
Sore harinya mobil yang di kendarai Kevin sudah sampai di Zira Boutique. Ziko langsung masuk ke dalam butik dan menuju lantai tiga tempat ruangan Zira berada. Dia mendapati istrinya sedang duduk di kursinya sambil mengerjakan sesuatu di atas mejanya. Dia langsung masuk, karena ruangan itu memang dalam keadaan terbuka. Dia mencium pipi istrinya dengan lembut. Zira kaget melihat suaminya sudah berada di sampingnya.
" Kenapa kamu selalu mengagetkan, apa tidak bisa kamu memberi salam terlebih dahulu." Gerutu Zira sambil memegang dadanya yang kaget.
" Baiklah aku besok kalau masuk akan mengucapkan salam." Ucap Ziko sambil duduk di pinggir meja depan istrinya.
" Salam apa?" Ucap Zira cepat.
" Salam sayang lah." Ucap Ziko mengecup dahi Zira lagi.
Ziko memandang isi ruangan istrinya yang penuh dengan barang-barang. Dia mengernyitkan dahinya karena ruangan itu terasa sempit dengan banyak barang di dalam ruangan.
" Kenapa ruangan ini sangat sempit." Ucap Ziko sambil melihat sekeliling ruangan itu.
" Bukan ruangan ini yang sempit tapi badan kamu yang kebesaran." Ucap Zira menggoda suaminya.
Ziko menarik tangan istrinya. Dia mau membawa Zira pulang.
" Tunggu, kerjaan ku masih ada." Ucap Zira sambil menahan tangan Ziko.
" Kalau namanya kerjaan selalu ada enggak pernah berkurang. Cepat jangan habiskan waktumu dengan memandang kertas itu, lebih baik kamu memandang suamimu yang ganteng ini." Goda Ziko sambil memegang dagu Zira.
Ada benarnya yang di katakan Ziko. Kerjaan selalu datang dan terus datang. Kalaupun kerjaan itu di selesaikan pasti akan datang lagi kerjaan yang lainnya. Itulah hidup, semua harus di jalani dengan senang hati tanpa harus mengeluh. Ziko dan Zira masuk ke dalam mobil yang telah diparkir di depan pintu butik, Kevin sudah menunggu mereka di dalam mobil. Dia langsung menyalakan mesin mobil dan menekan pedal gas dengan kecepatan sedang.
Di mansion.
Mereka menikmati makan malam yang telah di siapkan pak Budi. Mereka makan sepiring berdua kebiasaan yang mereka lakukan setiap hari. Kebiasaan itu hilang sementara ketika mereka berada di luar negeri. Setelah selesai mereka masuk ke kamar. Mereka lebih banyak melakukan aktivitas di dalam kamar.
" Tutup mata kamu." Ucap Ziko sambil menuntun Zira keatas kasur.
" Mau apa? Jangan macam-macam ya." Ucap Zira takut. Ziko menutup mata istrinya dengan kedua tangannya. Dia membantu istrinya menggapai box yang ada di depannya.
" Apa ini." Ucap Zira masih dengan mata tertutup.
" Tebak." Ucap Ziko cepat.
" Kasih dulu kisi-kisinya." Ucap Zira penasaran.
" Ah memangnya ulangan pakai kisi-kisi segala. Tebak, kalau tebakan kamu benar kamu harus memberiku servis full beserta olinya." Ucap Ziko genit.
" Idih apa kamu pikir aku ini montir." Gerutu Zira lagi.
Zira penasaran dia langsung membuka box yang ada di depannya. Dia meraba ponsel itu dengan tangannya.
" Ah ini mah gampang, ponsel." Ucap Zira cepat. Zira masih menimbang-nimbang ponsel yang ada di tangannya dengan cara memindahkan dari tangan kanan ke tangan kiri dengan mata tertutup.
" Suamiku ini ponsel berat sekali, pasti kalau aku lempar ke guk guk, guk guknya ayan." Ceplos Zira cepat sambil memegang tangan Ziko agar membuka penutup matanya.
" Ya betul ponsel tapi apa dulu mereknya." Ucap Ziko lagi.
" Ai apa harus pakai merek? Bagaimana aku tau merek-merek ponsel." Gerutu Zira cepat.
" Terlalu banyak ngomong kamu, cepat tebak! Tinggal tebak saja kok repot." Ucap Ziko ketus sambil masih tetap menutup mata istrinya.
Zira meraba detail setiap sisi ponsel tersebut.
" Aku tau pasti ini merek ponsel batagor kan?" Ucap Zira cepat.
" Aih memangnya ada merek seperti itu." Ucap Ziko penasaran.
" Adalah plesetannya." Zira tertawa cekikikan.
" Salah lagi."
" Merek opah bukan, merek sanggisung bukan, nah aku tau ini pasti mereknya anggur, ponsel keluaran terbaru dengan harga yang sangat fantastis itu." Ucap Zira cepat menjawab tebakannya.
Ziko melepaskan tangannya dari kedua mata Zira.
" Bagaimana kamu tau kalau mereknya anggur." Ucap Ziko heran.
" Terima kasih sayang." Ucap Zira mengecup bibir Ziko.
Ziko membalas ciuman istrinya dengan lembut.
" Apa kamu suka?" tanya Ziko sambil memeluk Zira.
" Suka banget tapi aku enggak suka dengan warnanya." Ucap Zira cepat.
" Kenapa, kan wanita biasanya suka warna merah muda." Ucap Ziko cepat sambil menatap istrinya heran.
" Ya kalau aku wanita lemah gemulai kemayu, tapi aku kan wanita perkasa." Ucap Zira menunjukkan otot di lengannya.
Ziko tertawa terbahak bahak melihat istrinya mempraktekkan cara seorang binaragawan. Dia memeluk Zira kembali.
" Kalau kita punya anak apa nama yang akan kamu berikan." Ucap Ziko sambil memeluk istrinya
" Ai kenapa kamu memikirkan punya anak? Aku saja belum memikirkannya." Ucap Zira lagi.
" Udah jawab saja." Ziko mencubit pipi Zira gemes.
" Zonoh." Ucapnya cekikkan.
Ziko membelalakkan matanya dia heran dengan nama pemberian istrinya.
" Yang lain." Ucap Ziko lagi.
" Zokoh." Ucap Zira cepat dan tepat.
" Aih kenapa pendek sekali namanya." Ucap Ziko penasaran.
" Baiklah kalau begitu jika anaknya cowok aku akan memberikan nama Zonoh dan Zokoh sama-sama berawalan huruf Z dan sama-sama berakhir huruf h." Ucap Zira asal.
Lagi-lagi Ziko mencubit pipi Zira. Zira tidak pernah serius kalo berkata-kata. Dia hanya serius jika mengenai perasaannya saja.
" Kalau perempuan." Ucapan Zira di potong suaminya.
" Stop aku enggak mau kamu memberi nama kepada anak kita, biar aku yang memberikan nama, jika anak kita perempuan." Ucap Ziko cepat.
Zira menganggukkan kepalanya setuju.
" Zizi putri imut ku." Ucap Ziko senang sambil membayangkan seorang bayi kecil dalam pelukannya.
" Suamiku apa perlu ada kata imut di belakangnya." Ucap Zira heran dengan pemberian nama dari Ziko.
" Memangnya kenapa, kan aku bapaknya." Ucap Ziko tegas.
Zira mengangguk paham, dia tidak mau berdebat lagi.
" Apa lagi selain itu." Ucap Zira cepat.
" Zevisa Zinara Kanaya Raharsya." Ucap Ziko senang.
Zira membelalakkan matanya mendengar nama yang akan di berikan Ziko kepada putrinya nanti.
" Bagus kan." Ucap Ziko membanggakan dirinya.
Zira mengacungkan kedua jempolnya tanda setuju.
" Baiklah sekarang waktunya kita mengerjakan pr." Ucap Ziko sambil mematikan lampu tidur di atas nakas.
" Pr apa?" Ucap Zira heran.
" Pr membuat anak." Ucap Ziko lagi.
" Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih."