
" Suamiku apakah nanti kalau kamu di sana aku boleh melakukan hal-hal yang aku suka." Ucap Zira pelan sambil mengelus-ngelus lengan suaminya.
" Ya boleh tapi jangan pernah kelewat batas dan jangan buat malu aku." Ucap Ziko cepat.
Mobil sudah sampai di kantor. Zira ingin beranjak dari kursinya tapi suaminya menahannya, Ziko memeluknya sangat erat. Dan mengecup dahi dan pipinya berulang-ulang. Sang jomblowati hanya melihat dari balik kaca mobil.
" Sudah pergilah hati-hati di sana." Ucap Zira pelan.
Ziko masih tetap memeluk Zira dia merasa enggan meninggalkan istrinya.
" Kamu nanti mau menginap di hotel mana." Ucap Zira yang masih dalam pelukan suaminya.
" Ai Hotel nona." Ucap Kevin cepat.
Setelah Ziko melepaskan pelukannya, Zira keluar dari mobil. Mobil yang di kendarai Kevin meninggalkan gedung Raharsya group, dia masih menunggu mobil itu menjauh sampai mobil itu tidak terlihat lagi. Kemudian dia masuk ke dalam gedung layaknya seorang CEO. Karyawan dan karyawati tunduk hormat kepadanya. Dia tetap naik lift khusus karyawan, dia tidak mau menerima fasilitas yang di tujukan untuknya.
Zira melangkahkan kakinya menuju ruangan presiden direktur. Ada Kia yang memperhatikan kedatangannya. Dia melihat kearah lift tapi tidak menemukan orang lain selain Zira. Dia merasa kehilangan sosok Ziko. Dia menatap sinis ke arah Zira.
" Dimana bos ku?" tanya Kia judes.
" Apa kamu tidak lihat bos mu sedang berdiri di depanmu." Ucap Zira tegas.
Kia masih bingung dengan ucapan Zira.
" Apa maksudmu?" Kia bingung.
" Setelah suamiku aku adalah orang penting kedua di perusahaan ini, tapi selama suamiku tidak disini aku menjadi orang pertama di sini." Ucap Zira sombong.
" Siapa yang memberimu wewenang itu?" Ucap Kia ketus.
" Wewenang itu sudah berlaku sejak aku menjadi istri sahnya dan kamu bisa aku depak dari perusahaan ini kapanpun aku mau." Ucap Zira tegas.
Nyali Kia menciut mendengar ucapan Zira. Dia tidak berani membantah ucapan Zira.
" Buatkan aku kopi." Ucap Zira cepat.
Kia tidak beranjak dari tempatnya dia enggan untuk melakukan permintaan Zira.
" Sekarang! Atau kamu mau aku depak dari sini." Ucap Zira cepat sambil mendongakkan kepalanya.
Kia langsung berlari ke pantry. Zira berjalan menuju ruangan suaminya. Di dalam Zira tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya, dia merasa lucu melihat nyali Kia yang langsung menciut ketika mendengar kata depak.
Zira mengirim chat kepada Kevin. Isi pesannya.
Berapa lama kalian di sana, ini Zira.
Jangan kamu beri tau kepada suamiku kalau aku mengirim pesan kepadamu.
Tidak berapa lama Kevin membalas chat dari Zira.
Iya nona sebenarnya ada apa?
Mengapa saya tidak boleh memberitahukan hal ini kepada tuan muda.
Zira membalas lagi chat dari Kevin.
Aku ingin memberi kejutan untuknya.
Kevin membalas lagi chat Zira.
Nona apa yang akan anda lakukan?
Zira membalas chat Kevin.
Aku tidak akan memberitahukan mu perihal kejutan yang akan aku berikan kepada suamiku, aku hanya minta kamu mendukungku.
Lama Zira menunggu balasan dari Kevin. Dia meletakkan ponselnya di atas meja. Tidak berapa lama ponselnya berbunyi ada notifikasi di layar kaca ponselnya. Dia membuka ponselnya. Ada pesan dari Kevin.
Saya akan mendukung nona jika itu tidak ada hubungannya dengan kejahatan dan saya tidak mendukung nona jika nona lari seperti kemarin malam, kalau nona melakukan hal yang sama saya yang akan menyeret nona ke hadapan tuan muda.
Mendapat balasan chat dari Kevin seperti itu nyali Zira langsung menciut. Dua mengirim chat balik ke Kevin.
Ini tidak ada hubungannya dengan kemaren aku mau kamu mempercayaiku, kalau kamu tidak percaya denganku rencana ku untuk memberi kejutan kepada si ubi kayu akan gagal.
Kevin membalas chat Zira.
Tidak ada balasan lagi dari Zira maupun Kevin. Pintu ruangan Ziko di ketuk. Kia masuk ke dalam ruangan setelah ada perintah masuk dari Zira.
Kia meletakkan kopi yang di buatnya di atas meja. Zira duduk di kursi kebesaran suaminya. Wanita itu hendak pergi meninggalkannya ruangan. Tapi Zira menahannya.
" Hey kamu, jangan pergi dulu." Ucap Zira sambil melambaikan tangannya memanggil Kia untuk kembali.
Dengan menghentakkan kakinya Kia datang menuju meja kerja Ziko.
" Apa," sahut Kia jutek.
" Aku kurang yakin dengan kopi buatan mu bisa saja kamu mencampur sianida kedalamnya." Ucap Zira ketus.
Memang Kia sedang melakukan hal jahat kepada Zira, dia tidak mencampurkan sianida ke dalam kopi buatannya tapi dia mencampurkan garam ke dalam kopi.
" Apa maksudmu?" tanya Kia judes.
" Untuk membuktikan kopi ini ada racunnya atau tidak, aku mau kamu minum kopi itu." Ucap Zira cepat.
Kia tidak menghiraukan ucapan wanita di depannya, dia ingin pergi keluar dari ruangan itu.
" Baik sepertinya kamu memang benar-benar minta di tendang dari sini." Ucap Zira tegas.
Zira berakting mengangkat telpon yang ada di meja. Dia sedang melakukan aktingnya untuk menghubungi sekuriti. Kia melihat tindakan Zira yang sedang memegang telepon.
" Tunggu tunggu tolong kamu letakkan telepon itu, aku akan meminumnya untukmu." Ucap Kia khawatir.
Zira menahan tawanya agar aktingnya tidak ketahuan Kia. Dia tidak tahu menahu tentang segala extension yang ada di kantor itu, dia hanya ingin memberi pelajaran kepada si kuntilanak karena Zira yakin kalau kuntilanak di depannya ini belum pernah mengenal bangku sekolah sama sekali.
Kia meminum kopi yang di buatnya. Kemudian meletakkannya kembali ke meja.
" Lihat sudah aku minum, aku enggak matikan?" Ucap Kia cepat.
Zira melihat kedalam gelas dan pinggiran gelas.
" Habiskan semua." Ucap Zira cepat.
" Apa habiskan?" tanya Kia cepat.
" Ya habiskan aku tidak mau minum bekas mu." Ucap Zira cepat.
Dengan terpaksa Kia meminum kopi buatannya sendiri, kopi yang sangat asin, dia menahan rasa asin yang di timbulkan dari kopi tersebut. Setelah kopi habis Kia menunjukkan gelas kosongnya ke arah Zira. Zira manggut-manggut tapi sekertaris itu sudah berlari keluar ruangan sambil memegang mulut dengan jarinya.
Zira tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Kia. Sekertaris itu berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan kopi yang baru saja di minumnya. Zira merasa senang dapat mengerjai Kia.
" Jangan pernah mengganggu rumah tanggaku, itu masih hukuman ringan buatmu, hukuman-hukuman lain akan menyusul segera." Ucap Zira tertawa kencang.
Kia kembali ke mejanya dia merasa ini adalah hari sial kedua, selama bekerja di perusahaan itu. Telepon di mejanya berbunyi dia mengangkat teleponnya. Ada suara Zira dari ujung telepon.
" Cepat kamu ke sini." Ucap Zira cepat.
Dengan langkah malas Kia masuk ke dalam ruangan Ziko. Dia melihat Zira sedang duduk di sofa panjang sambil selonjor kan kakinya.
" Ada apa?" Kia bertanya dengan wajah jutek.
" Pijat kakiku." Ucap Zira cepat.
" Apa?" Kia membulatkan matanya menatap kearah Zira.
" Apa kamu ada masalah dengan pendengaranmu?" Ucap Zira cepat.
Kia tidak menjawab, dia merasa marah dengan tindakan Zira terhadap dirinya.
" Cepat pijat kaki bos mu atau aku tendang kamu dari sini." Ucap Zira tegas.
Lagi-lagi Zira mengancam dengan kata tendang. Mendengar kata itu dengan terpaksa dia memijat kaki Zira.
" Awas kalau pijatan mu membuat kakiku yang mulus berbekas." Ancam Zira lagi.
Kia memijit kaki Zira dengan lembut, padahal dalam hatinya dia ingin memijat dengan keras bahkan ingin memukul kaki itu. Zira menikmati pijatan dari wanita itu.
" Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih."