Menikah Karena Ancaman

Menikah Karena Ancaman
episode 409 (S2)


🌹Vote


Cara vote.


Kumpulkan poin di pusat misi, buka poin pada profilku. Selesaikan semua tugas, jika tugas sudah selesai kalian bisa vote author sebanyak mungkin. Dan vote bisa di lakukan setiap hari selama poin kalian ada, terimakasih.


Selamat Membaca.


***


Keesokan harinya Kevin sudah tiba di rumah sakit. Hari ini adalah jadwal Ziko keluar dari rumah sakit. Di rumah sakit sudah berkumpul semua keluarga.


" Pagi semuanya." Ucap Kevin menyapa semua anggota keluarga yang sedang ada di ruang rawat inap.


" Pagi." Jawab semuanya.


" Jam berapa tuan keluar dari rumah sakit?" tanya Kevin.


" Kita tinggal nunggu dokter visit saja." Ucap Zira.


Kevin menganggukkan kepalanya mengerti. Hampir satu jam mereka berkumpul di dalam ruangan rawat inap dan akhirnya dokter datang untuk melihat kondisi pasiennya.


Dokter tersebut melihat luka di perut pasiennya. Dia memastikan kalau luka itu sudah mengering sempurna.


" Baiklah, tuan sudah bisa pulang. Tapi tiga hari lagi kontrol kesini." Ucap dokter.


" Baik." Ucap Ziko.


Setelah dokter selesai visit, Kevin pergi kebagian adminstrasi. Dia menyelesaikan semuanya di sana.


Setelah menyelesaikan semua biaya adminstrasi Kevin kembali keruangan rawat inap. Mereka tinggal menunggu perawat membuka jarum infus di tangan Ziko.


Selang beberapa menit setelah Kevin kembali dari urusan adminstrasi, perawat datang dan membuka jarum infus di punggung tangan Ziko. Dan memberikan kursi roda kepada pasiennya. Perawat mendorong tubuh pasiennya sampai di depan pintu loby.


Ziko dan Zira pulang dengan Kevin. Tuan besar dan nyonya Amel mengendarai mobil sendiri.


Di dalam mobil.


" Akhirnya aku bisa melihat pemandangan ini." Ucap Ziko melihat jalanan ibu kota yang padat dengan lalu lintas.


" Iya sayang, aku senang kamu bisa selamat dari maut." Ucap Zira sambil mengelus lengan suaminya.


Kevin melirik kedua majikannya. Dia mencari momen yang tepat untuk membicarakan ceritanya.


" Kenapa kamu melirik kami? Apa kamu iri?" Ucap Ziko yang kedapatan melihat Kevin memperhatikan dia dengan istrinya.


" Boleh saya bicara?" ranya Kevin.


" Bicaralah." Ucap Zira.


" Bima sudah merestui hubungan kami." Ucap Kevin.


" Oh ya, selamat ya." Ucap Zira ikut senang.


" Bima siapa?" Ucap Ziko merasa nama yang di sebutkan asistennya terdengar asing di telinganya.


" Aduh sayang kamu itu semenjak keluar dari alam baka suka pelupa." Sindir Ziko.


" Keluar?" tanya Ziko bingung.


" Iya keluar, apa mau aku ganti dengan kata maju mundur cantik cantik." Ucap Zira ganjen


Ziko mengernyitkan dahinya, istrinya sudah banyak perubahan.


" Kamu kalau bertingkah seperti itu seperti cacing kepanasan." Ejek Ziko.


Zira langsung menghentikan tingkah ganjen nya.


" Bima itu adiknya Menik." Ucap Zira dengan memonyongkan bibirnya.


" Oh." Ucap Ziko singkat.


" Kok oh?" Ucap Zira.


" Terus aku harus ngapain? Joget-joget gitu." Ucap Ziko.


" Ya, setidaknya beri selamat kek apa kek." Ucap Zira.


" Selamat kek." Ucap Ziko.


" Kamu mengucapkan selamat kepada siapa? Di sini enggak ada yang namanya kakek-kakek." Protes Zira.


Ziko menghela nafasnya. Menurutnya Zira kalau sudah ngomong seperti rel kereta api yang tidak pernah berhenti.


" Selamat Vin, lanjutkan." Ucap Ziko memberikan selamat kepada asistennya.


" Iya tuan, saya memang mau melanjutkan ke tahap lebih lanjut yaitu tahap pernikahan. Tapi saya mau minta bantuan kepada tuan dan nona." Ucap Kevin.


Prok Zira memukul paha suaminya.


" Enak aja menang arisan panci, menang sarung tau." Ucap Zira, kemudian keduanya tertawa bersama-sama.


Dari kaca mobil Kevin melirik keduanya.


" Sudah selesai tertawanya? Saya belum selesai ngomong nih." Ucap Kevin kesal, karena omongannya selalu di jadikan candaan sama bosnya.


