Menikah Karena Ancaman

Menikah Karena Ancaman
episode 433 (S2)


Ziko ke kantor dengan rambut barunya. Semua karyawan yang ada di loby memperhatikannya.


"Tuan anda menjadi pusat perhatian." Bisik Kevin.


"Sialan, ini semua karena ulahmu." Bisik Ziko marah.


Mereka masuk ke dalam lift. Ketika pintu lift terbuka Ziko buru-buru melangkahkan kakinya sambil melihat ke bawah.


"Tuan anda sedang mencari apa." Goda Kevin.


Ziko langsung memukul lengan asistennya.


"Puas kamu." Ucap Ziko kesal. Koko yang sedang duduk kaget. Dia memperhatikan penampilan bosnya sambil membuka mulutnya lebar.


Ziko berhenti di depan sekertarisnya.


"Kenapa? apa kamu tidak pernah melihat tuyul masuk kantor." Ucap Ziko ketus.


Koko baru sadar, dia menutup mulutnya rapat-rapat. Dia berusaha menahan tawanya. Ketika Ziko sudah masuk ke dalam ruangannya. Koko baru bisa melepaskan tawanya.


"Buahahaha, tuyul ngantor." Ucap Koko dengan gelak tawanya.


Di dalam ruangannya Ziko terlihat frustasi. Dia tak henti-hentinya melihat penampilannya dari layar ponselnya.


"Duh, bisa gawat nih." Ziko mengelus kepalanya.


"Saya yakin pasti nona Zira tidak memberi pintu untuk tuan." Ucap Kevin menakuti bosnya.


"Kalau sampai istriku marah, kamu harus tanggung jawab. Jelaskan semuanya kepada istriku." Ucap Ziko khawatir.


"Tenang saja, saya akan membela tuan." Ucap Kevin.


"Bagaimana caranya kamu menjelaskan kepada istriku. Kamu kan tau sebelum kamu jelaskan istriku sudah menyemprot duluan." Ucap Ziko.


"Kalau saya bilang tuan kalah taruhan pasti nona Zira akan menyalahkan anda."


"Iya juga, terus apa?" tanya Ziko.


"Bagaimana kalau saya bilang rambut tuan penuh dengan kutu." Ucap Kevin.


"Idemu terlalu di buat-buat. Kalau aku berkutu pasti istriku berkutu. Dan aku tidak rela jika istriku ikut menggunduli rambutnya, ganti." Ucap Ziko cepat.


Kevin memikirkan cara agar istri bosnya tidak marah.


"Bagaimana kalau rambut tuan baru kena bakar. Pasti nona Zira memakluminya."


"Kena bakar bagaimana? Aku itu tidak merokok. Kan enggak lucu kalau tiba-tiba kompor pindah ke kepalaku. Kamu kalau cari ide yang brilian, ganti."


Kevin memutar otaknya untuk menemukan sebuah ide.


"Aha, saya ada ide bagaimana kalau tuan pakai topi saja."


Ziko memikirkan ide dari asistennya.


"Bagus, tapi tidak mungkin aku memakai topi ke kantor. Terus tidur pakai topi. Kenapa enggak helm sekalian." Ucap Ziko marah.


"Maaf tuan, saya bingung." Ucap Kevin menyerah.


Tiba-tiba muncul ide brilian dalam benaknya Ziko.


"Vin, carikan aku rambut palsu."


"Baik tuan, mau rambut palsu yang seperti apa?" tanya Kevin lagi.


"Yang hampir mirip dengan rambutku." Ucap Ziko.


Kevin mengambil ponselnya dari dalam saku celananya. Dia ingin mencari rambut palsu di online shop. Tapi ada pesan dari dokter Diki. Sebuah video telah di kirim dokter Diki kepadanya. Kevin membuka video itu. Dan tersenyum sambil menahan tawanya.


"Kamu kenapa? kesurupan." Ucap Ziko memperhatikan asistennya senyum sendiri.


"Tidak apa-apa tuan." Ucap Kevin sambil fokus dengan aplikasi online.


"Tuan sepertinya ini cocok dengan rambut anda." Ucap Kevin menunjukkan online shop.


"Hemmm, iya beli saja. Pokoknya jangan sampai istriku tau kalau aku pakai rambut palsu."


"Siap tuan." Ucap Kevin sambil memesan beberapa rambut palsu.


Karena online shop itu ada di kota yang sama hanya dalam satu jam pesanan Ziko telah sampai. Resepsionis menyerahkan pesanan presiden direktur kepada Koko. Dan sekertarisnya membawa masuk ke dalam ruangan bosnya.


"Tuan ini pesanan anda." Ucap Koko.


"Cepat juga." Ucap Ziko menerima paket dari online shop.


"Vin bantu aku." Ucap Ziko.


Dia mencoba beberapa wig sambil melihat ke cermin.


"Bagaimana dengan yang ini." Ucap Ziko menunjukkan penampilannya kepada asistennya.


"Jelek tuan, kepala anda seperti sarang lebah." Ucap Kevin. Rambut palsu yang di pakai Ziko sangat tebal, mungkin itu yang menyebabkan Ziko seperti membawa sarang lebah di kepalanya.


Setelah mencoba beberapa wig, akhirnya Ziko mendapatkan rambut palsu yang mirip dengan rambut aslinya.


"Itu cocok tuan. Tidak seperti rambut palsu." Ucap Kevin.


"Ayo kita meeting." Ajak Ziko.


"Oh berarti tuan menunda meeting karena sedang menunggu rambut palsu ini." Ucap Kevin.


"Iya, mana mungkin tuyul memimpin rapat. Ayo cepat." Ajak Ziko.


Kevin dan Ziko keluar dari ruangan presiden direktur. Koko melongo, dia bingung dengan kepala bosnya sudah ada rambut.


"Kenapa." Ucap Ziko sambil berdiri di depan meja sekertarisnya.


"Bukannya tadi rambut bos tidak ada." Ucap Koko bingung.


"Mata kamu rabun ya. Rambut bagus gini di bilang tidak ada." Ucap Ziko berlalu meninggalkan sekertarisnya.


"Mana mungkin aku rabun, mataku sehat. Tadi bos Ziko sendiri yang bilang apa tidak pernah melihat tuyul ngantor." Gumam Koko bingung.


Ketika di ruang meeting, karyawan yang sudah melihat penampilan Ziko sebelumnya juga bingung. Tapi mereka hanya diam dan hanya memecahkan misteri itu sendiri.


Meeting berjalan dengan lancar. Waktunya Ziko pulang. Selama perjalanan pulang hatinya tidak tenang. Dia khawatir kalau istrinya akan tau kalau rambutnya sudah tidak ada.


Sesampai di rumahnya. Zira menyambut suaminya. Kevin hanya mengantarkan bosnya. Dia juga ingin pulang cepat karena sudah ada istrinya yang menunggunya di rumah.


"Mau makan apa mandi dulu?" tanya Zira.


"Mandi dulu." Jawab Ziko.


Zira merasa heran dengan tingkah suaminya yang biasanya membuka pakaian di depan istrinya. Tapi sore itu beda, Ziko membuka pakaiannya di kamar mandi dan juga membawa baju ganti ke kamar mandi.


"Mungkin kebiasaan anehnya ini karena aku lagi hamil." Gumam Zira sambil menunggu suaminya di kamar.


Ziko keluar dari kamar mandi dengan memakai celana pendek dan kaos oblong.


"Kamu tidak keramas?" tanya Zira.


"Tidak, rambutku tidak gatal dan masih harum." Ucap Ziko gugup.


"Oh, ya udah, ayo kita makan." Ajak Zira.


"Kamu sudah cukup kuat makan di ruang makan?" tanya Ziko khawatir.


"Sudah sayang, napsu makanku menurun kalau makan sendirian." Zira menarik tangan suaminya dan mengajak ke meja makan.


Ziko menikmati makan malamnya dengan lahap, sedangkan Zira hanya bisa menikmati makanannya beberapa suap.


Setelah itu mereka masuk ke dalam kamar. Mereka menonton televisi di kamar.


Ziko bersandar pada pinggiran tempat tidur sedangkan Zira bersandar pada dada suaminya. Mereka menonton film laga.


Ketika asik-asiknya menonton Ziko menggaruk rambut palsunya. Kepalanya terasa gatal yang amat sangat.


"Kenapa?" tanya Zira tanpa membalikkan badannya.


"Gatal." Jawab Ziko.


"Itulah, biasanya kamu kalau pulang selalu keramas. Ya udah sini aku keramasin." Ucap Zira sambil melihat ke arah suaminya.


Ketika melihat suaminya, Zira mengerutkan dahinya.


"Rambut kamu kok miring." Ucap Zira bingung.


Ziko buru-buru merapikan rambut palsunya. Karena tidak ada kaca, dia merapikan hanya menggunakan instingnya. Tapi instingnya salah, bukan semakin rapi tapi rambut palsunya semakin miring. Zira curiga dia langsung menarik rambut suaminya.


"Aaaaaaaaa upin." Teriak Zira sambil memukul suaminya dengan bantal.


"Mana upinnya." Ucap Ziko bingung.


Zira tidak menjawab, dia hanya menyerang suaminya dengan cubitan.


Bersambung.


Ayo vote untuk ke dua karya author "Menikah Karena Ancaman" dan "Love of a Nurse"