
Hampir semua orang mengenal Keluarga Raharsya dan hampir semua orang mengenal asisten Kevin. Asisten Kevin seorang yang sangat di takuti dia bertindak sangat rapih
dan cekatan. Dia selalu pasang badan apabila ada yang mengganggu keluarga Raharsya. Dia bisa sangat lembut tapi bisa juga mematikan.
Zira masih melukis sebuah gaun dia atas kertas putih. Ada suara langkah kaki berat dari anak tangga. Dia melihat kearah pintu siapa yang menuju ruangannya.
Pintu di buka dengan cepat. Ziko sudah berdiri dengan memegang handle pintu. Kemudian pria itu membanting pintu ruangan. Dia kaget sambil memegang dadanya karena pintunya di banting.
" Kenapa penampilannya kacau balau seperti ini, dan kenapa wajahnya seperti mengintimidasi ku." Gumam Zira pelan.
Ziko masih menatap Zira dengan penuh amarah, Zira menutupi wajahnya menggunakan kertas.
" Aduh kenapa lagi ini, aku jadi takut." Gumam Zira pelan sambil menutup wajahnya dengan kertas.
Suara langkah Ziko semakin dekat dan bisa di pastikan pria itu sudah berada di depan meja kerjanya. Dia langsung mengambil kertas yang di pegang calon istrinya secara kasar. Dia masih melihat dengan tatapan yang mematikan, dan Zira hanya melihat sekilas, dia ingin menutupi wajahnya.
Tapi tidak ada yang bisa menutupi wajahnya akhirnya Zira melekatkan wajahnya di atas meja dengan kedua tangan selonjor kebawah.
" Lihat aku." Teriak Ziko.
" Enggak." Ucap Zira samar sambil tetap meletakkan wajahnya di atas meja.
" Aku hitung sampai tiga, kalau kamu ..."
Belum sempat Ziko menyelesaikan kalimatnya Zira naik ke atas meja dan meletakkan wajahnya dekat dengan wajah Ziko.
Zira naik ke atas meja untuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah pria di depannya. Karena badan Zira yang kecil jika ingin menatap Ziko, dia harus mengangkat kepalanya tinggi-tinggi dan itu juga belum sejajar.
" Ada apa." Tanya Zira.
" Apa yang kamu lakukan hari ini." Bentak Ziko.
" Pagi bangun tidur masak mandi kemudian ..." Zira menggantung ucapannya.
" Tuan apa semuanya harus aku sebutkan seperti BAB." Tanya Zira.
" Jangan kamu sebutkan kebiasaan jorok mu padaku." Ucap Ziko tegas.
Zira mengangguk mengerti. Dia mengulang kembali ucapannya, semua yang dilakukannya di sebutkan kepada Ziko.
" Makan siang sama Lina kemudian...." Belum sempat Zira menyelesaikan ucapannya.
" Stop, kamu makan siang sama siapa dan dimana." Tanya Ziko cepat.
" Cih pertanyaannya melebihi polisi lagi interogasi." Ucap Zira cepat.
Ziko menggebrak meja. Zira langsung memegang dadanya karena kaget.
" Aku makan siang sama Lina di center mall." Jawab Zira cepat.
" Jangan bohong." Bentak Ziko.
" Enggak aku nggak bohong." Ucap Zira lagi.
Ziko mengambil ponselnya dari dalam sakunya. Melihat ponsel calon suaminya yang pecah layarnya Zira mencoba menggodanya.
" Tuan itu ponsel model baru ya." Goda Zira sambil menunjuk kearah ponsel Ziko.
Ziko langsung melotot mendengar ucapan calon istrinya. Zira langsung menutup mulut bawelnya.
" Ini siapa." Tanya Ziko sambil menunjukkan foto Zira.
" Aku." Jawab Zira cepat.
"Yang ini." Ucap Ziko lagi sambil menunjukkan foto Zira kembali.
Zira melihat fotonya sedang duduk dengan pria dan tangannya di cium pria tersebut.
" Aku yang bertanya kepadamu siapa ini." Tanya Ziko dengan intonasi yang tinggi.
" Enggak taulah tadi dia duduk di depanku, tidak pakai permisi langsung duduk saja, terus main comot aja tanganku." Ucap Zira menjelaskan.
" Jangan bohong." Teriak Ziko.
" Siapa yang bohong memang benar kok." Ucap Zira melakukan pembelaan.
" Dasar wanita murahan." Ucap Ziko spontan.
Prak Zira langsung menampar wajah Ziko.
" Siapa yang kamu bilang murahan siapa!" Teriak Zira.
Ziko memegang pipinya yang ditampar, belum pernah ada yang berani menamparnya.
" Ya aku memang murahan puas kamu." Bentak Zira sambil menatap tajam wajah pria di depannya.
" Kenapa kamu mau menikah dengan perempuan murahan seperti aku kenapa ha!" Teriak Zira lagi.
Ziko diam sejenak, kemudian dia melanjutkan ucapannya.
" Buktikan kepadaku kalau ucapan mu benar." Teriak Ziko.
" Ok." Ucap Zira sambil keluar ruangan.
Beberapa menit kemudian Zira balik ke dalam ruangannya bersama dengan Lina.
" Ini buktinya." Ucap Zira.
Ziko melihat ke arah Lina dan langsung mengajukan beberapa pertanyaan kepada Lina.
" Apa yang kamu ketahui tentang pria ini." Tanya Ziko sambil menunjukkan foto calon istrinya bersama pria asing.
Lina melihat foto Zira dari ponsel Ziko.
" Inikan pria gila itu." Ucap Lina cepat.
" Apa maksudmu." Tanya Ziko.
Lina menceritakan kejadian di food Court tadi siang.
" Baiklah aku percaya kepadamu, tapi sebagai hukumannya kamu harus makan siang bersamaku setiap hari tidak ada membantah." Ucap Ziko tegas.
Ziko pergi meninggalkan butik. Mobil melaju dengan kecepatan sedang.
" Selidiki semua yang bernama Bram dan cari tau nomor siapa ini." Perintah Ziko.
" Siap tuan." Ucap Kevin cepat.
" Sepertinya ada yang bermain-main denganku." Ucap Ziko.
Di butik.
" Mbak aku takut tadi waktu di tanyai sama tuan Ziko." Ucap Lina.
" Kenapa harus takut kita kan berkata benar." Ucap Zira meyakinkan.
" Mbak sepertinya tuan muda cemburu deh." Ucap Lina.
" Hahahaha ya enggak mungkinlah dia cemburu." Ucap Zira cepat.
Apa benar seorang Ziko cemburu dan untuk apa dia cemburu, apakah dia cemburu karena dia ada hati denganku. Ya Ampun kalau dia suka beneran bagaimana nih, ha ya aku pura-pura tidak ngerti saja.
" Like komen dan vote yang banyak ya, vote nya jangan kendor harus semangat dong biar author juga semangat. Bagi readers yang belum vote di tunggu ya votenya terimakasih."