Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
SEASON II ■ BAB 147


PLAK.


Satu tamparan mendarat di pipi Arman, Hardy tak mampu memahan emosi tak kala mengetahui ke adaan Seli. Bahkan Hardy yang baru tahu jika Arman sudah menceraikan Seli tanpa sepengetahuan keluarga atau membicarakannya pada keluarga. Hardy tidak menyaka putra angkatnya itu bisa dengan mudah memutuskan untuk bercerai, bahkan di saat Seli sedang mengandung.


"Apa kau punya otak!" Hardy benar-benar sangat emosi melihat Arman saat ini.


"Pa sudah," Sinta berusaha menenangkan suaminya sebab mereka belum mendengar penjelasan dari Arman, Sinta yakin Arman tidak akan mudah menceraikan Seli kalau bukan karena ada hal yang menjadi alasan kuat.


"Kau sadar! Seli sedang mengandung, dia mengandung anak mu. Tapi kau malah dengan mudah menceraikannya apa kau punya hati! Dan kemana kau menghilang selama ini, lihat tubuh mu. Sudah seperti orang gila," Tutur Hardy dengan tegas.


"Papa, kita dengarkan dulu alasan Arman," Sinta berusaha menjaukan Hardy dari Arman yang berjarak beberapa meter darinya, sebab mereka kini masih di rumah sakit. Lebih tepatnya di depan ruangan Seli.


"Baiklah jelaskan! Cepat!" Bentak Hardy.


"Seli minta cerai Pah," Kata Arman tertunduk tak berani menatap Hardy.


"Lalu kau ceraikan! Iya! Begitu!" Tak ada nada lembut dan bersahabat yang biasa di tunjukan Hardy pada keluarganya.


"Iya Pah, sebab dari awal Seli memang tidak mau menikah dengan Arman tapi Arman memaksanya," Kata Arman lagi.


"Dan kau tidak berkata apa-apa pada kami! Aku tau Arman aku hanya Papah angkat mu dan selamanya akan begitu, jadi kau tak membutuhkan kami untuk menyelesaikan masalah mu kan," Hardy meluapkan ke kecewaaanya pada Arman.


"Bukan begitu Pah," Arman tak ingin jika ia memberitahu yang lain karena ia malu atas kegagalan rumah tangganya, juga ia tak mau menyeret mereka masuk kedalam masalahnya.


"Lalu bagaimana? Hanya aku saja yang menganggap mu anak! Tapi ternyata kau tak menganggap aku orang tua mu," Tutur Hardy dengan nada yang mulai rendah sebab Sinta menangis melihat Arman yang di tampar Hardy, juga kemaraham Hardy tanpa memikirkan perasaan Arman. Sinta memang bukan wanita yang melahirkan Arman, tapi Arman juga memiliki posisi sama di hati Sinta seperti Vano.


"Arman minta maaf Pah, Arman tidak tahu harus apa dan bagaimana saat Seli mengatakan ingin berpisah, Arman takut Seli terpaksa hidup dengan Arman karena keluarga sementara ia tertekan batin karena tak bahagia, Maka dari itu Arman memilih melepaskan dari pada ia mati perlahan dengan penderitaan."


"Lalu kemana kau menghilang selama ini! Kenapa kau malah menjadi pengecut," Hardy menarik kaos Arman dan hampir melayangkan bogem, tapi dengan cepat Vano berdiri dan menjaukan Hardy agar tak melukai Arman.


"Pah sabar Pah, semua sudah terjadi dan tidak bisa di ubah lagi, sekarang semua hanya perlu kita perbaiki," Dengan takut Vano berbicara sebab Hardy juga malah menatapnya tajam.


"Kalian berdua sama saja, tidak ada satu pun yang bisa membanggakan Papa, Vano begitu, Arman juga begitu. Kalian Papa biayai sedari kecil dengan uang halal tapi kenapa tingkah kalian tidak ada yang benar!" Kata Hardy.


"Sudah-sudah, kita masih di rumah sakit, malu di dengar orang," Sinta memeluk Hardy berharap suaminya bisa tenang.


"Pak Hardy, saya mohon di dalam anak saya sedang kritis dan anak saya saat ini butuh dukunga Pak, hiks, hiks," Lastri hanya bisa menangis sembari menatap sang putri dari kaca terlihat wajah sang putri sangat pucat, bahkan Seli menggunakan sangat banyak alat medis yang terpasang pada tubuhnya.


"Iya Pah, Mbak Lastri benar, setelah nanti Seli sembuh kita bicarakan semua baik-baik Pa, kita tanyakan pada Seli juga bagaimana keinginannya, ini hanya salah paham Pa," Tutur Sinta sambil menuntun Hardy ikut duduk di kursi.


"Ini bukan hanya salah paham Ma, ini sudah menyangkut nyawa bagaimana jika nyawa Seli tak tertolong, berikut bayinya. Dan bodohnya bayi itu lenyap karena ke bodohan orang tuanya. Vano dan Arman dari kecil susah-susah di besarkan tapi sudah besar tidak ada yang benar, tau begini aku lenyapkan saja kalian dari sejak kecil," Tutur Hardy menatap tajam Arman lalu Vano.


"Papa, tidak boleh bicara begitu, ayo kita ke musola, kita solat dan berdoa bukan malah berdebat begini," Sinta menarik tangan Hardy berdiri dan membawanya ke musola agar hati Hardy lebih tenang dan tidak di kuasai kemarahan lagi.


"Mah, Ziva ikut ya," Kata Ziva ia pun ingin berdoa dan semoga doanya di kabulkan oleh Tuhan sang pencipta untuk memberikan kesembuhan pada Seli dan bayinya.


"Ya, Ayo Nak," Sinta mempersilahkan Ziva juga ikut bersamanya.


Kini tinggal Arman dan Lastri yang duduk di depan ruangan Seli, kepalanya Arman tertunduk mengingat keadaan Seli hingga Lastri juga kesal pada Arman.


"Arman kamu lah penyebab Seli begini!" Tutur Lastri dengan suara pelan namun penuh penekanan, "Setelah kau pergi dia dan kandungannya, baik-baik saja tapi tadi pagi setelah kau menunjukan kemesraan mu dengan seorang wanita anak ku jadi begini!" Tutur Lastri lagi menyelesaikan perkataannya.


"Kemesraan?" Tanya Arman bingung.


"Tidak bisakah kau tidak bermain wanita sampai sidang cerai kalian tiba, tidak bisa kah kau jangan menunjukan kemesraan mu itu di depan umum sampai kau dan anak ku resmi bercerai," Lastri yang tak pernah berkata kasar kini mulai berbicara demikian pada Arman.


"Maaf Bunda tapi saya tidak mengerti," Jelas Arman penuh tanya.


"Tadi pagi kau berpelukan bersama seorang wanita di pasar, anak ku melihatnya dan dia langsung pulang dengan menangis tanpa henti. Dan kau tau setelah itu anak ku menjadi seperti ini, aku tau dia sudah tidak berarti di hati mu tapi tidak bisakah kau menjaga perasaanya wanita yang sedang hamil anak mu itu, perasaan wanita hamil tidak sama dengan perasaan wanita biasanya Arman, dan aku benci pada mu," Lastri terlihat putus asa berbicara dengan Arman.


Sementara Arman mulai mengingat saat ia di pasar, dan Yuli memeluknya. Arman mulai mengerti ternyata lagi-lagi ia lah penyebab semuanya terjadi. Arman benar-benar kesal padahal ia sama sekali tidak berniat demikian tapi malah semua terlihat dengan pikiran negatif dari orang yang melihatnya.


"Bukan Bunda, saya tidak memeluk Yuli," Arman menjelaskan semua yang terjadi tanpa ada yang di tutupi, perlahan Lastri mengerti setelah mendengar dari mulut Arman. Namun tetap saja sema terlambat, Seli kini sedang berjuang melawan maut.