
Tok tok tok, pintu kamar di ketuk. Zira yang hanya tidur ayam langsung bangun dan melihat ke sebelahnya yaitu Ziko. Suaminya sudah tertidur.
Zira berlari membuka pintu kamar. Di depan pintu kamar ada pak Budi kepala pelayan.
" Nona waktunya sarapan." Ucap pak Budi sopan.
" Baik pak." Ucap Zira sambil menguap.
Pak Budi pergi meninggalkan kamar. Zira menutup pintu kamar. Dia melihat Ziko yang tertidur pulas. Ada rasa kasihan melihatnya.
" Lebih baik aku mandi sebelum dia bangun." Gumam Zira pelan sambil menuju kamar mandi.
Zira sudah membersihkan badannya di kamar mandi, setelah selesai dia mengenakan pakaiannya. Dia berencana hari ini akan pergi ke butik. Jadi dia mengenakan pakaian yang feminim.
Zira menghampiri suaminya yang masih tertidur di atas kasur. Dia berniat membangunkan Ziko. Zira mengguncang-guncang tubuh suaminya. Tapi Ziko tidak juga bangun. Zira mulai mengguncang kuat tubuh itu. Dengan cepat Ziko memegang pinggang Zira dan meletakkan Zira di bawah badannya.
" Apa yang kamu lakukan." Ucap Zira berteriak.
Ziko memang selalu banyak akalnya untuk dapat mengerjai Zira. Setelah mendapatkan yang dia mau, Ziko pergi ke kamar mandi, Zira masih di atas kasur dengan wajah yang berantakan.
Zira merapikan pakaiannya dan make-upnya.
Dia merasa kesal dengan suaminya karena baru saja menciumnya. Zira keluar kamar menuju meja makan, tapi dia kembali lagi ke kamar.
" Enggak aku harus keluar kamar bareng dia, nanti nyonya Amel dan tuan besar curiga." Gumam Zira pelan balik lagi menuju kamar.
Zira membuka pintu kamar dan melihat sekeliling kamar, tapi dia tidak mendapati Ziko di dalam kamar.
" Oh mungkin dia sedang mandi. Lebih baik aku menunggu disini." Gumam Zira pelan sambil duduk di atas sofa.
Tidak berapa lama Ziko keluar dari ruang ganti dia sudah mengenakan setelan jasnya. Ziko membawa sebuah dasi.
" Karena sekarang kamu istriku, kamu yang harus memakaikannya." Ucap Ziko pelan sambil berjalan ke dekat istrinya.
Ziko memberikan dasinya kepada istrinya. Zira menerima dasi tersebut, kemudian dia hendak memakaikan dasi tersebut ke leher suaminya. Karena Ziko terlalu tinggi jadi Zira naik ke atas sofa. Sekarang posisi mereka sama tinggi. Dia meletakkan dasi tersebut ke leher suaminya, Ziko memperhatikan detail wajah istrinya. Setelah rapi Zira hendak pergi tapi lagi-lagi badannya di tahan suaminya. Ziko mengecup kening dan bibir Istrinya. Sebagai tanda sayang kepada Zira. Dia sudah mempunyai seorang istri walaupun pernikahan mereka karena sebuah ancaman tapi Ziko berusaha untuk menjadi suami yang baik buat istrinya. Ziko menggandeng tangan Zira. Tapi Zira menahan tangannya.
" Tunggu." Ucap Zira sambil menahan tangannya.
" Apa lagi." Tanya Ziko cepat.
" 1 menit saja." Ucap Zira cepat.
Zira berlari ke depan meja rias, dia merapikan lipstiknya yang sudah tidak sempurna. Kemudian dia kembali kearah suaminya dengan membawa tisu. Dia membersihkan bibir Ziko dengan tisu.
" Nah ini baru betul." Ucap Zira sambil memandang wajah suaminya.
" Memangnya tadi salah apa." Tanya Ziko.
" Nih apa kamu enggak lihat. Kamu seperti waria kalau pakai lipstik." Ucap Zira cepat.
Ziko langsung melotot kearah Istrinya. Melihat tatapan yang di berikan suaminya, Zira langsung mengacung kan dua jarinya sambil membentuk huruf V.
Mereka berdua pergi keruang makan. Ziko menggandeng tangan Zira. Di meja makan semua keluarga telah duduk menanti mereka berdua.
" Suit suit, yang baru malam pertama." Goda Zelin.
Zira tersenyum malu mendengar ucapan adik iparnya.
" Zelin." Ucap mamanya
Dengan cepat Zelin langsung menutup mulutnya. Ziko menarik salah satu kursi untuk diduduki istrinya. Zira duduk di sebelah suaminya. Mereka menikmati sarapan paginya tanpa ada yang saling berbicara.
Setelah selesai makan pak Budi beserta pelayan lainnya membersihkannya meja makan.
" Ma aku mau berangkat ke kantor. " Ucap Ziko kepada mamanya.
" Baiklah dan kamu sayang." Tanya Nyonya Amel kepada menantunya.
" Iya tante saya juga mau ke butik." Ucap Zira pelan.
" Kok tante sih, mama dong kamu kan sudah jadi anak mama sekarang." Ucap Nyonya Amel menjelaskan.
" Baik mama." Jawab Zira cepat.
Sepasang pengantin baru itu sudah berada di depan pintu mansion. Asisten Kevin sudah menunggu di samping mobil. Begitu kedua majikannya datang dia langsung membukakan pintu mobil. Zira memasuki mobil dan Ziko kembali ke dalam mansion. Zira hanya melihat tindakan suaminya.
Kenapa dia masuk lagi, pasti ada yang ketinggalan. Gumam Zira dalam hati.
Ziko kembali masuk ke mansion dia mencari pak Budi yang sedang berada di dapur.
" Pak." Ucap Ziko memanggil pak Budi.
" Iya tuan muda." Ucap pak Budi.
" Saya mau kamu membuang koper nona Zira. Dan jangan ada jaket kaos kaki atau celana jins di kamar saya." Ucap Ziko memberi perintah.
" Baik tuan." Ucap pak Budi cepat.
Setelah Ziko berbicara dengan pak Budi, dia kembali ke luar mansion menuju mobil. Zira memperhatikan tangan suaminya.
" Kenapa tidak membawa sesuatu." Tanya Zira cepat.
" Maksudmu apa istriku." Tanya Ziko bingung.
" Enggak-enggak." Ucap Zira cepat.
Nanti aku salah lagi kalo banyak tanya mending diam aja, bisa jadi dia kedalam kebelet pipis. Gumam Zira dalam hati.
" Ayo like komen dan vote sebanyak - banyak ya, agar novel favorit kalian masuk 10 besar, masih banyak author lihat yang hanya baca tapi tidak like dan masih banyak juga yang belum vote. Ayo dong votenya di tunggu nih. Terimakasih "