
🌹Vote
Cara vote.
Kumpulkan poin di pusat misi, buka poin pada profilku. Selesaikan semua tugas, jika tugas sudah selesai kalian bisa vote author sebanyak mungkin. Dan vote bisa di lakukan setiap hari selama poin kalian ada, terimakasih.
Selamat Membaca.
***
"Amit-amit, jangan sampai." Ucap Menik takut.
"Makanya kita harus membuat resepsi agar orang lain tidak memikirkan hal seperti itu." Ucap Kevin.
"Tapi mahal." Rengek Menik.
"Kan aku yang bayar. Kamu tenang saja jangan memikirkan jumlah uangnya."
"Bagaimana aku tidak memikirkan, uang segitu banyak, tau. Uang segitu bisa beli rumah. Kita buat resepsi tapi yang sederhana saja. Aku rasa kita tidak perlu memakai gedung. Acaranya di tempat tinggalku yang dulu, nanti tenda di pasang sepanjang gang sempit rumahku. Aku rasa biayanya kurang dari lima puluh juta." Ucap Menik.
Kevin melirik calon istrinya kemudian melihat kembali ke depan.
"Mana mungkin acara di adakan di sana, pasti aku akan di cibir orang-orang." Ucap Kevin.
"Kenapa di cibir?"
"Mereka berpikir aku tidak punya uang mungkin aku di bilang pelit." Ucap Kevin.
"Jadi bagaimana?" Rengek Menik lagi.
"Besok kita ke wedding organizer, kita akan tanya semua kepada mereka. Kalau seperti ini tidak akan jelas."
"Baiklah, tapi budgetnya jangan banyak-banyak."
"Iya sayang." Ucap Kevin.
Pipi Menik langsung merona merah. Dia terlalu malu jika Kevin menyebut kata sayang. Mobil sudah sampai di apartemen. Kevin membukakan pintu mobil untuk calon istrinya.
"Aku tidak mampir, besok siang aku jemput." Ucap Kevin.
"Iya hati-hati." Ucap Menik kemudian melangkahkan kakinya. Tapi Kevin menarik tangannya.
"Ada apa." Tanya Menik.
Kevin mengecup dahi calon istrinya.
"Mimpikan aku." Ucap Kevin.
Menik tersenyum malu.
"Bye." Ucap Menik melambaikan tangannya sambil masuk ke dalam loby apartemen.
"Ingat mimpikan aku, jangan mimpikan budget pernikahan kita." Ucap Kevin sedikit berteriak karena Menik sudah masuk ke dalam loby.
Menik tersenyum kemudian melambaikan tangannya. Kevin masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya untuk pulang ke rumahnya.
Di apartemen sudah ada Bima yang sibuk dengan gamesnya. Menik duduk di samping adiknya.
"Kenapa?" Ucap Bima dengan tatapan tetap ke layar kaca televisi.
"Kamu tau berapa budget untuk acara lamaran kakak."
Bima mengangkat kedua bahunya yang berarti tidak tau.
"Dua ratus juta."
"Apa!" Bima kaget sambil menoleh ke arah kakaknya.
"Gila itu uang semua?" tanya Bima.
" Enggak daun. Ya jelaslah uang."
"Ah jadi kalah kan." Gerutu Bima gara-gara mendengar uang dua ratus juta, dia kalah dalam permainannya.
"Gila orang kaya memang kalau menggelontorkan uang enggak tanggung-tanggung." Ucap Bima.
"Iya, makanya kakak bingung dengan resepsi pernikahan nanti. Mau berapa uang lagi yang keluar." Ucap Menik.
"Terus kakak maunya gimana?"
"Kakak pinginnya hanya nikah tanpa ada resepsi. Tapi katanya nanti di pikir orang kami menikah karena hamil duluan." Ucap Menik.
"Betul itu, resepsi harus tetap ada biar kerabat ataupun keluarga tidak memikirkan yang aneh-aneh tentang kalian berdua."
"Tapi mahal dek, kakak sudah minta kalau resepsi di adakan di gang rumah kita. Eh dia enggak mau." Ucap Menik mengadu.
"Ya jelas kak Kevin enggak mau, sebagai calon pengantin pria dia pasti gengsi kalau acara hanya diadakan di gang sempit. Secara dia orang berada, mau di taruh di mana mukanya kalau resepsi di situ."
"Taruh di kolong." Jawab Menik.
"Ah sudahlah kakak mau istirahat besok kakak banyak kegiatan." Ucap Menik sambil beranjak dari sofa.
"Kak tunggu."
"Apa?"
" Zelin itu kekasih Koko ya?" Menik menoleh cepat dan kembali duduk di sofa.
"Kenapa? Apa kamu lagi pendekatan dengannya." Tanya Menik.
"Ya enggaklah, tadi aku ngobrol sama Zelin, tiba-tiba Koko datang. Terus Zelin memperkenalkan Koko samaku. Aku mengulurkan tangan dong secara aku ramah." Ucap Bima.
"Ramah embahmu." Ucap Menik menoyor kepala adiknya.
"Ah kakak, mau lanjut enggak nih." Ucap Bima.
"Iya-iya."
"Aku mengulurkan tanganku ke arahnya eh si Koko tidak menyambut, Zelin sepertinya kesal dengan tingkah Koko, dia langsung pergi meninggalkan kami berdua, terus si Koko nyusul si Zelin."
"Wah bisa cemburu juga dia." Gumam Menik pelan.
"Memangnya si Koko dulu tidak pernah cemburu?" tanya Bima.
"Entah, tapi mereka itu baru jadian. Jadi kamu jangan ganggu hubungan mereka berdua." Ucap Menik.
