
Pagi harinya.
Zira dan Kevin sudah bersiap-siap berangkat ke bandara. Sebelumnya mereka berpamitan kepada Novi dan suaminya. Novi dan Zira berpelukan erat satu sama lain.
" Jaga kandungan mu, kabari aku kalau kamu sudah sampai di sana." Ucap Novi.
Taksi yang mereka pesan sudah tiba di depan rumah Novi. Novi melepaskan kepergian temannya. Kevin membukakan pintu taksi kepada Zira. Dia memilih duduk di sebelah supir taksi. Taksi sudah pergi menuju bandara. Sesampai di bandara supir taksi membukakan pintu bagasi mobil dan Kevin membukakan pintu mobil untuk Zira. Pada saat momen seperti ini Zira mengingat kenangannya bersama suaminya. Di mana setiap turun dari mobil Ziko selalu mengulurkan tangannya. Tetapi beda dengan Kevin, dia tidak mengulurkan tangannya tapi sebagian kepalanya yang masuk. Tetapi momen itu tetap membuat Zira bersedih.
Kevin masih menunggu di luar mobil. Zira belum juga kunjung keluar. Dia memasukkan sebagian kepalanya, melihat Zira sedang melamun.
" Nona." Ucap Kevin membuyarkan lamunannya.
" Eh iya." Ucap Zira gugup.
Mereka memasuki pintu keberangkatan. Selama perjalanan menuju ruang tunggu. Kevin selalu berada di belakang Zira. Dia tetap menjaga jarak. Mereka duduk di ruang tunggu hanya 20 menit, setelah ada informasi dari pihak bandara. Mereka masuk ke dalam pesawat bersama penumpang lainnya.
Pramugari menunjukkan kursi mereka. Kevin memesan kelas bisnis untuk perjalanan mereka. Zira duduk di dekat jendela dan Kevin duduk bersebelahan dengan majikannya. Tapi Kevin merasa kurang pas jika dia duduk di sebelah Zira. Dia bertanya kepada pramugari yang sedang lewat di sampingnya.
" Permisi mbak. Bisa saya pindah duduk ke belakang." Ucap Kevin menunjuk kursi di belakangnya.
" Memangnya kenapa dengan kursi bapak?" tanya pramugari ramah.
" Tidak apa-apa sih mbak, cuma saya ingin duduk di belakang saja." Ucap Kevin lagi.
" Sebentar ya pak, kalau tidak ada penumpang lainnya anda bisa duduk di belakang." Ucap Pramugari cantik itu.
Kevin menganggukkan kepalanya. Dia masih melihat penumpang yang lalu lalang di sebelahnya. Tidak berapa lama ada seorang Bapak-bapak duduk di kursi belakangnya. Kevin bingung mau pindah ke belakang atau di sebelah Zira. Bolak-balik dia melihat ke belakangnya dan Zira memperhatikannya.
" Kamu kenapa?" tanya Zira sambil melihat kebelakang.
" Eh enggak nona." Ucap Kevin gugup.
Kevin masih saja melihat kebelakang. Dia merasa segan untuk duduk bersebelahan dengan Zira.
" Kenapa kamu gelisah seperti itu duduk di sebelahku." Ucap Zira langsung.
" Tidak nona saya tidak gelisah." Ucap Kevin cepat.
" Kenapa dengan bokong mu? Apa kamu bisulan?" tanya Zira pelan.
" Tidak nona." Ucap Kevin cepat.
Kru kabin atau pramugari yang bertugas pada penerbangan di sepanjang lorong pesawat, mempraktekkan demo keselamatan penerbangan atau safety briefing. Seperti sabuk pengaman, masker udara dan pelampung semua mereka praktekan.
Kevin masih saja duduk gelisah. Dia tidak ingin duduk di sebelah Zira, dia mencari penumpang perempuan yang bisa di ajak bertukar tempat duduk.
" Kamu kenapa sih? Apa kamu mau buang air besar." Ucap Zira cepat.
Kevin lagi-lagi menggelengkan kepalanya.
" Terus kenapa kamu seperti gelisah seperti itu?"
" Nona bagaimana kalau saya pindah ke belakang." Sambil menunjukkan kursi belakang. Ada perempuan paruh baya sedang duduk di sana. Zira melihat kearah yang di tunjuk Kevin.
" Memangnya kenapa kalau duduk di sini?" Ucap Zira heran.
" Hemmm saya kurang nyaman duduk di sini."
" Maksudnya?" Heran.
" Hemmm biasanya saya selalu duduk di belakang anda dan tuan muda, tapi sekarang saya harus duduk di sebelah anda. Saya merasa kurang pantas duduk di sebelah anda." Ucap Kevin pelan.
Zira menghembuskan nafasnya. Dia salut dengan pemikiran Kevin. Dia selalu bisa menempatkan posisinya di mana saja.
" Asisten Kevin, aku sekarang bukanlah majikanmu.Tidak perlu kamu merasa sungkan hanya untuk duduk di sebelahku. Kamu harus membiasakan diri untuk selalu berdampingan denganku. Anggap saja kamu sedang menjaga seorang adik." Ucap Zira pelan.
Kevin menganggukkan kepalanya. Dia akan menganggap Zira sebagai adiknya. Zira sengaja menyebutkan seperti itu. Agar Kevin tidak merasa sungkan dengannya, dan dengan seperti itu Kevin tidak akan mempunyai perasaan yang lebih kepadanya. Hanya perasaan sebagai seorang kakak dan adik.
***
Ziko masih duduk di kamar, dia tidak makan selama dua hari. Pak Budi merasa khawatir begitupun dengan Zelin. Dia takut terjadi sesuatu dengan kakaknya.
" Pak kita masuk saja ke kamar kak Ziko. Aku takut kak Ziko kenapa-kenapa." Ucap Zelin khawatir. Seperti yang sering di lihatnya di semua televisi nasional, banyak pemberitaan mengenai orang yang bunuh diri karena stres. Dan dia tidak mau hal itu terjadi dengan kakaknya.
Pak Budi dan Zelin masuk ke kamar. Mereka melihat ruangan itu sudah berantakan. Baju Zira berserakan di mana-mana. Semua tidak pada tempatnya. Mereka menemukan Ziko berada di samping lemari. Dengan wajah yang berantakan dan pucat.
" Kakak." Teriak Zelin.
Pak Budi dan Zelin memapah Ziko ke kasur. Pria paruh baya itu langsung bertindak cepat menghubungi Dokter Diki. Kemudian dia menghubungi pelayan untuk menyiapkan makanan untuk Ziko.
" Kakak jangan seperti ini." Ucap Zelin menangis sambil duduk di pinggir kasur.
Zelin merasa sedih melihat keadaan kakaknya. Ini adalah kedua kalinya kakaknya mengalami stres seperti ini. Pertama karena putus dengan Sisil, dan yang kedua karena akan bercerai dengan Zira.
Setelah beberapa menit, Dokter Diki datang dan langsung masuk ke kamar untuk memeriksa Ziko.
" Bagaimana dok." Ucap Zelin khawatir.
" Dia kekurangan cairan dan tubuhnya juga sangat lemas. Jadi dia harus di infus." Ucap Dokter Diki menjelaskan.
Zelin hanya menganggukkan kepalanya. Yang terpenting adalah kesembuhan buat kakaknya. Dokter Diki memasangkan jarum infus ke punggung tangan temannya. Tidak ada penolakan sama sekali dari Ziko. Biasanya Ziko selalu berontak dengan jarum infus tapi hari ini dia bisa di ajak kerjasama. Ziko masih bisa melihat sekitarnya. Tapi dia tidak bisa berpikir dengan jernih, karena di dalam pikirannya hanya memori pada saat dia mengatakan kata cerai kepada istrinya.
" Saya akan menghubungi perawat untuk berjaga di sini." Ucap Dokter Diki sambil menghubungi perawatnya. Dia tidak mau hal ini terulang lagi. Masih ingat di benaknya ketika Ziko menarik jarum infus karena stres.
" Baik dokter."
Zelin masih melihat ponselnya. Dia masih menunggu kabar dari orang tuanya. Dia tidak bisa menghadapi kakaknya seperti ini. Hanya Nyonya Amel yang bisa mengatasi semuanya. Sama halnya seperti pada saat putus dengan Sisil. Nyonya Amel yang berperan penting untuk menyembuhkan Ziko. Dan Zelin berharap kakaknya bisa pulih dengan secepatnya.
" Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih."