
" Aku hitung sampai tiga kalau kamu tidak beranjak dari kursi itu akan aku habisi kamu." Ucap Zira mengancam.
Kia masih memutar-mutar kursi kebesaran Ziko. Dia serasa sedang main putar-putaran. Zira berjalan mendekati meja dan menarik tangan wanita itu. Sekertaris itu bertahan dengan pegangan pada pinggir meja. Zira merasa emosinya sudah sampai ubun-ubun, dia menjedotkan kepala sekertaris itu ke pinggir meja. Kia meringis kesakitan, ada benjolan biru di dahinya.
" Aku hitung sampai tiga." Ucap Zira cepat.
Kia beranjak dari kursi dan sengaja menyenggol bahu Zira. Zira yang emosinya masih memuncak mendapati perlakuan seperti itu tambah naik pitam.
Dia langsung memelintir salah satu tangan Kia dan memegang lehernya. Zira mendorong tubuh wanita itu sampai ke pojok. Wanita itu tidak bisa bergerak karena tangannya di pelintir ke belakang dan lehernya di cekik Zira.
" Ini hukuman untuk wanita hina seperti dirimu." Ucap Zira cepat sambil melepaskan tangannya dari tubuh Kia.
Kia memegang lehernya dan tangannya yang sakit. Dia masih memandang sinis.
" Dasar kamu perempuan jalanan." Ucap Kia lagi.
Zira marah dan mendorong tubuh Kia kembali ke dinding. Dia mengangkat salah satu tangan wanita itu ke dinding dan mencekik leher wanita itu kembali, salah satu tangannya berusaha melepaskan cekik yang di berikan Zira. Sekertaris itu merasa sakit karena cekikan yang sangat keras dari sebelumnya.
" Aku Zira dan aku besar di jalanan tapi asal kamu tau! perempuan jalanan sepertiku lebih tinggi derajatnya di banding kamu." Ucap Zira cepat sambil melepaskan kembali tangannya dari tubuh Kia.
Zira melepaskan tangannya dari tubuh Kia, karena dia melihat wajah sekertaris itu sudah mulai membiru. Kia terbatuk-batuk pernafasannya terganggu karena ada tekanan di lehernya tadi.
" Keluar!" teriak Zira.
Kia akhirnya keluar dengan benjolan di dahinya dan bekas merah di lehernya. Sekertaris itu merasa kalah dengan Zira. Dia menganggap Zira seperti perempuan lain yang berkelahi hanya dengan jambak-Jambak kan, tapi di luar perhitungannya Zira bisa mengalahkannya dengan sekali dorong dan sebuah cengkeraman di leher. Kalau di bandingkan dari tubuh Zira kalah tinggi dari Kia, tapi keberaniannya membuat nyalinya menjadi ciut.
Zira menarik nafasnya dalam-dalam, dan menghembuskan nya perlahan. Dia sedang mengontrol emosinya agar kembali stabil. Dia melakukannya secara berulang. Tidak berapa lama ponselnya berbunyi. Dia mengambil ponselnya yang berada di dalam tas. Ada nama ubi kayu jumbo di layar kacanya. Zira mengangkat panggilan dari Ziko.
" Ya halo." Ucap Zira pelan.
" Kamu lagi ngapain." Ucap Ziko dengan suara serak. Ziko baru bangun tidur karena perbedaan waktu enam jam. Di tempat Zira jam sepuluh pagi di tempat Ziko jam empat subuh.
" Aku lagi di kantor." Ucap Zira pelan.
" Kamu pagi ini tidak makan nasi basi dan tahu basi kan?" Ucap Ziko dengan mata tertutup.
" Ya enggaklah." Ucap Zira cepat.
" Kenapa kamu mau bunuh diri." Ucap Ziko masih setengah sadar.
Zira mulai bingung semua orang yang mengatakan kalau dia mau bunuh diri.
" Sepertinya kamu masih mengantuk suamiku, jadi kamu istirahat saja sejenak." Ucap Zira cepat sambil mematikan ponselnya.
Zira tidak mau bertengkar dengan Ziko, karena energinya sudah terkuras pada saat menaklukkan Kia.
Ponselnya berbunyi kembali dan lagi-lagi yang menghubungi suaminya Ziko.
" Kenapa kamu memutuskan panggilanku." Ucap Ziko teriak.
Zira menjauhkan ponsel dari telinganya.
" Kamu kan lagi mengantuk di sana pasti masih terlalu pagi, lebih baik kamu istirahat nanti telepon lagi." Zira berkata dengan lembut.
Apa karena dia makan nasi basi dan tahu basi makanya tutur katanya bisa baik begitu, kenapa tidak makan nasi basi setiap hari saja agar dia bisa bertutur kata dengan lembut samaku
" Kamu baik-baik saja?" tanya Ziko heran.
Zira yang mendengar pertanyaan seperti itu langsung bingung.
Bagaimana dia tau kalau aku tidak dalam keadaan baik-baik saja, apa dia tau kalau hari ini aku baru menghajar sekertarisnya atau jangan-jangan ada kamera cctv di ruangan ini."
Zira melihat sekeliling ruangan Ziko. Sambil tetap memegang ponselnya.
" Jawab aku apa yang kamu lakukan tadi." Ucap Ziko cepat.
Ai mati aku harus jawab apa.
Zira gugup mau memulai dari mana. Dia tidak mau mengatakan kejadian yang terjadi di ruangan itu. Zira berpikir kalau Ziko tau pasti suaminya akan memecat Kia, tapi dia tidak menginginkan hal itu, dia ingin Kia yang mengundurkan diri sendiri bukan karena di pecat. Dia masih ingin bermain-main dengan wanita itu.
" Aku hari ini sarapan yang enak." Ucap Zira cepat.
" Bukan itu, apa yang kamu perbuat dan siapa itu julukan yang kamu beri untuk sekertaris ku." Ucap Ziko.
" Oh si kuntilanak." Ucap Zira.
" Apa yang dia lakukan dan apa yang kamu lakukan?" tanya Ziko cepat.
Dia mengalihkan pembicaraannya.
" Suamiku bagaimana keadaan di sana, apakah cuacanya baik?" Ucap Zira ramah.
Ziko sebenarnya ingin membantah ucapan istrinya tapi karena Zira bertanya dengan lemah lembut akhirnya dia luluh.
" Cuacanya di sini berangin, seandainya saja kamu di sini pasti kamu akan menjadi penghangat buat diriku." Ucap Ziko pelan.
Ziko membayangkan Zira berada disisinya. Ada rasa kerinduan dalam dirinya ketika berjauhan dengan istrinya. Mereka berdua melakukan obrolan normal antar suami dan istri tidak ada adu argumen ataupun perang urat leher.
Panggilan berakhir karena Ziko harus bersiap-siap untuk berangkat kerja. Dia keluar dari ruang itu sambil membawa tasnya. Dia melirik kearah Kia. Wanita itu tidak memandangnya, dia memalingkan wajahnya menghadap yang lain. Zira tidak ambil pusing dengan tingkah laku sekertaris itu, dipikirannya jangan pernah usik kehidupan pribadinya maka semuanya akan aman sentosa tapi jika kehidupan pribadinya di usik maka Zira bisa berubah kepribadian menjadi lebih sangar seperti preman pasar.
Zira menaiki mobil. Pak supir membawa Zira ke sebuah mini market. Dia hendak memasak hari ini. Setelah mendapatkan keperluan yang diperlukannya dia minta pak supir untuk mengantarnya ke apartemen. Pak supir tidak bertanya perihal apapun karena menurutnya selama masih dalam jangkauan pengawasannya maka semuanya akan aman.
Zira memasak yang berbeda, setelah dingin dia membungkus makanan itu ke dalam plastik. Dia kembali ke kamar menyiapkan beberapa pakaian yang akan di bawanya. Setelah semuanya beres dia pergi keluar apartemen dengan membawa sebuah koper.
Pak supir langsung mengambil koper yang di bawa Zira dan meletakkannya di bagasi mobil.
" Pak antar kan saya ke bandara." Ucap Zira cepat.
Pak supir tidak menjawab dia membalikkan badannya kearah majikannya.
" Nona saya mohon jangan lari, kalau nona lari saya akan di pecat, saya punya anak dan istri yang harus saya biayain. " Ucap pak supir memohon.
Zira yang mendengar ucapan pak supir agak kaget melihat reaksi yang di berikan pria itu kepadanya.
" Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih."