
🌹Vote
Cara vote.
Kumpulkan poin di pusat misi, buka poin pada profilku. Selesaikan semua tugas, jika tugas sudah selesai kalian bisa vote author sebanyak mungkin. Dan vote bisa di lakukan setiap hari selama poin kalian ada, terimakasih.
Selamat Membaca.
***
Setelah nyanyi satu lagi, Zira merasa ngantuk apalagi suaminya memijat kakinya dengan lembut. Ziko menghentikan pijatannya dan baring di sebelah istrinya ketika hendak memeluk istirnya, Zira buru-buru membelakanginya.
"Kenapa?" tanya Ziko heran.
"Aku enggak mau di peluk." Ucap Zira sambil memejamkan mata.
"Loh, biasanya kamu tidur minta peluk. Sekarang kenapa beda?" tanya Ziko heran sambil duduk lagi di atas kasur.
"Pokoknya enggak mau." Ucap Zira ketus.
"Apa anak kita benci sama bapaknya sampai tidak mau di peluk?" tanya Ziko.
"Bukan benci, tapi aku tidak suka di peluk kalau tidur." Ucap Zira lagi.
"Terus bagaimana aku tidur?"
"Tidur ya tidur, apa harus aku ajari cara tidur yang benar." Ucap Zira lagi.
"Kamu mungkin bisa tidur tapi aku tidak bisa tidur kalau tidak memelukmu. Bagaimana cara mengatasinya." Rengek Ziko.
"Peluk aja guling." Ucap Zira lagi.
"Aku mau yang hidup dan bergerak." Ucap Ziko manja.
"Kamu mau hidup dan bergerak." Ucap Zira sambil menghadap suaminya.
Ziko menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana kalau kamu peluk bi Inah." Ucap Zira.
"Aku peluk bik Inah?" tanya Ziko sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Hooh." Jawab Zira singkat.
"Ogah, bau minyak angin tau, mending aku tidur peluk knalpot motor." Ucap Ziko sambil membaringkan tubuhnya di sebelah Zira.
"Ya udah peluk sana knalpot biar hangat." Ejek Zira.
Ziko memiringkan tubuhnya, sekarang posisi keduanya saling berhadapan.
"Kenapa kamu tidak mau di peluk lagi? Kasih alasan agar aku bisa tidur nyenyak." Ucap Ziko.
"Sesak sayang, tangan kamu besar banget, belum ada tiga di dalam." Ucap Zira.
"Baiklah aku paham, tapi kalau kamu minta peluk bilang saja tidak usah malu." Ucap Ziko.
Zira gemes, dia langsung mencubit suaminya.
"Aw sakit." Ziko meringis. Akhirnya keduanya sepakat untuk beristirahat tanpa saling memeluk. Mereka tidur saling membelakangi.
***
Pagi harinya sinar matahari sudah memantulkan kemilaunya. Para asisten rumah tangga sudah sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Bik Inah yang tadinya sendiri sekarang ada lima temannya yang ikut membantunya. Mereka melakukan tugasnya dengan sangat baik. Karena sebelumnya mereka sudah terlatih di mansion. Jadi semua asisten rumah tangga cukup cekatan dalam melakukan pekerjaannya.
Ziko menepuk kasur sebelahnya, dia mencari keberadaan istrinya sambil menggerakkan tangannya dengan mata terpejam. Ketika di rasanya tidak ada tubuh istrinya dia langsung spontan bangun.
Ziko lari ke kamar mandi. Dia mendengar ada suara orang muntah yang bukan lain istrinya. Pintu kamar mandi tidak di kunci dan hanya di tutup sebagian, Ziko langsung masuk dan membantu istrinya dengan memijat punggungnya.
Setelah selesai dia memapah istrinya untuk keluar dari kamar mandi.
"Baringlah, aku akan membawakan makanan untukmu." Ucap Ziko sambil berlalu meninggalkan istrinya menuju dapur.
Di dapur bik Inah sudah selesai dengan masakannya.
"Bik, sudah siap masak belum?" tanya Ziko.
"Sudah tuan, mau makan di kamar apa di meja makan?" tanya bik Inah.
"Ambilkan saja satu porsi untuk Zira." Ucap Ziko.
"Baik tuan." Ucap bik Inah. Ziko kembali ke kamarnya dan melihat istrinya sedang membaringkan tubuhnya sambil memijat pelipisnya. Dia mengambil alih memijat pelipis istrinya, bik Inah datang dengan membawa nampan yang di atasnya ada mangkuk dan satu gelas susu.
"Ini makanannya tuan." Ucap bik Inah sambil meletakkan di atas nakas.
"Makasih bik." Wanita paruh baya itu kembali dengan pekerjaannya.
"Makan yuk." Ucap Ziko menyodorkan satu sendok bubur kacang hijau kepada istrinya.
"Tapi kamu harus makan sayang. Kacang hijau bagus untuk ibu hamil." Ucap Ziko.
"Sok tau." Ucap Zira.
"Enggak percaya? sebentar aku panggil bik Inah. Dia akan menjelaskan kepadamu. Ziko keluar dari kamar dan kembali lagi bersama bik Inah.
"Bik jelaskan sama istriku kandungan yang ada di dalam kacang hijau." Perintah Ziko.
"Waduh mana bibik tau tuan. Kalau manfaatnya bibik baru tau." Ucap bik Inah.
"Oh iya manfaatnya." Ucap Ziko.
"Kacang hijau bagus untuk ibu hamil, selain untuk menambah darah juga untuk menyuburkan rambut bayi." Ucap bik Inah.
"Baik, bibik bisa kembali." Ucap Ziko. Bik Inah sudah keluar dari kamar.
"Sayang kamu sudah dengar dari bik Inah manfaatnya. Sekarang kamu harus makan, jangan pikirkan rasanya tapi manfaatnya. Apa kamu mau anak kita gundul?"
"Ya enggaklah." Jawab Zira.
"Ya sudah makan. Jangan sampai rambut anak kita cuma satu seperti si upin dan ipin." Omel Ziko.
Dengan berat hati Zira memakan bubur kacang hijau itu, dia melakukan untuk buah hatinya.
Ziko bersiap-siap berangkat ke kantor.
"Aku pergi ke kantor sebentar, siang nanti aku balik." Ucap Ziko sambil mengenakan setelan jasnya.
Zira tidak menjawab hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Sayang aku pengen belut." Rengek Zira.
"Belut? Baiklah karena kamu minta aku akan melakukannya sekarang, kita abaikan si Kevin." Ucap Ziko sambil membuka setelan jasnya.
"Kok di buka." Ucap Zira heran.
"Kamu bilang mau belut." Jawab Ziko.
"Bukan belut yang itu, tapi aku pengen makan belut goreng krispi." Ucap Zira.
Ziko mendengus kesal, di pikirannya berbeda dengan istrinya.
"Di mana cari belutnya? Apa ada restoran yang menyajikan masakan itu?" tanya Ziko sambil kembali memakai setelah jasnya.
"Aku enggak mau makanan restoran, aku mau kamu yang masak." Ucap Zira.
Ziko membelalakkan matanya, masih ingat di benaknya ketika istrinya pingin telur dadar dan ayam kecap. Dan sekarang malah minta makan belut.
"Nanti aku pikirkan." Ucap Ziko sambil mengecup istrinya. Ziko sudah berangkat dengan Kevin menuju gedung Raharsya.
Di dalam mobil Kevin memperhatikan sikap bosnya yang diam.
"Tuan kenapa?" tanya Kevin.
"Aku bingung dengan tingkah istriku, semenjak hamil tidak mau di cium, tidur tidak mau di peluk. Kami tidur saling membelakangi seperti marahan. Dan yang ini buatku bingung. Dia minta belut dan harus aku yang masak." Ucap Ziko curhat.
"Kok aneh ya, tapi tuan sudah menuruti semua permintaan nona Zira." Tanya Kevin.
"Ya aku turuti mau gimana lagi, tapi belut ini belum. Cari di mana ya. Terus masaknya gimana lagi, megangnya aja aku jijik." Ucap Ziko.
"Hahaha, nasib anda sungguh sial tuan." Ejek Kevin.
"Sialan bukan membantu malah ketawa. Aku doakan nanti kalau istrimu hamil ngidamnya makan belatung." Ucap Ziko sewot.
"Tuan doa anda jelek sekali untuk saya."
"Iya udah bantu mikir, aku tidak mau bayi kembarku buat pabrik iler kalau tidak di penuhi kemauannya.
"Iya tuan, tapi ngomong-ngomong bagaimana nona Zira bisa hamil anak kembar ya? Bukannya anak kembar itu jika ada gen atau keturunan kembar, atau kehamilan di program." Kevin penasaran.
"Mungkin karena pupuk komporku bekerja dengan baik makanya aku panen langsung sekali tiga." Jawab Ziko.
"Pupuk lagi pupuk lagi." Ucap Kevin kemudian tertawa lucu.
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Ziko.
"Saya tidak membayangkan bagaimana jadinya kalau tuan menggunakan pupuk kandang."
"Jadinya bau tau." Jawab Ziko singkat.
Bersambung.
Mampir ke karya author yang lainnya ya judulnya "Love of a Nurse"