
Zira duduk manis di sofa, Ziko memperhatikan dengan seksama.
" Ada apa? Kenapa kamu melihat istrimu seperti itu?" Zira melihat dengan penasaran karena suaminya menatapnya dengan tajam.
" Ada apa antara kamu dengannya?" Ucap Ziko sambil menunjuk kearah pintu.
" Maksud kamu si kuntilanak?" Tanya Zira balik.
" Kuntilanak! jadi yang kamu sebut kuntilanak tadi dia." Ucap Ziko cepat sambil menunjuk kearah pintu.
Zira menganggukkan kepalanya. Sedangkan Ziko mengacak rambutnya.
" Jadi dari tadi kamu enggak kesurupan?" Tanya Ziko balik sambil mengacak rambutnya.
" Enggak." Ucap Zira datar.
" Kenapa kamu enggak bilang." Ucap Ziko sambil memegang kedua pipi Zira dengan tangannya.
" Lah siapa yang menyuruhmu berpikir kalau aku kesurupan, udah jelas-jelas aku lagi marah sama kamu." Ucap Zira santai.
" Marah kenapa?" Tanya Ziko balik sambil melihat istrinya.
" Marah kenapa? Kamu lupa ya, kamukan mau keluar negeri bareng si kuntilanak dan alasan kamu saja bilang ke aku bahasa Inggrisku buruk." Ucap Zira cepat.
Ziko tertawa kecil. Dia mencubit pipi Zira.
" Aku tidak pergi bareng dia, dan aku pergi dengan Kevin. Apakah hatimu sudah tenang sekarang?" Ucap Ziko pelan sambil memeluk Zira.
" Sedikit." Ucap Zira cepat.
" Kalau banyak enggak apa-apa kok." Ucap Ziko senang.
Ziko merasa senang karena istrinya sudah ada rasa cemburu kepada wanita lain.
" Kenapa kamu memberinya julukan kuntilanak, apa tidak ada yang lebih seram lagi." Ucap Ziko tertawa.
Zira pun ikut tertawa kecil. Tidak berapa lama pintu di ketuk dan Kevin datang dengan membawa beberapa bungkus makanan. Kevin melihat kemesraan mereka berdua. Dia merasa senang dengan kebahagiaan yang di pertontonkan kepadanya.
" Apakah saya mengganggu?" Tanya Kevin cepat.
" Tidak." Ucap Ziko cepat.
Kevin masih tersenyum melihat mereka.
" Ada apa asisten Kevin kenapa kamu tersenyum-senyum seperti itu, kamu enggak kesurupan juga kan?" Tanya Zira penasaran.
Kevin tertawa kecil.
" Enggak nona, saya senang melihat kalian, pengen rasanya saya ikut dalam kebahagian kalian." Ucap Kevin bahagia.
Ziko dan Zira saling pandang dan melihat kearah Kevin.
" Duduklah asisten Kevin." Ucap Zira pelan.
" Apakah kamu sakit?" Tanya Zira heran.
Kevin menggelengkan kepalanya.
" Terus kenapa kamu berkata seperti itu? Apakah kamu ingin mempunyai pasangan?" Tanya Zira pelan.
Kevin langsung melihat kearah pasangan suami istri itu begitupun dengan Ziko, Ziko melihat kearah asistennya.
Kevin tidak menjawab dia hanya menundukkan kepalanya.
" Asisten Kevin kenapa kamu tidak mencari pasangan, kamu pernah trauma atau suka sesama jenis." Tanya Zira pelan.
Kevin yang sedang menundukkan kepalanya langsung mengangkat kepalanya dengan cepat. Sedangkan Ziko tertawa terbahak bahak
" Saya normal nona." Ucap Kevin cepat.
Zira masih mendengarkan Kevin berbicara.
" Mungkin saya belum menemukan
jodoh." Jawab Kevin pelan.
Zira berusaha menghibur Kevin.
" Sudahlah aku yakin pasti kamu akan menemukan jodoh terbaikmu." Ucap Zira cepat sambil menghibur Kevin.
Zira dan Ziko makan satu piring berdua, dan Kevin ikut makan di situ karena permintaan istri bosnya. Mereka menikmati makanannya dan sesekali mengobrol.
" Suamiku apakah aku bisa pindah kesini?" Tanya Zira pelan.
Zira bertanya seperti itu karena dia merasa khawatir dengan kuntilanak di depan sedangkan Kevin mengerti maksud ucapan Zira. Zira merasa cemburu dengan Kia. Dia tidak mau mengakui tapi sikap dan perbuatannya menunjukkan kecemburuan.
" Ya aku ingin ada ruangan di gedung ini." Ucap Zira sok manja.
" Kamu kan memang ada ruangan kursus sendiri." Ucap Ziko cepat sambil mengunyah makanannya.
Zira sebel dia tidak mau menyuapi suaminya. Ziko yang sudah membuka mulutnya tapi tidak di suapi istrinya, Zira malah menyuapi dirinya sendiri.
Ziko memegang tangan istrinya sambil menunjukkan mulutnya yang kosong.
" Makan nih sendiri." Ucap Zira ngambek.
Ziko yang melihat istrinya ngambek tambah bingung.
" Kenapa lagi ini." Tanya Ziko ke Kevin.
" Mungkin maksud nona Zira, dia ingin ada ruangan khusus untuknya." Ucap Kevin menjelaskan.
Ziko berpikir licik.
" Kamu kan sudah ada ruangan khusus itu di situ." Ucap Ziko sambil menunjuk kearah ruangan yang di dalamnya ada kasur.
Zira mencubit lengan Ziko.
" Kenapa sih kamu berpikiran mesum terus. Aku itu mau ada tempat atau ruangan pribadi di gedung ini titik sebesar gajah enggak pakai koma apalagi di bantah." Ucap Zira cepat.
" Memangnya untuk apa ruangan itu?" Ziko bertanya heran karena dia memang tidak mengerti dengan arah pembicaraan Zira.
Zira mulai kesal dia memalingkan wajahnya.
" Vin jelaskan." Ucap Ziko cepat.
Kevin yang akan menyuapkan nasi ke dalam mulutnya berpaling melihat Ziko.
" Saya tuan?" Ucap Kevin cepat.
" Iya kamu, memang ada berapa Kevin di ruangan ini?" Ucap Ziko ketus
Kevin mulai memikirkannya dia memandang ke depan ke samping dan keatas. Ziko dan Zira mengikuti arah gerakan kepala Kevin. Asisten suaminya memandang ke atas. Ziko masih menunggu Kevin untuk menjelaskan.
" Vin bagaimana." Ucap Ziko sambil melihat ke atas mengikuti Kevin.
" Tuan sepertinya bola lampunya sudah mulai redup." Ucap Kevin polos.
Zira tertawa mendengar ucapan Kevin karena yang di ucapkan dia tidak saling menyambung. Sedangkan Ziko melemparkan sesuatu kearah Kevin.
" Bisa enggak kamu serius." Ucap Ziko sambil merapatkan giginya.
" Oh iya tuan, jadi begini nona Zira mau ruangan khusus untuknya agar dia bisa mendesain disini karena kalau disana nona Zira akan banyak menghabiskan waktu di jalan belum lagi siang ada kursus. Betul enggak nona?" Ucap Kevin sambil menanyakan balik ke Zira.
Zira mengangguk cepat. Sedang Ziko mengernyitkan dahinya.
" Kalau butik kamu di sana dan kamu desain di sini, apa kamu enggak repot nantinya." Tanya Ziko balik.
Zira menggelengkan kepalanya cepat.
" Baiklah kalau itu permintaanmu akan aku turuti. Kevin siapkan ruangan khusus untuk istriku." Ucap Ziko cepat.
Setelah selesai makan siang Kevin langsung meninggalkan ruangan itu dan menyiapkan ruang khusus untuk Zira. Zira pergi ke ruangan lain untuk kursus bahasa Inggris. Ziko melanjutkan pekerjaannya.
Kia mengetuk pintu ruangan bosnya. Dia masuk ke dalam ruangan Ziko.
" Ada apa." Tanya Ziko ketus.
Kia berusaha untuk sabar menghadapi sifat dingin bosnya.
" Maaf tuan apa anda ingin kopi lagi?" Ucap Kia basa basi.
Ziko sama sekali tidak memperhatikan Kia, dia hanya memandang setumpuk file yang ada di mejanya.
" Enggak usah aku enggak haus." Ucap Ziko ketus.
Kia masih tetap tersenyum walaupun bosnya tidak memperhatikannya.
" Apakah tuan membutuhkan yang lain." Tanya Kia cepat.
" Enggak." Ucap Ziko tegas.
Kia tidak putus asa dia hanya ingin mendekatkan dirinya dengan bosnya dan kalaupun bosnya terpikat itu merupakan bonus buatnya.
Kia mengenakan setelan jas dengan rok di atas lutut sehingga lekuk tubuhnya terlihat sempurna. Dia memberanikan diri untuk mendekati bosnya dengan berdiri di samping Ziko. Ziko baru menyadari ketika dia menoleh ada Kia di sampingnya.
" Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih."