Menikah Karena Ancaman

Menikah Karena Ancaman
episode 437 (S2)


Pesawat yang membawa Kevin dan Menik sudah mendarat dengan sempurna. Setelah mendapatkan koper, mereka menuju taksi yang mangkal tidak jauh dari bandara.


Kevin menyebutkan nama hotel yang telah di bookingkan Ziko sebelumnya. Selama perjalanan dari bandara menuju hotel. Menik tak henti-hentinya melihat pemandangan dari balik kaca jendela mobil.


"Bagus banget ya." Ucap Menik senang.


"Aku akan mengajakmu berkeliling kota paris." Ucap Kevin.


"Apa menara yang terkenal itu ada di sini?" tanya Menik tanpa mengalihkan pandangannya dari pemandangan yang tersaji di sisi kanan dan kiri jalan.


"Maksud kamu menara eifel?" tanya Kevin


"Bukan, menara listrik." Ucap Menik asal.


"Kamu bercanda ya, menara eifel ada di negara ini. Banyak tempat wisata yang sayang untuk di lewatkan di sini."


Taksi yang membawa mereka sudah sampai di depan pintu loby hotel. Bell boy membukakan pintu mobil untuk tamunya, tapi sebelumnya Kevin membayar ongkos taksi kepada si supir.


Bel boy hotel membantu membawakan koper mereka ke bagian registrasi. Kevin kembali cek in dan menyebutkan kamar yang telah di booking untuk dirinya dan Menik.


Setelah selesai dengan registrasi dan hal lainnya. Staf di bagian registrasi memerintahkan bell boy untuk membawakan koper mereka.


Menik tertegun dengan bentuk hotel tersebut. Bentuk hotel itu masih menggunakan bangunan kuno, tapi itu yang menjadikan daya tarik dari hotel itu.


Bell boy berhenti di depan kamar dengan nomor 118, pria itu menggesekkan kartu ke bagian pintu. Dan pintu itu terbuka secara otomatis. Kevin memberikan tip untuk pria itu.


Menik tertegun dan senang melihat kamarnya banyak bunga mawar merah. Dan bagian kasurnya ada bunga mawar yang membentuk hati.


"Bagus banget." Ucap Menik senang.


"Ini sengaja di buat mereka untuk menyambut pengantin baru seperti kita." Ucap Kevin.


"Terus kita tidur di mana?" tanya Menik lagi.


"Ya di situ." Jawab Kevin.


"Jangan." Ucap Menik singkat.


"Kenapa?"


"Sayang kalau di tiduri, kita tidur di sofa aja kalau perlu di lantai." Jawab Menik lagi.


"Sekarang kamu mandi, kita mau makan malam." Ucap Kevin. Mereka tiba di Perancis sore hari dan sebentar lagi negara kota mode itu sudah masuk waktu malam. Walaupun malam di sana masih dalam keadaan terang tapi tetap menunjukkan malam. Di negara Eropa keadaan gelap pada jam sembilan atau sepuluh malam. Setelah makan malam di restoran, pasangan pengantin baru itu kembali ke kamar. Di dalam kamar keduanya bingung mau melakukan apa.


Menik duduk di pinggir tempat tidur dan Kevin duduk di sebelahnya. Pria itu minta izin sama istrinya untuk melakukan tugasnya sebagai suami.


"Bisa kita mulai sekarang." Ucap Kevin.


Menik menganggukkan kepalanya pelan sambil tersipu malu.


"Tapi pelan-pelan ya." Ucap Menik takut.


"Iya sayang." Ucap Kevin.


Kevin melakukan pemanasan dengan mencium bibir istrinya terlebih dahulu, kemudian dia membaringkan tubuh Menik.


"Tunggu." Ucap Menik.


"Apa?" tanya Kevin lagi.


"Jangan di kasur kan sayang bunganya. Pihak hotel sudah susah payah merangkainya jadi seperti ini." Ucap Menik.


Kevin kembali mencium istrinya, dan ketika dia membaringkan tubuh istrinya lagi-lagi istrinya berkata.


"Tunggu, aku belum baca doa." Ucap Menik lagi.


"Ya udah baca di dalam hati." Ucap Kevin cepat, dia udah enggak tahan karena gagang sapunya udah siap gerak.


"Enggak boleh, harus di cetuskan biar setan di dalam ruangan ini keluar." Ucap Menik.


