
🌹Vote
Cara vote.
Kumpulkan poin di pusat misi, buka poin pada profilku. Selesaikan semua tugas, jika tugas sudah selesai kalian bisa vote author sebanyak mungkin. Dan vote bisa di lakukan setiap hari selama poin kalian ada, terimakasih.
Selamat Membaca.
***
" Saya suka dengan kejujuran mu. Kamu tidak perlu memikirkan apapun. Untuk biaya lamaran itu jangan kamu pikirkan. Semua itu kami yang tanggung." Ucap nyonya Amel.
" Tapi."
" Sstt tidak ada kata tapi. Ini memang niat kami berdua untuk membiayai acara lamaran nanti. Secara Kevin sudah kami anggap seperti keluarga. Jadi jangan di ungkit lagi masalah uang." Ucap nyonya Amel.
" Terima kasih banyak tante om." Ucap Menik dengan mata yang berkaca-kaca. Menurutnya masih ada orang kaya yang tidak sombong dan itu adalah keluarga Raharsya.
" Sudahlah jangan menangis." Ucap tuan besar.
" Baiklah untuk persiapan lamaran sudah, sekarang kita tinggal menunggu desainer yang akan merancang gaun kamu." Ucap nyonya Amel.
Tidak berapa lama dua orang memasuki mansion.
" Mama." Ucap Zira sambil mengecup pipi mertuanya.
Ziko langsung membaringkan tubuhnya di atas sofa.
" Kenapa bawa tas? Apa kalian mau menginap di sini?" Tanya nyonya Amel.
" Iya ma, kami mau nginap di sini." Ucap Zira.
" Apa EO sudah datang?" Tanya Zira.
" Sudah sayang. Nih tinggal menunggu kamu." Ucap nyonya Amel.
Zira mengeluarkan kertas yang ada di dalam tasnya dan menyerahkan kepada mama mertuanya.
" Ini desain untuk Menik, ini untuk mama dan ini untuk aku dan Zelin." Ucap Zira sambil menunjukkan hasil karyanya kepada mertunya.
" Bagus." Ucap nyonya Amel sambil menyerahkan kertas desain tersebut kepada Menik.
" Untuk saya mana?" Ucap Kevin.
" Maaf Vin, untuk kamu tidak ada. Karena kamu adalah calon pengantin pria jadi kamu harus mencari desainer sendiri." Ucap Zira.
" Kok ada pembedaan kasta." Gerutu Kevin.
" Ya karena kami kasta brahmana." Ucap Zira asal.
Untuk kebaya pihak wanita yang desain Zira, tapi untuk Ziko dan papa mertuanya yang desian bukan dia. Zira menyerahkan kepada orang lain, karena menurutnya waktu yang di butuhkan tidak cukup. Karena semua kebaya harus selesai kurang dari satu minggu.
Sebagai seorang desainer dia tau kerumitan dalam membuat kebaya yaitu dari kemben kebaya, payet kebaya yang harus di jahit dengan tangan dan hal rumit lainnya. Setelah melakukan pengukuran Zira memerintahkan karyawannya untuk datang ke mansion. Hasil rancangannya dan hasil pengukuran di serahkan kepada karyawannya dan di lanjutkan ke tukang jahit.
" Baiklah semuanya sudah selesai ya, dalam beberapa hari kita bisa fitting." Ucap Zira.
Tidak lupa dia merekomendasikan kepada Kevin butik yang bisa mendesain seragam untuk keluarganya.
" Mama dan papa mau istirahat dulu. Kalian ngobrol aja di sini." Ucap nyonya Amel meninggalkan semuanya di ruang tamu.
" Vin kamu mau minta kado apa?" Tanya Ziko dengan posisi berbaring.
" Terserah tuan saja." Jawab Kevin.
" Kok terserah, kamu itu harus menyebutkan maunya apa gitu." Ucap Zira.
" Terserah tuan dan nona mau kasih apa." Ucap Kevin lagi.
" Ok kalau terserah, sayang besok kita beli celengan ayam aja." Ucap Zira.
Kevin mengernyitkan dahinya.
" Kok celengan." Ucap Kevin.
" Kamu bilang terserah, ya udah aku pikir celengan ayam akan berguna nanti." Jawab Zira.
" Menik kamu mau kado apa?" tanya Zira.
" Kalau saya terserah nona saja." Ucap Menik.
Ziko dan Zira saling pandang.
" Wah kalian berdua sama saja." Celetuk Ziko.
Zira membisikkan sesuatu ke telinga suaminya. Ziko terlihat mangut.
" Vin, kami akan menghadiahkan sebuah rumah." Ucap Ziko.
" Terima kasih banyak atas niat dan ketulusan tuan dan nona." Ucap Kevin.
" Kalau boleh request nanti rumahnya bersebelahan dengan tuan ya." Ucap Kevin.
" Enak aja, nanti kamu minta makan gratis ke rumahku." Ucap Ziko sewot.
" Hehehe tuan tau aja, bukan hanya makan gratis yang saya mau. Kalau perlu perabotan juga gratis." Ucap Kevin.
" Miskin kok bangga." Ejek Zira.
Mendengar ucapan Zira semuanya tertawa.
" Bagaimana tuan, jadi kado rumahnya." Tanya Kevin lagi.
" Terima kasih tuan." Ucap Kevin senang.
" Rumah apa dulu." Ucap Ziko.
" Memangnya tuan mau kasih rumah seperti apa?" tanya Kevin.
" Rumah untukmu nanti akan berada paling depan, jadi ketika dari pintu gerbang langsung dapat rumahmu."
" Wah pasti itu rumah yang sangat elite karena di dekat gerbang." Ucap Kevin senang.
" Rumah apa dulu." Ucap Zira.
" Ya rumah, memangnya ada berapa tipe rumah di lingkungan nona?" Tanya Kevin.
" Ada banyak tipe, tapi kalau menurutku rumah yang dekat dengan gerbang semuanya sudah ada penghuninya. Memangnya rumah yang mana kamu maksud?" tanya Zira kepada suaminya.
" Itu loh, yang bentuknya persegi panjang, dan di apit dua gerbang." Ucap Ziko.
" Itu namanya pos sekuriti." Timpal Kevin.
" Hahaha." Ziko dan Zira tertawa, begitupun Menik dia merasa lucu melihat calon suaminya tidak ada wibawanya sama sekali.
Setelah perdebatan itu Kevin melupakan sesuatu.
" Nona apa anda tau, apa saja yang harus di persiapkan ketika lamaran?" Tanya Kevin.
" Oh iya, pihak calon mempelai pria harus membawa seserahan. Seserahan itu sebagai tanda keseriusan kamu dengan Menik." Ucap Zira.
" Apa saja isinya?" Tanya Kevin.
" Isinya bisa perlengkapan Menik, dari sepatu, alat make up sampai dalaman juga ada." Ucap Zira
Ketika di bahas masalah dalaman pipi Menik langsung merona merah. Dia malu kalau sampai Kevin mengetahui semua size **********.
" Maaf apa semua itu harus saya yang beli?" Tanya Kevin.
" Sebaiknya kalian berdua membelinya bersama biar tau masing-masing ukuran." Goda Ziko.
" Sayang!" Zira merapatkan giginya.
Pipi Menik tambah merona, dia merasa malu jika masalah itu di omongin orang lain.
" Nanti kalau sudah di beli semua, kalian tinggal membawa ketempat jasa perias seserahan." Ucap Zira menjelaskan.
Ziko menatap wajah istrinya.
" Kenapa kamu lebih paham hal itu? Bukannya aku tidak pernah melamar mu seperti itu." Ucap Ziko curiga.
" Makanya banyak membaca jadi kamu tau, jangan berkas file aja di baca. Membaca banyak menambah wawasan tau." Ucap Zira.
Setelah percakapan itu Kevin dan Menik pamit pulang. Mereka mau menyempatkan diri untuk membeli semua perlengkapan Menik.
Di dalam mobil.
" Aku beli sendiri saja. Kamu enggak usah ikut." Ucap Menik menolak karena dia malu kalau membeli dalaman bersama pria.
" Aku itu calon suamimu. Jadi semua keperluan mu harus aku ketahui." Ucap Kevin sambil fokus mengemudikan mobil.
" Termasuk dalaman juga?" Tanya Menik pelan.
" Iya."
Wajah Menik langsung merona kembali, di dalam mansion dia sudah cukup malu membahas masalah dalaman. Sekarang membeli harus di temani pria.
" Bisa tidak kalau untuk urusan itu aku beli sendiri." Ucap Menik pelan.
" Kenapa? Kamu malu ya." Goda Kevin sambil melirik kearah Menik.
Menik menganggukkan kepalanya.
" Kenapa harus malu, nanti aku juga tau ukuran mu." Ucap Kevin tanpa ada rasa malu.
Menik langsung mencubit lengan Kevin.
" Aw sakit, kamu sama nona Zira sama saja. Sama-sama kepiting."
" Kepiting?"
" Iya tukang cubit, kalian sama saja." Gerutu Kevin.
" Habis kamu genit sih. Kalau kamu tau ukuran ku pasti kamu akan kaget." Ucap Menik pelan.
" Memangnya berapa ukuranmu?" Tanya Kevin.
" Sebesar biji mentimun." Ucap Menik asal.
" Kecil banget punyamu udah kecil penyet lagi." Ucap Kevin sambil melirik dada Menik. Dan Menik langsung menutup dadanya dengan kedua tangannya.
Wah kalau penyet seperti itu apa bisa aku berpegangan.
Bersambung.
Ig. anita_rachman83.
AUTHOR ADA KARYA BARU YANG BERJUDUL
" LOVE OF a NURSE", CERITANYA PENUH KEJUTAN DAN MENDEBARKAN HATI. PENASARAN???