Menikah Karena Ancaman

Menikah Karena Ancaman
episode 123


Pagi hari yang mendung membuat Zira malas bergerak untuk bangun dari tidurnya. Dia masih menutup rapat matanya. Tapi dia tersadar akan dua sosok dayang-dayang yang tadi malam berdiri di samping kanan dan kiri kasur. Zira membuka matanya lebar. Dia melihat dua sosok dayang-dayang nya. Dua pelayan tadi masih berdiri dengan posisi yang sama. Dia duduk dari posisi sebelumnya yaitu berbaring.


" Apa kalian dari tadi malam berdiri seperti itu." Ucap Zira heran.


" Iya benar nona." Ucap seorang pelayan.


Zira memandang kearah dua pelayan tersebut.


" Kuat juga kaki kalian, apa kalian pernah ikut sekolah militer?" Zira merasa takjub dengan dua orang dayang-dayang nya yang sangat kuat berdiri semalaman.


" Tidak nona. Kami hanya pernah ikut lomba balap karung." Ucap seorang pelayan.


Zira manggut-manggut dan kembali melihat kedalam kedua bola mata pelayan tadi.


" Kenapa mata kalian seperti mata ikan busuk." Ucap Zira cepat.


Kedua pelayan tadi tidak mau mengatakan yang sebenarnya kalau mereka sebenarnya sangat mengantuk, mereka khawatir akan di hukum Ziko jika mengantuk. Karena sebelumnya Ziko berpesan tahan kantuk atau akan di pecat. Itulah yang masih terngiang di telinga mereka.


" Ini softlens terbaru nona." Ucap seorang pelayan lagi.


Zira mengerti akan rasa kantuk dan capek yang di alami dua dayang-dayang nya. Dia mengizinkan dua pelayan tadi untuk pergi dari kamarnya.


" Aku tau kalian sangat ngantuk, tapi aku salut kalian menjagaku dengan baik walaupun kantuk mendera tapi kalian tetap bertahan dengan pendirian yang kuat. Istirahatlah aku tidak akan melakukan hal-hal yang merugikan untuk diriku." Ucap Zira tegas.


Dua orang pelayan tadi ragu untuk pergi meninggalkan Zira sendiri di kamar. Mereka khawatir dengan nasibnya.


" Kenapa apa kalian masih mau berdiri di situ selama suamiku di luar negeri." Ucap Zira cepat.


Mereka saling pandang, mereka saling memberi isyarat untuk berani memulai percakapannya.


" Apa nona bisa mengizinkan kami kepada tuan muda." Ucap seorang pelayan.


" Tenang saja serahkan semua kepadaku." Ucap Zira cepat.


Kedua pelayan tadi keluar meninggalkan kamar, mereka langsung masuk kamar karena kantuk yang sangat mendera.


Zira mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi suaminya. Tapi tidak ada jawaban sama sekali dari suaminya. Dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Zira turun dari lantai atas dan pergi menuju dapur, dan seperti halnya tadi malam, dia membawa makanannya ke dapur. Ada beberapa koki yang sedang memasak di dapur. Melihat kedatangannya para koki hendak pergi. Tapi Zira menahan semuanya untuk tetap melanjutkan pekerjaannya.


Dia menikmati sarapannya di dapur bersama dengan koki yang lagi masak dan ada beberapa pelayan yang sedang hilir mudik ke dapur. Pak Budi masih menatap Zira dengan tatapan yang beda, karena semalam pada saat mereka mengobrol Pak Budi menatapnya hangat layaknya seorang anak. Tapi pagi ini dia menatap Zira dengan tatapan yang sangat berbeda. Dia menghabiskan sarapannya dan pergi keluar dari dapur. Pak Budi mengikutinya dari belakang.


" Ada apa Pak?" tanya Zira sambil memberhentikan langkahnya karena ada pria paruh baya itu mengikutinya.


" Apakah nona berniat memberikan kado ulang tahun untuk tuan muda berupa kematian." Tanya pak Budi tegas.


Zira kaget mendengar Pak Budi menyebut kata kematian.


" Siapa yang mati Pak? Dan apa hubungannya dengan kado ulang tahun suamiku." Ucap Zira bingung.


Pak Budi yang mengajukan pertanyaan malah bingung dengan pertanyaan balik ke dirinya.


" Siapa yang mati pak?" tanya Zira sambil menggoyang lengan Pak Budi.


Pak Budi bingung mau menjawab apa.


" Siapa yang mau mati pak?" tanya Zira sekali lagi.


Zira membulatkan matanya kearah Pak Budi.


" Pak saya enggak mau mati dan belum mati." Ucap Zira tegas.


Zira hendak pergi tapi pak Budi memanggilnya kembali.


" Nona Zira tunggu." Ucap Pak Budi cepat.


Zira kembali menghentikan langkahnya. Dan berbalik melihat kearah pria paruh baya itu.


" Nona saya mohon kalau nona mau memberi kado kepada tuan muda jangan dengan kematian." Ucap Pak Budi memohon.


Zira tambah bingung dia ingin menjedotkan kepalanya ke dinding, dia serasa berkumpul dengan para alien yang tidak saling mengerti bahasanya masing-masing.


" Pak saya memang berniat memberi kado untuk suami saya tapi bukan kematian kadonya." Ucap Zira pelan menjelaskan.


Zira menjelaskan secara perlahan kepada pak Budi agar pria paruh baya itu mengerti dan tidak berpikir yang aneh-aneh tentang kematian.


Ketika di jelaskan secara perlahan oleh Zira akhirnya pak Budi paham, dan dia pamit untuk pergi kerja.


Karena cuaca yang kurang baik dia mengenakan pakaian panjang dan celana panjang tapi tetap memberikan kesan sebagai wanita feminim.


Zira berjalan menyusuri loby kantor dan langsung masuk ke dalam lift. Para karyawan yang berada di dalam lift tersenyum dan hormat kepadanya. Mereka sangat kagum akan kepribadian Zira yang tidak memandang status sosial siapapun.


Zira keluar dari lift dan menuju ruangan suaminya, tapi dia tidak melihat keberadaan Kia di meja kerjanya. Dia melihat sekelilingnya dan ke pantri tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan sekertaris itu. Tanpa pikir panjang dia masuk ke dalam ruangan suaminya. Dia menemukan Kia sedang duduk manis di kursi kebesaran suaminya.


" Halo bos kedua selamat pagi." Ucap Kia sok ramah.


" Ngapain kamu duduk di kursi suamiku?" tanya Zira ketus.


Kia tertawa bahagia.


" Hahaha, aku hanya duduk di kursi suamimu bukan duduk di atas paha suamimu." Ucap Kia sambil tertawa senang.


" Cepat kamu pergi dari situ atau." Belum sempat Zira melanjutkan kalimatnya tapi Kia sudah memotong ucapannya.


" Atau apa? atau mau menghubungi sekuriti." Ucap Kia sambil menunjukkan kabel telepon yang sudah putus. Dia memang sengaja memutus kabel telepon, wanita itu membuat kabel itu persis di makan tikus.


Zira masih memandang wanita di depannya dengan tatapan yang sangat tajam.


" Kamu tau aku membayangkan sedang duduk di atas paha suamimu, aku membayangkan dia sedang mencumbu ku." Ucap Kia sengaja membakar emosi Zira.


Zira mengepalkan tangannya dan merapatkan giginya dia sedang memberi ancang-ancang hendak menyerang.


" Kamu tau sebenarnya aku sudah menjalin kasih dengan suamimu." Ucap Kia bohong.


Kia sengaja ingin mempermainkan emosi Zira, agar Zira bertengkar dengan suaminya. Dan pada saat pertengkaran itu terjadi dia akan masuk sebagai penghibur untuk Ziko. Tapi bukan Zira namanya jika dia tidak bisa menyingkirkan debu-debu yang bertebaran di depan jalannya.


" Oh bagus sekali itu, apa aku harus memberikanmu ucapan selamat atau aku harus mengirim papan bunga dengan bertuliskan turut berdukacita." Ucap Zira tegas.


Kia masih tidak gentar dia masih dengan pendiriannya duduk di kursi Ziko. Dia sengaja memanfaatkan istri bosnya, karena Zira pernah berkata tidak akan mengadu kepada suaminya, karena dia bukan perempuan cengeng. Dia yakin Zira tidak akan memberitahukan hal ini kepada suaminyam


" Kamu bisa bayangkan kami bermesraan di sini." Ucap Kia sambil mengelus-elus pinggiran meja.


" Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih."