Menikah Karena Ancaman

Menikah Karena Ancaman
episode 443 (S2)


"Aaaaa." Ziko berteriak kaget.


"Kenapa kamu teriak." Ucap Zira.


"Kamu malam-malam berdiri di tempat gelap, rambut acak-acakkan, perut besar belum pakai baju warna putih, ih serem." Ucap Ziko.


"Kamu di kamar mandi ngapain aja." Tanya Zira heran.


"Aku kebelet." Jawab Ziko cepat. Zira memperhatikan wajah dan tangan suaminya.


"Kebelet kok bawa ponsel." Ucap Zira heran.


"Biar enggak bosan, jadi aku mendengar musik di dalam kamar mandi." Ucap Ziko gugup.


"Pasti ponselmu bau." Ucap Zira sambil berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Ziko duduk di pinggir kasur, dia mendapat kiriman foto dari asistennya. Dia memperhatikan foto itu dengan seksama.


"Udah malam tidur." Ucap Zira mengagetkan suaminya.


"Iya sayang." Ziko meletakkan ponselnya. Dia membaringkan badannya di sebelah istrinya.


"Sayang, kamu jangan suka berdiri di tempat gelap."


"Memangnya kenapa?" tanya Zira.


"Kamu kalau berdiri di tempat gelap seperti kuntilanak kehilangan senter." Ucap Ziko.


"Kamu pun sama, seperti tuyul kegelapan." Jawab Zira spontan.


"Bukannya tuyul dan kuntilanak dari dunia kegelapan." Ucap Ziko.


"Memang, apa harus aku ganti kamu tuyul dari dunia remang-remang?" Ucap Zira.


"Hahaha, kamu selalu membuatku tertawa." Ucap Ziko gemas sambil memeluk istrinya.


"Jangan pernah tinggalkan aku." Ucap Ziko pelan.


"Tergantung." Jawab Zira singkat.


"Kenapa tergantung." Ucap Ziko heran.


"Mana mungkin kamu mengintil aku terus, kalau aku ke toilet apa kamu mau ikut juga." Ucap Zira.


"Ya enggaklah bau." Jawab Ziko. Keduanya kembali tertawa bersama.


"Sayang jangan kencang-kencang tertawanya, ingat ini sudah malam malah sebentar lagi udah pagi. Aku takut kamu kesurupan." Ucap Ziko mengingatkan.


Zira memejamkan matanya, tapi Ziko tidak bisa menutup matanya, dia masih mengingat foto yang di kirim Kevin.


"Sayang."


"Hemmm." Jawab Zira.


"Apa kamu punya saudara?" tanya Ziko.


"Enggak ada, aku anak tunggal sama seperti almarhum bapakku." Jawab Zira dengan mata tertutup.


"Apa kamu yakin." Ucap Ziko lagi.


Zira langsung membalikkan badannya menghadap ke arah suaminya.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? apa kamu tidak percaya denganku." Ucap Zira lagi.


"Percaya sayang, kalau almarhum bapak kamu punya saudara tidak?" tanya Ziko lagi.


"Enggak ada, yang aku tau dari eyang uti. Eyang uti itu lama baru dapat bapakku, makanya anaknya cuma satu." Jelas Zira.


"Oh gitu."


Lalu foto siapa itu.


"Kenapa kamu bertanya seperti ini? tidak biasanya kamu bertanya tentang asal usulku." Ucap Zira curiga.


"Apa salah kalau aku bertanya tentang asal usulmu, mengingat kamu wanita yang misterius. Jadi kalau nanti anak kita lahir, terus besar dia kalau bertanya bagaimana? kan lucu kalau bapaknya sendiri tidak tau asal usul istrinya." Ucap Ziko menghindari kecurigaan istrinya.


"Aku sudah memberitahukan asal usulku semuanya, dan kekayaanku juga." Ucap Zira.


"Sudah, kamu kenapa sih?" Ucap Zira penasaran.


"Enggak ada, kapan kamu menunjukkan foto keluargamu samaku?" tanya Ziko lagi.


"Oh iya, foto ibu dan bapak ada di rumah eyang. Besok bisa temani aku ke rumah eyang? aku mau mengambil foto keluargaku." Ucap Zira.


"Baik sayang, kalau perlu bawa saja semua foto silsilah keluargamu. Biar ada kenang-kenangan." Ucap Ziko.


"Aku kurang paham dengan silsilah keluargaku, aku hanya mengenal orang tua dari bapak dan ibu, tapi untuk sanak saudara aku tidak pernah tau. Karena eyang tidak pernah membicarakannya kepadaku." Jelas Zira.


"Ya sudah tidur." Ziko mengecup bibir istrinya sebagai pengantar tidur untuk orang terkasihnya.


Aku tidak tau siapa yang ada di foto itu, tapi perasaanku tidak enak. Sebagai suami aku akan selalu menjagamu dan akan berada paling depan dan selalu melindungimu dan anak-anak kita.


Ziko mengelus rambut istrinya sampai terlelap. Dia kembali memejamkan matanya, baru setengah jam tertidur, Ziko kembali terbangun. Dia melihat istrinya mengigau.


"Siapa kalian, mau di bawa kemana anakku, lepaskan." Zira mengigau.


"Sayang bangun." Ziko membangunkan istrinya.


Zira membuka matanya, keringat membasahi wajah dan dahinya.


Ziko memberikan air putih kepada istrinya. Zira meminum air pemberian suaminya.


"Kamu mimpi apa." Ziko mengelap keringat yang membasahi wajah dan dahi istrinya.


"Aku mimpi jelek, anak kita mau di ambil sama orang yang tidak di kenal." Ucap Zira takut.


"Tenang sayang, itu hanya mimpi. Aku akan selalu menjaga kamu dan anak-anak kita." Ucap Ziko menenangkan sambil memeluk istrinya.


"Tapi mimpi itu seperti nyata. Dan wajahnya seperti tidak asing." Ucap Zira.


Mendengar kata wajah tidak asing, jantung Ziko langsung berdebar. Rasa penasarannya tentang orang yang ada di dalam foto itu semakin dalam.


Tapi dia berusaha untuk menahan semuanya, dia tidak ingin pikiran istrinya terganggu dengan hal-hal lain. Masih ingat pesan dari dokter kandungan kalau ibu hamil tidak boleh stres karena akan mengganggu kandungan. Apalagi Zira sedang hamil kembar, resikonya lebih besar. Jika sampai Zira stres bisa di pastikan dia melahirkan prematur, itu yang selalu di ingat Ziko.


Sebagai suami dia harus siaga dan waspada. Dia tidak mau hal dulu terulang lagi, karena keteledoran bayinya meninggal.


"Tidurlah itu hanya bunga tidur. Tidak semua mimpi itu akan menjadi kenyataan, mungkin karena kamu baru nonton film tentang penculikan bayi." Ucap Ziko mengingatkan istrinya tentang film yang di tonton mereka sebelum tidur.


"Mungkin juga." Ucap Zira singkat.


"Tidurlah, sebentar lagi sudah mau masuk subuh, kamu masih bisa tidur." Ucap Ziko.


Zira kembali memejamkan matanya. Ziko terus mengelus rambut istrinya sampai benar-benar terlelap. Dan akhirnya mereka tertidur pulas.


***


Kevin dan Menik sudah bersiap-siap menuju bandara. Mereka hanya mengunjungi dua negara. Padahal rencananya bulan madu akan di lakukan di tujuh negara. Tapi mengingat teror itu, keduanya berniat mengakhiri perjalanannya.


Taksi sudah melaju menuju bandara, mereka memilih penerbangan paling pagi. Jalanan belum terlalu ramai dengan kendaraan bermotor, dalam tiga puluh menit taksi sudah sampai di bandara. Supir membantu menurunkan koper mereka. Kevin dan Menik menuju pintu keberangkatan. Tiba-tiba ada segerombolan orang menghadang jalan mereka.


"Who are you guys (siapa kalian)" Ucap Kevin. Menik dan Kevin di bawa ke tempat lain dari sisi bandara. Menik ketakutan, dia terus memegang tangan suaminya.


Pertanyaan Kevin tidak di jawab, segerombolan pria itu terus membawa mereka. Di sebuah tempat ada sepasang wanita dan pria. Wajahnya tidak menunjukkan darah campuran.


"Who are you (siapa kamu)" ucap Kevin ketus. Tiba-tiba keluar pria yang beberapa hari mengikuti Kevin dan Menik.


"Kamu." Kevin ingin menghampiri dan menghajar pria yang mengikutinya, tapi langkahnya sudah di halangi segerombolan pria itu.


Pria yang duduk di kursi bertepuk tangan.


Prok prok


"Aku tidak akan menahanmu lebih lama di sini. Mengingat pesawatmu akan segera berangkat, jadi kita mulai saja. Aku Langit dan ini Pelangi, tidak perlu di jelaskan siapa kami. Aku hanya ingin kamu menyampaikan pesanku kepada Amrin kalau kami akan datang, persiapkan penyambutan untuk kami." Ucap Pria yang bernama langit. Pria yang bernama langit menjentikkan jarinya memerintahkan orangnya untuk melepaskan Kevin dan Menik.


Kevin dan Menik buru-buru kembali ke bandara dan masuk melalaui pintu keberangkatan. Masing-masing sudah penuh dengan pertanyaan, tapi mereka simpan sampai ada kesempatan.


Bersambung.


Vote untuk kedua karya author "Menikah Karena Ancaman" dan "Love of a Nurse" agar updatenya tambah semangat, makasih.