
Zira masih bingung mengapa Ziko membawanya ke kamar bukan ke rumah sakit.
Setelah timnya dokter Diki masuk, Ziko keluar dari kamar tersebut dan kembali ke ruang tamu.
Tim dokter Diki semuanya berjenis kelamin perempuan karena sudah di jelaskan sebelumnya sama asisten Kevin .
Di dalam kamar.
Salah satu perawat memerintahkan Zira untuk baring atau duduk.
"Nona silahkan anda berbaring." Ucap perawat.
"Enggak usah saya udah capek baring saya mau duduk aja." Ucap Zira cepat.
Perawat sudah mempersiapkan alat suntik.
"Eh mbak kamu mau menyuntik ku." Ucap Zira cepat.
Perawat masih memegang alat suntik.
"Mbak itu bukan suntik imunisasi kan?" Ucap Zira lagi.
Beberapa perawat memegang tangan dan badan Zira .
"Eh tunggu kenapa kalian semua memegang ku." Ucap Zira cepat.
Dokter Liza menjelaskan kepada Zira .
"Maaf nona kami mau mengambil sampel darah nona." Ucap dokter Liza.
Zira menganggukkan kepalanya dia sudah paham .
"Owh kalian hanya mau mengambil sampel darah saja, gak perlu di pegang aku berani dengan jarum." Ucap Zira santai.
Perawat yang memegang jarum suntik tadi mendekatinya dan hendak mengambil sampel darah Zira .
"Aw." Ucap Zira sambil menahan sedikit sakit di lengannya karena jarum suntik sudah menempel sedang menyedot darahnya.
Para perawat fokus dengan pekerjaannya.
"Saya tau kenapa kalian mau mengambil sampel darah saya mau memastikan saya ini darahnya biru apa hijau kan?" Ucap Zira lagi sambil cekikikan .
Tim dokter Diki hanya tersenyum mendengar ucapan Zira .
"Oh udah selesai ya cepat juga." Ucap Zira heran. Zira membayangkan kalau di suntik akan membutuhkan waktu lama.
Perawat yang mengambil sampel darah Zira keluar dari kamar .
"Maaf nona untuk selanjutnya silahkan buka gaun anda." Ucap salah satu dokter.
"Untuk apa, aku kan enggak sakit." Ucap Zira cepat.
"Tidak nona kami hanya menjalankan sesuai prosedur." Ucap salah satu dokter lagi.
"Prosedur apa." Tanya Zira.
Mereka semua diam dan saling bertatapan satu sama lain.
"Maaf nona kami mohon kerjasamanya waktu kami terbatas jika kami melewati batas yang di tentukan tidak bisa menyelesaikan ini, maka karir kami akan musnah." Ucap salah satu dokter dengan wajah sendu.
Mendengar ucapan dokter itu Zira jadi prihatin.
"Baiklah tapi aku tidak mau terlalu banyak orang di sini, aku hanya mau satu orang saja di sini." Ucap Zira tegas.
Mereka mengangguk.
"Siapa yang akan memeriksaku?"
Salah satu dokter mendekati Zira.
Ucap dokter itu.
Semua tim dokter Diki keluar kamar hanya tinggal Zira dan satu dokter di kamar itu.
Di luar kamar.
Ziko masih mondar mandir seperti gosokan.
Dia masih memikirkan bagaimana seandainya calon istrinya betul-betul waria dan sakit Aids.
"Tuan bagaimana jika nona Zira betul seorang waria." Ucap Kevin cepat.
Ucapan Kevin membuyarkan semua pikiran Ziko.
"Kalau memang dia seorang waria aku akan mengumumkan ke publik siapa dia sebenarnya." Ucap Ziko sambil menekan intonasinya.
"Tuan apa anda tidak memikirkan reaksi publik tentang keluarga anda dan apa anda tidak memikirkan karirnya nona Zira." Ucap Kevin menjelaskan sebab dan akibatnya.
Ziko berhenti dari mondar-mandirnya. Dia langsung berdiri di depan Kevin.
"Maksudmu." Ucap Ziko penasaran.
"Kalau tuan memberi tahukan ke publik siapa nona Zira sebenarnya, nyonya akan merasa malu, yang pertama memproklamirkan pertunangan tuan dan nona zira kan nyonya, pasti nyonya Amel akan mendapatkan hujatan dari rekan-rekannya, sebaliknya juga dengan Raharsya group bisa di pastikan saham kita akan turun, dan untuk nona Zira pasti usahanya akan mengalami kebangkrutan." Ucapan Kevin ada benarnya.
Setelah mendengarkan ucapan Kevin, Ziko mengurungkan niatnya .
"Jadi aku harus bagaimana." Ucap Ziko sambil duduk meletakkan kepalanya di sandaran sofa.
"Sebaiknya tuan tetap melangsungkan pernikahan dengan nona Zira." Ucap Kevin cepat .
"Apa maksudmu? bagaimana mungkin aku menikah dengan seorang waria." Ucap Ziko kesal.
Dokter Diki tertawa terbahak bahak mendengar ucapan sahabatnya yang sedang panik
Ceklek pintu kamar terbuka.
Mereka semua melihat ke arah pintu. Seorang perawat keluar membawa peralatan yang di dalamnya ada sampel darah.
"Dokter sudah selesai." Ucap perawat ke dokter Diki.
"Cepat kamu kembali ke lab." Perintah dokter Diki.
Perawat tersebut pergi dengan tergesa-gesa.
"Mengapa dia pergi." Ziko penasaran.
"Dia harus memeriksa sampel darah Zira di lab untuk memastikan apakah positif atau negatif."Jelas dokter Diki.
"Berapa lama hasilnya." Ucap Ziko lagi.
"Lima sampai sepuluh menit."
Ceklek pintu kamar di buka kembali. Beberapa dari tim dokter Diki keluar.
"Kenapa kalian keluar semua." Dokter Diki heran.
"Maaf dokter. nona Zira hanya mau di periksa oleh satu dokter." Ucap salah satu dokter.
Halo readers untuk pemeran Ziko, author memilih dia karena dia cukup tampan untuk di jadikan sebagai tuan muda yang dingin karena matanya mengandung laser 😁😁😁.
Kalau ada yang bertanya kenapa India, jawabnya sudah ada di episode sebelumnya .
Selamat membaca
"like komen dan vote yang banyak ya."