
" Hargai karya author dengan vote, like dan komen, terima kasih."
Selamat Membaca.
***
" Iya, aku memang bercita-cita jadi tukang teralis." Ucap Zira sambil memonyongkan bibirnya.
Mereka melakukan pertengkaran kecil.
Melihat kedua mahluk di depannya Kevin tersenyum. Dia merasa lucu jika sepasang suami istri itu bertengkar. Yang di permasalahkan keduanya sebenarnya hanya masalah sepele. Tapi itu yang membuatnya lucu. Tingkah dua sejoli itu selalu membuatnya tertawa.
" Sudah cukup bertengkar nya, sekarang izinkan saya yang bicara." Ucap Kevin.
Sepasang suami istri itu berhenti bertengkar dan langsung menoleh kearah Kevin.
" Bicaralah, kami akan mendengarkan." Ucap Zira.
Kevin menghembuskan nafasnya secara perlahan.
" Hey, kami suruh kamu bicara bukan mendengar helaan nafas mu." Komplain Ziko.
" Iya tuan, sebelum berbicara saya mengambil nafas dulu." Ucap Kevin.
" Semua orang hidup pasti bernafas. Kecuali kamu udah meninggal." Ledek Zira.
Ziko melihat istrinya.
" Kenapa? Apa yang salah dengan ucapanku?" tanya Zira.
" Apa kamu lupa kalau aku baru kembali dari alam baka." Ucap Ziko.
" Ops, sorry aku lupa." Ucap Zira menutup mulutnya dengan jari tangannya.
" Baiklah apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Zira sambil melihat Kevin.
" Tuan sudah sadar dan telah kembali. Tapi bagaimana dengan nasib saya." Gerutu Kevin.
" Maksud kamu apa sih?" tanya Zira.
" Iya, kamu kalau ngomong to the point saja, jangan mencla mencle kayak waria dikejar satpol pp saja." Ejek Ziko.
" Begini tuan, mohon bantu saya untuk menaklukan hati Bima." Rengek Kevin.
" Ah segitu saja kamu tidak bisa. Gunung rinjani bisa kamu taklukan, masa hati si Bima yang beku tidak bisa kamu lelehkan." Ejek Ziko.
" Ah tuan kelamaan di alam baka. Mana pernah saya naik gunung paling jauh saya panjat pohon." Ucap Kevin.
" Terserahlah, mau panjat pohon mau ngesot yang jelas kamu pria cemen." Ejek Ziko lagi.
" Tuan kalau sama-sama cemen jangan kencang-kencang ngomongnya." Ejek Kevin.
" Apa maksudmu." Ucap Ziko kesal.
" Sstt cukup, jangan bertengkar kita di rumah sakit bukan di pasar." Ucap Zira.
" Kamu ya, baru pulang dari alam baka udah sok jago. Semua mau di lawan." Sindir Zira.
" Vin, mamak Thanos marah." Sindir Ziko.
Zira melepas sepatunya ada gelagat tidak enak di lihat Ziko.
" Sayang, di sini tidak ada meja. Kenapa sepatumu dilepas?" tanya Ziko.
" Aku mau naik keatas kasur." Ucap Zira sudah memberi ancang-ancang.
" Stop, baik kami diam. Kamu boleh bicara tapi jangan naik keatas kasur." Ucap Ziko melarang istrinya.
Zira tidak jadi naik keatas. Dia kembali duduk di sebelah suaminya.
" Kevin sebenarnya masalah kamu tidak rumit. Tapi caramu saja yang salah." Ucap Zira.
" Salah bagaimana?" tanya Kevin bingung.
" Hemmm begini. Apa selama kamu dekat dengan Menik, apa pernah kamu mendekati Bima?" tanya Zira.
" Pernah dan itu pada saat di apartemen. Saya mau minta maaf tapi dia marah. Malah saya di tinggalkannya berdua dengan Menik." Ucap Kevin.
" Baru satu kali saja dibanggakan. Coba kalau ke apartemen Menik jangan hanya kakaknya saja kamu incar, tapi dekati adiknya."
" Caranya bagaimana?" tanya Kevin.
Zira menepuk dahinya.
" Pusing pala barbie." Ucap Zira.
" Badan besar mental tempe, udah gitu lola lagi.." Ejek Ziko.
" Lola?" Ucap Kevin bingung.
" Loading lama." Ucap Ziko dan Zira bersamaan.
Tok tok tok.
" Siapa yang datang. Bukannya mama dan papa sudah pulang." Ucap Zira pelan.
" Vin lihat, mana tau ada mayat yang kesasar." Ucap Ziko.
Kevin berjalan kearah pintu. Dia melihat dua orang di depannya.
" Bagaimana keadaan Ziko?" tanya Vita.
" Sebentar." Ucap Kevin kembali menutup pintu ruangan.
" Vita dan Fiko." Ucap Kevin.
" Berhubung hanya boleh dua orang saja yang menjenguk jadi saya keluar." Ucap Kevin.
" Hey kalau kamu keluar siapa yang mengajak ngobrol suaminya." Ucap Ziko.
" Tuan dan nona." Ucap Kevin sambil menunjuk kearah majikannya.
" Enak aja. Kalau sama Vita boleh tapi suaminya aku enggak mau." Ucap Ziko.
" Dasar genit, bisa-bisanya mikirin Vita. Baik kalau gitu suruh keduanya masuk. Aku bicara sama Fiko dan kamu sama istrinya, bagaimana?" Zira merapatkan giginya.
" Tidak boleh, nanti kita di tegur perawat." Ucap Kevin.
" Ya sudah, kamu ladeni pengantin baru itu. Aku pergi." Ucap Zira cemburu.
" Kamu cemburu ya."
" Jelas cemburu secara dia mantan kamu." Ucap Zira sewot.
" Apa kamu pikir aku tidak cemburu kalau kamu berbicara dengan suaminya." Ziko ikut sewot.
Sepasang suami istri itu bertengkar.
" Tuan dan nona yang terhormat. Ini tamu kita usir aja bagaimana? Biar kalian berdua tenang." Ucap Kevin menengahi keduanya.
Sepasang suami istri itu diam.
" Untuk apa cemburu, mereka sudah berumah tangga. Mungkin sekarang keduanya lagi di mabuk judi." Ucap Kevin.
" Mabuk cinta." Ucap Zira.
" Nah itu. Mungkin anda berdua hanya mantan yang singgah di hati mereka. Tapi hati sesungguhnya sudah di dapatkan keduanya." Ucap Kevin.
Zira dan Ziko bertepuk tangan.
" Super sekali bijak sekali. Kamu seperti Mario Runtuh." Ucap Ziko.
Kevin membusungkan dadanya membanggakan diri karena baru di beri pujian oleh bosnya.
" Bagaimana? Apa dua orang itu saya suruh masuk apa saya suruh jenguk orang lain." Ucap Kevin.
" Ya sudah suruh masuk. Tapi kamu juga di sini." Perintah Ziko.
" Kalau ditegur perawat bagaimana?" Ucap Kevin
" Bilang sama perawat, Ziko Raharsya akan mencabut sahamnya." Ucap Ziko sombong.
" Cih, sombong." Sindir Zira.
Kevin membuka pintu untuk Vita dan Fiko.
" Maaf lama menunggu, silahkan." Ucap Kevin mempersilahkan keduanya masuk.
Sepasang suami istri itu masuk dengan membawa tentengan berupa keranjang buah.
" Bagaimana keadaan kamu?" tanya Vita sambil menyalami Ziko.
" Uhuk uhuk." Melihat itu Zira terserang batuk musiman.
Semua melihat ke arah Zira. Ziko tidak jadi menyambut uluran tangan dari Vita.
" Sudah jauh lebih baik." Ucap Ziko.
Fiko mengulurkan tangannya ke arah Ziko. Dengan berat hati dia menyambut uluran tangan pria itu.
" Maaf pesta kamu rusak karena kami." Ucap Zira.
" Tidak apa-apa. Yang penting kamu dan suamimu selamat." Ucap Fiko.
Vita banyak berbicara dengan Ziko. Sedangkan Zira hanya melihat keakraban keduanya.
" Pelaku sudah tertangkap kan?" tanya Fiko ke Zira.
" Eh sudah." Ucap Zira gugup.
Fiko banyak ngobrol dengan Zira. Ziko sekilas melirik keduanya.
" Uwek." Ziko terkena mual musiman.
Vita yang berada di depannya langsung panik.
" Kamu enggak apa-apa." Ucap Vita tanpa sengaja memegang bahu Ziko. Dan itu di saksikan istrinya.
Zira tidak mau kalah dia mengeluarkan batuk musiman nya. Kedua tamu itu bingung, suami istri saling mual dan batuk.
" Kalian sakit apa sih?" Ucap Vita bingung sambil melihat kearah Kevin seperti minta penjelasan kepada pria itu.
" Tidak usah di pikirkan. Nanti keduanya juga sembuh dengan sendirinya." Ucap Kevin.
" Kalian tidak terkena virus kan? Soalnya kalian menunjukkan gejalanya." Ucap Vita khawatir.
" Tidak, tapi kalau kamu khawatir seharusnya pakai masker bengkoang kesini." Ucap Zira asal.
" Hahaha, kamu lucu Zira." Ucap Vita.
" Memang istriku lucu dan menggemaskan." Ucap Ziko memuji istrinya.
bersambung.
Ig. anita_rachman83