Kevin sudah tidak perduli, tubuh istinya sudah dalam keadaan berbaring, dia mulai menciumi kembali istrinya dan mulai meraba-raba.


"Please jangan, aku masih malu melakukannya." Ucap Menik di sela-sela mulut Kevin, karena bibir suaminya sudah ada di atas bibirnya.


Kevin sengaja membuat Menik puas dulu, dia melakukan itu agar istrinya senang. Setelah mencium semua anggota tubuh istrinya Kevin, dia melucuti pakaian istrinya. Dan memuaskan istrinya.


Menik tak kuasa dengan perlakuan Kevin yang membuatnya puas. Dan Kevin tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk melakukan tugasnya sebagai suami. Dia memasukkan perlahan barangnya ke dalam mahkota istrinya.


"Masuk pak eko." Ucap Menik pelan sambil menangis. Rasa sakit yang teramat sangat membuatnya menahan sakit dan menangis. Setelah cukup puas Kevin berbaring di samping istrinya.


"Terima kasih sayang. Nanti kita lanjutkan lagi." Ucap Kevin menutupi tubuh istrinya dengan selimut dan mengecup dahi istrinya.


Kevin dan Menik sudah melakukan tugasnya sebagai suami istri. Kevin merasa senang, karena dia dapat membelah duren dengan baik. Walaupun ada rintangan kecil berupa uluran waktu dari istrinya tapi dia puas.


Setelah istirahat Menik mencoba untuk bangun dari atas kasur, tapi dia merasa ada yang sakit di bagian bawahnya.


"Mau kemana?" tanya Kevin.


"Aku mau bersih-bersih." Jawab Menik.


Kevin menggendong tubuh istrinya.


"Jangan di gendong aku malu, tutupi tubuhku dengan selimut." Ucap Menik yang sudah di bopong suaminya.


Kevin membawa tubuh istrinya ke dalam kamar mandi. Tidak ada sehelai benang yang menutupi tubuh istrinya. Hal itu membuat gairah Kevin kembali bangkit. Dia mau melakukan di dalam kamar mandi. Tapi Menik menolak.


"Jangan sekarang, bagian sensitifku masih sakit." Ucap Menik menolak.


"Maaf sayang, kamu telah menggodaku dengan tidak memakai pakaian, jadi kita selesaikan tugas kita di sini." Ucap Kevin.


Lagi dan lagi, Kevin melakukan hasratnya di kamar mandi walaupun ada rasa sakit tapi Menik melakukan tugasnya sebagai istri.


Pasangan suami istri itu kembali tidur di kasur. Tapi mereka tidur mengenakan pakaian. Bukan seperti sebelumnya yang tidur tanpa sehelai benang. Karena Kevin berjanji untuk melakukannya besok. Dia tidak tega harus melakukan berulang kepada istrinya. Karena masih ingat air mata yang keluar dari mata istrinya pada saat dia merobek selaput dara milik istrinya.


Di sela-sela tidur, mereka menyempatkan untuk mengobrol.


"Bagaimana rasa sakitnya, ketika aku mengambil hakku kepadamu?" tanya Kevin.


"Sakit banget pokoknya, belum perihnya." Ucap Menik.


"Maafkan suamimu ini ya, aku hanya melakukan tugasku sebagai suami." Ucap Kevin sambil memeluk istrinya.


"Iya aku ngerti, memang seharusnya seperti ini. Aku minta maaf kalau kemaren-kemaren menolakmu dengan berbagai macam alasan lama." Ucap Menik.


Akhirnya pasangan suami istri itu tertidur. Mereka tidur saling memeluk satu sama lain. Sebenarnya Menik susah untuk memejamkan matanya, karena waktu yang berbeda membuatnya sebentar-bentar terjaga. Tidak dengan Kevin, dia lebih cepat pulas dari Menik. Kevin dapat menyesuaikan jam tidur yang ada di tanah air dengan di Perancis. Mungkin karena dia pernah tinggal di Inggris jadi dia dapat beradaptasi dengan cepat.


Sebuah pernikahan itu di katakan berhasil bukan karena tidak ada pertengkaran atau badai dalam rumah tangga. Tapi pernikahan itu di katakan berhasil karena suami istri tidak bisa menjalani hidupnya tanpa pasangannya masing-masing.


Bersambung.


Mohon dukungannya dengan memberikan vote yang banyak untuk kedua karya author "Menikah Karena Ancaman" dan "Love of a Nurse"