
Huek huek huek Ziva terus memuntahkan isi perutnya. Semenjak ia hamil ia memang sering kali mual di pagi hari atau morning sickness hal itu memang terbilang wajar terjadi pada usia kehamilan yang terbilang masih muda namun Ziva merasa tubuhnya begitu lemas di tambah keringat dingin yang mulai membasahi tubuhnya.
"Ziva" kata Sinta.
Sinta yang tadi nya masih terlelap di bawah selimut mulai terbangun saat mendengar suara Ziva dari arah kamar mandi. Sinta bangun dan berjalan dengan cepat kekamar mandi dengan rasa khawatir yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Ma huek huek huek" Ziva tidak bisa melanjutkan ucapannya karena rasa mual yang ia rasakan tidak bisa lagi ia tahan.
"Ziva sabar ya Nak" kata Sinta.
Sinta mengambil minyak angin dan mulai mengoles di kepala dan dada Ziva. Lalu ia mulai memijat tengkuk Ziva dengan pelan agar Ziva lebih baik dan benar setelah apa yang ia lakukan Ziva sudah lebih baik.
"Terimakasih Ma" kata Ziva.
"Sudah ayo kembali keranjang dan kamu istirahat wajah mu pucat sekali" kata Sinta.
Sinta mulai memapah Ziva berjalan keluar dari kamar mandi dan kini Ziva mulai mendudukan dirinya di ranjang dengan besandar dan Sinta menaruh bantal di belakang Ziva agar Ziva lebih nyaman.
"Bagaimana masih mual?" tanya Sinta.
"Sedikit Ma" jawab Ziva.
"Ya sudah kamu duduk di sini Mama buatkan teh hangat buat kamu supaya mual nya hilang" kata Sinta dan mulai bangun namun Ziva menahan dengan memegang tangan Sinta.
"Terimakasih ya Ma" kata Ziva tersenyum tulus pada Sinta karena ia merasa kasih sayang seorang ibu yang sudah hilang kini kembali ia rasakan karena Sinta begitu menyayanginnya.
Sinta tersenyum dan kembali mendudukan dirinya di samping Ziva. Kedua tangannya mulai menangkup wajah Ziva.
"Mama yang berterimakasih sama kamu. Karena kamu sudah mengandung cucu Mama. Buat Mama apa yang sudah kamu berikan untuk Mama itu sudah lebih berharga dari apa yang selama ini Mama miliki" kata Sinta.
Sinta menarik tubuh Ziva kedalam pelukannya dan memeluk tubuh Ziva dengan erat. Begitu juga dengan Ziva ia sangat terharu dan tidak menyangka kalau ternyata di balik kesusah yang selama ini ia rasakan ternyata ada kebahagiaan juga yang ia rasakan.
"Sebentar ya" kata Sinta.
Sinta keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur untuk membuatkan Ziva teh. Namun saat Sinta sedang membuat teh tiba-tiba Vano juga masuk ke dapur untuk meminta pembantu membuatkannya kopi.
"Ma" kata Vano.
"Kamu sudah bangun?" tanya Sinta.
"Ya Ma Vano pagi ini ada meeiting dan Vano harus cepat kekantor" kata Vano.
"O" kata Sinta.
Sinta yang sudah selesai membuat teh mulai membawa teh itu dan berjalan menuju kamar Ziva meninggalkan Vano yang masih berdiri di dapur bahkan tanpa sepatah kata pun. Vano merasa bingung dengan Sinta karena sikap Sinta yang menjadi cuek pada nya.
"Ma" kata Vano sambil kaki nya melangkah mendekati Sinta yang sudah berjalan jauh dari nya.
"Em" jawab Sinta tanpa menghentikan langkah kakinya dengan Vano juga beriringan berjalan di sampingnya.
"Ma mau ke mana? buru-buru sekali?" tanya Vano.
Sinta mulai menghentikan langkah nya ia mulai meletakan teh di tangannya pada meja yang berada di dekat nya. Dan Sinta mulai menatap tajam Vano. Vano merasa ada yang tidak beres dengan tatapan tajam Sinta.
"Mama kenapa?" tanya Vano.
"Auu" ringis Vano karena Sinta menarik telinga Vano.
"Kamu cuman tau nya yang enak aja ya. Kamu tidak tau istri kamu itu sekarang sedang hamil dan dia sedang muntah-muntah tubuh nya lemas wajah nya pucat. Dan kamu kemarin dengan teganya mengasari dia. Kamu punya perasaan nggak sih?" kata Sinta dengan emosinya.
Peltak!
Sinta yang merasa jengkel kembali menyentil dahi Vano.
"Mama" kata Vano sambil mengelus dahi nya.
"Ma selama Vano lahir Mama tidak pernah sekalipun main tangan sama Vano. Tapi sekarang Mama sudah main kasar sama Vano" jengkel Vano.
"Itu karena kamu suami yang egois. Kamu lihat Ziva di kamar dia lagi sakit" kata Sinta.
Vano yang mendengar ucapan Sinta yang mengatakan Ziva sakit mulai berlari dan melihat keadaan Ziva.
"Sayang" kata Vano yang sudah berada di kamar dan ia mendudukan dirinya di samping Ziva.
"Mas" kata Ziva yang kangsung memeluk Vano.
Entah apa yang Ziva rasakan namun ia merasa semenjak ia hamil ia ingin terus memeluk Vano dan ia juga merindukan Vano karena semalam juga Vano tidak tidur bersama nya.
"Ziva ini teh nya" kata Sinta dan ia meletakannya di atas nakas.
"Iya. Terimakasih Ma" jawab Ziva.
Sinta tersenyum dan ia keluar dari kamar itu meninggal Vano dan Ziva. Ia mengerti dengan keduanya semalam ia memberi pelajaran saja pada Vano karena ia sangat tidak suka dengan keegoisan Vano.
"Sayang kamu minum teh nya" kata Vano sambil meniup teh hanyat yang ia pegang.
"Iya" jawab Ziva dan ia mulai menyeruput teh yang di pegang Vano.
"Sudah mendingan?" tanya Vano dengan rasa.
"udah Mas" jawab Ziva.
Vano kembali meletakan gelas yang ia pegang di atas nakas dan ia kembali menarik tubuh Ziva kedalam pelukannya ia sangat merindukan wangi tubuh Ziva yang sudah menjadi candu baginya.
"Mas" kata Ziva yang masih berada di dalam dekapan mesra suaminya.
"Ya Sayang" kata Vano.
Cup!.
Vano mencim kening Ziva tanpa melepas pelukannya.
"Mas Ziva boleh minta sesuatu?" tanya Ziva dengan suara yang kecil dan ragu namun masih bisa di dengar oleh Vano.
"Istri Mas mau minta apa?" tanya Vano yang sedikit menjauhkan tubuh Ziva agar ia bisa melihat wajah Ziva.
"Emm" Ziva ragu mengatakan keinginannya dan ia tidak yakin Vano mau melakukannya.
"Sayang istri Mas yang cantik. Kamu mau minta apa?" tanya Vano dan ia kembali memeluk tubuh Ziva.
Ziva diam saja ia bingung bagaimana cara menyampaikan keinginannya pada Vano. Ia juga takut kalau Vano menolak atau pun tidak mau mengabulkan keinginannya itu. Karena keinginannya memang sedikit konyol tapi mau bagai mana lagi ia memang menginginkannya.
"Sayang" kata Vano karena ia menunggu apa yang akan di katakan Ziva namun ia tidak juga berbicara. Vano mengangkat dagu Ziva dan m*** bibir Ziva karena jujur saja ia sangat merindukannya.
"Mas" kata Ziva sambil mendorong Vano menjauh dari nya.
"Hehehe kamu mau minta apa. Mas nungguin dari tadi" kata Vano sambil wajah nya terus menatap wajah Ziva menunggu apa yang di ucapkannya Ziva.