"Enggaklah mana mungkin aku mengganggu. Walaupun aku akui kalau Zelin cantik belum lagi calon adik ipar kakak juga cantik."
"Siapa? Jesy?"
"Awas kalau kamu dekati Jesy sama Zelin. Playstation ini kakak buang." Ancam Menik.
"Heleh mana mungkin kakak mau buang ini PS, secara kakak itu hemat banget."
"Kamu tidak percaya?"
"Enggak, aku itu udah tau baik dan buruknya kakak, saking hematnya kadang makan nasi basi." Ejek Bima.
"Bimaaaaaa!" Teriak Menik
Bima sudah kabur sambil berlari masuk ke kamarnya. Menik mengejar adiknya dan mengetuk pintu kamar adiknya dengan keras.
"Buka cepat." Teriak Menik dari depan pintu kamar Bima.
"Enggak, nanti kepalaku habis kakak jambak, belum lagi tanganku. Bisa habis kena cubit."
Menik ingat pada saat dulu waktu susah karena kesiangan bangun dia makan nasi basi. Adiknya sudah mengingatkannya kalau nasi yang ada di dalam penanak nasi udah sedikit bau. Dan menyuruh kakaknya untuk membeli sarapan. Tapi saking hematnya dia ngeyel kalau nasi itu masih layak di makan dan belum basi. Hal hasil dia diare, semenjak itu adiknya selalu mengejeknya.
"Bima sayang sini keluar, kakak butuh bantuanmu." Ucap Menik merayu adiknya sambil merapatkan giginya.
"Enggak nanti habis kakak siksa aku. Kalau kak Kevin tau kalau kakak melakukan kekerasan pada anak di bawah umur. Pasti kak Kevin bakal batal nikah sama kakak." Ucap Bima dari dalam kamarnya.
"Kurang ajar, siapa yang anak di bawah umur kamu?"
"Iyalah, aku masih balita tau. Tidak boleh di sakiti." Ucap Bima sok manja.
Menik kesal adiknya tidak mau keluar dari kamar dan waktu juga sudah semakin larut.
"Ok, besok pagi akan berlanjut." Gumam Menik sambil masuk ke dalam kamarnya.
Hari semakin larut, udara semakin dingin. Semua sudah terlelap dan masuk ke dalam alam mimpinya masing-masing.
***
Sang mentari telah datang, semua menyambut dengan suka cita. Karena pagi adalah awal untuk memulai sesuatu.
Menik sudah menyiapkan sarapan untuk dia dan adiknya. Bima keluar dari kamarnya dengan muka bantalnya. Pergi ke kamar mandi kemudian duduk di meja makan. Tapi Menik langsung menjewer kuping adiknya.
"Aw, kakak kenapa sih." Ucap Bima sambil memegang kupingnya yang baru kena jewer.
"Itu balasan yang tadi malam." Ucap Menik.
"Memangnya bisa bersambung." Gerutu adiknya.
"Bisalah, cepat makan." Ucap kakaknya.
Ting nong suara bel apartemen berbunyi.
"Siapa pagi-pagi datang." Ucap Menik.
Bima mengangkat bahunya. Menik berjalan menghampiri pintu apartemen dan mengintip dari lubang kecil yang ada di atas pintu rumahnya.
"Koko, mau ngapain dia pagi-pagi kesini." Gumam Menik.
"Bim, kamu bertengkar dengan Koko?" tanya Menik.
"Enggak, memangnya kenapa?"
"Koko datang." Ucap Menik.
"Apa!" Bima beranjak dari kursi makan.
"Ngapain dia ke sini. Kayaknya harus di beri pelajaran." Ucap Bima kesal.
"Tunggu jangan emosi, kita tanya baik-baik ya." Menik menenangkan adiknya.
Kemudian dia membuka pintu apartemennya.
"Ada apa Ko? Siapa yang memberitahukan alamat apartemenku." Ucap Menik.
Koko tidak menjawab.
"Dimana ponselmu?" tanya Koko panik.
"Ada masih di charge. Memangnya kenapa?"
"Aku di suruh pak Kevin menjemputmu. Dia sudah menghubungimu dari semalam. Tapi tidak bisa, dia menghubungiku untuk menjemputmu."
"Memangnya mau kemana pagi-pagi begini. Aku janji pergi dengannya siang hari."
"Aku tidak bisa mengatakannya. Lebih baik kamu bersiap." Ucap Koko.
"Baiklah aku akan bersiap. Dan untuk kalian berdua jangan berkelahi." Ucap Menik mengingatkan keduanya.
"Aku ikut." Ucap Bima, dia tidak percaya dengan Koko. Jadi untuk memastikan dia mau ikut bersama kakaknya.
Keduanya bersiap-siap, dan Koko menunggu di ruang tamu. Kemudian Menik keluar dengan memakai pakaian kasual.
"Nik, bisa kamu memakai pakaian yang berlengan panjang." Ucap Koko.
"Memangnya kenapa? Aku biasa mengenakan ini." Ucap Menik.
"Lebih baik kamu mengikuti saranku." Ucap Koko
Kemudian Menik kembali ke kamarnya dan mengganti dengan pakaian yang berlengan panjang.
"Ok, ayo kita berangkat." Ucap Koko.
Ketiganya turun ke loby apartemen. Dan di depan ada mobil Kevin.
"Apa kamu yang menyetir mobil ini?" tanya Menik.
"Iya." Ucap Koko singkat.
"Apa yang terjadi? kenapa perasaanku tidak enak."
Koko diam, dia tidak bisa mengatakan semuanya.
Bersambung.
Ig. anita_rachman83.
AUTHOR ADA KARYA BARU YANG BERJUDUL
" LOVE OF a NURSE", CERITANYA PENUH KEJUTAN DAN MENDEBARKAN HATI. PENASARAN???