
"Sayang mas udah bilangkan mau kasih kamu hadiah," Vano dan Ziva kini sudah masuk kedalam kamar keduanya seperti pengantin baru karena baby Zie tidur dengan kedua Omanya. Siapa lagi kalau bukan Ratih dan Sinta.
"Mas mau kasih Ziva hadiah apa?" Ziva yang duduk di pangkuan Vano merasa penasaran tentang hadiah yang akan di berikan Vano padanya.
"Ada dech," seloroh Vano sambil tangannya menarik gemas dagu Ziva.
"Mas," Ziva memeluk Vano dengan manja dan itu membuat jiwa kelelakian Vano meronta-ronta.
"Sayang, Mas lagi puasa ni jagan gitu dong, Mas nggak tahan tau yang," tutur Vano sambil mengecup tengkuk Ziva.
"Ya udah hadiahnya mana?"
Vano memberikan dokumen dan Ziva penasaran mengapa Vano banyak memberikan lembaran itu padanya.
"Buka yang," pinta Vano karena Ziva masih terlihat bingung.
"Mas ini hotel papa kan?" Ziva tidak percaya ternyata Vano memberinya hadiah sebesar itu, aset orang tuanya kembali padanya, Ziva melongo masih belum percaya dengan apa yang di tunjukan Vano padanya.
"Ya sayang."
"Kok bisa mas?"
"Jadi mas memang sengaja waktu itu tanya-tanya ke kamu, dan mas penasaran jadi mas selidiki dan mas diam-diam masuk ke kamar almarhum mama dan Mas banyak nemu berkas yang terlihat janggal. Dan semua surar ini asli sedangkan surat rumah ini waktu mas kasih ke kamu itu palsu yang. Nenek, dan tante kamu itu belum tau kalau surat-surat ini udah di tangan Mas."
Vano memang diam-diam menyelidiki perihal aset orang tua Ziva dan Vano berhasil dengan memasukan mata-mata pada orang yang ia curigai, ketika uang berbicara semua mudah terselesaikan.
"Jadi ini semua ulah Nenek Mas?" tanya Ziva yang masih shock.
"Mas lagi ngumpulin bukti kalau orang tua kamu meninggal bukan murni kecelakaan, lebih tepatnya sengaja ada yang mencelakainnya."
"Siapa Mas," Ziva memeluk Vano mengetahui ternyata orang tuanya di habisi orang lain.
"Belum ada bukti yang mengarah pada Nenek dan tante kamu, tapi Mas curiga mereka yang ada di balik kematian orang tua kamu."
"Mas, apa mungkin Nenek tega membuhuh papa? Papa kan anak Nenek?" Ziva bingung ia memang tau Neneknya tidak mau perduli saat ia dan kedua adiknya susah, namun untuk menghabisi anaknya sendiri Ziva masih ragu.
"Papa mu bukan anak kandungnya, Papa anak dari alm. Kakek kamu dan kekayaan Kakek kamu di wariskan lebih banyak pada Papa mu, mungkin itu penyebabnya yang. Mas juga belum nemu bukti yang akurat."
"Terus selama ini kenapa Mas nggak cerita sama Ziva." Ziva kesal karena Vano merahasiakan hal sebesar ini darinya.
"Sayang, jangan ngambek. Mas ngak cerita sama istri mas yang cantik ini karena mas takut kamu terbeban, kamu kan lagi hamil anak mas yang."
"Em, makasih ya Mas," Ziva memeluk Vano dengan kencang dan Vano merasa kesal.
Vano melepaskan pelukan Ziva, Ziva bingung kenapa Vano menolak pelukannya. Seketika Ziva men dongkak menatap manik mata Vano dengan memanyunkan bibirnya.
"Sayang jangan marah, lihat yang," Vano menunjuk celana boxernya yang panjang selurut dan Ziva mengikuti arah pandang Vano, Ziva tersenyum ternyata ada yang mengeras di bawah sana.
"Ish," Ziva mencubit lengan Vano.
"Aa," Vano mengelus kengannya berpura-pura kesakitan.
"Mas mesumnya kurangin dong."
"Sayang nggak bisa, porsinya sudah begini," Vano mulai membaringkan Ziva di sampingnya dan berbantalkan tangan Vano.
"Mas ada asinya," Ziva memukul tangan Vani karena meremas sebelah gundukannya.
"Sampai kapan Mas puasa yang," Vano merasa kesal dan menggaruk-garuk tengkuknya, membayangkan masih butuh beberapa puluh hari lagi untuk bisa berbuka puasa.
"Mas apasih, udah kayak baby Zieaja," Ziva terkekeh melihat tingkah Vano.
Karena tidak bisa memegang benda favoritnya, Vano mulai menyesap bibir Ziva dengan begituh lama Ziva juga membalasnya dengan penuh cinta.
CLEK!
Pintu terbuka dan ternyata Sinta yang masuk tanpa mengetuk pintu, Ziva dan Vano melepas pagutannya dan melihat kearah pintu siapa yang masuk tanpa ijin.
"Mama ngak liat kalian ciuman," Sinta membalikan tubuhnya sambil baby Zie ada dalam gendongannya.
"Ck, Mama nggak lihat tapi tau," kesal Vano.
"Mas," Ziva mencubit perut Vano, sungguh Ziva merasa sangat malu di pergoki mama mertuanya sedang bercumbu dengan suami.
Sinta membalikan badannya lalu berjalan mendekati Ziva dan Vano yang duduk di ranjang.
"Iya Oma," dengan tangannya yang terlihat hati-hati memegang baby Zie.
"Mama biarin Zie malam ini tidur sama Vano," pinta Vano, karena memang semenjak Zie lahir bayi munggil itu selalu tidur dengan Sinta.
"Ngak," ketus Sinta.
"Satu malam saja Ma," pinta Vano lagi.
"Ngak baik Zie tidur sama kalian."
"Kenapa?" Vano di buat bingung dengan ucapan Vano.
"Kalian suka cium-cium, nanti Zie lihat. Itu tidak bagus untuk bayi."
"Mama tadi katanya nggak lihat," seloroh Vano.
"Ya-ya, em." Sinta tidak tau harus menjawab apa.
Sementara Ziva terus menunduk sambil menyusui baby Zie, bertapa malunya ia berhadapan dengan Sinta mengingat Sinta memergoki mereka sedang salih melilitkan lidah mereka.
"Belum boleh kamu jangan kasih Vano jatah ya Ziva, kamu itu masih belum suci," Sinta masih terus menasehati Ziva jangan sampai khilap karena dosa.
"Kan Ziva memang nggak suci lagi Mah kan udah Vano ambil duluan."
"Kamu anak kurang ajar nggak tau sopan santun, tadi aja kamu begituan sama Ziva."
"Mah, cuman cium doang, nggak lebih." kesal Vano.
"Mas," jenkel Ziva, suaminya itu bukan diam dan mendengarkan nasehat orang tua, malah terus menjawab ucapan Sinta.
"Ya yang."
"Zie jangan di habiskan, itu punya Ayah loh." Vano mendekatkan dirinya pada Zie dan melihat bertapa lahapnya Zie saat sedang meminum asi.
"Mas, apasih kayak anak kecil aja."
"Zie kamu minjem lo, jangan lama-lama balikin ya, jangan ngelunjak."
"Vano kamu berani marahi cucu Mama."
"Sakit Ma." Vano mengelus telinganya karena Sinta menariknya cukup kuat.
"Mampus."
"Becanda Ma," ujar Vano.
Sinta menatap Ziva dan baby Zie yang sedang tidur di pangkuan sang bunda.
"Makasih ya Ziva."
Ziva yang tadinya sibuk memperhatikan baby Zie mulai mengangkat lehernta dan menatap Sinta yang duduk di sisi ranjang.
"Makasih buat apa Mah?"
"Buat kamu yang udah kasih Mamah cucu, sekarang Mama udah punya teman."
"Sama Vano ngak Mah." seloroh Vano.
"Ngapain makasih sama kamu." ketus Sinta.
"Itu kan hasih jerih payah Vano juga Ma, Mamah bayangin sampek keringatan loh Ma Vano. Demi mencetak buat Mama, capek, lemes itu sudah menjadi sarapan Vano."
BUUKK!
Sinta melempar pengompres asi tepat mengenai kepala Vano.
"Au." Vano mengelus kepala.
****
Pembaca yang baik Vote👐