
Mereka melakukan segala aktivitasnya di kasur. Semua jurus diajarkan Ziko dari jurus mencuci pakaian sampai smackdown pun mereka lakukan.
Sang mentari sudah menunjukkan kemilaunya. Cahayanya yang indah selalu di nantikan setiap orang. Zira melangkahkan kakinya untuk bersiap-siap, mereka akan pergi ke Belanda karena Ziko masih harus menyelesaikan urusan bisnisnya di negara kincir angin atau negara yang terkenal dengan bunga Tulipnya.
Seperti biasanya Ziko memang sangat susah di bangunkan, apalagi tadi malam mereka melakukan pergumulan yang sangat panjang. Dia membangun Ziko dengan segala jurus, tapi suaminya tetap tidak mau bangun. Dia sedang melakukan jurus membangunkan suaminya.
" Aaaaa, apa yang kamu lakukan." Ziko teriak dia sangat kesakitan karena bulu kakinya di tarik istrinya.
Zira hanya tertawa melihat Ziko teriak dengan mata satu terbuka dan satu tertutup.
" Kenapa tuh mata? mau main mata ya." Ucap Zira iseng.
" Cih siapa yang main mata, ini namanya senam mata kata Kevin ini cara agar mata keranjang pindah menjadi mata baskom." Ucap Ziko ketus.
Ziko masih kesal dengan cara membangunkan istrinya yang aneh-aneh. Sedangkan Zira tertawa bahagia dia selalu menikmati momen-momen membangunkan suaminya.
" Kenapa kamu menarik bulu kakiku." Ucap Ziko sewot sambil tetap menguap.
" Masih mending itu bulu aku tarik, apa mau itu bulu aku kepang." Ucap Zira cepat.
Dengan susah payah Zira menarik tangan Ziko agar mau masuk ke kamar mandi.
" Mandikan aku." Ucap Ziko manja.
Dengan susah payah lagi Zira memandikan bayi kolor ijo. Bayi yang ngeselin tapi ngangenin. Ziko bertingkah seperti anak kecil, dia sengaja melakukannya agar mendapatkan perhatian dari istrinya.
Mereka berdua pergi menuju restoran. Kevin sudah menunggu di sana sambil menikmati makanannya. Zira dan Ziko berjalan ke arah Kevin duduk. Mereka menikmati hidangannya dengan lahap. Tidak berapa lama ada seseorang pria bule dengan setelan kemejanya menghampiri Ziko.
" Vous êtes M. ZIKO (anda tuan Ziko)." Ucap pria bule tersebut ramah.
Ziko menganggukkan kepalanya.
" oui, quel est le besoin (ya, ada keperluan apa)." Ucap Ziko sambil mengelap mulutnya dengan tisu.
" Je veux donner ceci (saya mau memberikan ini)." Ucap pria bule tersebut sambil meletakkan beberapa kertas di meja.
Ziko melihat kertas tersebut kemudian memberikannya kepada Kevin.
" Avant que M. Ziko ne quitte l'hôtel, veuillez compenser toutes les pertes que vous avez faites hier (sebelum tuan Ziko check out dari hotel harap mengganti semua kerugian yang anda perbuat kemaren di sini)." Ucap pria tersebut sopan.
" Vas-y doucement, je compenserai toutes les pertes que j'ai faites (Tenang saja saya akan mengganti semua kerugian yang saya perbuat)." Ucap Ziko tegas.
Ziko memerintahkan Kevin untuk mengikuti pria bule tersebut. Pria bule tersebut adalah manager di hotel itu. Setelah menyelesaikan segala administrasi dan mengganti segala kerusakan. Mereka pergi meninggalkan hotel menuju bandara. Pesawat jet Ziko berada di bandara. Seperti kemaren Zira selalu menyempatkan berselfi ria dengan ponselnya. Ziko sampai menggelengkan kepalanya melihat istrinya yang agak kampungan.
Ziko sudah duduk di kursinya, kursi itu tempat favoritnya. Di sebelah kursi itu ada jendela sehingga bisa melihat pemandangan yang indah dari dalam pesawat jet.
Ziko melambaikan tangannya memanggil Zira agar duduk di depannya.
" Sini ponselmu." Ucap Ziko.
Zira memberikan ponselnya kepada Ziko. Dia belum mengganti wallpaper ponselnya. Wallpaper itu foto yang di ambil Ziko pada saat Ziko mengecup pipinya.
" Kenapa kamu belum mengganti foto ini." Ucap Ziko sambil menunjukkan foto wallpaper di layar ponsel Zira.
" Kan kamu yang bilang jangan di ganti." Ucap Zira mengikuti ucapan Ziko pada waktu itu.
" Ganti kata Kevin bulu hidungku kelihatan." Ucap Ziko cepat sambil melirik kearah Kevin.
Zira tertawa mendengar ucapan suaminya yang jujur apa adanya. Kevin yang mendapat lirikan dari Ziko, berusaha untuk tidak tersenyum dia khawatir bosnya akan marah.
" Biar saja, bulu hidung itu pemanis untuk foto kita." Ucap Zira cekikkan.
" Oh kamu senang ya kalau aku teraniaya." Ucap Ziko kesal.
" Kembalikan ponselku." Ucap Zira sambil mengambil ponselnya dari tangan suaminya.
" Kamu mau ngapain." Ucap Ziko cepat.
" Ya mau gantilah, kan kamu yang bilang ganti." Ucap Zira cepat sambil melihat foto wallpaper di ponselnya.
Ziko memperhatikan Zira yang sedang menatap ponselnya.
" Kenapa?" Ucap Ziko penasaran.
" Ini bukan bulu hidung tapi upil." Ucap Zira cepat sambil menunjukkan kepada Ziko foto wallpaper di ponselnya.
" Ih kamu jorok gara-gara upil mu fotoku jadi rusak." Ucap Zira cepat.
Ziko malu karena yang dikatakan Zira benar adanya. Ziko melemparkan kotak tisu yang ada di meja kearah Kevin.
" Kenapa kamu bilang kemaren bulu hidung kalau kenyataannya upil." Ucap Ziko kesal.
" Maaf tuan saya tidak bisa membedakan upil dengan bulu hidung karena mereka sama-sama berwarna hitam, tapi kalau upil sama ingus saya bisa membedakannya." Ucap Kevin tertawa.
Zira dan Kevin tertawa membayangkan foto Ziko.
" Diam cepat ganti foto itu." Teriak Ziko.
" Ya sudah aku hapus saja foto ini." Ucap Zira cepat.
" Jangan kamu hapus." Ziko melarang Zira untuk tidak menghapus foto mereka berdua.
" Memangnya kenapa?" Zira penasaran.
" Simpan aja." Ucap Ziko pelan.
" Cih siapa yang mau simpan upil, apa kamu kira upil kamu itu akan hilang kalau aku simpan atau apa kamu pikir upil itu bisa berubah jadi berlian." Ucap Zira jijik.
Kevin masih tertawa mendengar masalah upilnya Ziko.
" Ya sudah hapus." Ucap Ziko pelan.
Zira menghapus foto mereka berdua. Dan Zira sudah mengganti wallpaper di ponselnya.
" Kamu ganti dengan apa?" Ucap Ziko penasaran.
Zira menunjukkan kembali ponselnya kepada suaminya. Ziko membulatkan matanya melihat foto mereka ada di layar ponsel istrinya.
" Kenapa lagi." Ucap Zira heran melihat Ziko membulatkan matanya.
"Apa enggak ada foto yang lainnya." Ucap Ziko cepat.
" Ya enggak adalah memangnya kenapa lagi dengan foto itu." Ucap Zira cepat.
" Kata Kevin aku seperti tukang kembang." Ucap Ziko pelan sambil melirik ke arah Kevin.
Zira tertawa lagi mendengar ucapan Ziko sedangkan Kevin tidak berani tertawa, dia khawatir bosnya akan marah karena merasa di perolok oleh mereka berdua.
" Bukan tukang kembang tapi kita seperti taman bunga, untung saja bukan bukan bunga tahi ayam di situ." Ucap Zira cekikkan.
" Memangnya kenapa kalau dengan bunga tahi ayam kan bagus." Ucap Ziko cepat.
" Bukan bagus tapi bau." Ucap Zira tertawa terbahak bahak.
Kevin pun ikut tertawa terbahak bahak, dia sudah tidak tahan mendengar ucapan majikannya ada saja yang mengocok perutnya.
" Sini kamu." Ucap Ziko memanggil istrinya agar duduk di pahanya.
Zira masih tertawa terbahak bahak.
" Cepat." Ucap Ziko menarik tangan istrinya.
Zira beranjak dari kursinya masih dengan tawanya. Dia duduk di paha Ziko seperti permintaan suaminya. Ziko mencium bibir istrinya tidak lupa dia memotret momen itu. Sedangkan Kevin yang melihat hanya bisa gigit kaki meja.
" Ganti pakai yang ini." Ucap Ziko sambil memberikan ponsel Zira.
" Kenapa harus pakai cium segala sih." Ucap Zira kesal.
" Daripada yang tadi ada taik hidung, bagusan ini enggak ada taik nya." Ucap Ziko cepat.
" Ada nih taik kuping." Ucap Zira tertawa.
Ziko langsung mengambil ponsel Zira untuk melihat hasil jepretannya. Hasil jepretannya bagus tidak ada hubungannya dengan taik kuping, itu hanya akal-akalan istrinya saja agar dapat mengerjainya.
Ziko memang sengaja mencium Zira agar foto itu menjadi sebuah saksi untuk kisah mereka.
" Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih."