
🌹Vote
Cara vote.
Kumpulkan poin di pusat misi, buka poin pada profilku. Selesaikan semua tugas, jika tugas sudah selesai kalian bisa vote author sebanyak mungkin. Dan vote bisa di lakukan setiap hari selama poin kalian ada, terimakasih.
Selamat Membaca.
***
Keesokan harinya Kevin pergi membawa Menik ke mansion. Setibanya mobil berhenti tepat di depan mansion itu Menik membelalakkan matanya.
" Apa ini istana?" Ucap Menik mengagumi mansion tersebut. Penjaga membukakan pagar dan mobil langsung masuk ke dalam pekarangan.
" Sepertinya kamu sudah cukup di kenal di sini." Ucap Menik.
" Tentu, aku sudah lama ikut dengan keluarga ini." Ucap Kevin sambil membuka seat belt.
" Ayo turun." Ucap Kevin lagi.
Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam mansion. Ketika sampai di dalam mereka di sambut pak Budi.
" Nyonya besar dan tuan besar ada." Ucap Kevin.
" Ada silahkan duduk." Ucap pak Budi ramah. Pria paruh baya itu masuk ke dalam mansion dan menghampiri tuan besar dan nyonya Amel. Pak Budi memberitahukan tentang kedatangan Kevin dengan seorang wanita.
" Buatkan minum untuk mereka." Ucap nyonya Amel sambil menarik tangan suaminya untuk ikut dengannya menyambut tamu mereka.
" Selamat pagi tuan dan nyonya." Sapa Kevin sambil berdiri. Dan Menik mengikutinya.
" Duduk Kevin jangan seperti tamu, anggap rumah sendiri." Ucap nyonya Amel mempersilahkan Kevin dan Menik untuk duduk.
" Ini Menik mungkin tuan dan nyonya sudah mengenalnya." Ucap Kevin.
Pemilik rumah menganggukkan kepalanya.
" Kevin sudah bercerita tentang niatnya melamar kamu. Dan dia juga sudah minta izin kepada kami." Ucap nyonya Amel.
" Ya nyonya." Ucap Menik pelan sambil menundukkan kepalanya.
" Tidak usah panggil nyonya, panggil tante dan om saja. Ngomong-ngomong mana adikmu." Tanya nyonya Amel.
" Dia masih berkerja tante."
" Kerja di mana?" tanya tuan besar.
" Dia bekerja di rumah sakit." Ucap Menik.
" Adikmu seorang dokter?" Timpal nyonya Amel.
" Bukan nyonya, adiknya seorang sekuriti." Jawab Kevin.
" Oh." Nyonya Amel menundukkan kepalanya, dia dalam benaknya ternyata masih banyak orang yang tidak seberuntung keluarganya. Di mana anak-anaknya tidak pernah mengalami namanya kesusahan.
Setelah basa-basi menanyakan tentang hal lainnya. Mereka melanjutkan tentang rencana lamaran.
" Acara lamarannya kapan mau di adakan?" Tanya tuan besar.
" Kalau minggu depan bagaimana." Ucap Kevin.
" Hemmm, bagaimana kita tunggu keadaan Ziko membaik dulu. Kan dia juga harus hadir dalam acara ini." Timpal nyonya Amel.
" Papa rasa seminggu lagi jahitannya Ziko sudah mengering."
" Ok kalau begitu seminggu lagi acara lamarannya."
" Kalau untuk acara lamarannya di apartemen saya aja." Ucap Menik pelan.
" No, untuk acara lamaran sebaiknya kita adakan di hotel." Ucap nyonya Amel.
" Bagaimana Menik?" Tanya Kevin.
" Kalau di hotel pasti biaya sewa tempatnya mahal, uangku tidak akan cukup." Ucap Menik berbisik.
" Kenapa Nik?" Tanya nyonya Amel.
" Tidak tante."
Tidak berapa lama datang dua orang pria dan wanita, yang mana si pria memakai setelan jas dan wanita memakai blazer, kesannya mereka seperti karyawan kantoran.
" Selamat pagi tuan dan nyonya." Sapa keduanya yang di dampingi pak Budi.
" Selamat pagi." Ucap pemilik rumah.
" Ini calon pengantinnya. Saya mau kamu mendesain acara lamaran di hotel bintang lima." Ucap nyonya Amel.
" Oh iya, mereka berdua ini bekerja sebagai event organizer. Mereka yang akan mempersiapkan semua acara nanti." Ucap nyonya Amel memperkenalkan dua EO tersebut.
Kedua EO itu menunjukkan semua hasil karya mereka yang di abadikan dalam sebuah album foto. Mereka sudah sering mengkoordinir acara besar, seperti konser musik dan lain sebagainya. Dan untuk acara lamaran merupakan pekerjaan yang tidak sulit untuk mereka.
Jika tema sudah sesuai kesepakatan maka dengan mudah para EO menyelesaikan tugasnya. Tema yang di pilih Menik adalah bunga. Jadi nuansa yang akan di tampilkan pada saat lamaran adalah nuansa bunga yang indah. Semuanya di handle EO, mereka yang akan mempersiapkan semuanya. Dari pembukaan acara lamaran sampai penutup di lakukan mereka. Keluarga menerima bersih.
Setelah selesai dengan kesepakatan lainnya pihak EO pamit undur diri. Tapi Menik terlihat gusar.
" Permisi." Ucap Menik kepada keluarga Raharsya dan Kevin.
Dia mengikuti dua orang EO itu.
" Mbak, mas." Ucap Menik memanggil dua EO itu.
" Iya." Kedua EO itu membalikkan badannya kearah Menik.
" Saya mau tanya, berapa budget untuk acara lamarannya?" Tanya Menik pelan.
" Dua ratus juta." Ucap EO.
Menik membuka mulutnya lebar-lebar kalau ada nyamuk pasti hewan itu langsung masuk ke dalam tenggorokannya.
" Hemmm, kenapa mahal sekali. Apa tidak bisa kurang." Ucap Menik pelan.
Kedua EO itu melihat Menik dari atas sampai bawah. Mereka berpikiran kalau Menik orang kaya pelit. Secara mereka tau kalau Menik seorang model dan mempunyai banyak uang.
" Maaf nona, anda tidak perlu memikirkan biaya apapun, karena semua sudah di bayar nyonya besar." Ucap salah satu EO.
Kemudian mereka pergi meninggalkan Menik yang sedang berperang dengan pikirannya.
" Dua ratus juta hanya untuk lamaran. Uang segitu bisa beli rumah. Aduh ini namanya pemborosan." Gerutu Menik sambil masuk dan duduk kembali dengan pemilik rumah.
" Kamu dari mana saja." Bisik Kevin.
" Aku baru menemui dua EO itu."
" Apa yang kamu lakukan dengan mereka." Bisik Kevin
" Aku baru bertanya tentang biaya lamaranku. Kamu tau harganya dua ratus juta." Bisik Menik.
Kevin tidak kaget, dia sudah membayangkan kalau harga untuk acara lamaran itu pasti mahal, karena mereka menggunakan jasa EO.
" Dan asal kamu tau, semuanya sudah di bayar nyonya besar." Bisik Menik lagi.
Nyonya Amel dan tuan besar memperhatikan tingkah calon pengantin di depannya.
" Ada apa Nik?" Tanya nyonya Amel.
" Tante saya tadi baru bertanya sama dua orang EO itu." Ucap Menik.
" Nik, jangan." Kevin melarang Menik.
" Sstt kamu diam." Ucap Menik tegas.
" Ada apa coba ceritakan." Ucap tuan besar.
" Saya baru tanya kalau harga untuk lamaran nanti sebesar dua ratus juta."
" Iya." Jawab nyonya Amel singkat.
" Bisa tidak kalau acaranya di adakan di apartemen saja."
" Memangnya kenapa kalau di hotel." Ucap nyonya Amel.
" Terlalu mewah tante, uang segitu bisa untuk beli rumah. Padahal acaranya hanya menyerahkan seserahan saja. Apa salahnya di apartemen nanti tamu undangan makan pakai nasi kotak saja, jadi lebih hemat." Ucap Menik.
Pemilik rumah saling pandang.
" Menik mana mungkin acara lamaran di sajikan nasi kotak." Ucap nyonya Amel.
" Tapi di kampung saya seperti itu. Atau untuk makanan saya akan menyuruh orang kampung yang masak. Pasti biayanya tidak mahal." Ucap Menik.
" Tunggu sebenarnya kamu maunya apa?" tanya nyonya Amel langsung.
Menik menatap Kevin kemudian menundukkan kepalanya.
" Saya baru saja bekerja, memang saya mendapatkan honor yang lumayan besar. Dan baru kali ini saya memegang dan menerima ratusan juta. Dan jika saya membayar uang itu kepada tante, maka tabungan saya tinggal sedikit." Ucap Menik jujur.
Bersambung.
Ig. anita_rachman83.
AUTHOR ADA KARYA BARU YANG BERJUDUL " LOVE OF a NURSE", CERITANYA PENUH KEJUTAN DAN MENDEBARKAN HATI. PENASARAN???