Menikah Karena Ancaman

Menikah Karena Ancaman
episode 431 (S2)


Acara resepsi telah selesai di laksanakan. Semua tamu undangan sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Pihak keluarga kembali ke hotel begitupun dengan pengantin baru Kevin dan Menik. Mereka sudah berada di kamarnya.


Kevin membersihkan tubuhnya di kamar mandi sedangkan Menik membersihkan riasannya. Setelah beberapa menit. Kevin keluar hanya mengenakan celana boxer.


Menik yang melihat itu langsung menelan salivanya. Dia berusaha menutupi kegugupannya.


"Nik mandi dulu, aku tunggu kamu di sini." Ucap Kevin.


Menik menganggukkan kepalanya pelan. Dia masuk ke dalam kamar mandi kemudian keluar lagi mengambil pakaiannya dalam koper.


"Nik, kamu mau ngapain?" tanya Kevin.


"Ambil baju." Jawab Menik tanpa berani melihat suaminya.


"Kenapa harus pakai baju, aku saja enggak pakai baju." Ucap Kevin genit.


"Aku belum terbiasa." Jawab Menik jujur kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam kamar mandi, dia sudah takut akan gagang sapu Kevin. Dia sudah membayangkan selaput daranya akan robek malam ini. Dia sudah ketakutan duluan. Setelah membersihkan badan, dia memakai pakaiannya. Dia membuka pintu secara perlahan.


Menik mengintip, dia berharap kalau Kevin tertidur.


Menik kembali masuk ke kamar mandi.


"Duh belum tidur." Gumam Menik di dalam kamar mandi.


Tok tok tok tiba-tiba pintu kamar mandi di ketuk. Menik kaget.


"Iya." Jawab Menik pelan.


"Kenapa lama sekali mandinya. Enggak usah di gosok terlalu kuat. Aku menerimamu apa adanya." Ucap Kevin.


Ceklek, pintu kamar mandi di buka. Menik keluar dari kamar mandi. Kevin membelalakkan matanya, dia melihat penampilan Menik.


"Kenapa kamu pakai baju olah raga?" tanya Kevin.


"Kata nona Zira, aku pakai baju panjang." Ucap Menik pelan.


"Iya tapi kenapa pakai baju sekolah. Apa kamu tidak ada baju panjang yang lain." Ucap Kevin kesal.


"Ada tapi tidak seragam, aku tidak suka pakai baju yang tidak seragam. Jadi aku pilih aja baju seragam sekolah ini. Tapi warnanya masih cerahkan. Padahal ini seragam lama loh." Ucap Menik bangga sambil menunjukkan seragam olah raganya.


"Heran yang sana ngojek, yang di sini mau olah raga." Ucap Kevin kesal sambil naik ke atas tempat tidur.


"Sini." Panggil Kevin sambil menepuk kasur.


Menik naik ke atas kasur.


"Mataku sakit melihat kamu pakai baju olah raga. Kamu seperti murid yang sedang bolos." Ucap Kevin.


Menik hanya diam sambil memoyongkan bibirnya. Kevin langsung mengambil kesempatan dengan mencium bibir istrinya.


"Tunggu." Ucap Menik.


"Apa lagi?" tanya Kevin.


"Aku malu, bisa tidak kita melakukannya dalam keadaan gelap." Ucap Menik.


Kevin mematikkan lampu yang ada di nakas. Ketika dia ingin mencium istrinya lagi-lagi Menik mengusiknya.


"Apa lagi Nik." Ucap Kevin kesal.


"Lampunya nyalakan lagi." Ucap Menik.


"Tadi kamu bilang malu, kenapa sekarang minta di hidupkan." Ucap Kevin kesal.


"Iya, tapi aku lebih takut kalau ada hantu di sini." Jawab Menik.


Kevin mengikuti kemauan istrinya. Dia kembali menyalakan lampu yang ada di nakas.


Kevin mencium bibir Menik dengan lembut ketika tangannya ingin memegang dada istrinya. Menik spontan mempelintir tangan Kevin.


"Aw, kamu kenapa." Ucap Kevin bingung.


"Maaf aku belum terbiasa." Ucap Menik pelan.


"Ya sudah biasakan." Kevin kembali mencium bibir istrinya dan ketika dia mau memegang dada istrinya lagi-lagi tangannya di pelintir Menik.


"Aw, kamu kenapa sih." Ucap Kevin kesal.


"Maaf aku belum terbiasa. Bisa tidak jangan main pegang-pegangan." Ucap Menik lagi.


"Ya sudah aku ikuti kemauanmu. Tapi buka pakaianmu." Ucap Kevin.


"Aku malu." Ucap Menik sambil menyilangkan tangannya di dadanya.


"Terus bagaimana kita melakukannya, kalau kamu tidak melepaskan pakaianmu."


"Aku belum terbiasa, maaf sekali lagi." Ucap Menik pelan.


"Baiklah, mungkin aku yang terlalu tergesa-gesa. Tapi apa aku boleh mencium dan memelukmu."


Menik menganggukkan kepalanya. Kevin kembali mencium bibir istrinya. Dia membuat istrinya melayang. Dia membaringkan tubuh istrinya tanpa di sadari posisi tubuh Kevin sudah ada di atas tubuh istrinya.


Kringggggg.


"Apa itu." Ucap Menik.


"Biarkan." Ucap Kevin sambil melanjutkan aksinya.


"Berisik tau, minggir." Ucap Menik. Kevin memindahkan tubuhnya dari atas badan istrinya.


Menik mencari asal suara itu. Kevin ikut membantunya.


"Sepertinya dari sini." Ucap Menik sambil menunjukkan kado yang dipegangnya.


"Bukannya itu kado dari nona Zira."


"Iya." Jawab Menik singkat. Sepasang pengantin baru itu membuka kado pemberian Zira. Dengan susah payah akhirnya mereka dapat melihat isi kado itu.


"Jam weker." Ucap Kevin dan Menik bersamaan.


Kevin menggeser tombol yang ada di belakang jam weker.


"Ada tulisannya." Ucap Menik.


"Memang enak dikerjai. Aku tau pasti Kevin udah genit tingkat dewa. Jadi aku merecoki malam pertama kalian dengan jam weker. Zira."


"Hahaha." Menik tertawa.


"Kenapa tertawa." Ucap Kevin bingung.


"Aku tidak bisa membayangkan gagang sapumu sudah masuk ke sini. Terus jam weker ini bunyi. Pasti akan lucu melihat wajahmu yang kesal." Ucap Menik lucu dengan gelak tawanya.


Kevin ngambek, dia naik ke atas tempat tidur sendiri tanpa mengajak istrinya tidur.


"Kamu marah." Ucap Menik.


Kevin tidak menjawab dia membelakangi tubuh istrinya.


"Kamu marah ya." Ucap Menik lagi.


"Sudah tidur enggak usah di bahas." Ucap Kevin.


"Iya kamu marah. Kenapa harus marah, nona Zira kan hanya bercanda." Ucap Menik merayu suaminya.


"Kamu sama saja sama nona Zira." Ucap Kevin kesal. Menik mendekati tubuh suaminya yang sedang memakai boxer. Dia merayu suaminya dengan memijat kaki Kevin.


Awalnya Kevin menolak, tapi ketika tangan istrinya menyentuh pahanya. Kevin langsung membalikkan badannya, dia langsung menjatuhkan tubuh istrinya.


"Maafkan aku." Ucap Kevin sudah berada di atas tubuh istrinya.


"Bukannya kamu marah? Kenapa sekarang seperti ini?" tanya Menik.


"Aku sudah enggak marah, kamu telah membangkitkan gairahku." Ucap Kevin ingin melucuti seragam sekolah istrinya. Tapi tiba-tiba suara nyaring kembali berdering.


Kringgggggg. "Apa lagi tuh." Ucap Menik sambil menggeser tubuh Kevin.


Dia dan Kevin mencari asal suara itu.


"Dari sini asalnya." Ucap Menik sambil membaca nama Natasha. Mereka berdua membuka kado itu dan di dalamnya ada jam weker.


"Wah ini pasti dari nona Zira. Kita di kerjain, tapi siapa Natasha." Ucap Kevin bingung.


Baru saja selesai dengan kado dari Natasha, kemudian kembali terdengar suara yang sekarang cukup nyaring.


"Dari sini." Ucap Menik menunjuk salah satu kado.


"Di sini juga ada." Ucap Kevin sambil membaca tulisan yang ada di atas kado tersebut.


"Kapten Rogers, wah sial. Semua ini pemberian nona Zira dan aku yakin pasti isinya jam weker semua." Gerutu Kevin.


Kedua pasangan suami istri itu membuka semua kado dan isinya semua sama sebuah jam weker.


"Oh aku baru paham yang di maksud nona Zira pasukan avengers akan patroli ini." Gerutu Kevin. Mereka membuka kado itu, sepanjang malam. Hampir semua isinya jam weker.


"Banyak banget jamnya, kita bisa buat toko jam." Ucap Menik.


Kevin dan Menik sudah kelelahan. Mereka membuka semua kado.


"Besok, kalau nona Zira bertanya tentang malam pertama kita, kamu mau jawab apa?" tanya Kevin sambil berbaring di kasur.


"Aku bilang saja, malam pertama hanya membuka kado." Ucap Menik jujur.


"Jangan, bilang saja kita sudah melakukannya. Aku mau mengerjai pasangan suami istri itu." Ucap Kevin sambil menutup matanya. Akhirnya pengantin baru itu tertidur. Tanpa melakukan hubungan suami istri.


Bersambung.


Next episode Ziko akan botak loh, penasaran?


Jangan lupa vote untuk kedua karya author "Love of a Nurse" dan "Menikah Karena Ancaman"