
Ziko dan Kevin sudah berangkat ke kantor. Zira di temani asisten rumah tangga di rumahnya. Menik main ke rumah Zira dengan membawa roti hasil olahannya. Bik Inah mempersilahkan Menik untuk masuk, wanita paruh baya itu sudah kenal dengan Menik. Karena hari-hari tetangganya itu main ke rumah majikannya.
"Nona Zira ada di taman belakang." Ucap bik Inah.
"Makasih bik." Ucap Menik sambil menyerahkan bawaannya kepada bik Inah. Menik mencari Zira di taman belakang. Dia melihat Zira sedang merangkak.
"Nona apa yang anda lakukan." Ucap Menik panik.
"Merangkak." Jawab Zira.
"Nona anda sedang hamil tidak seharusnya melakukan itu." Ucap Menik khawatir.
"Nik, ini salah satu cara untuk membuka jalan lahir." Jelas Zira sambil mengganti posisi dengan berjalan.
"Apa nona mau melahirkan normal." Tanya Menik.
"Tentu aku mengharapkan bisa melahirkan normal, bukan aku saja setiap ibu yang hamil pasti menginginkan melahirkan secara normal, itu seperti suatu cita-cita." Jelas Zira.
"Tapi bukannya nona sedang mengandung anak kembar, apa bisa normal." Ucap Menik.
"Untuk kembar dua kemungkinan melahirkan normal bisa asalkan kepala anak dua-dua sudah dalam posisi di bawah tapi untuk anak kembar tiga kemungkinan untuk melahirkan normal masih sedikit. Tapi aku berharap pada saat mau melahirkan posisi ketiga kepala anakku sudah ada di bawah dan tidak sungsang." Jelas Zira.
"Maaf nona saya kurang mengerti dengan istilah sungsang." Ucap Menik penasaran. Zira berhenti dengan kegiatan jalannya. Dia memilih untuk duduk di sebelah Menik, dan menikmati jus buatan bik Inah. Setelah selesai dengan minumannya Zira menjelaskan kepada Menik.
"Bagus pertanyaan kamu, ini sebagai pembelajaran buat pengantin baru seperti kamu. Posisi sungsang posisi di mana bayi ketika di dalam rahim kepalanya berada di atas, jadi pada saat persalinan normal, bokong atau si kaki bayi yang akan keluar terlebih dahulu." Jelas Zira lagi.
"Apa sungsang berbahaya?" tanya Menik lagi.
"Resiko untuk melahirkan sungsang memang sangat besar, karena akan sulit bagi dokter mengeluarkan tapi kalau kepala sudah di bawah tinggal meluncur saja." Ucap Zira.
"Untuk kembar tiga apa pernah ada yang melahirkan normal?" tanya Menik lagi.
"Jarang yang bisa melahirkan normal, ada yang berhasil tapi tidak banyak. Biasanya dokter akan memberitahukan resikonya. Kenapa? apa kamu pengen anak kembar?" Ucap Zira.
"Kalau saya apa yang di kasih saja. Cuma Kevin yang ngebet punya anak kembar lima." Ucap Menik.
"Busyet napsu amat si Kevin." Ucap Zira.
"Tapi tenang, hamil kembar itu enak karena kita merasakan mual dan sakitnya hanya sekali beda kalau mau program lagi. Tapi repotnya ketika mengurus bayi kembar akan terasa melelahkan." Ucap Zira.
"Nona sepertinya banyak mengetahui tentang kehamilan dari proses sampai melahirkan." Ucap Menik.
"Hahaha, aku enggak tau tentang kehamilan tapi sering bertanya sama dokter jadi kita bisa paham semuanya." Ucap Zira. Bik Inah datang membawakan roti buatan Menik.
"Dari siapa bik?" tanya Zira.
"Dari non Menik." Jawab bik Inah.
"Kamu pintar membuat segala macam kue, kenapa tidak buka bakery." Ucap Zira sambil menikmati roti bawaan Menik.
"Kevin belum mengizinkan."
"Oh." Ucap Zira sambil menikmati rotinya.
"Nona, boleh aku menanyakan sesuatu." Ucap Menik pelan.
"Iya silahkan." Ucap Zira.
"Apa nona pernah merasa cemburu dengan seseorang ketika sudah menikah?" tanya Menik pelan.
Zira menatap wanita yang duduk di sebelahnya.
"Sering, aku ceritakan kepada kamu ya. Pada saat rumah tangga kami masih seumur jagung seperti kalian, ada beberapa wanita yang mengganggu rumah tangga kami." Ucap Zira.
"Terus apa yang nona dan tuan muda lakukan?" tanya Menik lagi.
"Bertengkar." Menik langsung membelalakkan matanya.
"Aku tidak tau, apa ini hanya perasaan atau hanya cemburu belaka." Menik menceritakan tentang pembicaraannya kepada Jasmin ketika di rumahnya dan dia juga menceritakan sikap Jasmin yang langsung mendahuluinya ketika mengambilkan lauk untuk Kevin.
Zira belum berkomentar, dia masih menelaah dan memikirkan ucapan Menik.
"Aku belum bisa banyak berkomentar tapi jika aku di posisi kamu pasti aku akan cemburu kalau mantan suami kita mengatakan itu. Tapi di satu sisi kenapa Jasmin mengatakan itu kepada kamu Apa dia masih belum move on." Ucap Zira.
Menik mengangkat kedua bahunya.
"Dan seharusnya Jasmin harus menjaga perasaan kamu jangan mendahului. Tapi yang aku masih bingung bisa saja yang di lakukan Jasmin spontanitas saja. Ya walaupun itu tetap salah." Ucap Zira.
"Terus apa yang harus aku lakukan?" tanya Menik lagi.
"Sebagai istri kita harus melayani suami, beri perhatian penuh kepadanya jangan sampai dia mendapatkan perhatian dari orang lain." Jelas Zira.
Menik menganggukkan kepalanya paham.
Tidak terasa waktu terus berputar Menik sudah pulang lebih awal dari tadi. Waktu sudah menunjukkan jam lima sore Kevin dan Ziko bergegas untuk pulang ke rumah. Selama perjalanan mereka banyak mengobrol tentang masalah perusahaan. Mengobrol membuat keduanya tidak bosan berada di dalam roda empat itu. Akhirnya mereka sampai. Ziko langsung masuk ke rumahnya begitupun dengan Kevin. Ketika sampai di rumahnya Menik memberikan perhatian kepada suaminya, dari membukakan sepatu, kaos kaki sampai jas suaminya di bukanya.
"Mau minum apa?" tanya Menik.
"Teh hijau." Ucap Kevin. Belum ada satu detik teh hijau pesanan suaminya sudah siap.
"Kamu sudah menyiapkannya dari tadi?" ucap Kevin.
"Iya." Jawab Menik singkat.
"Kalau sudah kenapa kamu bertanya kepadaku." Ucap Kevin.
"Karena aku ingin memberikan perhatian lebih sama kamu." Jawab Menik sambil menarik tangan suaminya menuju meja makan.
"Aku belum mandi Nik." Ucap Kevin lagi.
"Makan dulu biar kamu kuat menghadapi hidup." Ucap Menik lagi sambil mengedipkan matanya ke arah suaminya.
Kevin bingung dengan tingkah istrinya. Menik mengambil piring dan meletakkan nasi dan lauk di atasnya.
Kevin mengulurkan tangannya untuk menerima piring pemberian istrinya. Tapi Menik bukan memberikan piring dia malah menyuruh suaminya untuk membuka mulutnya.
"Aku makan sendiri." Ucap Kevin menolak.
"Aaaak, buka mulut kamu sayang." Ucap Menik sambil menyodorkan sendok ke mulut suaminya.
"Stop Nik, kamu kalau seperti ini terlihat seperti mama." Ucap Kevin.
"Aku itu mau memberikan perhatian lebih kepada kamu." Ucap Menik lagi.
"Dari tadi jawabnya memberikan perhatian lebih, Menik sayang, kamu kenapa? perhatian kamu tidak pernah berkurang malah terus bertambah, tapi aku heran dengan sikap kamu yang kaku." Ucap Kevin jujur.
"Kaku?" Menik bingung.
"Iya kaku, kamu memang melayaniku setiap hari baik di kasur maupun di hal lainnya, tapi kenapa semua hal baru ini, dari membuka sepatu, kaos kaki sampai menyuapi segala apa ada sesuatu hal yang ingin kamu bicarakan." Tanya Kevin sambil melihat lekat wajah istrinya. Menik menggelengkan kepalanya.
"Baiklah karena tidak ada sesuatu hal yang mau di bicarakan, aku akan memberikan perhatian untuk kamu." Kevin mengangkat tubuh istrinya dan meletakkan di depannya. Dia menggendong sambil berciuman dengan istrinya dan membawa istrinya ke kamarnya. Kevin menjatuhkan tubuh istrinya di kasur. Tiba-tiba ponsel Kevin berdering pria itu tidak memperdulikan dering ponselnya. Dia sedang sibuk membuka kemejanya.
"Sayang angkat dulu." Ucap Menik.
"Lupakan saja." Kevin membuka celananya dan sudah melucuti baju istrinya. Tiba-tiba suara bel rumahnya bunyi. Sontak Menik kaget dan langsung menendang ************ suaminya.
"Aw, kenapa di tendang." Gerutu Kevin sambil meringis.
"Siapa yang memencet bel." Ucap Menik.
"Udah lupakan saja, nanti kalau capek berhenti." Ucap Kevin melanjutkan pekerjaannya. Tapi Menik tidak mau melakukannya karena menurutnya terlalu berisik.
Bersambung.