" Besok hukuman mu akan di mulai. Sekarang aku mau kamu jelaskan apa saja isi mangkuk tersebut." Ucap Ziko sambil melihat istrinya.


" Sebenarnya yang aku masukkan itu bukan rumput tapi daun kates." Ucap Zira pelan.


" Daun kates? Apa lagi itu? Jadi itu termasuk rumput atau tanaman liar." Ucap Ziko panik.


Ziko belum pernah makan namanya daun kates. Tadi adalah pertama kalinya dia memakan sayuran itu.


" Daun kates sama dengan daun pepaya. Biasanya di masak untuk urap atau lalapan, dan lainnya. Rasanya memang pahit." Gumam Kevin pelan.


" Nah itu kamu pintar. Kenapa kamu tidak bisa mengunyahnya tadi?" tanya Zira lagi.


" Bagaimana saya bisa mengunyahnya, tadi nona bilang itu rumput blasteran. Pasti takut lah saya, takut Virus." Ucap Kevin protes.


Zira bisa tertawa gembira. Karena dua pria di depannya masuk ke dalam jebakan Batman. Hukuman Kevin akan berlangsung, dan hukuman itu merupakan tantangan terbesar, Zira yakin Kevin akan dengan susah payah melakukannya.


" Like, komen dan vote yang banyak ya. Biar tambah semangat updatenya."