Menikah Karena Ancaman

Menikah Karena Ancaman
episode 125


" Maaf pak saya bukan mau kabur tapi mau menyusul suami saya." Ucap Zira pelan.


Pak supir menganggukkan kepalanya dan mengambil ponsel yang berada di sakunya. Zira memperhatikan pak supir.


" Bapak mau apa." Zira bertanya penuh selidik.


Pak supir membalikan badannya dan melihat kearah Zira.


" Saya mau menghubungi asisten Kevin." Ucap Pak supir polos.


Zira membulatkan matanya. Dia tidak mau siapapun mengetahui kedatangannya ke Paris baik Ziko maupun asisten Kevin.


" Pak tolong jangan hubungi asisten Kevin maupun suami saya." Ucap Zira menahan pak supir.


Pak supir tambah bingung, tapi dia lebih khawatir jika Zira berniat kabur. Pak supir berpikir mungkin ini hanya alasan majikannya agar bisa kabur dari Ziko.


" Maaf nona saya harus menghubungi asisten Kevin saya khawatir." Ucap Pak supir.


" Khawatir apa? khawatir saya kabur!" seru Zira cepat.


Pak supir tersenyum kikuk, pikirannya terbaca oleh Zira. Dia berusaha menjelaskan kepada pria paruh baya itu.


" Bapak masih tidak percaya dengan saya?" Ucap Zira sambil menunjuk tiket pesawatnya.


Pak supir melihat tiket Zira. Dia pernah mendengar dari asisten Kevin kalau mereka akan pergi ke paris. Pak supir akhirnya pun percaya dia mulai menyalakan mesin mobil. Tapi sebelum dia menginjak pedal gas Zira memberitahukan sesuatu kepada pria itu.


" Saya mohon sama bapak jangan menghubungi suami saya maupun asisten Kevin." Ucap Zira memohon.


" Tapi nona." Ucap pak supir yang masih kekeh ingin menghubungi.


Zira mulai memasang taring agar pria itu mengikuti perintahnya.


" Bapak sudah mendengar penjelasan dari saya, saya tidak mau bapak menghubungi mereka berdua ketika pesawat yang saya tumpangi sudah take off." Ucap Zira tegas.


" Tapi." Pak supir belum sempat menyelesaikan kalimatnya tapi sudah dipotong oleh Zira.


" Enggak pakai tapi-tapi ikuti saja yang saya perintahkan." Ucap Zira tegas.


Pak supir masih tetap pada pendiriannya dia bingung jika asisten Kevin bertanya tentang keberadaan Zira. Tapi karena raut wajah Zira yang sudah mengintimidasi pria paruh baya itu akhirnya menganggukkan kepalanya. Pak supir melajukan mobil menuju pusat kota dan mengantarkannya sampai ke bandara.


Pak supir memberhentikan mobil di depan pintu keberangkatan. Pria paruh baya itu mengeluarkan koper itu dan hendak mengantar majikannya ke dalam untuk memastikan benar tidaknya Zira berangkat ke Paris. Zira memerintahkan pak supir untuk pergi meninggalkan bandara. Sebelum pak supir pergi Zira berpesan.


" Jika salah satu dari mereka ada yang menghubungi bapak, bilang saja saya kabur tapi ingat jangan bilang saya kabur ke Paris. Kalau Bapak sampai mengatakan saya kabur ke Paris Bapak akan saya pecat." Ucap Zira sambil mengancam.


Pak supir menganggukkan kepalanya cepat. Zira memasuki pintu keberangkatan pesawat dan melakukan seperti biasanya orang yang akan berangkat naik pesawat, yaitu cek tiket cek bagasi dan sebagainya. Dia sudah berada di ruang tunggu, pesawatnya akan berangkat satu jam lagi. Dia berniat mengerjai Ziko dengan mengirim pesan kepada suaminya.


Suamiku,


aku tidak bisa menjadi istri yang baik maafkan aku, aku tidak pantas untuk menjadi istrimu, carilah istri yang benar-benar pantas untukmu.


Zira mengirim chat tersebut sambil tersenyum tipis. Tidak ada balasan dari Ziko, dia berpikir mungkin suaminya sedang sibuk sampai tidak bisa membalas pesan darinya.


" Panggilan untuk pesawat dengan nomor xxxx tujuan Paris silahkan masuk melalui pintu 5." Ucap salah seorang staf bandara.


Zira melangkahkan kaki menuju pintu 5 bersama dengan yang lainnya. Mereka menduduki kursi sesuai dengan nomornya masing-masing. Setelah semua penumpang sudah naik dan sudah duduk di kursinya masing-masing. Beberapa pramugari dan pramugara mempraktekkan cara memakai safety belt, baju pelampung dan cara menggunakan masker oksigen.


Pesawat yang ditumpanginya sudah take off. Pesawat akan menerbangkan pesawatnya kurang lebih 16 jam 15 menit.


" Vin coba kamu lihat apa maksud dari pesan ini?" Ucap Ziko sambil menunjuk ponsel kepada Kevin.


Kevin membaca dan sesekali melirik kearah Ziko.


" Tuan sepertinya nona Zira menginginkan anda mencari istri lagi." Ucap Kevin cepat.


" Apa!" Wajah Ziko menunjukkan kemarahan yang amat sangat.


" Kenapa dia mengatakan seperti itu?" Ucap Ziko tegas dengan raut muka yang masih marah.


Kevin sedang mengatur kalimatnya agar tidak menjadi pelampiasan amarah Ziko.


" Saya juga tidak tau, tapi mungkin ini ada hubungannya rencana bunuh diri semalam." Ucap Kevin pelan.


" Jadi maksud kamu istriku mencoba bunuh diri?" Ucap Ziko sambil memegang kerah kemeja Kevin.


Kevin menganggukkan kepalanya.


" Hubungi pak Budi." Perintah Ziko cepat. Kevin langsung menghubungi pak Budi. Setelah panggilan masuk Kevin menyerahkan ponselnya kepada Ziko.


" Pak Budi, apa saja yang di kerjakan istri saya hari ini." Ucap Ziko cepat.


Pak Budi menjelaskan semuanya dari makan di dapur sampai menjelaskan pernyataan Zira yang tidak mau mati dan belum mati.


" Apa anda ada mengirim pelayan untuk menemaninya ke kantor." Tanya Ziko lagi.


Pak Budi menjelaskan kalau Zira pergi dengan supir ke kantor. Ziko langsung menutup panggilannya.


" Pak Budi berkata Zira tadi membuat pernyataan kalau dirinya tidak mau mati dan belum mati, apa maksudnya?" Ucap Ziko cepat.


Kevin mencoba mengartikan ucapan yang di utarakan Ziko.


" Tuan sepertinya nona Zira tidak berniat bunuh diri."


Ziko mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi nomor Zira tapi nomor itu tidak aktif. Ziko malah tambah panik tidak pernah dia panik seperti hari ini, tapi hari ini dia merasa takut kehilangannya Zira. Kevin menenangkan tuannya.


" Tenang tuan saya akan coba menghubungi supir nona Zira, mungkin dia tau." Ucap Kevin menenangkan Ziko.


Kevin menghubungi supir Zira. Tidak berapa lama panggilan tersebut tersambung.


" Pak dimana nona Zira." Kevin langsung memberikan pertanyaan yang membuat pak supir gugup.


" Anu eh anu pak, nona Zira kabur." Ucap Pak supir pelan.


" Apa!" Kevin teriak.


" Bagaimana kamu membiarkannya kabur, apa saja yang kamu kerjakan ini hari!" Ucap Kevin cepat.


Ziko semakin tambah panik mendengar Kevin menyebutkan kata kabur. Pak supir menjelaskan yang terjadi tentang Zira ke apartemen dan membawa koper.


" Nona Zira berpesan kepada saya jika pak Kevin dan Tuan muda menghubungi saya, saya harus mengatakan kalau nona kabur." Ucap Pak Budi polos.


Kevin mengakhiri panggilannya tapi sebelum mengakhiri panggilannya dia sudah memberi ancaman kepada pak supir mengenai hukuman yang akan di terimanya. Pak supir merasa tertekan dan sedih. Karena ulah Zira dia harus mendapatkan hukuman, yang pasti akan merugikan buatnya dan keluarganya.


" Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih."