
Taksi yang membawa mereka sudah sampai di hotel. Menik langsung turun tanpa mau menggandeng tangan suaminya.
Masuk ke kamar hotel tanpa menyapa suaminya. Dia memilih untuk langsung mandi. Dan Kevin memilih menunggu di luar kamar mandi.
"Aku di samakan dengan nona Zira, jelas bedalah." Gerutu Menik.
Setelah selesai mandi, dia mencari handuk. Tapi handuk tidak ada di kamar mandi.
"Waduh, gimana mau keluar kalau handuknya aja enggak ada di sini." Gumam Menik.
Dia mulai memikirkan sesuatu untuk bisa keluar dari kamar mandi.
"Enggak mungkin aku keluar dengan bertelanjang ria. Bisa habis aku di kerjai dia." Gumam Menik.
Karena sudah terlalu lama di kamar mandi, Kevin yang juga mau masuk menjadi cemas.
Tok tok tok
"Nik buka pintunya." Ucap Kevin sambil menggedor pintu kamar mandi.
Tidak ada sahutan dari dalam kamar mandi. Kevin yang berada di luar kamar mandi mulai panik, takut terjadi sesuatu dengan istrinya.
"Menik buka pintunya. Aku akui salah, tidak seharusnya membandingkan kamu dengan nona Zira, jangan bunuh diri Nik." Teriak Kevin.
Pintu di buka sedikit, sebagian kepala Menik keluar dari balik pintu.
"Siapa yang mau bunuh diri, aku lupa membawa handuk." Jawab Menik ketus.
"Oh syukurlah. Aku pikir kamu bunuh diri karena pertengkaran tadi." Ucap Kevin senang.
"Bisa ambilkan handukku." Ucap Menik sambil menjulurkan tangannya kehadapan suaminya.
"Aku enggak tau yang mana handukmu." Ucap Kevin bohong.
"Yang putih." Ucap Menik lagi.
"Aku buta warna Nik." Ucap Kevin jahil.
"Ayo cepat, aku sudah kedinginan." Rengek Menik.
"Ambil sendiri." Ucap Kevin lagi sambil tersenyum genit.
"Kalau aku keluar nanti kamu bisa lihat tubuhku."
"Tadi malam aku juga melihat bentuk tubuhmu, setiap jengkal malah." Ejek Kevin.
"Ah kamu." Rengek Menik sambil tersipu malu.
"Udah cepat keluar, aku mau mandi juga." Ucap Kevin.
"Iya sebentar." Menik kembali menutup pintu kamar mandi. Dia memilih mengenakan pakaian yang tadi tapi tanpa dalaman.
Ketika Menik keluar dengan pakaian yang sama, Kevin langsung komplain.
"Kenapa kamu pakai baju itu lagi? nanti badanmu gatal." Ucap Kevin.
"Enggak kok, udah sana mandi." Ucap Menik sambil mendorong tubuh suaminya masuk ke dalam kamar mandi. Setelah cukup yakin suaminya sudah berada di kamar mandi, Menik membuka bajunya dan mengeringkan tubuhnya pakai handuk. Tapi ketika dia berbalik ada Kevin di belakangnya.
"Aaaaaaa tuyul." Menik kaget karena udah ada suaminya di belakangnya tanpa memakai sehelai benang.
Menik teriak kencang tapi mulutnya sudah di sumpal dengan mulut suaminya. Dengan gampang Kevin melemparkan tubuh istrinya ke kasur.
"Kamu mau apa." Ucap Menik.
"Gagang sapuku sudah siap gerak. Dan harus beraksi." Ucap Kevin sambil memulai aksinya. Ketika junior Kevin sudah masuk ke dalam sangkarnya Menik selalu mengucapkan.
"Masuk pak Eko."
Setelah melakukan beberapa kali dan keduanya merasa puas, akhirnya pertempuran itu di menangkan oleh Kevin. Menik sudah tepar tak berdaya, tubuhnya yang putih sudah penuh tato kepemilikan Kevin.
Kevin menyelimuti tubuh istrinya yang sudah tidak berdaya sambil mengecup dahi istrinya dengan lembut. Walaupun Menik tidak berdaya, tapi dia masih bisa di ajak bicara.
"Sayang, kenapa tadi kamu berteriak ketika aku berada di belakangmu?" tanya Kevin.
"Jelas aku berteriak, kamu seperti tuyul. Udah gundul telanjang lagi. Jangan kamu ulangi lagi seperti itu. Apalagi pada malam hari, bisa kencing sambil berdiri aku." Ucap Menik.
"Iya sayang, kita melakukannya jangan dalam keadaan gelap, jangankan kamu, aku saja kadang takut sendiri kalau memegang kepalaku. Di pikir-pikir seperti kepala manekin." Ucap Kevin sambil mengelus kepalanya. Kevin mengingat kejadian ketika di Paris disneyand.
"Kamu tau, tadi kalau tidak salah pria yang di paris disneyland bertanya tentang nama Amrin. Aku seperti kenal nama itu." Ucap Kevin sambil berpikir.
"Di sana masih jam sepuluh malam, semoga mereka belum tidur." Gumam Kevin sambil mengambil ponselnya.
"Kamu mau ngapain?" tanya Menik.
"Aku mau menghubungi tuan muda." Jawab Kevin.
"Besok saja, jangan ganggu mereka." Ucap Menik.
"Enggak bisa ini penting." Ucap Kevin sambil mencari nomor Ziko. Panggilan terhubung, tapi agak lama dia menunggu.
Di tempat yang berbeda di kediaman Ziko dan Zira. Pasangan suami istri itu sedang menonton televisi. Mereka tidak mendengar kalau ponselnya Ziko berdering, karena ponsel itu berada di kamar.
"Bagaimana?" tanya Menik.
"Enggak di angkat." Jawab Kevin.
"Ya udah kirim pesan aja." Ucap Menik. Kevin mengikuti saran istrinya dia mengirim pesan kepada Ziko yang isinya.
Tuan maaf mengganggu, tadi waktu saya berlibur ke Paris disneyland ada pria yang mencari nama Amrin.
Setelah mengirim pesan itu, Kevin dan Menik tidur, mereka mengistirahatkan tubuhnya. Karena besok rencananya mereka melanjutkan perjalanan wisatanya mengelilingi kota Paris.
Di tempat lain.
"Aku ngantuk." Ucap Zira sambil menguap.
"Kamu sudah minum susu belum?" tanya Ziko.
"Sudah, ayo kita tidur." Ucap Zira sambil menarik tangan suaminya agar mau ikut menemaninya tidur.
Sesampainya di kamar, mereka melakukan rutinitas sebelum tidur yaitu sikat gigi dan bersih-bersih lainnya.
Ziko melihat ponselnya ada cahaya. Dia mengambil ponselnya yang ada di nakas. Dan melihat panggilan tak terjawab dari Kevin sebanyak tiga kali dan membaca pesan dari asistennya.
Ziko langsung menghubungi Kevin.
"Kamu menghubungi siapa?" tanya Zira.
"Kevin." Jawab Ziko singkat.
"Udah malam, kalau tidak penting besok saja menghubunginya." Ucap Zira.
"Justru ini penting, tadi ada yang bertanya nama Amrin sama Kevin." Ucap Ziko.
"Siapa?" tanya Zira. Ziko hanya membalas dengan mengangkat kedua bahunya.
Panggilan terhubung.
"Halo tuan." Ucap Kevin dengan suara serak bangun tidur.
"Siapa yang menanyakan nama Amrin kepadamu." Ucap Ziko langsung.
"Oh itu." Kevin menjelaskan tentang pertemuan dia dengan pria itu. Semuanya diceritakannya kepada bosnya.
"Bagaimana ciri-cirinya?" tanya Ziko lagi.
"Sepertinya dia blesteran seperti saya. Karena wajahnya bukan indo semua, ada wajah-wajah asing." Jelas Kevin.
Ziko mendengarkan dengan seksama.
"Tapi dia menanyakan keluarga Amrin, dan dia juga tau kalau keluarga Amrin orang hebat di tanah air." Ucap Kevin.
"Siapa dia? kenapa dia bisa tau tentang keluarga istriku. Apa dia seperti businessman?" tanya Ziko lagi.
"Ya saya mana tau tuan, penampilan dia ketika di Paris disneyland tidak formal. Kalau dia pakai pakaian formal bisa jadi perbincangan." Jelas Kevin.
"Sepertinya orang itu bukan orang biasa. Dan pertemuan kamu dengannya bukan tanpa sengaja, pasti dia sudah merencanakan sesuatu untuk bertemu denganmu. Ada mata-mata di antara kita." Jelas Ziko.
"Jadi bagaimana tuan?" tanya Kevin lagi.
"Kamu perhatikan setiap langkahmu, apakah ada yang mengikutimu. Dan berhati-hati." Ucap Ziko kemudian panggilan terputus.
Zira mendengarkan sambil menatap tajam wajah suaminya. Dia tidak tau apa saja yang di bicarakan suaminya dengan Kevin, Zira hanya mendengar kalau suaminya menyebut nama keluarganya secara berulang.
Bersambung.