" Ok, silahkan Kevin." Ucap Zira.


" Saya tidak membutuhkan panci ataupun sarung. Saya hanya minta tuan dan nona membantu proses acara lamaran Menik."


" Proses lamaran? Bukannya kamu sudah melamar Menik di hadapan kami semua." Tanya Zira.


" Iya nona, tapi ada baiknya saya melamar secara formal, agar kedua keluarga saling dekat satu sama lain." Ucap Kevin sambil tetap menyetir mobil.


" Oh ya sudah lanjutkan kalau begitu. Tidak perlu kamu minta bantuan kami. Kamu sendiri bisa melakukannya. Betul tidak sayang." Ucap Zira.


" Hemmm." Ucap Ziko singkat.


" Justru itu masalahnya. Menik tidak punya keluarga, dia di dunia ini hanya dengan adiknya. Keluarga tidak ada. Jadi saya mau minta bantuan kepada nona dan tuan muda agar menjadi keluarga calon mempelai wanita." Ucap Kevin.


" Memang boleh seperti itu?." tanya Ziko.


" Boleh. Tapi sebaiknya kamu minta bantuan mama. Soalnya aku kurang paham dengan hal itu. Secara aku enggak pakai acara lamar melamar. Yang ada ancam dan mengancam." Sindir Zira sambil melirik Ziko.


" Iya iya memang aku enggak pakai acara melamar, tapi kalau kamu mau kita bisa ulang acara lamaran untuk kita."


" Udah basi tau." Ucap Zira ketus.


Ziko mencoba mengingat momen di mana dia telah melamar Zira.


" Sayang sepertinya aku pernah melamar mu, sama seperti yang seperti Kevin lakukan. Pada saat itu baru selesai sidang putusan cerai." Ucap Ziko.


" Itu kamu bilang lamaran?" tanya Zira sewot.


" Sstt diaaaaaaam!" Kevin marah.


Pasangan suami istri itu langsung menghentikan debatnya.


" Tuan dan nona, bisa tidak masalah kalian di skip dulu. Masalah saya belum selesai nih." Gerutu Kevin.


" Ok Vin, masalah kamu tidak terlalu sulit. Kamu tinggal minta ke mama dan papa. Kalau dari kami sih ok saja." Ucap Zira.


" Jadi boleh nih saya ke tuan besar dan nyonya besar?" tanya Kevin.


" Boleh saja, benar enggak sayang?" tanya Zira


Ziko menganggukkan kepalanya.


Mobil yang di kendarai Kevin sudah tiba di kediaman Ziko. Di belakang mobil mereka ada tuan besar dan nyonya Amel.


Kevin membantu bosnya turun dari mobil dan memapah ke dalam rumahnya.


" Tuan mau beristirahat dimana?" tanya Kevin.


" Di ruang keluarga saja." Jawab Ziko.


Kevin membawa Ziko ke ruang keluarga. Ziko langsung membaringkan tubuhnya di atas sofa. Karena menurutnya kalau dengan posisi duduk nyeri di bagian perutnya terasa. Sedangkan dengan posisi berbaring nyeri itu tidak terlalu terasa.


Nyonya Amel dan tuan besar ikut bergabung di ruang keluarga. Bik Inah langsung menawarkan minuman untuk majikan besar. Kevin ikut duduk di ruang keluarga, dia ingin memanfaatkan kesempatan itu dengan mengatakan niatnya kepada tuan besar dan nyonya Amel. Sedangkan Zira masih sibuk dengan semua pakaian kotor suaminya. Dia masih memilah pakaian yang bersih dan kotor.


" Tuan dan nyonya besar. Saya mau minta bantuan anda berdua." Ucap Kevin pelan.


" Apa? Katakan saja jangan sungkan-sungkan." Ucap tuan besar.


Kevin mengutarakan niatnya untuk mempersunting Menik. Dan dia juga mengutarakan niatnya untuk meminta keduanya membantunya sebagai keluarga calon mempelai wanita. Tidak lupa dia mengatakan tentang perihal keluarga Menik yang hanya dua bersaudara di bumi ini.


" Oh kasihan nya." Ucap nyonya Amel. Wanita paruh baya itu tersentuh hatinya ketika mendengar kalau Menik dan Bima tidak mempunyai keluarga. Jiwa sosialnya langsung bangkit.


" Kamu bawa saja, siapa nama calon istri kamu?" tanya nyonya Paula.


" Menik." Jawab Kevin.


" Nama yang lucu. Ya Menik bawa saja ke mansion, nanti kita bicarakan di sana. Bagaimana pa." Tanya nyonya Amel.


" Papa ikut saja." Ucap tuan besar.


Bersambung.


Ig. anita_rachman83


Author ada karya baru yang judulnya "Love of a Nurse" ceritanya penuh kejutan dan mendebarkan jantung. Penasaran??? Silahkan mampir ya