
Tidak terasa usia kandungan Zira memasuki tujuh bulan, badannya semakin bengkak dan perutnya semakin membesar. Ziko merasa kasihan melihat kondisi istrinya.
Hari ini jadwal untuk Zira mengecek kandungan ke dokter spesialis kandungan. Untuk hari ini Ziko tidak berangkat ke kantor, dia ingin mengantarkan istrinya ke rumah sakit. Mereka sudah pergi ke rumah sakit.
"Sayang nanti tanya jenis kelaminnya." Ucap Ziko.
"Jangan ah, aku mau jadi kejutan." Ucap Zira.
"Ye sayang, kalau kita tau jenis kelaminnya kita bisa mempersiapkan kamar untuk anak kita, sekaligus namanya." Jelas Ziko.
"Iya juga, kita belum mempersiapkan kamar untuk anak kita. Ingatkan aku untuk menanyakan jenis kelamin anak kita." Ucap Zira.
Mobil memasuki pekarangan rumah sakit. Ziko memberhentikan mobil di depan loby, untuk mempermudah Zira turun.
Ziko memarkirkan mobilnya di area parkir. Dia memasuki pintu loby dan mencari keberadaan istrinya.
Zira sedang mengobrol dengan dokter Jasmin. Dokter cantik itu membantu Zira menuju poli kandungan. Setelah ada Ziko, dokter Jasmin meninggalkan Zira bersama suaminya.
Selang sepuluh menit nama Zira di panggil perawat. Ziko memapah istrinya masuk ke dalam ruangan.
"Selamat pagi ibu Zira." Ucap dokter ramah.
"Pagi dok." Jawab Zira.
"Bagaimana keadaan ibu Zira, apa ada keluhan?" tanya dokter.
"Saya sering sesak dok sulit bernafas." Ucap Zira.
"Tidak apa-apa itu karena metabolisme yang cepat, tidak perlu di khawatirkan." Ucap dokter.
"Kaki istri saya bengkak dok, bengkaknya udah melebihi kaki hulk." Ucap Ziko.
Zira langsung menyenggol bahu suaminya.
"Hahaha, untuk mengatasi kaki bengkak coba minum air pada saat haus, jangan minum lebih satu gelas dalam satu waktu. Ibu juga bisa berjalan di rumput atau pasir tanpa menggunakan alas kaki, praktek itu bisa menstimulasi area kaki dan memperkuat dinding pembuluh darah." Jelas dokter.
"Baik dok." Ucap Zira singkat.
"Istri saya susah tidur dok, malah kalau enggak bisa tidur istri saya ngajak main gaplek." Gurau Ziko.
"Sayang." Zira merapatkan giginya.
"Hahaha, hal itu memang sering di alami hampir semua ibu hamil." Ucap dokter.
"Saya juga mengalami keringat berlebih dok." Ucap Zira.
"Iya dok, kadang saya sempat berpikir kalau istri saya ini kehujanan, soalnya rambutnya sampai lepek kalau berkeringat." Timpal Ziko.
"Hahaha, ibu hamil pasti mengalami jumlah keringat yang berlebih, pastikan ibu memakai pakaian yang sintesis dan pastikan bahan pakaian terbuat dari katun." Jelas dokter.
"Apa ada keluhan lainnya?" tanya dokter lagi.
"Saya suka nyeri di punggung itu tidak apa-apa dok?" tanya Zira.
"Iya dok, hampir setiap malam istri saya minta pijat katanya punggungnya nyeri. Saya heran dok istri saya bukan kuli panggul tapi kenapa punggungnya sering sakit." Timpal Ziko lagi.
"Oh itu karena peningkatan beban pada punggung dan persendian." Jelas dokter. Dokter mempersilahkan Zira untuk naik ke tempat tidur, perawat memberikan jel di atas perut Zira dan dokter mulai menggerakkan alatnya.
"Kondisi bayi dalam keadaan sehat." Dokter menyebutkan lingkar kepala dan berat badan anaknya.
"Jenis kelaminnya apa dok?" Tanya Ziko.
"Kalau tidak salah cewek." Ucap dokter.
"Ceweknya berapa dok?" tanya Ziko.
"Cewek semua." Ucap dokter.
Setelah selesai di USG Zira di perintahkan dokter untuk turun.
"Sebulan lagi silahkan kontrol, untuk menghindari prematur di harapkan jangan berhubungan dulu." Ucap dokter.
Zira dan Ziko keluar dari poli kandungan, mereka mengantri di apotik.
"Sayang dengar ya, tidak boleh berhubungan." Ucap Zira mengingatkan suaminya. Dia memperhatikan suaminya yang banyak diam.
"Kamu kenapa?" tanya Zira.
"Aku ingin anak cowok." Ucap Ziko jujur.
"Sayang jangan seperti itu, kita harus bersyukur, ingat tidak semua orang bisa mendapatkan rezeki seperti kita." Ucap Zira mengingatkan suaminya untuk banyak bersyukur.
"Iya sayang, aku tidak boleh mengeluh, diberi keturunan merupakan hal yang luar biasa."
"Nanti kalau udah lahir kita buat adiknya dan program untuk mendapatkan anak cowok." Ucap Ziko semangat.
Zira langsung membelalakkan matanya. Suaminya terlalu semangat untuk program mendapatkan anak cowok.
Nama Zira di panggil, Ziko mengambil resep obat ke apotik. Mereka keluar sambil bergandengan tangan.
"Sayang, sebaiknya kamu duduk di loby saja. Nanti kalau aku sudah datang baru kamu keluar." Ucap Ziko.
"Sayang aku harus banyak jalan biar dinding pembuluh darahku kuat." Ucap Zira.
"Baiklah kalau capek jangan di paksa."
"Iya." Ucap Zira lagi.
Mereka berjalan secara perlahan. Keringat Zira langsung mengucur deras. Melihat istrinya seperti itu Ziko merasa kasihan.
"Sayang, kamu masih kuat tidak? aku tidak bisa menggendongmu."
"Masih."
Karena jalannya Zira sangat lambat, mereka sampai ke mobil dalam waktu lima belas menit.
Ziko langsung menyalakan mesin mobil. Zira duduk sambil mengipasi badannya.
"Sayang aku haus." Ucap Zira. Ziko langsung memberikan botol minum yang ada di mobil.
Ziko mulai melajukan mobilnya. Sesekali dia melirik istrinya.
"Masih panas?" tanya Ziko.
"Iya, bajuku sampai basah." Ucap Zira sambil menunjukkan keteknya yang basah.
"Waduh sayang, kenapa ketekmu berproduksi." Gurau Ziko.
"Walaupun ketekku berproduksi tapi selalu kamu cium kan?" Sindir Zira.
"Hahaha, jangan buka kartu. Bukan hanya mulut kamu yang bau micin tapi ketiak pun mengandung boraks." Ucap Ziko.
Keduanya tertawa bersama. "Sayang, kita cari perlengkapan anak kita ya." Ajak Zira.
"Tapi kamu capek." Ucap Ziko.
"Kalau untuk urusan anak aku enggak akan capek." Ucap Zira semangat.
"Ok."
Ziko memberhentikan mobilnya di sebuah toko perlengkapan bayi. Ketika masuk ke sana, mata Zira langsung terharu, dia membayangkan calon bayinya memakai pakaian di toko itu. Pakaian yang lucu dan mungil. Dia di bantu pelayan toko untuk memilih perlengkapan calon bayinya. Sedangkan Ziko melihat pakaian anak cowok. Dia memilih beberapa pakaian bayi untuk berjenis kelamin cowok. Tidak lupa pasangan suami istri itu memilih stroller untuk anak kembar.
"Sayang aku mau stroller yang berwarna pink." Ucap Zira.
"Sayang jangan pink semua dong, itu ada warna pink dan biru. Kita pilih yang biru dan pink ya." Rayu Ziko.
Zira menuruti kemauan suaminya. Mereka pergi ke kasir. Zira mengerutkan dahinya ketika melihat ada pakaian bayi untuk berjenis kelamin cowok.
"Sayang, apa kamu yang memilih pakaian avengers ini?" tanya Zira.
"Iya, aku ngidam anak kita pakai pakaian itu." Ucap Ziko.
"Calon bayi kita cewek loh." Zira mengingatkan suaminya.
"Kamu cewek tapi pasukan avengers, apa salahnya anak kita pakai pakaian itu, biar mirip ibunya." Ucap Ziko.
"Ok aku maklumi." Zira kembali melihat pakaian bayi untuk anak cowok.
"Kalau yang ini bukan kostum avengers, apa kamu ngidam anak kita pakai kostum wiro sableng?" tanya Zira.
"Hehehe iya, biar keren sayang, nanti di dadanya di tulis dua satu dua." Ucap Ziko sambil tersenyum menyeringai.
"Ogah, terus nanti di dahi anak kita di ikat kain, anak kita bukan seperti superhero tapi seperti sakit kepala." Gerutu Zira sambil menyingkirkan pakaian pilihan suaminya.
"Aku ganti yang lain ya." Ziko kembali ke rak pakaian anak cowok, dia memilih satu kostum untuk anaknya.
"Yang ini bagaimana?" Ziko meletakkan seragam sekolah ke meja kasir. Zira langsung melotot.
"Apa-apaan ini." Ucap Zira bingung.
"Sayang ada pepatah tuntutlah ilmu ke negeri cina, kalau ini tuntutlah ilmu selagi unyu." Ucap Ziko. Zira hanya bisa menggelengkan kepalanya, menurutnya ide para pengrajin pakaian wajib di acungkan jempol.
Bersambung.