
" Kapan acaranya?"
" Nanti malam acaranya." Ucap Vita cepat.
Mereka mengobrol seperti biasa tanpa ada rasa sungkan. Ziko memberanikan diri untuk bertanya kepada Vita. Pertanyaan yang sudah lama ingin ditanyakannya.
" Maaf aku mau bertanya mungkin ini masalah yang sensitif." Ucap Ziko ragu.
" Iya silahkan." Ucap Vita santai sambil meneguk minumannya.
" Kenapa kamu bercerai dengan suamimu?" Ucap Ziko pelan. Vita tertunduk karena pertanyaan itu pernah di tanyakan orang kepadanya. Dia tidak menjawab pertanyaan dari Ziko.
" Tidak usah kamu jawab kalau memang itu menyakiti perasaanmu."
Vita mengangkat kepalanya. Dia memberanikan diri untuk mengatakan penyebab pernikahan hancur. Dia mengambil nafas terlebih dahulu sebelum berbicara.
" Satu tahun pernikahan kami sangat bahagia, kami bisa memahami masing-masing, tahun kedua mulai ada konflik kecil seperti kebiasaan dari masing-masing pasangan baik yang di sukai maupun yang tidak di sukai."
Pandangan Vita menatap jauh entah kemana. Ziko masih menunggu temannya melanjutkan ucapannya.
" Tahun ketiga dan keempat sudah sering terjadi pertengkaran, dari masalah kecil sampai masalah besar. Dan tahun kelima pertengkaran itu memuncak karena, karena." Ucap Vita pelan.
" Karena apa?" Ziko penasaran.
" Karena aku tidak bisa mengandung." Ucap Vita menangis.
Ziko tidak bisa berkata-kata lagi, dia hanya terdiam mengambil hikmah dari semua pelajaran yang di dapatnya.
" Maafkan aku, karena telah membuka kenangan buruk mu." Ucap Ziko pelan.
" Terimakasih atas perhatiannya, Bisakah aku meminta sesuatu kepadamu." Ucap Vita pelan. Ziko menganggukkan kepalanya.
" Hargailah istrimu." Ucap Vita sambil beranjak dari kursinya. Ziko bingung dengan ucapan Vita, dia ingin bertanya mengenai kalimat yang terakhir di ucapkan Vita. Tapi Vita sudah beranjak dari kursinya.
" Maaf telah mengganggumu." Ucap Vita langsung pergi meninggalkan temannya yang masih bingung.
Ziko masih diam di tempat sambil menelaah setiap ucapan Vita. Zira sudah datang ke kantor Rahasrya group. Dia mampir ke meja Koko.
" Siang Koko." Sapa Zira.
" Eh siang guruku." Ucap Koko tersenyum.
" Guru?"
" Iya guru, nona kan telah banyak mengajariku." Ucapnya antusias.
Zira melambaikan tangannya mau masuk ke dalam ruangan suaminya.
" Maaf nona, tuan muda sedang pergi keluar." Zira memutar badannya kembali berdiri di depan meja Koko.
" Pergi kemana?"
Koko mengangkat kedua bahunya.
" Ya sudah aku tunggu di dalam saja." Ucap Zira sambil pergi ke dalam ruangan suaminya.
" Nona tunggu." Zira kembali membalikkan badannya.
" Ada apa?"
" Hehehe, apa saja persiapan yang harus di lakukan kalau kita mau bertemu dengan cewek." Gugup.
Zira membelalakkan matanya tidak percaya.
" Apa aku enggak salah dengar?" Penasaran. Koko tersenyum lebar.
" Ceritakan kepadaku bagaimana kamu berjumpa dengan gadis itu." Ucap Zira penasaran sambil duduk di kursi.
" Sebenarnya pertemuan kami tidak di sengaja. Baru kemarin kami bertemu, bertemunya karena aku menabrak mobilnya." Ucap Koko pelan.
Zira yang tadinya santai mendengarkan, sekarang jantungnya berdegup kencang seperti lampu disko.
Jangan sampai yang aku pikirkan benar, aku tidak bisa bayangkan apa yang terjadi.
Koko menceritakan semuanya sama persis seperti yang di ucapkan adik iparnya. Zira langsung menutup wajahnya dengan salah satu tangannya. Dia tidak berani berkomentar lagi.
" Nona hari ini kami mau berjumpa, aku mohon sarannya." Ucap Koko semangat.
Zira membenamkan wajahnya ke atas meja kerja Koko. Dia berharap kalo pria itu tidak minta bantuannya.
" Nona kamu kenapa?" Ucap Koko bingung.
" Eh enggak apa-apa." Ucap Zira gugup. Zira sudah beranjak dari kursi mau ke ruangan kerja suaminya.
" Nona jangan seperti itu, bantu aku." Rengek Koko. Koko berdiri di depan Zira sambil merapatkan telapak tangannya. Zira tidak tega melihat pria gemulai itu.
" Senanglah."
Zira mengangguk-anggukkan kepalanya.
" Begini saja, bagaimana kalau kamu pergi ke psikiater ceritakan masalahmu." Zira berharap tidak di mintai bantuannya lagi. Dia tidak mau terlibat lagi dalam urusan Koko.
" Yah nona, bagaimana aku mau ke psikiater, sore ini aku akan bertemu dengannya."
" Udah cari saja di aplikasi uuutube pasti ada di sana caranya." Ucap Zira pergi masuk ke dalam ruangan.
Zira merasa khawatir kalau Koko tidak bisa menjadi laki-laki seutuhnya. Walaupun dia sudah banyak perubahan tapi untuk urusan cinta Zira masih ragu. Dia berharap hubungan Koko dan adik iparnya hanya sebatas teman saja dan tidak lebih.
Ziko masuk ke dalam ruangan.
" Kamu sudah datang?" tanya Ziko mengecup bibir Istrinya.
Ziko membawa istrinya duduk di sofa. Dia memberikan kartu undangan Vita ke Zira.
" Apa ini?" Sambil melihat undangan.
" Nanti malam ada launching buku Vita."
Zira membelalakkan matanya tidak percaya dengan ucapan suaminya.
" Vita yang di Belanda sekarang ada di sini?" Bertanya dengan intonasi tinggi.
Ziko menganggukkan kepalanya.
" Dari mana kamu mendapatkan undangan ini?" Penasaran. Di benaknya pasti ada yang di sembunyikan suaminya.
" Aku baru saja berjumpa dengannya. Dia menyerahkan ini kepadaku."
Zira sudah memalingkan wajahnya marah. Dia tidak ingin berjumpa dengan Vita kembali.
" Bagaimana apa kamu mau ikut?" Ucap Ziko sambil mengelus rambut Istrinya.
" Ya aku ikut." Ucap Zira cepat. Sebenarnya dia tidak mau berjumpa dengan Vita, tapi dia juga tidak akan membiarkan suaminya berduaan dengan teman kecilnya.
Ziko tidak menjawab, dia sedang melamun kan sesuatu. Melamun kan semua ucapan Vita.
Setelah makan siang bersama, Zira kembali ke butiknya, dia mau mempersiapkan gaunnya. Gaun yang akan di pakainya ke acara nanti malam dan gaun untuk wedding anniversary mereka.
Kevin mengetuk pintu ruangan presiden direktur. Dia masuk sendiri karena tidak ada sahutan dari dalam. Kevin memperhatikan bosnya yang melamun. Kevin pura-pura batuk agar lamunan bosnya buyar.
Mendengar suara batuk, lamunan Ziko langsung buyar.
" Ada apa?" tanya Ziko cepat.
" Ini daftar restoran untuk acara dinner." Kevin meletakkan kertas referensi yang berisi daftar restoran di atas meja bosnya.
Ziko tidak menyentuhnya apalagi melirik kertas yang ada di mejanya. Kevin merasa sudah ada gelagat yang tidak baik. Dia memberanikan diri untuk bertanya.
" Maaf tuan? Kenapa anda tidak semangat lagi? Padahal semalam anda sangat semangat untuk membuat dinner ini."
Ziko menoleh kepada asistennya.
" Entahlah aku bingung dan bimbang." Ucap Ziko sambil menggaruk rambutnya secara berulang.
" Apa karena nona Vita." Ucapan Kevin langsung tertuju pada pusatnya.
" Dari mana kamu tau kalau aku bertemu dengannya." Ziko menatap tajam.
" Maaf tuan, saya sudah lama berkerja dengan anda dan saya sudah mengerti semuanya." Ucap Kevin tegas.
Ziko tidak membantah sama sekali, apa yang di ucapkan asistennya benar. Semua tentangnya di ketahui asistennya tidak ada rahasia sama sekali di antara mereka.
" Nanti malam ada acara launching buku pertama Vita."
" Apa tuan akan hadir?"
" Entahlah."
" Apa nona Zira di ajak?" Ucap Kevin penasaran.
" Iya dia ikut, aku sudah memberitahukannya tentang undangan ini." Ziko menunjukkan undangan di mejanya kepada asistennya.
Kevin melihat isi undangan itu.
" Tuan izinkan saya untuk ikut bersama anda." Kevin telah memikirkan semuanya, dia akan jadi tameng untuk hubungan majikanya.
" Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih."