Menikah Karena Ancaman

Menikah Karena Ancaman
episode 117


Setelah seharian bekerja Kia kembali ke apartemennya. Dia kembali dengan pakaian yang basah. Dia merasa hari pertamanya hari yang sungguh membuat suasana hatinya kacau balau. Setelah memasuki apartemennya dia langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Tidak berapa lama pintu apartemennya di ketuk. Kia yang telah selesai mandi langsung menuju pintu. Dia mendapatkan Sisil sedang berdiri di depan pintunya. Sisil langsung masuk ke dalam apartemen itu ketika pintu sudah di buka.


" Bagaimana hari pertamamu bekerja?" Ucap Sisil penasaran masih berdiri.


Kia yang mendapat pertanyaan seperti itu langsung bingung karena setau dia Sisil tidak terlalu suka dengan hal yang berhubungan dengan perkantoran dia lebih senang dengan hura-hura.


" Kenapa kamu tertarik dengan pekerjaanku?" tanya Kia heran.


" Ah kamu kan temanku aku ingin tau saja bagaimana hari pertamamu bekerja di perusahaan sebesar itu." Ucap Sisil bohong.


Kia duduk di atas sofa begitupun dengan Sisil. Sisil duduk di sebelah temannya. Dia menunggu temannya berbicara.


" Aku bekerja sebagai sekretaris." Ucap Kia.


" Ah kalau itu aku tau." Ucap Sisil cepat.


" Ya tapi kamu tau aku bekerja sebagai sekretaris Ziko mantanmu." Ucap Kia bahagia.


Sisil melihat ada rasa kebahagiaan dari raut wajah Kia. Dia berusaha untuk mendengarkan walaupun sebenarnya dia tidak suka melihat kebahagiaan itu.


" Aku sudah mengenal istrinya." Ucap Kia judes.


" Oh kamu sudah kenal dengan si wanita murahan." Ucap Sisil cepat.


" Ya, kamu tau dia memang perempuan yang tangguh, hari ini aku sudah tiga kali dihajarnya." Ucap Kia kesal


Sisil tertawa mendengar temannya sudah kena hajar pada hari pertamanya bekerja.


" Kenapa kamu tertawa?" Kia merasa kecewa dengan reaksi Sisil yang menertawakannya.


" Bagaimana mungkin kamu bisa kena hajar dia." Ucap Sisil masih tertawa.


Kia masih kesal dengan reaksi Sisil yang masih tertawa di atas penderitaannya.


" Dan asal kamu tau, aku hari ini bisa memegang tangan Ziko." Ucap Kia cepat sambil membayangkan kejadian tadi siang di kantor.


Sisil yang tadi tertawa langsung berhenti, dia merasa marah mendengar ucapan temannya.


" Kenapa kamu memegang tangannya." Ucap Sisil jutek.


Kia tidak menghiraukan Sisil, dia masih membayangkan kejadian tadi.


" Aku sangat senang bisa memegang tangannya dan sebentar lagi pasti aku bisa memilikinya." Ucap Kia cepat.


Sisil tambah marah.


" Kenapa kamu harus memilikinya, Ziko itu milikku bukan milikmu." Ucap Sisil teriak.


Kia pun ikut emosi.


" Dia sudah menjadi mantanmu dan sekarang adalah kesempatanku untuk memilikinya." Ucap Kia teriak.


Mereka berdua saling adu mulut, mereka sama-sama ingin memiliki Ziko.


" Sayangnya kamu hanya mantan, jadi kamu bukan sainganku, rival ku adalah Zira." Ucap Kia sombong.


Sisil merasa marah dengan semua ucapan temannya.


" Aku memang mantannya tapi sampai kapanpun tidak akan aku ijinkan kamu untuk memilikinya." Ucap Sisil marah sambil keluar dari apartemen dan membanting pintu.


Mereka bersahabat sejak kecil tapi karena satu orang pria persahabatan mereka rusak. Mereka merasa ingin memiliki sedangkan yang ingin dimiliki sudah ada pemiliknya.


Zira mempersiapkan semua kebutuhan Ziko selama di luar negeri. Dari pakaian kerja sampai pakaian dalam semua dipersiapkannya. Walaupun sudah larut malam tapi dia tetap menyiapkannya dengan penuh semangat. Dia merasa senang dengan perhatian yang di berikan Zira kepadanya. Setelah selesai menyiapkan keperluan suaminya. Zira kembali ke kasur. Dia merasa sangat lelah karena seharian sudah berjalan jauh.


Zira membaringkan badannya di sebelah suaminya.


" Kamu yakin mau di kantor selama aku di luar negeri?" tanya Ziko khawatir.


Zira menganggukkan kepalanya.


" Tenang saja aku bisa menghadapinya, kalaupun aku kalah aku bisa menghubungi kapten Amerika untuk membantuku." Ucap Zira santai.


Ziko tertawa mendengar ucapan istrinya.


" Ya aku tau kamu pasukan Avengers dan bisa mengalahkan siapapun tapi kalau mengalahkan jurus kasurku kamu masih nol besar." Ucap Ziko sambil tersenyum licik.


" Baru satu kali mencetak gol tapi sudah merendahkan lawannya." Ucap Zira cepat.


Ziko membalikkan tubuhnya menghadap tubuh Zira.


" Apa kamu bilang baru satu kali aku mencetak gol? sepertinya penyakit pikun mu sudah kambuh." Ucap Ziko menoyor kepala istrinya.


Zira mulai menghitung berapa kali Ziko mencetak golnya.


" Hehehe iya sudah tiga kali." Ucap Zira pelan.


Ziko tersenyum dia merencanakan sesuatu yang selalu menguntungkan dirinya.


" Baiklah karena kamu bilang kalau kamu pasukan Avengers, aku akan melihat bagaimana jurus Avengers mu melawan kungfu kasurku." Ucap Ziko cepat sambil menggerak-gerakkan alisnya.


" Apakah jurus Avengers mu bisa mengalahkan tujuh kali tiga kali tujuh ku." Ucap Ziko tertawa lebar.


Zira mulai merasa khawatir tapi bukan Zira namanya kalau tidak bisa membantah ataupun membatalkan rencana licik suaminya.


" Aku yakin bisa mengalahkan mu." Ucap Zira enteng.


Zira mulai merasa risih dengan tangan suaminya yang sudah melanglang buana kemana-mana.


" Ya aku yakin." Ucap Zira cepat sambil menahan tangan Ziko.


" Kamu saja enggak punya senjata, bagaimana kamu mengalahkan ku." Ucap Ziko cepat.


Zira berusaha untuk melepaskan tangan suaminya.


" Tenang saja nanti aku pinjam perisai kapten Amerika kalau perlu aku pinjam bajunya iron man." Ucap Zira cepat sambil mencubit lengan suaminya agar melepaskan gunung kembarnya.


Ziko tidak perduli dia bersikeras untuk melakukan aksinya.


" Hey kamu mau apa!" teriak Zira.


" Main jungkat jungkit." Ucap Ziko cepat.


Zira tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Ziko memulai jurusnya.


" Tunggu jangan lakukan nanti kamu menyesal." Ucap Zira sambil tertawa terbahak-bahak.


Ziko tetap ingin melanjutkan aksinya.


" Nanti kamu menyesal suamiku." Ucap Zira lagi.


Ziko ingin melakukan aksinya tapi Zira membisikkan sesuatu ke telinga suaminya.


" Apa maksud kamu?" Ucap Ziko cepat.


" Aku kasihan denganmu suamiku, apa kamu yakin?" Ucap Zira cepat sambil tertawa.


" Memangnya kenapa?" tanya Ziko cepat.


" Apa kamu lupa aku kan masih palang merah." Ucap Zira cepat.


Ziko langsung paham dengan ucapan istrinya.


" Terus bagaimana dengan ini." Ucap Ziko memelas.


Zira tertawa terbahak-bahak.


" Kamu arisan aja gi." Ucap Zira cepat sambil tertawa.


Ziko langsung lari ke kamar mandi untuk melanjutkan pekerjaannya yang tidak tuntas. Setelah beberapa menit Ziko kembali lagi ke kasur. Zira sudah menutup matanya.


" Bagaimana arisannya banyak yang datang." Ucap Zira pelan sambil menutup matanya.


Ziko merasa kesal bercampur malu mendengar ucapan istrinya yang mengejeknya.


" Awas kamu kalau itu sudah tidak berwarna, akan aku tusuk itu seperti tusuk sate." Ucap Ziko cepat sambil menunjuk ke daerah sensitif istrinya.


Zira tidak menjawab ucapan Ziko, dia sudah merasa lelah. Menurutnya hari ini adalah hari yang membuat hatinya menjadi es campur karena terlalu banyak godaan yang membuatnya harus mengeluarkan jurusnya.


" Like komentar dan Vote yang banyak ya terimakasih."