
🌹Vote
Cara ngevote.
Kumpulkan poin di pusat misi, buka poin pada profilku. Selesaikan semua tugas, jika tugas sudah selesai kalian bisa vote author sebanyak mungkin. Dan vote bisa di lakukan setiap hari selama poin kalian ada, terimakasih.
Selamat Membaca.
***
Keesokan harinya setelah melakukan aktivitasnya di kantor. Kevin menjenguk bosnya setelah dari situ dia mampir ke toko yang menjual beraneka ragam elektronik.
Setelah menemukan benda yang di carinya. Dia kembali pulang ke apartemen Menik.
Ting nong Kevin menekan bel apartemen. Menik yang lagi memasak buru-buru membuka pintu. Dia tidak sadar dengan pakaiannya. Dia mengenakan celana pendek di atas paha dan kaos tanpa lengan.
Ketika dia membuka pintu dan tersadar ada Kevin di depan apartemennya dia langsung menutup kembali pintunya. Kevin yang hendak masuk bingung.
Kevin menekan bel kembali. Hampir sepuluh menit dia berkutat dengan bel apartemen. Dan akhirnya pintu di buka.
" Masuk." Ucap Menik yang menyambut Kevin dengan memakai daster.
Kevin memperhatikan penampilan Menik dari atas sampai bawah.
" Apa ada yang salah denganku?" tanya Menik.
" Enggak ada yang salah, ini namanya apa?" tanya Kevin sambil memegang daster yang di kenakan Menik.
" Daster." Jawab Menik singkat.
" Bukannya waktu mau pergi pesta ini masih berbentuk kain jarik. Kenapa sekarang sudah jadi pakaian?" tanya Kevin.
Menik berlari ke kamarnya mencari benda yang di sebut jarik. Kemudian dia kembali dengan membawa kain jarik.
" Ini kain jariknya, coba kamu lihat coraknya saja beda." Menik melihat ada tentengan di tangan Kevin.
" Kenapa kamu bawa makanan lagi. Roti yang kemaren saja masih banyak." Gerutu Menik.
" Ini bukan makanan. Tapi kalau kamu mau makan kabelnya boleh." Ucap Kevin meletakkan bawaannya di atas meja. Dia mengeluarkan isi box itu.
" Apa ini." Ucap Menik bingung.
" Ini hadiah untuk Bima." Ucap Kevin sambil membawa alat yang dipegangnya ke televisi. Dia menyambung kabel PlayStation ke televisi.
" Bima mana?" tanya Kevin.
" Lagi kerja, sebentar lagi pulang." Jawab Menik.
Dan benar saja dalam beberapa menit Bima sampai.
" Kenapa televisinya?" tanya Bima yang melihat Kevin sedang mengotak-ngatik layar televisinya.
Kevin menunjukkan sebuah pertandingan bola di layar televisinya.
" Bagaimana." Ucap Kevin sambil menyerahkan salah satu stik kepada Bima.
" Wah, bagus banget." Puji Bima sambil menerima stik pemberian Kevin.
" Hey ganti bajumu dulu. Jangan langsung main." Protes Menik.
Tapi Bima tidak menghiraukan ucapan kakaknya. Dia sudah sibuk bermain game dengan Kevin.
" Ini playstation kan?" tanya Bima.
" Iya, yang ada hanya ini." Ucap Kevin.
" Ah tidak apa-apa. Aku sangat senang, jika kalian menikah, benda ini akan menemaniku." Ucap Bima kemudian menutup mulutnya rapat seolah-olah dia tidak mengatakan apapun.
Tapi Kevin mendengarnya. Dia melihat wajah Bima cukup serius.
" Kamu bilang apa tadi?" tanya Kevin.
" Tidak ada, aku hanya bertanya berapa harga benda ini." Ucap Bima mengalihkan pembicaraan. Kevin mendengar ucapan Bima tadi, menurutnya pria di sampingnya sedang mengalihkan pembicaraan. Walaupun dia mendengar dengan jelas ucapan Bima, tapi dia berusaha tidak mendengar apapun. Sudah ada lampu hijau dari pria di sampingnya. Tinggal Bima sendiri yang mengatakan secara langsung tentang restunya.
Kedua pria itu terlalu sibuk dengan permainannya, sampai-sampai Menik memanggil di acuhkan oleh keduanya. Karena kesal dia berdiri di depan Kevin dan Bima sambil berkacak pinggang.
" Kalian mau makan atau mau main." Ucap Menik marah.
" Geser kak." Ucap Bima.
" Jawab!" Menik marah sambil tetap berkacak pinggang.
" Iya Nik, aku tau kamu model tapi enggak usah ngiklan di depan kami lagi, sudah cukup iklan kamu berjejer di jalanan ibu kota, masa iya di sini juga, benar enggak Bim." Ucap Kevin sambil fokus melihat layar televisi.
" Iya kak." Jawab Bima singkat.
Karena kesal, tanpa pikir panjang dia langsung mematikan layar televisi.
" Ah kakak udah mau menang tuh." Gerutu Bima.
" Makan." Ucap Menik sambil menunjuk kearah meja makan.
Dengan langkah gontai kedua pria itu menuju meja makan. Tanpa ada aba-aba keduanya langsung makan.
" Wah masakan kakak enak." Puji Bima.
" Dari tadi di suruh makan enggak mau makan. Nanti bawa pulang alat itu." Ucap Menik marah.
" Bawa pulang?" Bima terbengong.
" Iya, kalian berdua suka lupa kalau sudah main game dan semua karena alat bodoh itu." Ucap Menik marah.
" Nik jangan marah nanti garis keriput kamu bertambah satu." Ucap Kevin.
" Biarin bertambah nanti kalau wajahku berkerut aku operasi plastik."
" Kak kalau mau operasi pakai plastik daur ulang." Ejek Bima.
Prok, Menik memukul lengan adiknya.
" Aw sakit tau." Gerutu Bima.
" Bawa benda bodoh itu pulang ke rumahmu. Jangan tinggalkan di sini." Ucap Menik marah.
" Jangan dong kak, aku tidak ada hiburan. Pacar pun tidak punya, apa kakak tega melihat aku kesepian. Begini saja, bagaimana kalau kakak aku izinkan menikah dengan bambang." Ucap Bima
" Bambang?" Menik bingung. Sedangkan Kevin yang lagi minum langsung tersedak.
" Uhuk-uhuk."
" Siapa Bambang?" tanya Menik.
" Bambang Kevin." Ucap Bima.
" Apa! Aaaaaa." Menik lompat-lompat kegirangan, tapi beda halnya dengan Kevin, dia masih bingung siapa Bambang.
" Bambang Kevin siapa? Apa ada nama Kevin selain namaku?" tanya Kevin penasaran.
" Ada." Ucap Bima.
" Siapa?" Ucap Kevin.
" Kamu." Ucap Bima dan Menik bersamaan.
" Tapi nama depanku tidak pakai kata Bambang." Ucap Kevin masih bingung.
Kedua kakak beradik itu menggelengkan kepalanya bersamaan.
" Bambang itu artinya abang Kevin." Ucap Bima.
" Oo." Ucap Kevin singkat kemudian dia ikut teriak seperti yang di lakukan Menik.
" Aaaaa." Kevin teriak senang. Bima dan Menik menutup kedua telinganya.
" Apa kamu serius memberi restu kepada kami berdua?" tanya Kevin lagi.
" Iya." Ucap Bima singkat.
" Aaaaa." Sekarang calon pengantin itu teriak bersamaan.
" Berisik tau!" Ucap Bima ketus.
Menik dan Kevin kembali diam, mereka tidak ingin membuat kesal Bima. Mereka khawatir kalau Bima akan menarik kembali ucapannya.
" Jangan senang dulu." Ucap Bima tanpa menoleh kearah calon pengantin itu.
Kevin dan Menik saling pandang, mereka mulai sedikit gugup, khawatir kalau Bima akan menarik ucapannya.
" Aku sebagai adik menyetujui dan memberi restu kepada kalian untuk menikah, asalkan." Bima berhenti dengan kalimatnya.
Keduanya yaitu Menik dan Kevin berhenti bernafas sejenak.
" Jangan kamu sia-siakan kakakku." Ucap Bima.
" Tentu, aku tidak akan menyia-nyiakan kakakmu." Ucap Kevin.
" Aku memberi restu, karena aku mau kakakku bahagia, dan sepertinya kamu dapat membahagiakan kakakku."
" Tapi walaupun seperti itu jangan pernah menyakiti hati kakakku. Sayangi dia seperti aku menyayanginya, kasihi dia seperti aku mengasihinya. Karena hanya dia saudara yang aku punya." Ucap Bima.
" Owh adikku yang paling ganteng." Menik mengelus rambut adiknya.
" Terima kasih atas restu yang telah kamu berikan kepada kami. Restu mu lah yang selama ini kami tunggu. Dengan restu ini kami akan melanjutkan ke jenjang yang lebih serius.
bersambung.
Ig. anita_rachman83