
Kevin pergi mencari mangga muda. Dia tidak tau harus mencari kemana, yang penting jalan saja menurutnya. Didalam benaknya semoga Zira menemukan Hidayah, tidak ngidam yang aneh-aneh.
Kevin melihat sepanjang jalan yang ada pohon mangga. Banyak pohon mangga di sekitar perumahan itu tapi belum ada buahnya. Ada yang berbuah tapi sudah matang. Tapi dia memberanikan diri untuk meminta kepada pemiliknya. Menurutnya yang penting mangga.
" Permisi." Ucap Kevin dari luar pagar. Secara berulang dia berteriak memanggil pemilik rumah. Beberapa saat kemudian ada wanita paruh baya, keluar dari pagar.
" Ada apa mas?" Ucap si wanita tersebut.
" Ibu boleh saya minta buah mangganya." Ucap Kevin cepat.
Si Ibu memperhatikan penampilan pria yang ada di depannya. Penampilannya terlihat orang berduit dan dia melirik ada mobil yang parkir di depan pagarnya.
" Di pasar kan banyak." Ucap Ibu itu ketus.
" Iya bu di pasar banyak apalagi di supermarket banyak, tapi kalau yang masih bergantung di atas pohon sedikit bu." Ucap
Kevin cepat.
Di dalam pikiran Ibu itu. Kalau Kevin orang kaya kere. Karena tidak mampu untuk membeli buah mangga. Ibu itu menutup pagarnya. Dia tidak ingin memberikan mangganya kepada orang kaya itu yaitu Kevin.
" Bu, kalau ibu tidak mau memberikan saya buah mangga itu. Bagaimana saya beli semua buah yang ada di pohon ibu." Teriak Kevin dari balik pagar.
Ibu itu kembali membuka pagarnya dengan senyum pasta gigi.
" Yakin mau beli semua buahnya." Ucap ibu itu lagi.
Kevin langsung mengangguk-anggukan kepalanya cepat. Ibu itu membuka pintu pagarnya dan mempersilahkan Kevin untuk masuk. Ibu itu menunjukkan pohon mangganya.
" Yang itu bu?" Ucap Kevin ragu.
Si ibu menganggukkan kepalanya.
Kevin langsung mengambil semua mangga yang ada di atas pohon itu. Si ibu tersenyum saja, yang penting menurut mangganya berubah menjadi uang.
Dia kembali ke rumah Zira dengan membawa sebungkus buah mangga. Zira sedang duduk di kursi makan sambil mengobrol dengan pelayannya.
" Selamat malam nona. Ini permintaan calon anak anda." Ucap Kevin sambil meletakkan sebungkus buah mangga ke atas meja makan.
Dengan cepat Zira membuka plastik tersebut. Dia mengeluarkan semua yang ada di dalam plastik tersebut. Sambil mengernyitkan dahinya.
" Yang mana mangga mudanya?" Ucap Zira heran sambil memegang buah mangga.
" Yang ini kan mangga muda nona." Ucap Kevin menunjuk buah mangga.
Zira menepuk dahinya.
" Asisten Kevin kalau yang kuning ini namanya mangganya sudah tua, tapi kalau yang ini namanya cucu mangga." Ucap Zira cepat. Kevin memang membawa buah mangga yang tua dan buah mangga yang kecil.
" Tapi menurut saya itu masih muda nona, karena dari usia masih balita." Ucap Kevin polos sambil memegang buah mangga yang kecil-kecil.
" Nona mau buah mangga muda? Di belakang ada pohon mangga." Ucap pelayan yang berdiri di sebelah Zira. Pelayan pergi ke belakang untuk mengambil buah mangga muda.
Kevin langsung terduduk lemas. Sudah koyak dompetnya, karena ide si ibu menawarkan kepadanya untuk membawa mangga kecil-kecil itu.
" Maaf asisten Kevin, aku enggak tau kalau di belakang ada pohon mangga." Ucap Zira enggak enak hati.
Tuan muda anda di mana? Dengarkan permintaan buah hati anda.
***
Ziko sudah mulai pulih badannya. Dia merasa sudah bisa bergabung makan malam dengan keluarganya. Walaupun masih teringat bayang-bayang Zira ketika duduk di sebelahnya, tapi dia berusaha untuk melupakan secara perlahan.
" Ko, coba kamu lihat ini semua makanan kesukaan mu." Ucap nyonya Amel. Semua sudah berkumpul dan meletakkan hidangan ke dalam piringnya masing-masing. Tapi Ziko masih terdiam tanpa melakukan apapun. Nyonya Amel menegur anaknya walaupun dia telah melanggar peraturan pada saat di meja makan.
" Iko kenapa enggak makan." Tuan besar melirik kearah istrinya karena telah melanggar aturan yang di buatnya.
Ziko tidak berkata-kata lagi, dia berlari ke kamar mandi. Dan memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya. Semua yang ada di meja makan saling pandang. Mereka berasumsi kalau Ziko sedang masuk angin, karena dua hari tidak makan.
" Pak Budi suruh saja Iko istirahat, dan bawakan makanan untuknya ke kamar." Ucap Nyonya Amel cepat. Pak Budi menunggu di depan kamar mandi. Beberapa menit kemudian Ziko keluar. Pria paruh baya itu memberikan tisu kepada majikannya.
" Sebaiknya tuan muda beristirahat saja. Nanti saya akan membawakan makanan untuk tuan muda." Ucap pak Budi.
" Saya tidak mau makan, tapi saya ingin makan buah mangga." Ucap Ziko cepat sambil berjalan ke lantai atas menuju kamarnya.
Sesuai permintaan majikannya. Pak Budi membawakan berbagai macam jenis buah mangga.
" Ini buah mangganya tuan muda." Ucap pak Budi menyodorkan satu buah mangga.
Ziko melirik buah mangga itu. Dari lirikannya Pak Budi menyimpulkan kalau majikannya tidak suka buah mangga itu. Pria itu menyodorkan satu persatu buah mangga yang ada di dalam keranjang buah.
" Tidak, aku tidak suka yang berwarna kuning. Aku suka yang hijau." Ucap Ziko.
Pak Budi menyerahkan mangga yang berwarna hijau. Walaupun kulitnya berwarna hijau tapi rasa buah mangga itu sangat manis. Pria itu membantu mengupas mangga itu, dan menyerahkan kepada majikannya. Ziko mencicipi mangga itu, tapi dia langsung melepihkan buah mangga itu dari dalam mulutnya.
" Kenapa tuan? Apa mangganya tidak manis?" Ucap pak Budi heran.
" Mangganya manis tapi saya mau yang asem." Ucap Ziko cepat.
Pak Budi mengerti, menurutnya lidah Ziko pahit makanya majikannya meminta buah yang asem.
" Baik saya akan membeli buah mangga muda." Ucap Pak Budi cepat sambil berjalan menuju pintu.
" Pak aku mau buah mangga yang di petik dari pohonnya." Ucap Ziko cepat.
Pak Budi agak heran dengan permintaan tuannya yang aneh. Tapi dia bersyukur dengan seperti itu dia tidak perlu pergi keluar untuk mencari mangga muda. Dia bisa mengambilnya dari taman belakang
" Baik tuan." Ucap pak Budi. Pak Budi pergi ke taman belakang melewati meja makan. Dia melihat majikannya sedang menikmati makan malamnya. Kepala pelayan pergi ke taman sambil membawa senter, dia memilih buah mangga yang bisa di jangkau tangannya tanpa harus memanjat. Pria itu membawa satu buah mangga, karena menurutnya pasti itu bisa mengobati lidah Ziko yang pahit.
Pak Budi kembali melewati ruang makan sambil membawa buah mangga. Nyonya Amel memperhatikannya.
" Pak untuk siapa itu?" tanya nyonya Amel.
" Untuk tuan muda, nyonya." Ucap pak Budi ramah.
" Kenapa yang muda? Kan ada buah mangga yang sudah matang." Ucap nyonya Amel lagi.
" Maaf nyonya, sudah saya sodorkan semua buah mangga kepada tuan muda. Tapi tuan muda minta yang muda."
" Mau di apakan Ziko buah mangga itu?" tanya nyonya Amel lagi.
" Mau di makan, sepertinya lidah tuan muda pahit." Ucap pak Budi menjelaskan.
Setelah tidak ada pertanyaan lagi dari nyonya besar Pak Budi sudah meninggalkan ruang makan.
Nyonya Amel berpikir dalam benaknya.
Untuk lidah pahit seharusnya berkumur dengan air garam, tapi apa mungkin dengan mangga muda bisa mengembalikan lidah yang pahit.
" Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih."