Menikah Karena Ancaman

Menikah Karena Ancaman
episode 449 (S2)


Kevin dan Menik sudah pindah rumah. Rumah mereka berseberangan dengan Zira.


Hari ini adalah hari pertama untuk pasangan pengantin baru itu menempati rumah baru mereka. Kevin dan Menik terlihat sibuk menata dan menyusun barang-barang yang mereka bawa. Pintu rumah mereka di ketuk.


Tok tok tok


Kevin keluar rumah, dia melihat ada bik Inah di depan rumahnya.


"Ada apa bik." Ucap Kevin.


"Tuan muda dan nona Zira mengundang pak Kevin dan istri untuk makan malam di rumah." Ucap bik Inah.


"Makan siangnya tidak bik." Ucap Kevin lagi.


"Nona hanya bilang untuk mengundang makan malam. Kalau makan siang udah lewat." Jelas bik Inah sambil kembali ke rumah majikannya.


Kevin mendekati istrinya yang sedang menyusun pakaian. Dia langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang.


"Kita di undang makan malam di rumah tuan muda." Ucap Kevin sambil menciumi punggung leher istrinya.


"Kita bawa apa ya?" tanya Menik.


"Memangnya harus bawa sesuatu?" tanya Kevin balik.


"Kita di undang makan, setidaknya membawa buah tangan." Jelas Menik sambil memikirkan sesuatu.


"Sayang, ularku sudah mendesis itu tandanya apa." Ucap Kevin genit.


"Aha, kita bawakan saja cake untuk nona Zira."


"Sayang kamu dengar tidak? ularku sudah mendesis." Kevin mengulangi lagi kalimatnya.


"Ya udah kamu mendesis lagi." Jawab Menik santai.


"Sayang bukan itu, aku ingin kamu." Tangan Kevin sudah melanglang buana ke sana kemari.


"Aku mau buat cake, jadi bilang sama ularmu kalau mendesis pakai waktu." Ucap Menik sambil menepis tangan suaminya dari dadanya.


Menik meninggalkan suaminya di kamar sendirian.


"Sayang sebentar saja." Kevin mengikuti istrinya menuju dapur.


"Enggak ah, kamu kalau mau enggak ingat waktu. Maunya berkali-kali." Ucap Menik.


"Sekali saja, apa kamu tidak kasihan dengan ular sancaku. Kalau tidak di turuti bisa berubah jadi anaconda." Ucap Kevin.


"Kamu bercanda ya." Ucap Menik lagi.


"Aku serius, kalau udah jadi anaconda nanti enggak mau berhenti, apa kamu kuat?" Ucap Kevin sambil tersenyum genit.


"Ya udah tapi sekali saja ya, jangan berulang soalnya aku capek." Ucap Menik sambil berjalan menuju kamar.


"Hei mau kemana?" Kevin menarik tangan istrinya.


"Ke kamar." Jawab Menik singkat.


"Enggak usah di kamar, di dapur saja."


"Enggak ah malu." Ucap Menik.


"Kenapa harus malu di rumah ini hanya ada kita." Ucap Kevin sudah melucuti baju istrinya. Akhirnya dia dapat melakukan jurus mengulek cabe di dapur.


Setelah selesai Menik mulai mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat cake.


"Sayang, bahannya kurang." Ucap Menik.


"Ya udah enggak usah buat." Ucap Kevin santai sambil memakai pakaiannya.


"Enggak boleh gitu, aku udah niat mau membawa buah tangan."


"Ya sudah kita pergi ke super market saja. Di dekat sini ada super market sekalian kamu bisa belanja untuk keperluan dapur kita." Ucap Kevin.


Menik setuju keduanya bersiap untuk pergi ke super market. Mereka mandi bersama dan kedua kalinya Kevin melakukannya di kamar mandi. Setelah selesai keduanya keluar rumah, Menik mengunci pintu dan Kevin mengeluarkan mobil dari bagasi. Ada Zira dan Ziko yang memperhatikan tetangganya.


"Sayang coba kamu lihat rambut si Menik." Ucap Zira.


Ziko melihat ke arah Menik


"Kenapa rambutnya." Ucap Ziko bingung.


"Basah." Ucap Zira singkat.


"Hahaha, baru nanam benih dia." Ucap Ziko dengan gelak tawanya. Kevin dan Menik sudah berada di mobil, mereka memperhatikan ada bosnya di beranda rumah.


"Kami mau pergi ke super market dulu, titip rumah ya." Ucap Kevin.


"Hemmmm." Jawab Ziko. Kevin mengemudikan mobilnya menuju super market. Dalam waktu lima belas menit mereka sudah sampai di super market.


"Kevin." Ucap dokter Diki.


"Dokter? sama siapa?" tanya Kevin.


"Sama Jasmin, dia baru masuk ke super market." Ucap dokter Diki.


"Jauh banget belanja ke sini." Ucap dokter Diki. Menik jalan lebih dulu, dia sibuk memilih semua keperluan dapur.


"Kalian kalau sudah kumpul pasti seru." Ucap dokter Diki


"Mau beli apa?" tanya dokter Diki lagi.


"Tuan muda mengundang kami makan malam, jadi istriku ingin membuat cake sebagai buah tangan." Jelas Kevin.


"Wah si Ziko tidak mengundangku. Baiklah aku akan datang sebagai tamu tidak di undang." Ucap dokter Diki.


Kevin dan dokter Diki sibuk mengobrol. Menik dan Jasmin sibuk berbelanja.


"Menik, kamu sama siapa." Ucap Jasmin.


"Sama Kevin." Jawab Menik singkat.


"Banyak banget belanjanya?" tanya Jasmin lagi.


"Untuk keperluan beberapa minggu, tapi sepertinya ini sudah cukup." Ucap Menik sambil mendorong troli belanjaan ke kasir. Menik membayar belanjaannya dan Jasmin membayar di kasir sebelahnya. Jasmin memperhatikan rambut Menik yang basah. Hatinya sedikit terasa getir melihat itu.


Mereka berdua keluar bersamaan.


"Sudah selesai." Ucap Kevin. Menik menganggukkan kepalanya.


"Sayang kita tidak usah pulang dulu, kita main ke rumah Kevin, nanti malam kita makan malam di rumah Ziko." Jelas dokter Diki. Jasmin menganggukkan kepalanya.


Mereka masuk ke dalam mobil masing-masing. Tidak butuh waktu lama mereka sudah sampai di perumahan Kevin.


"Rumah Ziko yang mana?" Tanya dokter Diki.


"Itu." Kevin menunjuk ke arah rumah di depannya.


Mereka masuk ke dalam pengantin baru itu.


"Mau minum apa." Ucap Kevin.


"Aku kopi, kamu apa sayang?" tanya dokter Diki kepada Jasmin.


"Teh, aku bantuin kamu ya Nik." Ucap Jasmin ikut ke dapur membantu Menik.


"Dokter Diki mau kopi hitam apa putih?" tanya Menik.


"Kopi putih." Jawab Jasmin.


"Suamiku mau minum apa ya." Gumam Menik bingung sambil berjalan menuju ruang tamu.


"Biar aku yang tanya, kamu siapkan saja air panasnya." Ucap Jasmin sambil berlalu menuju ruang tamu menanyakan kepada Kevin. Setelah beberapa detik Jasmin kembali ke dapur.


"Kevin mau teh, katanya gulanya sedikit." Ucap Jasmin.


Menik membuat kopi dan teh untuk tamu dan suaminya. Ketika dia mau membawa ke ruang tamu, lagi-lagi Jasmin menawarkan diri untuk membawa minuman itu ke ruang tamu.


Di dapur Menik sibuk mengolah bahan-bahan yang diperlukannya untuk membuat cake.


Jasmin melihat cara Menik mengolah, menurutnya wanita di sampingnya cukup piawai dalam memasak.


"Aku tau selain kepribadianmu Kevin jatuh cinta sama kamu karena kamu pintar masak." Ucap Jasmin.


"Enggak lagi, kalau enggak salah aku dulu masak telur untuknya." Ucap Menik sambil tersenyum lucu mengingat kejadian yang dulu.


"Oh iya, aku pikir kamu sering memasakkan untuk Kevin. Aku iri sama kamu, kamu sudah cantik pintar masak juga. Aku sama sekali tidak bisa masak." Ucap Jasmin.


"Awalnya aku tidak bisa masak, mungkin tuntutan ekonomi yang mewajibkan aku harus masak, karena kalau mau beli enggak ada uang jadi lebih hemat masak." Jelas Menik


Jasmin memperhatikan wanita di sampingnya yang sangat telaten, dia merasa iri dengan kepintaran Menik dalam mengolah bahan makanan.


Di sela-sela kesibukan Menik. Jasmin mengajak ngobrol Menik.


"Nik, bagaimana hubungan kamu dengan Kevin?" tanya Jasmin.


"Baik, malah kami tambah mesra." Jawab Menik jujur.


"Syukurlah, karena kalian saling mencintai." Ucap Jasmin lagi.


"Bagaimana dengan hubungan kalian?" tanya Menik.


"Aku enggak tau Nik, di satu sisi aku senang di lamar Diki. Tapi di sisi lain aku khawatir tentang perasaanku." Ucap Jasmin.


"Apa dokter tidak mencintai dokter Diki?" tanya Menik penasaran.


"Enggak tau Nik." Ucap Jasmin jujur.


"Apa dokter masih mencintai Kevin?" tanya Menik.


Dokter Jasmin menghela nafasnya, dia bingung dengan perasaannya.


"Enggak tau Nik, yang jelas aku senang Kevin dapat menikah dengan gadis yang dicintainya tapi ada rasa cemburu ketika melihat kamu dan Kevin mesra." Ucap dokter Jasmin jujur.


Deg jantung Menik langsung berdebar. Dia senang akan kejujuran Jasmin tapi dia harus waspada kalau tiba-tiba mantan kekasih suaminya kembali mendekati suaminya.


Bersambung.


Vote untuk kedua karya author "Menikah Karena Ancaman" dan "Love of a Nurse" agar updatenya tambah semangat, makasih.