Menikah Karena Ancaman

Menikah Karena Ancaman
episode 418 (S2)


Jenazah papanya Kevin sudah di kebumikan. Kerabat sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Tinggal keluarga Raharsya dan keluarga Jasmin yang masih berada di rumah duka.


Jesy mendekati mamanya yang sedang melamun.


"Ma, makan yuk." Ucap Jesy.


Nyonya Paula tidak menjawab, dia malah tambah menangis. Kevin dan Menik menghampiri. Keluarga yang lain hanya melihat dari jarak yang tidak terlalu jauh.


"Mama jangan menangis lagi, mama harus ikhlaskan papa." Ucap Kevin menenangkan.


"Kalau mama tau papa mau pergi pasti mama buatkan makanan kesukaannya. Tapi mama tidak menurutinya. Mama menyesal, hiks hiks."


Semua yang ada di situ ikut menangis, mereka ikut merasakan kesedihan yang di rasakan keluarga Kevin.


"Bodohnya mama." Nyonya Paula menyesali semuanya.


"Ma, jangan seperti itu, mama harus sabar semua sudah kehendak yang Kuasa." Ucap Kevin.


"Benar tante, kasihan om kalau tante terus meratapi. Ikhlaskan kepergian om."


Menik mengambil piring yang ada di meja makan, dia mengisi dengan nasi dan lauk pauk.


"Tante makan dulu." Ucap Menik menyuapi.


Wanita paruh baya itu menolak untuk makan. Malah pergi meninggalkan semuanya ke kamar.


"Biarkan saja Nik, mungkin mama ingin sendiri. Nanti aku yang suapi mama." Ucap Kevin.


Keluarga Raharsya sudah pulang dari rumah duka begitupun dengan keluarga Jasmin juga sudah pulang. Hanya Menik yang masih berada di situ.


"Aku ke kamar ya, mau lihat tante. Soalnya sudah malam tapi tante belum makan." Ucap Menik.


"Iya." Ucap Kevin.


Menik mengetuk pintu kamar dan membuka secara perlahan. Dia melihat mamanya Kevin masih duduk di kursi roda almarhum suaminya.


"Tante makan yuk." Ucap Menik.


"Tante tidak lapar."


"Nanti tante sakit, Menik suap ya?" Ucap Menik lagi.


"Pergi! Tante tidak mau makan apapun." Teriak tante Paula.


Kevin dan Jesy mendengar suara itu dari luar. Mereka masuk ke dalam kamar mamanya.


"Kenapa Nik?" tanya Kevin.


"Aku mau menyuapi tante, tapi tante marah." Ucap Menik.


"Mama yang di katakan Menik benar. Mama harus makan." Ucap Kevin.


"Diammmmmm! Kamu pembawa sial. Semua karena kamu. Karena kamu Kevin pergi dari london dan karena kamu, suamiku sakit stroke. Karena acara lamaran itu suamiku pergi. Pergi kamu dari sini. Pergiiiii!" Teriak nyonya Paula.


Menik diam, air matanya mulai menganak


"Mama, ini bukan salah Menik, dulu aku pergi dari london dan tidak kembali bukan karena ada Menik. Pada saat itu kami belum bertemu dan pertemuan kami baru tahun ini. Jadi penyebab papa stroke bukan karena Menik. Dan meninggalnya papa tidak ada hubungannya dengan Menik." Ucap Kevin.


"Jangan kamu bela dia, mama benci sama dia. Keluar kamu jangan pernah tunjukkan wajahmu di depanku." Teriak nyonya Paula.


Menik langsung keluar, air matanya sudah tidak terbendung lagi. Kevin mengejar Menik.


"Nik maafkan mama, mungkin mama sedang stress." Ucap Kevin.


"Aku pulang, memang tidak seharusnya kita bersama." Ucap Menik sambil berlalu meninggalkan Kevin.


Kevin mengejar Menik. Dia menarik tangan calon istrinya.


"Nik, jangan ngomong seperti itu. Aku yakin kalau mama sudah tenang pasti tidak akan mengatakan itu lagi." Kevin memeluk calon istrinya


"Hiks hiks." Menik menangis di dalam pelukan Kevin.


"Maafkan mama ya, mama memang sering seperti itu. Mama tidak bisa menerima kenyataan kalau papa meninggal."


"Kalau ternyata tante masih marah samaku bagaimana." Ucap Menik dengan isak tangisnya.


"Aku dan Jesy akan memberikan pengertian kepada mama. Ayo aku antar." Kevin menarik tangan Menik dan membawa wanita itu ke dalam mobilnya.


Di dalam mobil Menik masih saja menangis, Kevin sudah melajukan mobilnya menuju jalan raya. Dia mengelus rambut calon istrinya.


Menik berusaha untuk tidak menangis, tapi kata-kata nyonya Paula selalu terngiang di telinganya yang membuatnya susah untuk membendung air matanya.


"Nik, sudahlah jangan menangis, anggap saja omongan mama tadi hanya omongan orang tua yang lagi stres karena kehilangan suaminya." Ucap Kevin menenangkan Menik.


Menik mengusap air matanya. Dia berusaha berpikir positif tentang semuanya. Mobil sudah sampai di depan loby apartemen. Kevin mematikan mesin mobil dan melihat ke arah calon istrinya.


"Jangan pernah menangis lagi ya." Ucap Kevin sambil memegang kedua tangan Menik.


Menik menganggukkan kepalanya.


"Kamu wanita pilihanku. Kita sudah memperjuangkan cinta kita. Tidak ada yang bisa memisahkan cinta kita. Cintaku kepadamu tidak pernah berkurang malah terus bertambah. Jangan ragukan cintaku." Ucap Kevin sambil mengecup punggung tangan Menik.


"Ajarkan aku untuk selalu bisa mencintaimu dalam suka maupun duka." Ucap Menik.


Kevin menganggukkan kepalanya, dia turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Menik sambil mengulurkan tangannya kehadapan calon istrinya.


Wanita itu menyambut uluran tangan calon suaminya. Mereka sekarang berdiri saling berhadapan.


"Aku mencintaimu." Ucap Kevin kemudian mengecup bibir Menik.


"Ehem." Ucap seseorang. Kevin dan Menik melihat ke arah samping mereka.


Ada security apartemen berdiri tidak jauh dari mereka. Pria itu menggelengkan kepalanya.


"Dia calon istri saya." Ucap Kevin sambil mengangkat tangan Menik, menunjukkan cincin yang ada di jari manis calon istrinya kepada bapak security itu.


"Terus kalau calon istri bapak, bisa suka-suka main comot di depan umum." Sindir bapak security.


"Maaf pak, saya lagi menenangkannya pak, tadi dia menangis." Ucap Kevin.


Bapak security mengerutkan dahinya.


"Kalau anda mau menenangkan calon istri anda bukan di sini tempatnya."


"Maaf pak." Ucap Menik menyudahi perdebatan itu.


"Cepat kamu pulang." Ucap Menik.


"Kamu mengusirku." Ucap Kevin.


"Enggak, tapi tante membutuhkanmu di sana." Ucap Menik


"Baiklah aku pulang ya, pak titip calon istri saya. Jangan sampai lecet ya." Gurau Kevin.


Bapak security mengerang kesal. Menik tersenyum malu dan langsung masuk ke dalam apartemen. Dan Kevin sudah melajukan mobilnya kembali menuju rumahnya.


Di dalam apartemen sudah ada Bima yang berkutat dengan permainannya.


"Kakak udah pulang." Ucap Bima tanpa menoleh sama sekali. Dia sibuk dengan permainannya.


"Hem." Jawab Menik singkat sambil duduk di sebelah adiknya. Dia menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.


"Kenapa? Kalau letih sana istirahat." Ucap Bima.


"Pernikahan kakak di undur." Ucap Menik.


Bima menghentikan permainannya. Dia melihat ke arah kakaknya.


"Maksudnya di undur di tunda?" Ucap Bima.


"Iya." Jawab Menik singkat.


"Sampai kapan?" tanya Bima.


"Entah." Jawab Menik singkat.


"Apa karena musibah ini atau karena ada hal lain?" tanya Bima penuh selidik.


"Karena musibah ini." Ucap Menik. Dia enggan memberitahukan kepada adiknya kalau dia baru saja di marahi calon mertuanya. Menurutnya apa yang di katakan Kevin benar. Kalau sampai Bima tau kakaknya telah di caci maki dengan menyebut kata sial, bisa di pastikan Bima akan marah dan restu akan hilang dengan sekejap.


Bersambung.


"**Jangan lupa like, komen dan vote yang banyak ya."


Follow ig. anita_rachman83**