
Ucapan Kevin benar adanya pernikahan mereka tidak di dasari dengan cinta. Pondasi pernikahan mereka masih sangat rapuh.
" Kamu benar, pernikahan kami mungkin hanya sampai satu tahun." Ucap Zira pelan sambil memandang jauh ke sungai.
Kevin melihat Zira.
" Apakah anda tidak ada perasaan dengan tuan muda?" Ucap Kevin.
Zira tidak menjawab, dia masih mencari di dalam hatinya apakah ada cela yang membuatnya mencintai Ziko. Dia lama menjawab pertanyaan Kevin, dia masih dengan pikirannya sendiri.
" Apakah anda baik-baik saja." Ucap Kevin khawatir.
" Aku tidak mengerti dengan perasaanku padanya, di satu sisi aku benci kalau mengingat dia memaksa ataupun mengancam ku, tapi di sisi lain aku merasa cemburu jika dia dengan perempuan lain, apakah itu bisa di namakan cinta?" tanya Zira.
Kevin tidak bisa menjawab karena dia juga belum pernah merasakan jatuh cinta. Dia cuma mengandalkan instingnya saja.
" Saya belum pernah jatuh cinta dengan seseorang, dan juga kurang mengerti dengan arti kata cinta, tapi menurut saya cinta itu adalah saling memiliki satu sama lain tanpa memaksakan kehendak dan menerima kekurangan dan kelebihan pasangannya." Ucap Kevin pelan.
Zira merasa takjub dengan pernyataan pria di depannya mengenai arti cinta. Menurutnya definisi arti kata cinta yang di utarakan Kevin ada benarnya.
" Jadi apakah kami sudah saling mencintai." Tanya Zira pelan.
Kevin tidak menjawab dia hanya menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau terjerumus ke dalam masalah pasangan suami istri itu, dia ingin keduanya menjadi lebih baik lebih baik lagi.
" Nona apakah anda sudah tau mengapa tuan muda memukul David?" Ucap Kevin.
Zira menggelengkan kepalanya. Dia juga tidak mengetahui mengapa Ziko bisa memukul David yang awalnya mereka baik-baik saja.
" Saya rasa pasti ada sesuatu yang membuat tuan Ziko marah." Kevin menyakinkan Zira.
Zira masih menimbang-nimbang ucapan Kevin benar tidaknya.
Kapal masih menyusuri sungai Seine River. Kevin dan Zira menikmati keindahan sungai tersebut. Hari sudah semakin petang suara ponsel Kevin berbunyi Ziko menghubungi Kevin kembali.
" Kamu dimana saja?" tanya Ziko teriak.
" Saya dan nona Zira sedang naik kapal menyusuri sungai Seine River." Ucap Kevin menjelaskan.
Ziko merasa cemburu mendengar Kevin dan Zira sedang naik kapal.
" Cepat kamu bawa balik dia." Ucap Ziko tegas.
Panggilan tersebut terputus, emosi Ziko memuncak mendengar mereka sedang pergi berdua. Kevin membawa Zira kembali ke hotel tapi Zira tidak mau, dia masih kesal dengan tuduhan yang di utarakan Ziko kepadanya.
" Nona saya mohon ikut saya, kalau nona tidak ikut dengan saya pasti tuan muda akan berpikiran yang aneh-aneh tentang kita berdua." Kevin memohon kepada Zira.
Dengan malas Zira mengikuti kemauan Kevin, dia juga tidak mau melibatkan asisten suaminya terjerumus dalam masalahnya. Tapi dia paham mengenai watak suaminya yang posesif. Ziko tidak pernah memandang bulu siapapun itu orangnya termasuk Kevin, semua akan dihabisinya.
Kevin mengetuk pintu kamar hotel. Tidak berapa lama pintu di buka oleh Ziko. Dia melihat kebelakang asistennya ada sosok Zira sedang berdiri di belakangnya.
" Jelaskan padaku mengapa kalian bisa pergi berdua." Ucap Ziko marah.
Kevin menjelaskan semuanya mengenai dia mengikuti Zira dari naik taksi sampai naik kapal menyusuri sungai Seine River. Dan dia juga menjelaskan alasannya mengikuti Zira yaitu agar Zira tidak hilang atau kabur.
Ziko melihat Zira yang masih diam tanpa berbicara sepatah katapun. Dia menarik Zira dan memeluknya dengan erat.
" Aku sudah melihat dari cctv, kalau kamu tidak bersalah maafkan aku telah menuduh mu." Ucap Ziko mencium dahi Zira.
Kevin melihat pemandangan itu, dia merasa senang melihat majikannya kembali berbaikan. Tapi sampai kapan itu diapun belum bisa memastikannya. Dia pergi meninggalkan pasangan suami istri itu, dia tidak mau menjadi nyamuk ataupun cicak di sana.
Ziko terus menciumi istrinya, dia merasa bersalah karena tidak memberikan Zira kesempatan untuk menjelaskan. Ziko membawa Zira ke atas kasur.
" Kamu mau ngapain?" Ucap Zira cepat.
" Aku mau menebus kesalahanku." Ucap Ziko tersenyum licik.
Ziko menebus kesalahannya dengan berulang kali, walaupun lelah dia tetap berusaha menyenangi hati istrinya
" Suamiku kenapa kamu memukul pria tadi." Penasaran.
Zira merasa terkejut dengan ucapan suaminya. Ziko telah mengangkat marwahnya sebagai seorang isteri. Zira bangga dengan tindakan suaminya.
" Terima kasih suamiku." Ucap Zira sambil memeluk Ziko.
Mereka kembali berbaikan dan mengobrol layaknya orang normal.
" Mana kado dari ku?" Zira mencari kadonya yaitu keripik ubi.
Ziko menyerahkan keripik ubi tersebut kepada istrinya. Ziko enggan memakannya, dia masih merasa jijik. Zira memakan keripik ubi tersebut tapi tidak menghabiskan semuanya.
" Kenapa tidak kamu habiskan?" Ziko memperhatikan Zira yang sedang menyimpan keripik ubi.
" Aku sisakan untuk asisten Kevin." Ucap Zira cepat.
" Apa?" Ziko teriak.
Zira kaget mendengar Ziko berteriak.
" Kenapa teriak?" Ucap Zira cepat.
" Jangan kamu kasih ubi ku sama si Kevin." Ucap Ziko merasa jijik.
Zira tertawa terbahak bahak melihat Ziko membayangkan keripik ubi nya di makan Kevin.
" Habiskan, aku enggak mau kalau Kevin yang menghabiskannya." Ucap Ziko cepat.
Zira menghabiskan keripiknya sambil tertawa lucu, dia melihat tingkah Ziko yang jijik. Setelah menyelesaikan keripiknya dia kembali ke kasur karena sudah mendapat lambaian tangan dari yang punya kasur. Ziko kembali memeluk Zira.
" Kenapa ucapan ulang tahunmu mengatakan semoga aku lebih baik lagi. Apa menurutmu aku kurang baik sekarang." Ziko protes.
Zira mencoba mengingat ucapannya kemaren malam pada saat di wawancarai reporter televisi.
" Oh yang itu, kan bagus kalau aku mengucapkan semoga kamu lebih baik lagi." Ucap Zira cepat.
Ziko tidak suka dengan ucapan Zira yang terlalu pendek dan singkat.
" Ganti ucapan mu." Ucap Ziko cepat.
Zira memindahkan posisi duduknya yang tadi di samping Ziko sekarang duduk berhadapan dengan suaminya. Dia mengambil ancang-ancang untuk meralat ucapan ulang tahun suaminya.
" Semoga kamu menjadi lebih buruk lagi." Ucap Zira santai.
Ziko menarik hidung Zira. Dia kesal dengan ucapan ulang tahun yang barusan di ucapkan istrinya.
" Ganti, apa perlu aku mengajarkan kamu cara mengucapkan selamat ulang tahun yang baik." Ucap Ziko ngambek
Zira tersenyum lebar, dia sukses telah membuat Ziko ngambek.
" Selamat ulang tahun suamiku semoga kamu menjadi suami yang baik." Kalimat Zira di potong Ziko.
" Itu sama saja kamu cuma mengganti kata kamu menjadi kata suami." Ucap Ziko protes.
Zira menepuk dahinya, sebenarnya dia belum selesai dengan kalimat ucapannya tapi sudah di potong oleh Ziko terlebih dahulu.
" Kamu bisa diam enggak sih, bagaimana aku bisa menyelesaikan kalimatku kalau selalu kamu potong kalimatku." Ucap Zira marah.
Ziko menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia mempersilahkan Zira untuk berbicara. Dia membujuk Zira agar mau mengucapkan ucapan ulang tahun yang romantis. Karena menurut Ziko ucapan dari seorang istri adalah doa. Zira menarik nafasnya sebelum mengucapkan ucapannya.
" Selamat ulang tahun suamiku, semoga kamu menjadi lebih baik dari sekarang, aku berharap kamu bisa menerimaku apa adanya, dan semoga pernikahan kita bisa lebih dari satu tahun dan selamanya." Ucap Zira sambil mencium punggung tangan Ziko.
Ziko merasa terharu mendengar ucapan istrinya. Ucapan itu adalah doa terindah buatnya.
" Aamiin." Ucap Ziko sambil mengecup bibir Zira.
" Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih."