
Kevin dan Menik sudah berada di bandara. Mereka masih harus menunggu kurang lebih satu jam. Selama di bandara Kevin tidak menemukan pria yang mengikutinya. Tidak ada orang yang mencurigakan itu pikirnya.
Setelah mendapatkan panggilan dari petugas bandara pasangan pengantin baru itu dan penumpang lainnya masuk melalui pintu yang telah di sebutkan petugas bandara.
Kevin memilih kelas bisnis untuk mereka berdua. Perjalanan dari Paris ke Jerman hanya membutuhkan waktu kurang lebih satu jam empat puluh lima menit. Beda ketika mereka dari tanah air ke Paris, waktu yang di habiskan sampai belasan jam.
Pramugari dan pramugara memperagakan cara memakai alat perlindung diri dari seat belt, pelampung dan lainnya, Menik selalu memperhatikan dengan seksama, dia tidak mau melewatkan itu semua. Ini kedua kalinya dia naik pesawat, pesawat terbang sedang dalam keadaan take off tapi Menik masih cukup cemas, dia menyembunyikan kepalanya di dalam dada suaminya.
"Tenanglah, kamu tidak perlu takut atau cemas. Mulai sekarang kamu harus terbiasa, karena kita akan sering naik pesawat terbang." Ucap Kevin menenangkan istrinya.
"Aku ngeri dengan suara pesawatnya dan goncangannya." Ucap Menik.
"Kalau goncanganku takut enggak?" ucap Kevin genit.
"Idih genit." Ucap Menik sambil tersipu malu.
"Ya enggak apa-apa dong kalau genit sama istri sendiri, kalau genit sama istri orang lain bisa bahaya." Ucap Kevin.
"Ah kamu." Rengek Menik.
Pramugari memberikan pelayanan khusus kepada mereka, dari menawarkan minuman, makanan dan selimut yang bisa di gunakan untuk menghangatkan tubuh mereka. Menik dan Kevin memanfaatkan waktu untuk beristirahat.
***
Di tempat yang lain yaitu di tanah air sudah menunjukkan jam enam pagi, perbedaan antara eropa dengan tanah air terpaut enam jam.
Bik Inah dan pembantu lainnya sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Pasangan suami istri itu masih berada di kamar, karena hari libur jadi Ziko bisa lebih santai. Tapi tiba-tiba dia mendengar suara Zira yang muntah-muntah. Sebagai suami siaga, dia langsung lompat dari tempat tidur dan melihat kondisi istrinya di dalam kamar mandi.
"Sayang kamu enggak apa-apa." Ucap Ziko sambil memapah istrinya ke tempat tidur.
"Sudah jauh lebih baik."
"Kandungan kamu sudah masuk empat bulan tapi kenapa masih sering mual." Ucap Ziko khawatir.
"Enggak tau, mungkin bawaan bayi kita." Jawab Zira.
"Kita tidak usah pindah hari ini." Ucap Ziko.
"Mau kapan lagi, usia kandunganku sudah masuk empat bulan, aku mau mengadakan syukuran empat bulanan kandunganku sekaligus syukuran rumah baru kita." Jelas Zira.
Zira dan Ziko berencana pindah rumah ke rumah yang lebih besar. Masih dalam satu kompleks. Rumah baru mereka rencananya berhadapan dengan Kevin. Dan sebelum lahiran mereka berencana sudah pindah ke rumah baru.
"Tapi kamu masih sering mabuk." Ucap Ziko.
"Kalau menunggu aku berhenti mabuk kita enggak akan jadi pindah." Ucap Zira.
"Ya sudah tapi kamu tidak boleh banyak gerak, biarkan para asisten rumah tangga yang mengerjakan semuanya." Ucap Ziko.
"Iya sayang." Ucap Zira sambil mengelus gundul suaminya.
"Ah kamu diam-diam terpikat dengan gundulku." Ucap Ziko.
"Amit-amit." Ucap Zira cepat.
"Terus tadi apa?" tanya Ziko.
"Itu bentuk spontanitas saja." Ucap Zira.
"Kenapa kamu selalu tidak mau mengakui kalau sebenarnya kamu butuh belaian dari bapak tuyul ini."
"Sebenarnya aku memang butuh belaian dari kamu, tapi mengingat kepala plontos seleraku langsung hilang." Jelas Zira.
"Terus sampai kapan aku puasa." Rengek Ziko.
"Sampai itu gundul sudah tumbuh rambut." Ucap Zira.
"Baiklah aku akan memperjuangkan hakku sebagai suamimu. Lihat saja rambutku akan tumbuh dengan cepat." Ucap Ziko semangat sambil berlalu keluar dari kamar.
"Mau ke mana?" tanya Zira.
"Mau ke dapur." Ucap Ziko. Di dapur dia melihat bik Inah sedang menyiapkan sarapan pagi untuk kedua majikannya.
"Tuan sudah bangun, makanannya sebentar lagi siap." Ucap bik Inah.
"Bik, kamu tau cara melebatkan rambut." Tanya Ziko.
"Serem banget bik, bagaimana caranya lidah buaya melebatkan rambut, yang ada putus duluan nih kepala." Gerutu Ziko.
"Ah tuan, pagi-pagi udah bercanda. Mana mungkin pakai lidah buaya asli tapi pakai tanaman lidah buaya." Ucap bik Inah.
"Bilang dong bik, aku pikir pakai lidah buaya beneran, ya udah mana tanaman itu." Ucap Ziko.
"Di sini enggak ada tuan, tapi kalau di rumah nyonya besar ada." Jawab bik Inah.
"Suruh pelayan antar ke sini." Perintah Ziko sambil berlalu hendak pergi meninggalkan dapur.
"Tuan selain pakai lidah buaya pakai telur juga bisa." Ucap bik Inah.
Ziko kembali masuk ke dapur.
"Caranya?" tanya Ziko.
"Telur di kocok terus di campur minyak kelapa."
"Bik, kamu mau masak telur dadar di kepalaku." Gerutu Ziko.
"Bukan tuan, memang seperti itu. Kalau telur dan minyak kelapa bahanya ada di sini, jadi enggak perlu menunggu, bibik bisa membuatkan untuk tuan sekarang." Ucap bik Inah.
"Selain itu apa lagi bik?" tanya Ziko.
"Ada yang lebih cepat dari minyak kelapa dan telur, kalau bibik enggak salah pakai kemiri. Cara pakainya berbeda, kemiri di bakar terus di olesi ke kepala tunggu sampai dua puluh menit lalu bilas." Ucap bik Inah.
Ziko menimbang yang mana mau di pakainya kemiri apa telur dan minyak kelapa.
"Kemiri aja bik." Ucap Ziko.
Bik Inah mengambil kemiri yang ada di kotak dan memberikan kepada majikannya.
"Yakin ini di bakar." Ucap Ziko kurang yakin.
"Yakin tuan, tapi bibik enggak bisa bantu, enggak apa-apakan tuan." Ucap bik Inah.
"Iya bibik lanjutkan saja, aku akan pakai sendiri." Ziko membawa beberapa buah kemiri ke dalam kamarnya. Di dalam kamar dia melihat istrinya kembali tidur. Semenjak hamil setiap pagi Zira lebih sering tidur.
Ziko membakar kemiri di dalam kamar mandi. Kemiri terbakar dan setelah menghitam dan cukup dingin, dia mengolesi kemiri ke kepalanya. Ziko melakukan secara berulang. Setelah semua di olesi kemiri dia kembali ke kasur.
Karena aroma dari kemiri itu cukup khas, Zira langsung bangun.
"Seperti bau terbakar." Ucap Zira sambil menoleh ke arah suaminya.
"Aaaaa, kenapa dengan kepalamu." Teriak Zira.
"Kenapa? kepalaku baik-baik saja." Ucap Ziko santai.
"Kenapa kepalamu jadi hitam dan tidak ada bulunya sama sekali. Apa yang terjadi, tunggu aku sedang tidak bermimpi kan, soalnya aku baru mimpi kalau rambut kamu tidak bisa tumbuh dan sekarang kenapa warnanya hitam dan tidak ada bulunya." Ucap Zira bingung.
"Mimpi di pagi hari bukan mimpi namanya." Celetuk Ziko.
"Terus apa dong." Zira mengelus kepala suaminya.
"Ini bukan cat rambut tapi baunya tidak asing,
apa ya." Zira mencoba menerka bau dari kepala suaminya.
"Ini kemiri, aku tadi tanya sama bik Inah cara melebatkan rambut salah satunya dengan pakai kemiri ini." Jelas Ziko.
"Hahaha." Zira tertawa.
"Kenapa tertawa." Ziko heran.
"Kamu dengarlah omongan bik Inah yang udah tua itu. Memang pakai kemiri cepat tapi bukan kemirinya yang di olesi ke kepala tapi kemiri itu memang di bakar sampai gosong lalu di tumbuk sampai keluar minyak, nah minyaknya itu yang di olesi ke kepala." Jelas Zira.
"Ah udah capek-capek ternyata salah." Gerutu Ziko.
"Tidak apa-apa sayang, setidaknya aku punya gambaran wig untuk tuyul tanpa bulu." Ejek Zira.
Bersambung.
Vote untuk kedua karya author "Menikah Karena Ancaman" dan "Love of a Nurse" agar updatenya tambah semangat, makasih.